Bab 1
Musim telah berganti dan kelopak bunga telah berguguran mewarnai jalanan. Namun, bagi Sejeong jalan yang ia lalui masih batu kerikil kendati aspal bagi yang lain. Lorong yang ia lalui adalah lorong kegelapan namun terang benderang bagi yang lain.
Sebuah cerita menyedihkan yang sangat klise. Namun, tetap saja menyesakkan. Kehilangan orang tua terkasih sejak tiga tahun yang lalu dan menderita afasia akibat trauma yang mendalam.
Tinggal di rumah studio kecil yang terasa membekukan saat musim dingin dan terasa membakar saat musim panas. Sebenarnya ia mempunyai cukup uang untuk menyewa rumah yang lebih layak, jika saja uang asuransi kematian orang tuanya tidak dibawa lari oleh paman sialan yang sampai mati tidak akan ia anggap sebagai paman lagi.
Sungguh paket komplit takdir naas, bukan?
Kini usianya 18 tahun dan hidup bergantung pada tunjangan dana sosial oleh seorang pejabat kota yang mendapatkan gelar malaikat. Pejabat tersebut memiliki seorang putri yang sekelas dengannya. Namun, sayang sang anak lebih cocok dikatakan sebagai titisan iblis dibandingkan malaikat. Mencari masalah dan mempermalukan orang lain adalah rutinitas sehari-harinya.
Sejeong termasuk dalam kelompok orang lain itu.
Sepertinya penderitaan yang ia terima belum cukup. Takdir kembali membuatnya menerima kesialan baru.
Perundungan.
Berbagai hal tak menyenangkan sudah pernah ia rasakan. Seperti disiram air dari atas bilik toilet, didorong saat membawa piring makanan, menjadi pesuruh, dilempari bola voli, dan masih banyak lagi. Semua itu dilakukan oleh Hyekyung, orang nomor satu yang membenci Sejeong. Dialah putri dari pejabat kota itu.
Kesulitan bicara yang masih Sejeong derita sejak kepergian orang tuanya menjadi alasan utama mengapa dirinya ditetapkan sebagai target perundungan oleh geng Hyekyung. Alasan kedua adalah Sejeong memiliki nilai akademik di atas Hyekyung dan yang ketiga, Sejeong tidak pantas berada di sekolah ini, merusak citra sekolah karena Sejeong dianggap murid cacat.
Ia yakin alasan ketiga hanyalah pendapat subjektif Hyekyung. Jika ia sungguh merusak citra sekolah, sejak awal Sejeong tidak akan diterima di Serim Senior High School.
Pembelajaran hari ini akan segera berakhir. Sejeong memejamkan mata dan menghirup udara perlahan sambil mendengar kalimat-kalimat penutup pembelajaran yang diucapkan Pak Yonggi. Dalam hati Sejeong merapalkan ucapan guru tersebut sambil berdoa bahwa suatu saat dia bisa berbicara selancar itu. Harapan yang sederhana namun sangat berarti baginya.
Terdengar bisik-bisik dan tawa Hyekyung bersama teman-temannya. Gadis bersurai hitam sepunggung itu membuka mata dan melihat sekilas ke arah Hyekyung.
"Hei guys. Lihat si gagap sudah membuka mata," ucap Hyekyung yang disambung oleh tawa Sinhye, Yoori, dan Semi. Mereka adalah pengikut setia Hyekyung.
Hyekyung berdiri dari tempat duduknya tepat setelah Pak Yonggi keluar dari kelas. Sebagian siswa di kelas ikut berdiri dan keluar sambil menggendong ransel masing-masing. Sejeong pun ingin meninggalkan kelas bersama yang lain. Namun, Hyekyung selangkah lebih cepat darinya.
Gadis jahat itu menahan bahu kanan Sejeong hingga kembali terduduk. Hyekyung mengambil posisi di atas meja Sejeong. "Annyeong, gagap. Kau mau ke mana? Jangan bilang kau lupa dengan janji kita sepulang sekolah."
"Ti-ti-tidak." Tubuh Sejeong serasa menyusut karena takut. Jujur saja, ia tidak tahu janji apa yang Hyekyung maksud.
Mendengar ucapan Sejeong, Hyekyung tertawa geli. Padahal ia asal berkata saja. Tidak ada janji apa pun yang sebelumnya ia buat dengan Sejeong. "Dasar bodoh." Hyekyung mendorong kepala Sejeong dan kembali tertawa. Para pengikutnya ikut meramaikan dengan tertawa bersama. Menonton Sejeong yang tampak bodoh dan pasrah diperlakukan semena-mena adalah hiburan menyenangkan bagi mereka.
Hyekyung mengirim sebuah pesan ke ponsel Sejeong. "Buka pesanmu."
Sejeong mengeluarkan ponselnya lalu beberapa lembar uang 10.000 won menghantam wajah. Hyekyung baru saja melemparkan uang tersebut tepat ke wajah Sejeong.
"Segera beli pesananku, sepuluh menit lagi kau sudah harus tiba di rooftop."
Hyekyung dan teman-temannya pergi meninggalkan Sejeong. Dipikirkan berkali-kali pun rasanya tidak mungkin sepuluh menit cukup. Namun, lagi-lagi Sejeong tidak bisa menolak. Sudah menjadi kebiasaannya untuk membungkuk patuh terhadap segala perintah Hyekyung.
Sejeong langsung berlari menuju toserba terdekat untuk membeli beberapa cemilan dan sekotak rokok. Napasnya terengah-engah karena terus berlari dari kelasnya sampai di depan toserba. Sejeong membungkuk dengan kedua telapak tangan bertopang di atas lutut. Sambil mengatur napas, terdengar bunyi bel pintu toserba dan di depannya keluar seorang pria berpakaian hitam dan topi hitam.
