Bab 4

Sejeong berlari secepat mungkin untuk sampai ke posisi wanita tersebut dan akhirnya ia berhasil. Papan reklame jatuh tepat di sampingnya. Wanita berambut pendek itu tersentak. Mereka berdua terjatuh ke jalanan. Lengan Sejeong tepat berada di bawah leher wanita tersebut. Saat mengangkat lengannya, terlihat siku Sejeong terluka karena bergesekan dengan aspal.

"Astaga." Wanita itu tersadar saat melihat darah di lengan Sejeong. "Kau baik-baik saja?"

"I-iya. Maaf a-anda jadi te-terjatuh ka-karena sa-saya."

"Kenapa kau meminta maaf, aku justru ingin berterima kasih."

Sejeong tersenyum tipis. Wanita itu membantu Sejeong berdiri. Ia mengajak Sejeong ke toserba terdekat untuk membeli alkohol dan plaster. Wanita itu mengobati luka di tangan Sejeong dengan telaten.

"Rumahmu di daerah sini?"

"I-iya."

"Baru pulang dari les?"

"Ti-tidak."

"Jadi dari mana?"

"Ke-kerja."

"Apa aku terlihat menakutkan? Kenapa kau terus berbicara gagap dari tadi?"

Sejeong menggeleng. "Sa-saya be-bermaksud." Sejeong menggeleng karena kalimatnya kurang tepat. "Sa-saya ti-tidak ber-maksud be-begitu." Sejeong menunjukkan foto surat keterangan dari dokter.

Wanita itu terdiam. Ia merasa tidak nyaman karena menuduh siswi di depannya yang tidak-tidak. "Oh. Maaf. Aku tidak tahu."

Sejeong mengangguk memakluminya.

"Kau kerja apa sampai selarut ini?"

"Pen-pencuci pi-piring. Ta-tapi su-sudah ti-tidak lagi. Ta-tadi yang te-terakhir."

"Ah. Baguslah. Tidak baik juga pulang selarut ini terus-terusan. Kau tahu bukan bahwa tiga hari yang lalu ada kasus pembunuhan di sini?"

Sejeong mengangguk. Wanita itu menunjukkan tanda pengenalnya. Tertulis detektif Park Sera. "Ah. De-dektif."

"Detektif." Membenarkan ucapan Sejeong. "Di mana rumahmu, biar aku antar."

"Ti-tidak pe-perlu."

Detektif Park menatap Sejeong dengan tatapan yang seperti berbicara jika Sejeong menolak lagi maka akan ku patahkan kakimu. "Ba-baiklah." Sejeong terlalu takut untuk menolak lagi.

Mereka telah sampai di depan rumah Sejeong. "Astaga. TKP terlihat dari rumahmu."

"I-iya," ucapnya sambil tersenyum tipis.

Detektif Park mengeluarkan kartu namanya dan memberikan kepada Sejeong. "Kabari aku jika terjadi sesuatu atau kau melihat hal yang mencurigakan, Oke?"

Sejeong mengangguk.

Sera tersenyum dan menunggu sampai Sejeong benar-benar sampai ke dalam rumahnya. Ia menatap punggung Sejeong sampai menghilang. Sebenarnya ada hal yang mengganjal pikirannya sejak tadi. 

Tepat sebelum adegan heroik yang dilakukan Sejeong padanya, Sera dengan yakin bahwa jarak Sejeong dengannya tidaklah dekat, karena saat berbicara di telepon, ia sempat melihat ke arah Sejeong. Perkiraannya sekitar dua puluh meter. Namun, dalam sekejap Sejeong telah berada di sampingnya mendorong tubuhnya agar terhindar dari papan reklame yang jatuh.

Bagaimana cara ia melakukannya? Apa ia manusia super?

Sera terus memikirkan hal tersebut setelahnya. 

***

"Yaaaa!" teriakan melengking itu menggema memenuhi ruangan. Doyoung dan Taeyong tersentak sambil menutup telinga. "Apa kalian bilang? Kalian gagal?"

"Nek, Ah maksudku Noona, roh yang kami hadapi bukan roh abal-abal. Membujuknya saja tak akan mempan, kami harus berkelahi dan tenaga kami sudah terkuras di misi sebelumnya."

Jieun menatap ke arah Doyoung yang mengangguk-angguk untuk menyetujui pembelaan Taeyong. Lalu kembali menatap Taeyong.

"Kau." Jieun mengarahkan tongkatnya ke arah Taeyong. "Terlalu banyak alasan. Kalian pasti menjadi lemah karena tidak pernah latihan fisik lagi. Terutama kau Taeyong!" Intonasinya meningkat pesat saat menyebutkan nama Taeyong. "Sudah ku bilang berhenti bermain wanitaaaa!"

"Ya. Halmeoni. Mana bisa aku berhenti, itu adalah latihan fisikku."

"Beraninya kau memanggilku Halmeoniiiiiii." Taeyong terlempar dan menghantam rak buku di belakangnya. Haechan yang baru saja tiba sambil membawa setoples keripik langsung terdiam saking terkejutnya karena Taeyong jatuh tepat di depan matanya.

"Maaf, ini memang kesalahan kami, kami tidak akan mengulanginya." Doyoung mencoba menurunkan emosi Jieun.

"Tidak. Ini bukan salah kita. Ini salah organisasi," sanggah Taeyong sambil berusaha bangkit. Haechan membantunya berdiri. 

"Organisasi salah karena hanya membiarkan kita berdua dalam satu tim, sedangkan tugas kita terlalu berat. Terlebih lagi sejak Doyoung kehilangan ...." Taeyong tidak melanjutkan kalimatnya. Ia menatap ke arah Doyoung yang menunduk.

