Bab 3


Tiga tahun yang lalu

Doyoung bersama tiga rekan kerjanya sedang berada dalam misi yang tidak biasa. Mereka sedang mengejar roh jahat tanpa manusia sebagai inangnya. Itu artinya, target mereka bukanlah roh jahat, melainkan iblis sejati. Berdasarkan informasi dari Jieun dan Jill. Iblis memiliki tingkat kekuatan yang tidak dapat diprediksi. Melawannya satu lawan satu sama dengan bunuh diri. Bahkan tiga lawan satu pun belum tentu berhasil. Itulah sebabnya, Jieun yang biasanya tak pernah turun ke medan perang, kini ikut bergabung dan memimpin.

Misi tersebut mungkin saja berhasil jika Doyoung tidak bertemu dengan seorang gadis yang baru saja menjadi korban tabrak lari. Suara permohonan putus asa gadis itu terdengar sampai ke telinganya. Doyoung tidak tahu hal apa yang membuatnya tak bisa mengabaikan suara itu di tengah misi genting. Kakinya bergerak menghampiri sang gadis.

Ya Tuhan. Ku mohon kirimkanlah seseorang. Aku tidak mau mati sebelum menangkap pembunuh ayah dan ibu. Kirimkanlah manusia. Bukan malaikat pencabut nyawa. Ku mohon ... Ku mohon ... aku berjanji akan menjadi anak yang baik jika engkau mengabulkan doaku. Ku mohon. Jangan cabut nyawaku sekarang.

"Pembunuh? Apakah gadis itu anak dari korban pembunuhan iblis tadi?" Doyoung yang merasa penasaran memilih mendekati gadis berseragam sekolah itu.

Saat ia berjongkok menghadap gadis itu, ternyata kondisinya benar-benar sekarat dan sepertinya tidak ada kesempatan untuknya meskipun ia menelepon rumah sakit sekarang.

"Ahjussi ... tolong ...."

"Sayang sekali. Kau masih terlalu muda untuk mati."

"Ah-jussi. To-long sa-ya."

"Bukan tugasku untuk menolongmu."

"Ku mohon."

"Aku akan melanggar peraturan jika menyelamatkanmu."

"Jjebal. Ahjussi."

Saat Doyoung ingin berdiri, jemarinya gadis itu berhasil menyentuh lengannya. Sebuah ingatan merasuk dan dugaannya pun benar. Gadis ini adalah anak dari pasangan suami istri yang baru saja terbunuh. Kemudian ingatan lain mulai bermunculan, termasuk ingatan masa kecil gadis yang kini ia kenal bernama Han Sejeong.

Doyoung terduduk saking terkejutnya. "Kau ...." Napasnya turun naik dan matanya mulai nanar berkaca-kaca. Persetan dengan peraturan dilarang menyelamatkan manusia yang sekarat selain korban roh jahat. Dia tidak peduli lagi. "Aku akan menyelamatkanmu."

Doyoung meletakkan tangannya di atas wajah Sejeong. Perlahan telapaknya mulai bersinar terang dan terjadilah sebuah guntur yang nyaring meskipun tidak hujan. Langit telah menjadi saksi bahwa Doyoung memilih menyelamatkan gadis ini dengan mengorbankan sesuatu yang berharga.

***

Masa kini

Sejeong merengangkan tubuhnya di atas kasur. Matanya setengah terbuka. Pemandangan yang sangat familiar dan aroma ruangan yang sangat ia kenal. Ia seperti berada di rumahnya sendiri.

Tunggu. Aku bukan seperti berada di rumah sendiri, tapi ini memang rumahku.

Sejeong bangkit dari tidurnya dan melihat sekeliling. Ini sungguh rumahnya.

"A-apa ter-jadi yang?" Sejeong menggeleng karena susunan kalimatnya yanga salah. "A-apa yang te-terjadi?" 

Ia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi. Ingatan terakhirnya adalah terkunci di toilet. Tidak. Bukan itu. Aku ingat ada seseorang yang menyelamatkanku. 

"Si-siapa di-dia?" 

Apa dia yang mengantarku? bagaimana dia bisa tahu rumahku?

Semakin memikirkannya semakin ia tak menemukan jawaban. Semua terlalu aneh untuk dikatakan normal. Seorang pria yang tidak ia kenal tiba-tiba menyelamatkannya dan bahkan mengantarkannya pulang dengan selamat. 

Apa mungkin salah seorang guru di sekolah? Tidak mungkin. Atau ... ahjussi yang tiga tahun lalu menyelamatkanku? Lebih tidak mungkin. 

Sejeong kembali merebahkan diri. Ia masih memikirkan segala kemungkinan sambil menatap langit-langit.

"A-astaga." Ia baru teringat bahwa harus kerja part time malam ini. Ia segera bangkit untuk bersiap dan bergegas pergi.

Meskipun telah pergi dengan sangat terburu-buru. Sejeong tetap terlambat dan menerima teguran dari bosnya.

"Dari mana saja kau? Piring kotor sudah menumpuk."

"Ma-maaf. Sa-saya."

"Sudah. Nanti saja penjelasanmu. Cepat bekerja."

"Ba-baik."

Sejeong menanggalkan tas lalu memakai celemek dan sarung tangan. Ia mulai mencuci tumpukan piring dan gelas kotor dihadapannya. Restoran sedang ramai dan Sejeong datang terlambat. Wajar saja jika pemilik resto memarahinya. Sejeong tidak bisa membela diri bukan hanya karena kesulitan bicaranya tapi karena dia merasa bersalah.

Akhirnya restoran tutup setelah bekerja tiga jam nonstop. Sejeong berdiri untuk meregangkan pinggangnya. Pemilik resto menghampirinya dan memberikan sebuah amplop.