Pria itu melewati Sejeong tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun. Sejeong hanya melirik ke arah pria berkaki jenjang itu sekilas. Setelah mengumpulkan energinya kembali, Sejeong bergegas masuk dan langsung berjalan menuju rak tempat cemilan-cemilan yang akan ia beli. Setelah mendapatkan semua yang ia perlukan, Sejeong berjalan menuju kasir. Pemuda di belakang meja kasir itu menatap Sejeong sesaat. Seolah mengerti akan tatapan tersebut, Sejeong berusaha menjelaskan sebisanya.
"I-ini u-untuk a-ayah sa-saya."
Pemuda tersebut mengangguk dan memasukkan sekotak rokok tersebut ke dalam kantong belanja. Sejeong melihat jam di tangan kirinya. Waktu yang tersisa ada empat menit lagi. Bagaimana pun caranya, Sejeong harus sampai di rooftop tepat waktu.
Sejeong kembali berlari. Fokusnya terpecah karena terburu-buru. Sebuah motor melaju dari arah kiri dan nyaris menabrak tubuh gadis tersebut. Untunglah ada orang baik yang menarik lengannya hingga berakhir selamat dari kecelakaan tak diundang.
"Kau baik-baik saja?" ucap orang baik tersebut.
Bola mata Sejeong membulat. Seseorang yang baru saja menyelamatkannya adalah pria yang ia lihat di depan toserba tadi. "Oh?"
"Kau baik-baik saja?" ulangnya.
"Ah, i-iya. A-aku ba-ba-baik-baik sa-ja."
Pria itu tersenyum. Sejeong terkejut melihat senyum pria di depannya yang ternyata sangat manis dipandang. Namun, seketika petir seperti menyambar kepalanya. Ia teringat empat menitnya yang tersisa. Sejeong melihat jamnya dan kini hanya bersisa dua menit lagi.
Ah. Sial. Aku bisa terlambat.
Sejeong berucap terima kasih sambil membungkuk lalu kembali berlari.
"Hati-hati. Lihat kanan kirimu sebelum menyeberang," teriak pria tersebut dan dibalas anggukan oleh Sejeong.
Dalam dua menit berlari menuju sekolahnya, belum lagi dia harus menaiki anak tangga sampai ke rooftop. Rasanya sangat tidak mungkin. Sejeong bukanlah manusia super yang mampu berlari secepat kilat atau berteleportasi. Sudah setengah jalan dan waktu dua menitnya telah habis. "Aaaa!" Sejeong berteriak sampai menarik perhatian orang di sekitarnya. Karena malu menjadi sorotan banyak mata, Sejeong menunduk, menarik napas panjang dan kembali berlari.
Ada hal aneh yang terjadi di sekitarnya. Sejeong berhenti berlari untuk memperhatikan kejanggalan yang terjadi.
Tiba-tiba semua orang tidak bergerak.
Seperti manekin challenge.
Mobil-mobil juga tidak bergerak. Bahkan sepotong es krim yang jatuh dari tangan anak kecil, kini sedang melayang di udara.
Ada apa ini?
Sejeong melihat jam di lengan kirinya. Jarum jamnya juga berhenti berputar.
Kenapa semuanya berhenti? Dan kenapa hanya aku yang tidak berhenti?
Seketika Sejeong sadar, bahwa ini kesempatannya untuk kembali berlari ke sekolah tanpa khawatir terlambat. Tak mau memusingkan keanehan yang terjadi, Sejeong memilih melanjutkan perjalanannya. Kakinya melangkah cepat menaiki anak tangga satu demi satu dan sampailah ia di depan pintu menuju rooftop.
Sejeong mendengar keheningan berubah menjadi bising kembali. Tawa Hyekyung dan teman-temannya terdengar dari balik pintu. Sepertinya waktu kembali berjalan. Sejeong melihat jam tangannya, dan dugaannya benar. Jarum jamnya kembali berdetak. Sejeong membuka pintu perlahan.
"Ya! Kenapa lama sekali?" teriak Semi.
Sejeong sampai tersentak karena terkejut akan teriakan Semi.
"Cepat kemari!" Kali ini Hyekyung yang berteriak.
Ada rasa takut dan gelisah, namun Sejeong tetap melangkahkan kakinya menghampiri para iblis berseragam SMA yang sedang santai duduk di atas kursi usang tersebut. Ia berdiri tepat di depan Hyekyung. Gadis bersurai hitam dan panjang, sang pemimpin para gadis jahat lainnya itu, mengarahkan dua jari kanannya ke bahu kiri Sejeong dan mendorong tubuh Sejeong ke belakang.
"Ya! Kau terlambat satu menit, dua puluh tiga detik."
Satu menit dua puluh tiga detik? Jika waktu tidak berhenti, pasti aku akan terlambat lebih lama dari itu.
"Ma-maaf." Sejeong menunduk takut. Dapat ia rasakan sekarang bahwa kakinya sedikit gemetar. Gabungan dari lelah karena berlari dan rasa takut.
Hyekyung menarik kantong plastik yang dipegang Sejeong. Yoori dan Sinhye membuka beberapa cemilan. Hyekyung mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya lalu menyelipkan ke sela jari di tangan kiri. Ia berjalan dengan angkuh dan tatapan mengintimidasi.
"Karena kau terlambat, kau harus dihukum."
Sejeong tertegun dan jantungnya mulai bergedup kencang.
[]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top