Chapter 4
Setelah seharian disibukkan dengan kegiatan bersih-bersih dan berusaha mengalihkan perhatian tentang keberadaan Alsou. Malam ini, akhirnya Zac bisa duduk santai sambil menikmati makan malam hasil masakannya sendiri. Ia meletakkan dua porsi teppanyaki dan sushi di atas meja kemudian segelas air mineral dan sebotol beer.
Alsou baru saja bangun dari tidur setelah mencium aroma masakan Zac dan langsung duduk di atas kursi tempat ia biasa melihat pemuda itu memasak. Dia sangat menyukai Zac ketika memasak, bagi Alsou kepercayaan diri Zac akan terasa sangat kuat saat ia mengeluarkan keterampilannya tersebut di dapur. Namun, satu hal yang tidak disukai Alsou, yaitu jika Zac memasak untuk si Pirang.
"Kenapa kau hanya diam, duduk, dan terus-menerus menatapku?" tanya Zac merasa jengah karena selama ia memasak, Alsou selalu memerhatikannya.
Alsou meletakkan jari-jarinya di atas meja dan menyandarkan kepala di kedua lutut yang ia lipat di atas kursi, wajahnya menggambarkan sebuah senyum manis untuk Zac. "Aku suka setiap kali melihat Zac memasak. Sungguh mengagumkan."
Zac tersentak, tiba-tiba ia teringat dengan kucinganya—Alsou yang akan selalu berada di kursi tersebut untuk mengamati Zac. Jika memang Alsou di hadapannya adalah kucing pemberian orang tuanya di Jepang, maka selama hewan itu duduk di sini diam-diam dia menyimpan kekaguman pada diri Zac.
Sadarlah, Zac! batinnya, mengingatkan diri sendiri agar tidak terbawa suasana.
"Kalung itu, terlalu sesak untukmu. Apa kau baik-baik saja menggunakannya?" Zac menyuap sushinya, menunggu jawaban dan reaksi gadis ini ketika menikmati teppanyaki buatannya. Zac sengaja tidak mempersilakan Alsou untuk makan karena ingin melakukan test, apakah benar bahwa makhluk di hadapannya ini adalah si Kucing Alsou.
Perut Alsou berbunyi, ia meneguk saliva menatap ke arah teppanyaki di hadapannya, tetapi Zac masih belum menyiapkan makan malam di piring biru miliknya.
"Aku baik-baik saja karena kalung ini adalah pemberian Zac. Aku akan menjaganya dengan baik, selain itu ... aku menyukainya karena talinya tidak menyakitiku bahkan ketika wujudku berubah."
Mengangguk, Zac kembali melahap sushi dan kini beralih pada teppanyaki bagiannya, tanpa menghiraukan Alsou yang sangat kelaparan bahkan beberapa kali gadis itu menyeka bibir basahnya akibat aroma lezat dari teppanyaki. Apakah Dad tidak berniat untuk memberiku makan malam? Alsou melirik ke arah Zac. Pandangan mereka bertemu, pemuda itu hanya membalasnya dengan anggukan—Alsou kembali bingung. Ia ingin Zac mengatakan sesuatu, tetapi hingga saat ini belum ada kalimat yang ingin Alsou dengar dari mulut Zac.
Suara tawa terdengar di meja makan hingga membuat Zac tersedak oleh teppanyakinya. Alsou segera bangkit dan memukul punggung pemuda itu, mengingat bagaimana tindakan Matt atau si Pirang jika Zac seperti sekarang—ia tidak yakin apakah ini membantu atau tidak. Manusia memang aneh, pikirnya.
"Hey, stop! Apa kau ingin menyakitiku?" protes Zac saat Alsou masih bersemangat memukuli punggungnya.
"M-maaf." Alsou menghentikan kegiatannya lalu duduk di lantai samping kursi Zac. Mungkin cara ini bisa membuat Zac bergerak untuk memberiku makan. Setidaknya meneror dengan tatapan memelas akan selalu berhasil. Ia lapar sekali bahkan sudah berkali-kali perutnya terdengar bergemuruh minta diisi.
