34
Remaja pria berusia 14 tahun itu mengintip dari balik tembok. Situasi koridor sepi tanpa seorang pun yang lewat. Kesempatan yang bagus untuk melarikan diri saat ini. Sebelum mengambil ancang-ancang, ia memastikan sekali lagi terlebih dahulu. Aman! Koridor bersih dan saatnya beraksi.
Dengan kecepatan penuh, ia melintasi koridor sembari berusaha tak menimbulkan suara apa pun. Namun, begitu sampai di ujung koridor, ia malah terjatuh ke dalam lubang hitam besar. Setelah lima belas detik lamanya, ia mendarat di atas lantai marmer dengan hiasan unik berwarna gelap. Di depannya, berdiri sepasang suami istri beserta seorang pria dengan kumis tebal, memandangnya dengan tatapan lelah.
"Ah! Selamat Pagi, Ayah, Ibu!" sapanya dengan nada seriang mungkin. Ia menatap pria berkumis itu sejenak sebelum menunjukkan ekspresi terkejut-walau begitu kentara ia pura-pura. "Ah! Ternyata guru ada di sini juga," serunya kaget.
"Selamat Pagi, Guru." Badannya membungkuk hormat. Ia masih mempertahankan posisinya untuk merutuki kesialannya beberapa saat yang lalu. Sepertinya ayah dan ibunya tahu kalau ia akan membolos kelas sehingga membiarkan koridor yang biasanya dijaga oleh prajurit kosong melompong agar ia bisa terjebak. Pantas saja ia merasa ada yang janggal.
"Ini sudah siang, Nathan," tegur seorang pria dengan pakaian formalnya yang berwarna hitam.
Nathan meringis malu. "I-itu, maksud saya, Ayah." Tatapannya beralih pada sang guru, ia harus bisa lepas dari situasi ini. Dan satu-satunya cara untuk lepas adalah dengan memanfaatkan sang guru. "Sepertinya kelas sudah akan dimulai 'kan, Guru?" tanyanya dengan antusias.
Chris tersenyum tipis. Putra tunggal penguasanya benar-benar pandai berkelit. "Maaf, Tuan Muda. Namun, sepertinya ada yang ingin Tuan dan Nyonya Penguasa sampaikan pada tuan muda. Kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu."
Nathan menatap kepergian pria botak berkumis tebal itu dengan pandangan nanar. Tahu bahwa tak bisa lepas dari kedua orang tuanya, ia pun menghadap keduanya. "Ada apa, Ayah, Ibu?"
Cathleen mendekati Nathan. Mimiknya lembut dan penuh pengertian. "Nathan, apa kau tahu apa kesalahanmu sekarang?" tanyanya lembut.
Nathan mengangguk patuh. Ia bersalah karena sudah mencoba membolos kelas. Seharusnya, ia yang seorang calon pemimpin tak boleh melakukan hal itu. Akan tetapi, mengikuti kelas sebagai calon pemimpin itu sangat membosankan. Padahal, ia sudah berkali-kali meminta pada ayah dan ibunya untuk melahirkan satu orang penerus lagi agar ia bisa terbebas.
Orang tuanya hanya tersenyum dan menggeleng. Ia tahu bukan salah mereka. Memang klan Vutoo hanya bisa menghasilkan 1 keturunan di tiap pernikahan. Ia tak bisa menyalahkan mereka. Ini adalah takdirnya. Takdir memuakkan serta menakutkan.
"Maafkan saya, Ayah, Ibu," sesalnya.
Ethan berjalan mendekat, tubuhnya sedikit membungkuk agar ia bisa menatap ke dalam mata putranya langsung. "Ayah tahu kau tak ingin jadi penguasa. Namun, ini bukanlah keinginan kami juga. Kami juga ingin kau menjalani hidup yang biasa saja. Akan tetapi, beginilah takdir kita. Kita sudah menikmati hal yang bagus, kita juga sudah menerima rasa hormat dari mereka. Jadi, sudah sewajibnya kita melindungi mereka semua. Mereka semua adalah harta kita yang berharga. Kamu mengerti?"
Nathan mengangguk patuh. Ia sudah sering mendengar hal ini. Bagi ayah dan ibunya, harta yang mewah bukanlah emas dan berlian, melainkan rakyat. Orang tuanya akan lebih senang jika mereka bisa menyerahkan satu gua tambang demi menyelamatkan satu saja nyawa rakyat. Itu adalah tanggung jawab seorang pemimpin, begitulah katanya setiap hari.
Ia tak begitu paham, tetapi ia akan mencoba untuk memahaminya. "Saya paham, Ayah. Saya akan menerima hukuman apa pun yang ayah dan ibu berikan karena saya telah membolos kelas."
Ethan dan Cathleen saling menatap, lalu mengangguk kecil dengan senyum yang terkembang lebar. "Pergilah ke kamarmu. Ganti bajumu dengan baju rakyat biasa, kita akan pergi menuju desa," titah Ethan membuat Nathan membelalak lebar.
Pergi ke desa, sesuatu yang sangat ingin ia lakukan, tetapi selalu dilarang. Namun, setelah ia berbuat kesalahan, orang tuanya tiba-tiba mengajaknya menuju desa? Ada apa ini? Apa orang tuanya berencana untuk membuangnya di desa? Ia sama sekali tak mengerti. Walau begitu, ia tetap melayangkan langkah menuju kamarnya secepat kilat dan mengganti bajunya menjadi baju yang paling sederhana dan lusuh.
Semangat membara hingga ke ubun-ubun membuatnya tak peduli lagi akan semuanya. Ia sering mendengar bahwa banyak hal menarik di ibu kota. Ia sangat menantikan perjalanan ini.
------------------
676.12012022
Ini sekilas tentang kehidupan ayahnya Las. Ada yang kangen sama Las? Tunggu bbrp eps ke dpn yak!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top