Chapter 10

Zac melangkah dengan sedikit terburu-buru, di tangan kanannya terdapat sebuah paper bag berisi roti gandum yang akan ia olah menjadi pizza dengan campuran keju mozarela dan beberapa potongan daging.

Dia terlambat lima belas menit untuk sampai di apartemen dan tentu saja Zac tahu bahwa Alsou telah gelisah menunggunya. Pemuda itu tertawa kecil, mengingat bagaimana dulu kucing Alsou akan menyambut kedatangannya dengan berlari mengelilingi kaki Zac sambil menggosokkan kepala kecilnya.

Apa Alsou akan menyambutku seperti biasa? batin Zac, sambil mempercepat langkahnya.

Rasa kesal yang ia rasakan ketika melihat perangai Lousiana kini lenyap sudah, mengingat bahwa saat pulang ke apartemen ia akan bertemu dengan Alsou—peliharaan yang selalu membuat suasana hatinya tenang. Namun, seketika ia menggaruk kepalanya, melupakan satu hal bahwa kucing tersebut kini telah menjelma menjadi manusia.

Ya Tuhan, aku harap dia tidak akan melakukan hal gegabah untuk menyambut kedatanganku.

Zac menepuk kening lalu menggelengkan kepala. Ia harus bersiap-siap dengan kejutan Alsou kali ini karena sifat manjanya tidak mengalami perubahan dan hal itu selalu mengganggu Zac.

Di depan gedung apartemen, tiba-tiba Zac mengurangi kecepatannya, arah pandangan pemuda itu terfokus pada satu sosok yang terlihat asing—lebih tepat dikatakan misterius atau aneh, entahlah, Zac merasa bingung untuk mendeskripsikan penampilan pria tersebut, tetapi cara berpakaian dan bahasa tubuhnya membuat orang lain pasti akan memerhatikannya.

Mungkin dia hanya terobsebsi dengan gaya gothic. Entahlah, tetapi dia terlihat aneh dengan penampilan seperti itu.

Zac mengibaskan tangan ke udara dan melintasi pria tersebut tanpa menyapa. Sungguh, Zac merasa penasaran dengan pria itu, tetapi perasaan ingin segera sampai di apartemen membuatnya memilih untuk tidak mengacuhkan pria bergaya gothic yang berpapasan dengannya.

Pintu lift terbuka dan Zac segera menuju pintu apartemennya, menekan beberapa angka kemudian membuka pintu. Ia mengernyit, menebarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari Alsou. Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Aneh. Melepas sepatu, mengganti dengan sendal berbahan lembut, ia melangkah pelan kemudian meletakkan semua barang di meja tamu.

Di mana gadis itu?

Perut Zac berbunyi, menandakan bahwa dia harus segera memasak, tetapi kesunyian apartemen membuatnya merasa asing. Bukan! Maksudnya, Zac penasaran di mana dan apa yang dilakukan Alsou hingga gadis itu tidak terlihat.

Perlahan Zac membuka pintu ruangan tempat Alsou biasa bermain dan berjemur, tetapi kosong tidak ada siapa pun.

Apa gadis itu ada di dapur?

Sambil kembali melangkah menelusuri apartemen. Perasaan Zac mulai tak keruan karena tidak menemukan sosok Alsou, padahal sebentar lagi dia harus segera pergi untuk bekerja.

"Alsou, are you there?" Zac membuka pintu kamarnya, ruangan terakhir yang ia pilih untuk mencari keberadaan Alsou dan betapa terkejutnya Zac ketika melihat Alsou duduk di sudut ruangan dalam keadaan gemetar.

Bergegas Zac menghampiri Alsou dan secara refleks tangannya menyentuh bahu gadis itu. Tampak ekspresi kebingungan di wajah Zac karena Alsou terlihat sangat ketakutan. Sangat aneh bagi Zac ketika melihat Alsou seperti sekarang, sebab tidak mungkin Alsou bertemu orang asing—sampai sekarang Zac belum memberitahu dan mengajari Alsou bagaimana cara menginput password untuk membuka pintu apartemen.

"Alsou, apa kau baik-baik saja?" Zac mencoba menenangkan Alsou yang menundukkan wajahnya. "Hi, it's me. Look at me." Tangan pemuda itu berusaha menjauhkan rambut Alsou mengangkat wajah gadis tersebut agar dia bisa melihat Zac.

Tubuh gadis itu masih gemetar, menampakkan beberapa tubuh kucingnya. Melihat kondisi tersebut, akhirnya Zac memutuskan untuk memeluk Alsou. Menyadari bahwa tindakan untuk menenangkan seseorang adalah sebuah pelukan. Perlahan tangan Alsou membalas pelukan Zac dan lagi-lagi jantung Zac menjadi tak keruan.

"Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Zac lembut, sambil masih dalam keadaan memeluk Alsou. Seperti memiliki keterikatan batin, pemuda itu seperti sangat mengerti bahwa peliharaannya ini sangat ketakutan, tetapi Zac tidak tahu apa alasan dibalik ketakutannya.

