27
"Ini kisah yang agak panjang," desah Emily menatap Laszlo sendu.
Laszlo tersenyum tipis. Ia sudah tahu bahwa tidak mungkin ini merupakan kisah yang pendek. "Tenang saja, Bu. Kita punya waktu yang panjang, kok," balasnya dengan nada ringan.
Emily menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Sejujurnya, aku tak tahu harus memulainya dari mana," keluh wanita itu. Wajahnya terlihat lelah dan juga bingung. Ia melirik Davin sejenak, meminta saran lewat pandangan mata.
"Bagaimana kalau dari kau perkenalkan dirimu yang sebenarnya dulu?" saran Davin.
Laszlo menatap Davin dengan sebelah alis terangkat. Memangnya Emily yang ia kenal selama ini bukanlah yang sebenarnya? Ia lantas melirik Emily yang sedang menimbang-nimbang.
Beberapa saat berlalu, Emily pun mengangguk pelan. "Baiklah. Perkenalkan, nama saya Emily Brenton. Saya merupakan kesatria pelindung Nyonya Chrisabella Elona sekaligus tangan kanan Tuan Nathan Vuto," ujar Emily dengan suara tenang.
Keheranan semakin terpancar di wajah Laszlo. Kesatria pelindung? Tangan kanan? Apa di dunia ini ada hal yang seperti itu? Bukannya itu hanya ada di novel-novel atau cerita seri di televisi?
"Anda pasti bingung," tebak Davin tepat sasaran membuat Laszlo tanpa sadar mengangguk kecil. "Kami dan Anda bukan manusia biasa. Kita merupakan bangsa dari klan Vutoo, kita dapat mengendalikan elemen. Namun, bangsa klan Vutoo sedikit lebih spesial. Kita tidak memiliki elemen yang bisa kita kendalikan. Kemampuan kita menyerap elemen, walau ada beberapa orang dari klan selain bisa menyerap juga bisa mengendalikan semua elemen," jelas Davin sepelan mungkin, berharap Laszlo mengerti penjelasan yang ia berikan.
Laszlo terdiam selama beberapa sekon sebelum akhirnya menarik kesimpulan dari apa yang disampaikan Davin. "Jadi maksud Anda, saya bukan manusia biasa. Tapi saya merupakan keturunan bangsa Klan Vutoo?"
Davin tersenyum puas. "Ah, sudah saya duga. Tuan Muda memang hebat," desahnya lega karena Laszlo memahami penjelasan darinya. Walau ia yakin remaja pria itu pasti sangat syok, tetapi ia menghadapi semuanya dengan tenang-bahkan masih bisa berpikir jernih juga. Dan ia merasa hal itu patut diacungi jempol.
Kening Laszlo mengernyit tak suka. Ia paham asal muasalnya sekarang. Akan tetapi, ia masih belum paham mengapa Davin dan Emily bersikap sopan-bahkan kelewat sopan-padanya. Padahal, ia lebih muda daripada keduanya. "Lalu, apa maksud dari 'tuan muda' itu?" Nadanya menuntut.
Emily menyentuh lengan Davin pelan saat bibir Davin terbuka-meminta agar ia saja yang menjelaskan. "Anda memang seorang tuan muda karena Anda adalah putra satu-satunya dari pemimpin kami, Nyonya Chrisabella Elona dan Tuan Nathan Vuto," jelas Emily. Siapapun yang mendengarnya bisa menangkap nada bangga saat ia menyebut kedua nama tersebut.
"Lantas di mana orang tuaku?" tuntut Laszlo. Ia tak mengerti mengapa orang yang amat sangat dihormati oleh Emily dan Davin tak kunjung datang untuk melihatnya. Barang sekali saja.
Suasana mendadak muram. Emily dan Davin tak dapat menyembunyikan kesedihan mereka. Keduanya berlutut seolah tengah memohon ampun. "Maafkan kami, Tuan Muda." Hanya itu saja yang bisa diucapkan oleh keduanya dengan nada frustrasi.
Melihat ketidakberdayaan keduanya. Laszlo mengantongi dua kesimpulan, orang tuanya sudah meninggal atau orang tuanya membuangnya. Namun, jika ia telisik lagi dari aura kelam kedua pengikut orang tuanya, ia yakin kesimpulan pertamalah yang benar.
"Kami tak becus dan tak berguna. Makanya Tuan dan Nyonya mengorbankan diri mereka untuk menyelamatkan kami serta tuan muda." Emily menggigit bibir bawahnya. Hatinya pedih mengingat kembali saat terakhir ia melihat kedua tuannya.
"Bukan salah kalian. Aku paham. Maafkan aku," ucap Laszlo menyesal. "Terima kasih karena sudah menjagaku." Laszlo mengalungkan lengannya di leher Emily. Ia tahu, untuk saat ini, ia tak bisa bertanya lebih lanjut lagi mengenai kematian orang tuanya. Mungkin baginya, itu adalah kejadian 14 tahun silam. Akan tetapi, bagi Emily dan Davin, itu pasti seperti kejadian kemarin.
Laszlo menuntun Emily dan Davin berdiri. Ia merasa tak enak melihat dua orang dewasa berlutut memohon ampun bukan karena kesalahan mereka. Apa yang telah terjadi pada dirinya serta orang tuanya bukanlah salah Davin dan Emily. Ia yakin itu karena ia merasakan bahwa kedua orang itu rela mengorbankan nyawanya untuk kedua orang tuanya. Dan ia yakin, keduanya juga pasti diperintah untuk meninggalkan keduanya agar bisa menyelamatkan dirinya.
"Karena sudah malam, sebaiknya kita istirahat saja. Yuri dan Laszlo menginap saja. Sepertinya Yuri bisa tidur dengan ibu. Nanti ibu akan izin pada orang tuamu," putus Laszlo untuk menghindar dari suasana muram ini. Ia rasa, malam ini sudah cukup. Sisanya, ia akan minta untuk dijelaskan besok.
-------------
702.18122021
Yuhu!
Terkuak sudah siapa itu Las. Kira-kira, apa yang terjadi ya hari itu?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top