"Intinya tugas kami menjadi lebih berat. Seharusnya kau merekrut orang untuk membantu kami bukan malah menyalahkan kami."

Emosi Jieun menurun sedikit setelah penuturan Taeyong. Ucapannya benar, seharusnya tim mereka terdiri lebih dari dua orang. "Kau pikir kau saja yang memikirkan itu? Aku sudah menghubungi Jill untuk merekrut orang baru."

"Lalu, apa katanya?" Doyoung bertanya.

"Dia sedang mengusahakannya. Sabarlah. Kalian pasti akan mendapatkan rekan baru."

"Apa aku sungguh tidak bisa bergabung bersama mereka?" Haechan yang kali ini bertanya.

"Tidak. Kemampuanmu bukan berada langsung di lapangan. Kau akan suka rela mati jika berhadapan langsung dengan para roh jahat itu."

Haechan menunduk lesu. Dia ingin sekali dapat membantu para hyungnya. Namun, keahliannya bukan bertarung secara langsung. Dia adalah ahli dalam melacak dan meretas. Dalam tim, dia seperti GPS dan mesin peretas. Untuk membersihkan kasus-kasus kejahatan yang di lakukan roh jahat, biasanya dibutuhkan barang bukti seperti rekaman cctv dan semacamnya. Haechan lah yang bertugas melacak melalui pikirannya yang terkoneksi dalam perangkat elektronik. Semua alat elektronik bisa ia sabotase.

"Kalian boleh pergi." Jieun mengusir anak buahnya.

"Dengan senang hati, Halmeoni," goda Taeyong lagi lalu bergegas pergi.

"Yaa!" Jieun ingin melemparkan guci di sampingnya. Namun, Doyoung berhasil mencegah dengan menahan lengan Jieun.

"Noona, tahan emosimu. Kau seperti tidak kenal sifat Taeyong saja."

"Arrghh. Dasar sialan. Jika bukan anak buahku sudah aku kuliti dia. Dan Kau!"

Doyoung terkejut dengan serangan mendadak Jieun.

"Wa-wae?"

"Apa yang kau lakukan belakangan ini?"

"Apa lagi kalau bukan menjalankan misi darimu, Madam Jieun yang terhormat."

"Ya! Kau pikir aku bodoh?"

Doyoung menyentuh kupingnya akibat terasa kebas oleh suara tinggi yang baru saja menyerang.

"Kau menemui manusia itu lagi, bukan?"

"Terima kasih atas nasehatnya malam ini." Doyoung membungkuk dan ingin pergi untuk menghindari interogasi Jieun.

"Doyoung-ah." Suara Jieun tidak terdengar kasar lagi.

Doyoung menoleh.

"Kau boleh menemuinya tapi jangan berpikir untuk mengorbankan dirimu lagi untuk menyelamatkannya." Ada ketegasan, perintah dan kekhawatiran dalam nada bicara Jieun yang membuat Doyoung mengerti maksud dari kalimatnya. 

Ia tahu sebenarnya Jieun berhati lembut dan sangat menyayangi anak buahnya. Dia rela berkorban untuk keselamatan semuanya. Hanya saja sikapnya yang galak menjadikan sisi lembutnya tertutupi.

"Iya. Aku mengerti."

***

Hari ini adalah pembagian raport hasil ujian akhir semester. Satu persatu siswa di panggil ke depan untuk mengambil raport nilainya. Saat giliran Sejeong, wali kelasnya tersenyum.

"Selamat Sejeong. Kamu juara satu lagi."

"Te-terima kasih, Pak."

Hyekyung menatap lembar nilainya dengan perasaan kesal. Lagi-lagi, ia dikalahkan oleh Sejeong. Kekesalan sangat jelas terpancar dari sudut matanya saat menatap Sejeong yang berlalu.

"Baiklah anak-anak. Selamat karena kalian telah melalui masa kelas sebelas. Sekarang kalian resmi menjadi siswa kelas dua belas."

Anak-anak bersorak.

"Jangan senang dulu. Kalian tahu bukan bahwa kelas dua belas adalah neraka sesungguhnya. Karena itu belajarlah dengan giat agar kalian bisa masuk universitas impian kalian."

Anak-anak serempak menjawab iya. Lalu kelas dibubarkan dan Pak Yonggi keluar meninggalkan kelas lebih dulu. Hyekyung di jemput oleh ibunya. Sang ibu bertanya perihal nilai yang ia dapatkan.

***

"Mwo? Peringkat dua? Apa kau gila? Aku sudah bayar mahal tutor dan tempat les untukmu tapi kau masih peringkat dua."

Hyekyung hanya diam dengan rahang yang mengeras.

"Apa kau tidak kesal selalu dikalahkan oleh yatim piatu itu?"

"Tentu saja aku kesal! Aku sangat kesal!" Hyekyung lepas kendali dan berteriak penuh emosi.

Suara gelas pecah menghambur. "Kalau kau kesal, berusahalah lebih giat lagi. Jangan hanya membuang-buang waktu."

Hyekyung sudah cukup panas dengan omelan ibunya. Kini suasana makan malam menjadi sangat menegangkan karena ayahnya tiba-tiba melemparkan gelas ke lantai dengan kencang. Ibunya sampai berteriak, sedangkan Hyekyung hanya tertegun tak berkutik.

"Jika di ujian berikutnya kau masih gagal juga, jangan berharap kau bisa masuk Universitas Negeri Seoul."

Di bawah meja makan, telapaknya mengepal dengan sangat kuat. Saking kuatnya, darah mengalir dari telapak tangannya. Kukunya telah melukai tangannya sendiri.

Sejeong-ah! Tak akan ku biarkan ini terjadi lagi.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top