"Zac jangan pergi, aku ...." Alsou menelan salivanya, merasa bingung mengenai kalimat apa yang ingin ia sampaikan pada Zac. Saat ini Alsou hanya mengetahui ia merasakan hal aneh hingga membuat tubuhnya gemetar dan ritme jantung yang tidak menentu bahkan cenderung menyakitkan. Namun, dia tidak tahu mengapa hal tersebut bisa terjadi. Setelah melihat pria di depan pintu beberapa menit yang lalu, tiba-tiba Alsou mengalami hal seperti ini. 

Melepaskan pelukan, Zac membantu Alsou untuk berdiri dan membawanya ke meja makan.

"Minumlah, seperti yang kuajarkan sebelumnya." Zac menyerahkan segelas air untuk Alsou lalu pergi ke ruang tamu ingin mengambil barang belanjaannya.

Alsou menarik ujung baju Zac lalu bangkit dari kursinya, pemuda itu mengembuskan napas—merasa bingung antara ingin menyuruh Alsou tetap duduk di kursi atau membiarkan dia mengikuti Zac. Well, mengikuti seperti seekor anak kucing yang kehilangan induknya lalu meminta seseorang memelihara mereka dengan cara mengekor di belakang orang tersebut.

"Aku hanya pergi ke ruang tamu untuk mengambil barang belanjaan." Zac berbalik menghadap Alsou.

Alsou melepas cengkramannya di baju Zac lalu kembali duduk di tempatnya. Bagian tubuh kucing Alsou mulai menghilang, ia percaya pada Zac dan itulah yang harus Alsou lakukan karena perasaan Zac yang mengatakan hal tersebut.

Siapa dia dan mengapa tiba-tiba aku merasa takut bahkan melebihi rasa takut pada orang asing.

"Alsou," panggil Zac, sambil meletakkan dan mengeluarkan barang belanjaan dari papper bag. Alsou mengangkat kepalanya, berusaha tersenyum karena tidak ingin membuat Zac khawatir.

"Apa aku membuat Zac khawatir?" Alsou menggigit pelan jari telunjuknya.

"Hmm ... tidak, aku tidak suka gadis penakut."  Zac mulai mencuci beberapa lembar daun seledri dan tiba-tiba ia merasakan pelukan hangat di punggungnya. Alsou memeluknya dari belakang, membenamkan kepala di punggung Zac.

Terdiam dan hanya ada debaran jantung yang dirasakan, otak Zac mulai berpikir mengenai bagaimana perubahan sikap Alsou bisa secepat ini. Beberapa menit yang lalu dia tampak begitu ketakutan lalu sekarang gadis itu telah kembali seperti biasa.

"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi tadi? Aku akan memberikanmu bonus makan malam jika kau mau menceritakannya." Zac melepaskan tangan Alsou di pinggangnya, agar pelukan ini tidak memecah konsentrasi saat ia memasak.

"Aku tidak tahu, perasaan itu tiba-tiba saja dan ketika Zac datang untuk memelukku, aku merasa membaik. Daddy adalah yang terbaik." Kembali Alsou memeluk Zac lalu mencium pipi pemuda tersebut.

Buru-buru Zac melepas pelukan Alsou dan pergi meninggalkan gadis itu. Lagi-lagi ia merasa malu akibat tindakan Alsou, beberapa hari tinggal bersama ternyata tidak menjamin bahwa Zac akan terbiasa dengan makhluk manis di sisinya.

"A-aku butuh toilet jika kau ingin ikut silakan." Zac terbelalak menyadari apa yang ia katakan dan kalimat ini mengundang malapetaka baginya. Alsou berlari kecil lalu memeluk Zac dan menggantungkan tubuh di punggung pemuda tersebut.

"I love you Dad," bisiknya lembut tepat di telinga Zac dan sukses membuat Zac merinding.

"Zac, don't call me dad. I told you, right?"

Blam.

Suara bantingan pintu toilet terdengar dan Zac segera menguncinya. Kini bayangan dirinya terpampang jelas—wajah semerah kepiting rebus akibat seekor siluman kucing. Zac memukul-mukul pipinya pelan, menyalakan keran lalu mencuci tangan.

Alsou tidak boleh terlalu dekat denganku. Aku akan membawanya ke tempat kerjaku nanti malam. Setidaknya, dia harus punya teman selain aku—teman wanita.

Mengangguk, pemuda itu segera keluar dengan membuka pintu secara perlahan. Namun tiba-tiba matanya kembali membulat menatap pemandangan di hadapannya.

Bruk!

"A-Alsou," bisik Zac.


______________
Update telat lagi. Ane dah ngantuk, semoga terpuaskan dengan chapter ini. 😍😍😍😘😘😘 Buat yang penasaran dg siapa pria itu kudu bersabar sedikit lagi ya lolol.

Salam, sapa, manjah 😘😘

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top