26
"Anda sudah pulang, Tuan muda?" sambut Emily begitu Laszlo membuka pintu depan.
Ayunan langkah Laszlo terhenti. Wajahnya mengkaku. Kali ini apa lagi? Tuan muda? Sebenarnya apa ini? Apa yang sedang terjadi saat ini?
Davin segera menerjang masuk dan membekap mulut Emily sementara Laszlo, Kaizen, dan Yuri mematung di depan pintu. Pria itu mendorong Emily masuk ke dalam.
"Apa yang sedang kau lakukan sekarang?" bisik Davin-masih dengan suaranya yang terlampau keras hingga mereka yang di depan pun bisa mendengarnya dengan jelas.
Emily membulatkan matanya tak percaya. Ia telah melakukan kesalahan satu kali lagi. Ia menatap tajam pada Davin. "Apa yang kau lakukan selama semalaman kalau kau tak memberitahunya? Mana kutahu kau tak memberitahunya," elak Emily tak mau disalahkan begitu saja.
Davin menghela napas lelah. "Memangnya kau pikir mendekati tuan muda merupakan hal yang mudah?" Davin menatap Emily dengan tampang tak senang. "Asal kau tahu, ya! Aku bahkan tak bisa mendekatinya dalam radius lima meter. Anak itu terlalu waspada dan curigaan. Bagaimana caranya aku mendekatinya? Ia juga sangat pendiam dan selalu larut dalam pikirannya sendiri," jelas Davin sembari mendengkus sebal.
Emily terdiam. Benar apa yang dikatakan Davin. Laszlo bukanlah anak yang mudah didekati. Ia yang mengajari itu padanya. Ia membuat Laszlo selalu hidup dalam kewaspadaan dan kecurigaan karena takut ada musuh yang mengetahui jati diri Laszlo yang sebenarnya, lalu membunuhnya.
"Maaf," ujar Emily pada akhirnya. Ia mendorong tubuh Davin dan berjalan canggung ke depan rumah-tempat ketiganya masih berdiri linglung.
Emily menyentuh pelan tangan Laszlo yang masih setia di gagang pintu. "Masuk dulu, yuk?" ajaknya.
Laszlo sempat tersentak saat tangan lembut Emily menyentuhnya. Saat Emily menuntunnya masuk, ia hanya mengikuti dengan linglung. Otaknya macet, ia sama sekali tak tahu ada rahasia apa di balik kelahirannya. Ia bahkan tak bisa membayangkan apapun sama sekali.
Emily menuntun Laszlo duduk di sofa di ruang keluarga. Di belakang mereka, Kaizen, Davin, dan Yuri mengekori dalam diam. Sepuluh menit sudah mereka duduk dalam keadaan diam. Kaizen dan Yuri terlihat serba salah. Mereka merasa harus pergi karena ini bukanlah sesuatu yang harus mereka dengar, tetapi mereka juga tak ingin pergi hingga membiarkan Laszlo menghadapinya sendirian.
"Ekhm." Davin berdeham kecil. Mengoyak keheningan yang ada di ruang keluarga. Keempat pasang mata lainnya menatapnya penasaran. "Jadi," gumamnya kecil semakin menarik perhatian keempat orang itu.
Davin mengalihkan pandangannya pada Emily. Matanya menatap Emily menuntut. "Sebaiknya kau jelaskan saja, Em," ujarnya tenang.
Emily menelan ludahnya gugup. Kemudian, mengusap wajahnya kasar. Wajahnya berubah sendu. Aura di sekitarnya berubah berat. Siapapun bisa melihat bahwa wanita itu enggan mengatakan apa-apa.
Laszlo menatap Emily dengan bingung. Hatinya mendadak gelisah. Berulang kali tangannya terkepal kuat, lalu dibuka. Lidahnya pun sesekali menyapu bibirnya yang mengering.
Kaizen menepuk pelan bahu Laszlo dan meremasnya. Seulas senyum ia berikan pada sahabatnya guna mengurangi kegelisahan yang ia rasakan.
Hatinya berangsur tenang saat mengetahui bahwa ada Kaizen yang berada di sini untuk mendukungnya apapun yang terjadi. "Mau bagaimanapun keadaannya, kau tetap ibuku, Bu," ujarnya. Tangannya terulur untuk meremas pelan jemari Emily yang sedang meremas roknya pelan.
Emily mengangkat wajahnya cepat. Ditatapnya senyum sendu dan tulus milik Laszlo. Hatinya terasa nyeri. Laszlo benar. Mau bagaimanapun keadaannya, ia akan tetap menjadi ibu Laszlo. Ia sudah bersumpah untuk itu.
"Memang benar kau bukanlah anak kandungku," ujar Emily dengan suara bergetar untuk memulai kisahnya. Sebulir kristal bening meluncur dari sudut matanya dan diusapnya dengan cepat. Ia menggigit bibir dalamnya guna menghalau isak yang mendesak keluar.
Davin segera berpindah tempat ke samping Emily. Ia meremas pelan bahu teman seperjuangannya. Kemudian, mendaratkan beberapa kali tepukan pelan untuk menenangkan Emily. "Kau adalah anak yang harus kami lindungi. Walau harus mengorbankan nyawa kami sekali pun," ujar Davin memberitahu.
Kening Laszlo mengerut. Apa maksudnya itu? Bukan anaknya, tetapi harus melindunginya hingga mengorbankan nyawa? Lelucon tak masuk akal apa ini? Ia sama sekali tak mengerti.
-----------------
623.15122021
Hayo! Siapa nih yang tersesat kayak Las? Sini acung dulu!
Eits! Santuy, Gengs! Karna aku juga sama tersesatnya kok.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top