Prolog

Jeruji besi terpampang kokoh di hadapannya. Lantai berkeramik tanpa alas itu merambat dingin hingga menjalar ke hatinya. Tidak ada yang bisa ia harapkan dan tidak dapat pula disesali sepenuhnya. Dunia terlalu bising untuknya sekadar menenangkan diri. Terlanjur hina dan hancur tanpa seiris harga diri yang bisa ia pertahankan. Amarah itu tak mempunyai ruang untuk hidup, sangat sempit menghimpit kesepiannya selama ini. Sesak menjadi teman hidupnya di setiap upaya yang diambil. Sungguh tidak adil. Inikah kehidupan yang selalu orang banggakan? Atau dirinyalah yang tak pantas menerima sedikit saja ketenangan dan kebahagiaan?

"Aku menyesal dan belum mengerti apa yang terjadi. Akan kupastikan kamu bisa keluar secepatnya. Aku yakin ini adalah kesalahan," ujar laki-laki bermanik mata cokelat gelap kepada gadis di balik jeruji besi yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Aku akan berusaha semampuku untuk mengeluarkanmu dan membersihkan namamu." Air mata laki-laki tersebut menitik kala ia berusaha mencari bola mata anggun nan cerah dari gadis tersebut. Tetapi, nihil. Bola mata itu terhalangi rambut depan yang menjuntai. Tanpa bergeming, gadis itu masih terbungkam. Hening kembali menguasai selama beberapa menit. 

"Kau tidak apa-apa bukan?" Ia kembali bertanya karena tidak ada respon berarti dari gadis tersebut.

"Jam besuk sudah selesai." Seorang penjaga sipir mendekat memperingatkan waktu besuk telah usai.

"Sebentar Bu." Laki-laki itu berusaha menahan penjaga sipir untuk memberinya sedikit waktu. 

"Aku tidak mengerti apa yang kamu pikirkan. Belum cukupkah menyelidikinya?" Gadis itu menoleh dan menatap lurus pada laki-laki tersebut dengan pandangan dingin. "Tidak ada yang salah dan kau tahu kebenarannya. Jangan mengasihaniku."

"Tidak, Andien. Beri aku waktu. Aku mau membantumu. Aku tahu kamu melakukannya karena terpaksa. Please,  tunggu aku. Demi hubungan kita."

"Terpaksa? Jangan bercanda. Orang brengsek ya memang seperti ini adanya. Kamu berharap semua ini adalah kesalahan? Kamu ingin aku menjadi sosok idaman seperti yang kau pikirkan? Gadis manis yang anggun?" Suaranya tercekat dan melemah di akhir kalimat. "Hentikan ini sekarang. Jangan bersikap menyedihkan, kau adalah aparat," ucap gadis  itu seraya menyerahkan tangannya kepada penjaga sipir dan melenggang pergi kembali ke bui, meninggalkan pemuda yang tertunduk lemah dengan ketidak berdayaannya. Takdir macam apa yang mempermainkannya?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top