"What are you doing?" Zac terlihat heran karena tindakan gadis ini sama seperti Alsou—duduk di lantai samping kursinya jika ingin meminta makan.
"I'm hungry Zac." Alsou menatap Zac dengan tatapan memelas sambil memegangi perutnya.
Zac tertawa lagi. Ia rindu kucingnya, tetapi tingkah laku Alsou sama dengan tingkah hewan yang dia pelihara semenjak bayi. Seketika rasa patah hati akibat Lousina sedikit terobati karena kehadiran seorang gadis yang mengaku jelmaan dari Alsou, kucingnya. Secara perlahan, Zac akan mencoba mempercayai perubahan yang berlangsung secara mendadak.
Alsou akan kembali karena aku adalah tuannya.
"Duduk di sana dan makan teppanyaki yang sudah kumasak. Kuharap kau akan suka." Zac mengarahkan sumpitnya ke arah teppanyaki dan dengan gesit Alsou segera duduk di kursi sebelumnya.
Zac mengernyit, melihat kedua mata Alsou yang berbinar, tetapi masih belum menyentuh makanannya. Ia mengangguk paham, teringat dengan kebiasaan yang selalu mereka lakukan sebelum makan bersama seperti sekarang. Pemuda itu mengembuskan napas, meletakkan sumpitnya dan menatap Alsou. "Bersalaman," perintah Zac, sambil menengadahkan tangan kanannya di hadapan Alsou.
Matanya membulat sempurna, dengan sigap Alsou mengepalkan tangan kanan, dan meletakkannya di atas telapak tangan Zac. Wajah Zac bersemu, seuntai senyum terlintas di garis bibir pemuda itu, perlahan Zac membuka kepalan Alsou dengan tangan kirinya.
"Lain kali, jika seseorang mengucapkan kata 'bersalaman' kau harus melakukannya seperti ini. Paham?" tanya Zac dan dibalas anggukan mantap Alsou.
Tidak sadar cukup lama Zac menyentuh tangan Alsou hingga suara keroncongan gadis itu kembali terdengar. Mereka berdua tertawa, "Makanlah ... karena kau sama sepertiku maka aku ingin kau makan di piring itu." Zac memberikan sumpit untuk Alsou. Tampak keraguan di wajah Alsou, tetapi akhirnya ia menerimanya juga.
"Tidak sopan rasanya jika aku menyuruhmu makan di piring hewan peliharaan jadi jika memang kau adalah jelmaan dari kucingku, kau harus makan layaknya seperti yang kulakukan."
Setelah Zac mengucapkan kalimat tersebut, Alsou hanya bisa menggigit bibir. Ia tidak tahu bagaimana caranya menggunakan peralatan makan, sejauh ini yang diketahuinya hanya makan dengan cara seperti biasa. Setidaknya, Zac sudah mempersilakan untuk makan. Alsou meletakkan sumpit pemberian Zac di samping piring teppanyaki kemudian menggunakan tangan, dia pun melahap makanan tersebut dengan penuh rasa gembira.
Zac menepuk kening, ketika melihat cara makan Alsou yang tidak biasa dalam artian dia makan seperti cara si Kucing Alsou melakukannya. Terburu-buru, Zac segera menghentikan aktivitas makan malam dan menarik tangan Alsou menuju westafel.
"Ada apa, Zac?"
"Cuci tanganmu dan kita akan kembali makan setelah kedua tanganmu bersih."
Kembali ke meja makan, Zac segera memindah posisi kursinya tepat di sebelah kanan Alsou. Lebih baik seperti ini, batinnya.
Baru hitungan detik, Alsou kembali mengambil teppanyaki dengan kedua tangannya. Namun, secara gesit Zac menangkap tangan Alsou dan memukulnya pelan agar gadis itu segera melepas makanannya.
