Chapter 11
Zac mengonpres keningnya dengan kantong plastik berisi es batu, sedangkan Alsou duduk manis di depan meja sofa, melipat kedua lutut lalu menopang dagu. Ia menatap ke arah Zac yang terlihat kesakitan. Sesekali ia tersenyum, melihat pemuda itu dan ingin membantunya. Namun, Zac malah mengatakan agar tetap diam di sana.
"Apa kau merasa puas setelah membuatku seperti ini, huh?" Mata Zac menatap Alsou dengan tatapan kesal, tetapi gadis itu hanya diam, tersenyum tanpa penyesalan.
Memutar mata, Zac mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak ada gunanya menampakkan wajah kesal pada Alsou karena gadis ini tidak merasa bersalah sedikit pun. Zac akhirnya memutuskan untuk menghubungi salah satu rekan kerjanya, meminta bantuan untuk mengganti shift beberapa menit hingga ia datang.
"Marc, bisa kau gantikan aku untuk beberapa menit? Ya, aku baru saja terkena musibah, kau tahu peliharaanku berulah lagi." Zac terbelalak ketika melihat serbuk biru kembali mengelilingi tubuh Alsou.
"Zac, mereka muncul lagi. Wait, ini akan menyembuhkanmu." Alsou bangkit mendekati Zac lalu menggerakkan tangannya seperti membuat nasi kepal, mengumpulkan serbuk biru di antara kedua tangannya, dan mengarahkan pada benjolan di kepala Zac akibat terbentur lantai keramik.
Beberapa menit yang lalu pemuda itu terjatuh kemudian membentur lantai akibat terpeleset oleh kulit pisang bekas kegiatan Alsou membongkar tempat sampah untuk mencari sesuatu yang beraroma lezat—ikan tuna.
Mata Zac tidak bisa lepas dari titik fokus yang membuat makhluk sebangsanya akan meneguk saliva mereka. Terburu-buru dia memejamkan mata, menggeleng lalu segera merubah posisinya menjadi duduk. Di saat seperti ini kau masih saja berpikir yang tidak-tidak. Ia melirik ke arah Alsou yang terkejut dan masih duduk di lantai depan sofanya.
Merasa sembuh di bagian benjolan kepalanya, ia pun berkata, sambil tersenyum—Zac memang tidak berbakat untuk menyimpan rasa kesal terlalu lama. "Bersiaplah, akan kubawa kau ke tempat kerjaku agar suatu saat kau bisa hidup mandiri jika aku tidak berada di sisimu atau apa kau ingin menemui Hanna di rumah Matt?"
Alsou memainkan sedikit rambut dengan jari telunjuknya, meniru gerakan seorang wanita yang dia lihat di pinggir jalan ketika menunggu si Kucing jantan. Ia tidak tahu maksud dari tindakan ini, tetapi rasa ingin mencoba membuat gadis itu melakukannya, mungkin Alsou hendak membuat Zac melihatnya.
"Aku hanya ingin bersamamu." Alsou bangkit dan memeluk lengan Zac dengan erat dan tentu saja, reaksi pemuda itu sama seperti sebelumnya yaitu berusaha menjauh. Bagaimana tidak, baginya setiap kali berdekatan dengan makhluk ini, maka Zac akan mendapat hal yang bisa membuat senam jantung. Bahkan sebuah benjolan di kepala ini baru saja ia dapatkan karena melihat Alsou yang ceroboh—membuka baju, menunggu Zac di depan pintu kamar alih-alih mengatakan bahwa dia lah yang mengajak Alsou untuk pergi ke toilet bersama.
Dia pasti berpikir bahwa aku hendak memandikannya sama seperti dulu ketika ia masih berwujud kucing.
Adegan kulit pisang pun turut menjadi bahan pelengkap yang membuat Zac akhirnya terjatuh.
Terdiam sejenak, sungguh, ia ingin sekali berteriak, melakukan protes pada gadis itu dan mengatakan bahwa makhluk ini terlalu imut, ceroboh, bahkan selalu mengacaukan jiwa lelakinya. Zac meremas rambut, bertolak pinggang, merasa sedikit pusing. "Alsou bisa kau berubah menjadi kucing saja? Kau tahu wujud manusiamu selalu membuat pikiranku teralihkan."
Well, Zac menyesali kalimatnya ketika melihat Alsou yang seketika membesarkan matanya, menatap Zac. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk berubah wujud menjadi seekor kucing karena semua yang ia lakukan berhubungan dengan tindakan refleks. Gadis itu menundukkan wajah, berjalan pelan lalu kembali memeluk Zac. Kali ini pelukannya terasa berbeda. "Aku tidak akan menjadi anak nakal. Aku tidak akan membuat Zac celaka jadi aku mau Zac tidak merasa terganggu dengan ini karena aku tidak tahu harus berbuat apa."