"I-ini a-apa, Pak?"

"Pesangonmu. Mulai besok kau tidak perlu datang lagi."

"Ti-tidak. Jangan, Pak. Sa-saya—"

"Saya tidak bisa terus bekerja dengan orang yang tidak tepat waktu sepertimu."

Sejeong menunduk.

"Lebih baik kau fokus sekolah saja. Lagi pula sulit bekerja sama dengan seseorang yang susah berbicara." Pemilik resto itu berpaling dan meninggalkan Sejeong.

Lagi-lagi Sejeong tidak bisa membela dirinya. Ia hanya terdiam dan menerima setiap perkataan orang lain kepadanya. Dihina dan diperlakukan tidak adil bukanlah hal baru baginya. Apakah menjadi terbiasa dengan situasi seperti ini merupakan kebiasaan buruk? Jika iya, bagaimana cara mengubahnya?

Sejeong tidak ingin mempersulit keadaan dengan memohon-mohon untuk tidak dipecat. Ia pun melepas celemeknya dan mengambil tas di dalam loker. Untuk terakhir kalinya, Sejeong membungkukkan tubuh sebagai salam pamit dan perpisahan dengan bos yang telah mempekerjakannya itu. Padahal sangat sulit mencari kerja part time karena keterbatasannya. Hanya tempat ini yang mau menerimanya. Dengan berat hati, Sejeong pergi meninggalkan tempat kerja yang belum genap sebulan ia tekuni.

***

Sejeong berjalan menyusuri trotoar. Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Sudah sangat larut, tapi masih banyak mobil yang berlalu lalang. Sejeong duduk di halte untuk menunggu bus terakhir. Kepalanya menunduk menatap sepasang  sepatu yang mulai menipis alasnya dan berwarna usang itu. 

Air matanya tiba-tiba mengalir. Rasa perih seperti menjalar begitu saja. Ia tidak tahu kenapa hidupnya begitu sial. 

Dulu, saat ia hampir mati, ia meminta untuk tetap hidup. Sekarang saat dia selamat dari kematian, dia berharap untuk mati. 

Dunia terlalu kejam terhadap yatim piatu lemah sepertinya. Tidak ada yang berpihak kepadanya.

Seorang pria berjalan mendekati halte lalu mengambil duduk di dekat Sejeong. Pria itu memperhatikan Sejeong yang menangis. Sejeong melirik sekilas. Karena malu dilihat saat sedang menangis oleh orang lain, Sejeong menghentikan tangisnya dan menghapus air mata yang masih tersisa.

"Kenapa berhenti? Menangis saja," ucap pria itu yang ternyata adalah Doyoung. "Kau tahu, hidup terkadang memang terasa sangat berat bagi sebagian orang dan mudah bagi yang lainnya."

Sejeong perlahan menoleh dan menatap wajah pria yang berbicara tanpa melihat ke arahnya. Tiba-tiba pria itu menoleh hingga tatapan mereka saling temu. "Namun, tetap saja hidup jauh lebih baik dari pada mati. Selama kau hidup, kau masih bisa merubah nasibmu." Doyoung menyambung kalimatnya.

Sejeong memperhatikan dalam diam. Kalimat yang ia dengar barusan sungguh menghantamnya keras. Beberapa saat yang lalu ia sempat menyesal telah selamat dari kematian tiga tahun yang lalu. Namun, setelah mendengar ucapan pria asing ini, Sejeong sadar, bahwa kemalangan yang ia derita tidak akan bertahan selamanya. Ia masih punya kesempatan untuk merubah nasib. 

"Aku baru saja membeli sepatu untuk adikku namun ukurannya salah. Kau bisa memilikinya." Menyerahkan paper bag berisi kotak sepatu.

"Hah?" Sejeong tampak terkejut. Ia tidak pernah menerima barang dari orang asing.

"Adikku perempuan, jadi tidak mungkin aku pakai. Lagi pula, sepertinya sepatumu sebentar lagi akan bolong."

"Ta-tapi."

"Kau bisa membuangnya jika tidak suka."

Sejeong mengintip isinya. Bola matanya membulat dan terlihat berbinar. Sepatu yang ia lihat sekarang adalah sepatu yang telah lama ia taksir. Sepatu tersebut biasanya hanya bisa ia lihat dari balik dinding kaca toko sepatu. Membuangnya? Sangat tidak mungkin. Tapi apa ini sungguhan gratis? Sepatu ini sangat mahal.

Bus yang Sejeong tunggu pun datang. Ia bingung harus menerima pemberian orang asing ini atau tidak. Setelah ia pikir-pikir, sangat tidak sopan jika ia menolak dan sangat rugi jika tidak diterima. Sejeong pun berdiri dan ingin membungkuk berterima kasih. Namun orang tersebut sudah menghilang. Doyoung pergi entah ke mana tepat sebelum Sejeong menyadarinya.

***

Bus yang Sejeong naiki sampai di daerah rumahnya. Sejeong turun dan mulai berjalan. Tiba-tiba ia mendengar suara aneh. Seperti gesekan besi dengan besi. Saat melihat ke depan, terlihat papan reklame yang tidak stabil. Tepat di bawahnya ada seorang wanita yang sedang sibuk menelepon. Reklame itu semakin tidak stabil dan jatuh dari tempatnya.

"A-andwae." Sejeong tidak bisa berdiam diri melihat hal tersebut. Ia berlari untuk menyelamatkan sang wanita. Sejeong menarik wanita berambut pendek itu dan menghindar bersama. Papan reklame jatuh tepat di samping mereka. Nyaris mengenai tubuh Sejeong. Wanita itu pun terlihat sangat terkejut.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top