"Bukan! Bukan seperti itu. Lihat caraku melakukannya." Zac mengembuskan napas, seperti mengajarkan seorang balita, ia harus memperlihatkan dan mengajari Alsou tentang bagaimana cara makan yang baik dan benar. Meskipun demikian, berulang kali pertanyaan yang sama tentang gadis tersebut selalu terlintas di benak Zac.
Mungkin ada sesuatu dibalik semua ini. Aku harap jika memamg dia seorang Nekomata, tidak akan ada hal buruk yang akan menimpaku nanti.
***
Sudah hampir tiga puluh menit mereka menghabiskan makan malam hingga akhirnya Alsou selesai menyuap makanan terakhir, begitu pula dengan Zac—dia lebih dulu menghabiskam teppanyaki dan malah asik mengamati Alsou. Refleks, tangan Zac mengambil tissue di meja dan membersihkan sisa makanan di sudut bibir Alsou. Kejadian yang klise, tetapi hal tersebut sempat membuat jantung Zac berdebar.
"Kau akan makan seperti ini mulai sekarang, bersikaplah seperti manusia pada umumnya. Kuharap kau tidak menampakkan sebagian tubuh kucingmu secara tiba-tiba, kau tahu ... menakutkan maksudku, aku belum terbiasa." Zac mengangkat sisa piring mereka dan bersiap untuk mencucinya.
Diam-diam ia berpikir tentang bagaimana menghabiskan malam bersama gadis tersebut, dia laki-laki normal dan seseorang yang bersamanya saat ini benar-benar polos. Hanya para lelaki yang bisa menggambarkan keadaan seperti ini secara sempurna.
Dia bahkan belum mandi. Apa dia juga akan sulit dimandikan seperti Alsou? Tetapi dia manusia dan .... Zac meletakan piring terakhir dengan kasar lalu membalikkan badan mencari Alsou, ia terkejut karena Alsou sudah berada di belakangnya berdiri.
"Wait, wait! What are you doing?" Zac panik karena lagi-lagi Alsou memeluknya erat dan dua daging itu menekan dadanya. Secepat kilat ia mendorong tubuh Alsou, segera bergeser menjauh, sebelum jiwa kejantanannya muncul. "Kau ... harus mandi, badanmu bau keringat. Biar kusiapkan bajumu karena kau tidak punya pakaian, maka untuk sementara akan kupinjamkan." Zac segera pergi menuju kamar.
Ting tong.
Bel apartemen berbunyi saat Zac baru sampai di depan kamar. Sudut matanya melihat Alsou yang berjalan menuju pintu, sepertinya ia akan membuka dan melihat siapa yang datang. Buru-buru Zac menahan lengan Alsou, menariknya agar sedikit menjauh.
"Tunggu sebentar," bisik Zac lalu mendekati pintu, mengintip ke lubang kecil. Ia meremas rambut, menatap Alsou, dan menariknya ke dalam kamar. "Tetap di sini, jangan membuat keributan, dan jangan keluar. Aku akan segera kembali."
Alsou mengangguk, "Apa Zac tidak ingin mengusap kepalaku sebelum pergi?" tanya Alsou lembut dengan pandangan penuh harap.
Memutar mata, ia pun segera mengusap kepala Alsou, dan pergi meninggalkannya. Namun, lagi-lagi gadis itu menarik ujung bajunya.
"Jangan terlalu lama. Aku tidak suka sendirian, Zac," bisik Alsou, membuat wajah Zac seketika menjadi merona.
Ting tong.
Wajah Zac terlihat kembali gugup ketika suara bel kedua berbunyi lagi. Ia menarik napas lalu mengembuskannya, berusaha tenang. Everything gonna be ok, pikirnya.
"Diam di sini, jika kau bersikap baik maka aku akan segera kembali."
Alsou mengangguk dan Zac segera pergi, menutup pintu kamar.
Ceklek.
"Hi."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top