Dengan tangan gemetar Zac membalas pelukannya dan berbisik, "Maaf."
***
Suara mesin kasir terus berbunyi seiring dengan antrian para pelanggan di toko bangunan tempat Zac bekerja. Sebentar lagi natal, mungkin inilah yang membuat banyak dari mereka berniat untuk mendekorasi ulang rumah mereka. Ini yang kesekian kalinya Marc melihat Zac tersenyum tanpa sebab. ia penasaran, tetapi belum sempat menanyakan hal tersebut akibat pekerjaan yang selalu berdatangan.
"Kau tersenyum sendiri dan hari ini tiba-tiba membawa seorang gadis baru. Where's Lousiana?" Marc mengangkat kedua alisnya melirik ke luar toko tempat Also menunggu sambil bermain dengan kucing milik boss mereka—kucing jelek dan manja, sebuah predikat yang dua pemuda itu tujukan untuk kucing tersebut.
"Aku putus dengannya dan dia." Zac menunjuk ke arah Alsou dengan dagunya. "Dia cuma seorang gadis yang tidak sengaja bertemu denganku. Gadis itu seorang tuna wisma jadi kuputuskan untuk merawatnya beberapa hari hingga ia bertemu dengan keluarganya." Sepertinya Zac paham dengan arah pembicaraan Marc, sebentar lagi dia yakin bahwa Marc akan memintanya untuk mengenalkan Alsou. Marc memang tampan, tetapi dia juga seorang playboy.
"Kenalkan aku padanya, please."
Zac tersenyum miring menatap ke arah Marc karena tebakannya benar. "Dia tidak tertarik denganmu. Kau tahu dia—" Zac menggantung kalimatnya dan memalingkan pandangannya ke arah luar toko. "Damn! Where is she?!" pekik Zac ketika melihat Alsou sudah tidak berada di sana.
Pemuda itu segera berlari keluar tanpa menghiraukan panggilan Marc yang memintanya untuk segera kembali karena jika boss melihatnya ....
Boss tidak akan senang. Marc menggelengkan kepala. Ia tertawa kecil, melihat sikap Zac yang terlihat sekali saat berbohong. Dia tahu bahwa rekan kerjanya itu diam-diam menaruh hati pada gadis tersebut, hanya saja dia belum menyadari.
***
Kakinya melangkah pelan mengikuti seoran wanita berambut pirang. Dari wajahnya tampak sebuah senyum tak terbaca untuk wanita tersebut. Merasa diikuti wanita itu segera berpaling dan melihat sosok yang mengikutinya sepanjang jalan.
"Kau! Apa yang kau inginkan!?" tanyanya sambil bertolak pinggang.
"Berikan harta bendamu, sekarang!" Orang itu mengarahkan pisau tajam tepat di depan wanita itu, tetapi seketika hal aneh terjadi.
Alsou muncul dari belakang orang yang membawa senjata tersebut. Tangannya menampakan butiran pasir biru melayang yang terlihat samar di bawah matahari sore, dia tersenyum manis ke arah wanita itu berusaha membuatnya agar tetap tenang.
"Siapa kau?!" Pria bersenjata itu berlari ke arah Alsou, mengarahkan pisaunya, dan seketika tubuh pria tersebut berhenti di kelilingi oleh pasir biru.
"Maafkan aku. A-aku akan segera pergi." Pria itu segera berlari menjauh meninggalkan Alsou bersama wanita berambut pirang.
Beberapa detik setelah kepergian pria bersenjata itu, Alsou kembali tersadar bahwa ia telah berjalan jauh meninggalkan Zac. Ia menutup bibir dengan kedua tangan, matanya membulat lalu menatap ke arah wanita yang baru saja ia tolong. Wajah mereka berdua tampak ketakutan, walaupun dengan alasan berbeda.
"Zac ...." Suara Alsou terdengar bergetar ketika wanita itu mengamatinya dan memutuskan untuk mendekat.
"Aku seperti mengenalimu, apakah itu benar?" tanyanya ramah.
Alsou merasa tubuh kucingnya akan kembali terlihat. Ia butuh Zac untuk menenangkannya dari rasa takut karena berada dan bersama orang asing.
Tindakan tanpa sadar telah membawa Alsou terpisah dari Zac, satu-satunya orang yang dia kenal dan percaya. Namun, pertanyaan wanita di hadapannya membuat Alsou berpikir keras.
"Apakah kau—"
"Alsou!"
___________________
Chapter ini bener-bener ngetik sambil merem melek -_- Mungkin hari ini bakal ngepost dua chap. Semoga terhibur 😘😘😘
Salam, sapa, manjah 😍😍
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top