33

Laszlo mencebik tak senang. Matanya menatap tajam pada Yuri yang tengah mencelanya. Sementara itu, Davin menjewer telinga gadis itu dan menegurnya karena sudah mencela Laszlo. Ia menonton kejadian tersebut sembari memikirkan kembali ucapan Yuri padanya.

Bagi klan, pempimpin itu merupakan raja. Kemudian, ia merupakan anak seorang pemimpin. Itu berarti kedudukannya disetarakan sebagai pangeran. Matanya membulat tatkala menyadari fakta tersebut. Kini, ia mengerti apa maksud Yuri bahwa ia memiliki jabatan seperti seorang pangeran. Dan, saat ini, ayahnya yang merupakan pemimpin sudah tiada, ialah yang bertanggung jawab untuk menggantikan peran sang ayah. Jadi, kesimpulannya saat ini ia adalah pemimpin dari klan Vutoo.

Mendadak, rautnya berubah panik begitu menyadari kenyataan tersebut. Ia menatap Davin dan Emily bergantian, tetapi tak tahu harus mengatakan apa.

"Sepertinya kau sudah menyadari posisimu, Tuan Pemimpin," komentar Yuri, tak lupa ia menekankan panggilan 'tuan pemimpin' pada Laszlo.

Laszlo menatap Yuri kosong, sekosong pikirannya saat ini. Otaknya macet. Ia bahkan tak bisa berpikir sama sekali. Ini terlalu tiba-tiba. Ia tak mengerti mengapa bisa-bisanya mereka mengangkatnya begitu saja sebagap pemimpin klan. Gila!

Laszlo terdiam. Ia bahkan sudah tak tahu harus mengatakan apa lagi. Ini benar-benar gila. Tidak! Sudah berapa kali ia mengulangi kata gila selama seminggu terakhir ini? Ia ingin mengatakan bahwa ini di luar nalar, tetapi selama seminggu ini ia juga sudah menerima hal-hal yang bahkan lebih di luar nalar daripada ini-ia bukan manusia biasa.

Laszlo mengangkat tangannya tinggi saat melihat Yuri dan Kaizen hendak berkomentar. "Sebentar! Biar kupikirkan terlebih dahulu," pintanya pelan.

Emily mendekati Laszlo, ia mengusap punggung Laszlo lembut. "Tidak apa-apa, Las. Kau boleh mengambil waktu sebanyak yang kau mau," bisiknya lembut.

Davin memukul lembut bahu Laszlo. "Memang ini semua sangat tiba-tiba. Ini pasti sangat mengejutkan untukmu. Kami mengerti, kami juga tak akan memaksamu untuk sesegera mungkin menerima jabatan tersebut," jelasnya lembut. Matanya memandang sayu pada Laszlo. "Tapi, sebaiknya kau ingat kalau kita juga tak memiliki banyak waktu. Kita harus kembali secepatnya ke klan karena semakin lama di sini semakin berbahaya untukmu. Mereka sudah menyadari keberadaanmu," lanjutnya lagi membuat punggung Laszlo mendingin.

Keempat orang itu pun keluar dari kamar Laszlo diam-diam. Mereka ingin memberikan waktu pada Laszlo untuk berpikir. Tak ada gunanya mendesak Laszlo saat ini, remaja itu perlu waktu untuk mengurai pikirannya.

Laszlo membaringkan tubuhnya telentang di atas kasur. Tangannya merentang lebar, begitu juga dengan kakinya. Matanya terpaku pada langit-langit kamarnya yang berwarna cream. Helaan napas berat meluncur dari bibirnya. Otaknya lelah. Untuk saat ini, ia sedang tak ingin berpikir terlebih dahulu.

Tiba-tiba menjadi pemimpin sebuah klan pastilah tak mudah. Apalagi ia harus mengejar ekspektasi yang orang-orang berikan padanya karena ayahnya adalah seorang pemimpin yang hebat. Ia merasa begitu bingung dan tersesat. Ia sama sekali tak tahu harus bagaimana. Ia juga takut tak bisa mencapai ekspektasi dari orang-orang.

Laszlo menarik lengan kanan dan kaki kanannya, lalu menempelkannya pada bagian kiri tubuhnya. Tubuhnya melengkung ke arah dalam. Kini bentuk tubuhnya mirip seperti janin yang sedang berada di dalam kandungan ibunya.

"Ini semua sangat membingungkan. Sangat tiba-tiba. Aku harus bagaimana?" lirihnya bingung.

Matanya terpejam. Ia membayangkan sesosok ayah yang tak pernah dilihatnya. Ia hanya bisa membayangkan kepribadian sang ayah berdasarkan rasa hormat dari Davin, Emily dan Yuri. Ia membayangkan, seandainya ayahnya ada di sampingnya saat ini, apa yang akan ayahnya lakukan? Apakah ayahnya akan merasa takut dan ngeri sepertinya? Ataukah ayahnya akan menghadapinya dengan berani?

Laszlo segera menepis pertanyaan itu karena ia merasa jawabannya adalah sang ayah pasti akan menghadapi semuanya dengan berani. Apalagi, mengingat ayahnya begitu dihormati oleh orang-orang. Ayahnya pasti bukanlah seorang penakut sepertinya.

Laszlo masih tetap meringkuk di atas kamar. Ia tak tahu sudah berapa lama ia seperti itu. Tubuhnya kembali bergerak saat ia mendengar suara ketukan di pintu.

"Bolehkah aku masuk?" Davin bertanya dengan suara baritonnya.

Laszlo hanya bergumam tak jelas. Walau begitu, Davin tetap mendorong pintu hingga terbuka, lalu melangkah ke dalam sebelum menutup pintunya rapat. "Mau dengar sedikit cerita mengenai ayahmu?" tawar Davin membuat Laszlo mengangkat kepalanya, mimiknya terlihat tertarik dengan tawaran Davin.






----------------
664.08012022
Yoo~~~~
Las balik nih
Ada yg kangen?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top