Bab 2
"Karena kau terlambat, kau harus dihukum."
Kalimat Hyekyung sukses membuat Sejeong tertegun dan jantungnya mulai bergedup kencang. Bukan hal mengejutkan sebenarnya. Karena Sejeong sudah menduganya. Seorang Hyekyung tidak mungkin membiarkan Sejeong pergi begitu saja. Hukuman karena terlambat hanyalah alibi. Tujuan utamanya memang membuat Sejeong menderita.
Hyekyung menekan bahu Sejeong untuk memaksanya berlutut di lantai. Botol cola yang Sejeong beli telah tumpah membasahi kepala sampai tubuhnya. Hyekyung menumpahkan satu botol penuh di atas kepala Sejeong. Seolah tak ingin ketinggalan permainan, Semi ikut melemparkan tepung, Sinhye menaburi serbuk abon dan kulit kacang. Terakhir, Yoori merekamnya dengan kamera ponsel.
"Yuhuuu, lihat guys si gagap sedang ikut party kecil-kecilan bersama kami."
Sejeong memalingkan wajah saat Yoori mendekatkan ponselnya. Yoori terus berusaha mengekspos wajah gadis malang itu. Kemudian, tangan Sejeong spontan menangkis lengan Yoori hingga ponsel yang sedang Yoori genggam terlempar. Seketika semua terdiam.
"Ma-ma-maaf. A-aku ti—" satu tamparan mendarat di pipi Sejeong.
"Siapa yang mengizinkanmu melawan, hah?" suara Hyekyung terdengar sangat murka. Padahal bukan ponselnya yang terjatuh.
Sudut matanya mulai berair sebab sakit dan kesal yang ia rasa. Sejeong menatap Hyekyung lekat. "A-apa sa-salah-ku? Ke-kenapa ka-kali-an sa-sangat me-mem-benci-ku?"
"A-apa sa-salahku. Hahaha." Hyekyung meniru ucapan Sejeong. Setelah puas tertawa, ia menyamakan posisi dengan berjongkok.
"Kau sungguh tidak tahu salahmu apa?"
Sejeong menggeleng.
"Salahmu adalah terlalu lemah dan cacat. Aku benci orang lemah dan cacat sepertimu. Apa perlu ku perjelas seperti ini dulu agar kau tahu? Dasar Bodoh!"
"Bu-bukan ingin ku se-seperti ini." Suara Sejeong meninggi. Dia juga sama membenci dirinya sebanyak Hyekyung membencinya. Dia juga kesal dengan keadaan ini. Namun, tidak ada satu pun hal yang bisa ia lakukan untuk memperbaikinya.
Kerusakan di jaringan otak yang mengolah bahasa membuatnya kesulitan untuk memilih kata dan juga berbicara tidak lancar. Itulah yang menyebabkannya cenderung memilih diam, bahkan saat diperlakukan tidak adil.
"Hei!" Hyekyung menarik rambut Sejeong ke belakang hingga kepalanya mendongak. Sejeong yakin beberapa rambutnya kini terlepas dari akar saking kuatnya tarikan Hyekyung. Ia hanya bisa meringis menahan sakit.
"Kau tidak pantas berteriak di depanku." Lalu mendorong tubuh Sejeong hingga tersungkur. Hyekyung berdiri dan mengajak teman-temannya untuk pergi.
"Aku sudah tidak mood berada di sini," ucapnya lalu melangkahi tubuh Sejeong dan pergi.
***
Sejeong membersihkan diri di toilet sekolahnya. Ia tidak mungkin meninggalkan sekolah dalam keadaan kacau seperti sebelumnya. Setidaknya ia perlu mengganti baju terlebih dahulu. Untunglah seragam olahraganya ada di loker. Sejeong masuk ke dalam bilik toilet dan menanggalkan seragamnya lalu mengganti dengan seragam olahraga. Sejeong meninggalkan tasnya di samping wastafel. Lalu terdengar sesuatu. Hyekyung kembali dan mengganjal ganggang pintu dengan sapu sehingga Sejeong tidak bisa membuka dari dalam.
Sejeong ingin berkata jangan mengunci dirinya karena dia takut terkurung di ruang kecil terlalu lama. Namun Sejeong kesulitan untuk mengeluarkan kalimat yang ia inginkan sehingga hanya kata jangan yang terucap.
"Jangan. Jangan."
Hyekyung dan teman-temannya tertawa puas dan perlahan suara mereka menghilang. Tinggallah Sejeong seorang diri. Membayangkan dirinya harus bertahan tanpa tahu sampai kapan, mulai membuat jantungnya berdegup kencang. Sejeong mulai gelisah dan mengeluarkan keringat dingin. Setiap kali ia berada di ruangan yang sempit, Sejeong akan mulai teringat perasaan mencekam saat orang tuanya terbunuh dan saat dirinya berlari melarikan diri. Suara pembunuh itu mulai terngiang di telinga dan terus berulang.
Ingatan buruk di masa lalu terlalu menekan pikirannya hingga sesak menerpa dada. Betisnya tak sanggup lagi berdiri. Ia pun tersandar lemas di pintu. Seseorang, ku mohon, seseorang. Datanglah.
Derap kaki melangkah kembali terdengar. Persis seperti tiga tahun yang lalu. Sejeong terus memohon seseorang untuk datang menyelamatkannya. Meskipun suara langkah itu bisa saja hanya halusinasinya, tapi ia tetap berharap.
Setelah langkah kaki, sekarang halusinasinya mulai menciptakan suara seseorang sedang melepaskan pengait yang menghalangi ganggang pintu. Sejeong merasa dirinya semakin lemah dan pandangannya tak lagi jelas. Pintu pun terbuka. Tubuh Sejeong yang bersandar di pintu seketika rebah lunglai dan dengan sigap di tangkap oleh seseorang yang telah membukakan pintu untuknya.
Ternyata semua bukan halusinasi. Derap langkah yang mendekat, suara yang ia dengar adalah nyata.
Sayangnya, lagi-lagi Sejeong tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria yang telah menyelamatkan dirinya.
"Nu-nugu-se-seyo?"
Tidak ada respon. Pria itu justru mengangkat tubuh Sejeong ke dalam gendongannya dan membawanya keluar dari toilet sialan yang telah membuat kondisi Sejeong memburuk. Pria itu tak bersuara sedikit pun. Hanya bunyi sentuhan alas kakinya dengan lantai yang terdengar.
Sejeong pun memejamkan matanya karena sakit kepala hebat yang ia rasakan sekarang. Namun ia masih bisa merasa dan mendengar. Kini, ia yakin bahwa dirinya sedang didudukkan dalam sebuah mobil. Sejeong ingin bertanya kemana dirinya akan dibawa. Namun, suaranya sedang berkhianat. Tak ada sedikit pun tenaga lagi untuknya berucap.
***
Doyoung bergegas menuju lokasi Taeyong berada.
"Kemana saja kau."
"Nanti saja ku jawab. Kita selesaikan dulu roh jahat sialan ini."
Doyoung dan Taeyong menyerang dari dua sisi. Sang manusia yang sedang kerasukan roh jahat tersebut terus bergerak melawan dan menangkis pukulan. Syukurlah roh jahat kali ini masih tingkat satu. Sehingga mudah bagi mereka menyelesaikannya. Begitu pedang yang Taeyong pegang menebas tubuh manusia itu. Roh jahat yang merasuk langsung terbakar, berubah menjadi abu dan lenyap tersapu udara.
Doyoung mendekati manusia yang sudah tidak sadarkan diri tersebut. "Kondisinya tidak parah."
"Aku akan menelepon."
"Menelepon apa? Rumah sakit atau polisi?
"Tentu saja polisi. Dia itu pembunuh. Bagaimana dengan bukti-buktinya, apa sudah kau kumpulkan?"
"Sudah, meletakkan sebuah flashdisk ke dalam saku pria yang pingsan itu."
Ponsel Doyoung bergetar. Ia memeriksa pesan yang masuk. Begitu juga dengan Taeyong.
"Astagaaa. Aku bahkan belum sempat mengelap keringatku dan kini si nenek Jieun sudah mengirimi pekerjaan baru lagi." Taeyong mengeluh.
"Sudahlah kerjakan saja."
"Untung saja dia masih cantik seperti gadis dua puluhan meskipun berusia 1500 tahun. Jika tidak, aku tidak akan menurutinya."
Doyoung tersenyum mendengar ocehan Taeyong. Ia membaca pesan kedua yang bos mereka kirimkan. "Target kita kali ini hanya roh biasa dan tidak merasuki manusia. Kita hanya perlu membujuknya kembali ke alam baqa sebelum berubah menjadi roh jahat."
"Ah. Syukurlah. Semoga saja roh kali ini tidak susah dibujuk." Mereka memasuki mobil dan menuju lokasi yang dikirimkan. "Jadi, dari mana saja kau, sampai terlambat datang."
"Menemuinya."
"Nya? Kau pikir aku tahu siapa saja orang yang kau kenal."
"Aku menolongnya lagi."
Taeyong terdiam sejenak untuk berpikir. "Lagi? ... Ya! Kau menolong gadis dari tiga tahun yang lalu lagi?" reaksi terkejut Taeyong membuat Doyoung terkejut juga.
"Reaksimu berlebihan."
"Kau yang berlebihan. Apa kau lupa hukuman apa yang kau terima tiga tahun yang lalu."
Doyoung tidak menanggapi protes tidak terima dari rekan kerja sekaligus sahabatnya itu. Ia hanya menatap keluar jendela lalu bergumam kecil. "Tentu saja ... aku ingat."
Bayang-bayang penyesalan, kematian dan konsekuensi dari tiga tahun yang lalu terlalu kuat untuk dilupakan. Begitu pula dengan luka yang tersisa. Masih sukar untuk disembuhkan.
[]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top