2 - one point
"Sial, sudah habis?
. . .
Ah, minta tolong (Name) saja."
.
.
.
A fic about H. Lev x Reader (aamiin)
Haikyuu!! is Haruichi Furudate's only
Warning for typo(s) and OOC
Enjoy!
.
.
.

Hari Minggu.
Morisuke lagi-lagi memanfaatkan alasan ankle yang cedera agar (Name) bisa disuruh-suruh. (Name) kini memasuki area supermarket. Tangannya mengambil keranjang belanja yang tersedia.
(Name) mendengus mengingat alasan Morisuke. Apanya yang cedera? (Name) ingat jelas bagaimana aktifnya Morisuke saat berlatih voli kemarin. Ini sih Morisukenya saja yang malas ke supermarket sendiri.
Sebenarnya (Name) ogah menuruti sang kakak. Tadinya ia ingin mengabaikan Morisuke lalu kembali membaca majalah liga basket dengan highlight tim Golden State Warriors. Tim yang menaungi seorang Kise Ryouta di Amerika sana.
"Aku lebihkan uangnya. Gunakan kembaliannya sesukamu."
Tapi tidak jadi. Majalah dipinggirkan perlahan, dan (Name) spontan mengiyakan.
Maklum. Camilannya habis, dan (Name) butuh teman untuk mengerjakan laporan mingguan klub mading sore ini.
(Name) bersenandung kecil. Kakinya mengitari supermarket berisi rak-rak tinggi yang penuh dengan beragam makanan ringan. Ia memilih beberapa bungkus lalu memasukkannya ke keranjang belanjaan.
Di tatapnya sebentar keranjang yang kini terisi dengan beberapa camilan favoritnya itu. 'Oh iya, titipan Kak Mori belum,' batin (Name).
(Name) pun berbalik menuju area minuman dingin. Dibukanya kulkas yang penuh produk olahan susu dengan berbagai macam varian. Matanya meneliti mencari-cari benda pesanan sang kakak.
"Sial." (Name) mengumpat rendah. Ditatap sengit susu (yang katanya) penambah tinggi badan favorit Morisuke terletak di rak paling atas.
Rak. Paling. Atas.
(Name) berdecak sebal. Dirinya merasa diejek. Sudah jelas orang yang akan mengkonsumsi susu itu adalah mereka yang kurang tinggi, kenapa malah diletakkan di rak paling atas?
(Name) akhirnya memandang sekitar. Mencari benda yang mungkin bisa dijadikan pijakan untuk meraih susu kotak dari rak tinggi di depannya.
Matanya lalu menangkap surai perak yang tak asing. Tubuh tegap orang itu sedang berdiri membelakanginya.
(Name) mengedipkan mata mencoba mengingat nama si pemuda. "Haiba-san?" ucapnya pelan.
Tanpa di duga, orang yang di sebut namanya menoleh. Pandangan mereka bertemu. Senyum lebar menyambut indra pengelihatan (Name).
"Wah adiknya Yaku-san! Halo (Name)-chan!" sapa Lev akrab sambil berjalan mendekat.
(Name) menelan ludah kasar. Ternyata memang tinggi sekali adik kelas Morisuke satu ini. (Name) merasa agak terintimidasi dengan tubuh besar lelaki di depannya.
"Halo Haiba-san," (Name) balik menyapa, "sedang beli apa?" lanjutnya sedikit berbasa-basi.
Lev mengangkat keranjang belanjaannya sedikit. Pipi (Name) merona dibuatnya. Tampak pembalut wanita beserta dua cokelat batangan dan camilan manis mengisi keranjang pemuda itu. Ada minuman isotonik juga yang (Name) yakini sebagai satu-satunya barang pilihan Lev.
"Kakakku sedang datang bulan dan dia jadi manja sekali," jelas Lev tanpa diminta.
(Name) tersenyun simpul menanggapi. "Perempuan memang gitu, Haiba-san." Ia cukup paham dengan perasaan kakak Lev.
"Ah, mumpung kau disini, boleh aku minta tolong ambilkan susu kotak yang itu?" pinta (Name). Jarinya terangkat menunjuk barang yang dimaksud.
Lev mengikuti arah jari (Name). "Tak sampai ya, (Name)-chan?" tanya Lev saat matanya kembali menatap (Name).
Perempatan imajiner muncul di dahi (Name). "Aku tak akan minta tolong kalau bisa kuambil sendiri Haiba-san." (Name) berusaha mempertahankan senyum saat mengucapkannya.
Lev meraih susu yang dimaksud (Name) sambil terkekeh. Diperhatikannya sebentar susu kotak di tangannya. "Kau ingin meninggikan badan (Name)-chan?"
"Bukan. Itu titipan kak Mori," ucap (Name)
"Ah, Yaku-san memang sering mengkhawatirkan tingginya sih ya," Lev manggut-manggut saat mengingat si kakak kelas.
Lev lalu melirik keranjang belanja (Name) yang hampir penuh dengan beberapa bungkus makanan ringan. "Woah, kau banyak makan tapi tetap kecil ya, (Name)-chan!"
Kesabaran (Name) habis. Ditendangnya tulang kering Lev sebal. Lev langsung merintih dan berjongkok. "Mou, bisa tidak para Yaku jangan menyiksaku!" rengeknya sambil menahan sakit.
"Jangan kurang ajar kalau begitu." (Name) mendengus.
"Sakit sekali tahu, (Name)-chan," ucap Lev sembari mengelus kakinya perlahan, lalu kembali berdiri.
(Name) memutar bola mata cuek. "Ya sudah. Terima kasih bantuannya, Haiba-san." (Name) mengulurkan tangan hendak mengambil susu kotak di genggaman Lev.
Tangan Lev yang memegang susu kotak ditinggikan. Alhasil (Name) hanya meraih udara. (Name) spontan menatap Lev tajam. Yang ditatap tersenyum jahil. Lev lagi-lagi terkekeh kecil, terhibur dengan wajah masam perempuan di depannya. 'Imut.'
"Maaf (Name)-chan, tapi beri aku alamat mail-mu dulu kalau kau mau susu kotak ini." Lev meletakkan keranjang belanjanya lalu merogoh kantong. Disodorkannya ponsel di depan muka (Name).
Name menatap tak sudi. Tapi tak ingin berlama-lama, (Name) pun menyambar ponsel Lev. Satu tangan digunakan untuk mengetik alamat mail-nya. "Sudah. Sekarang berikan susu kotaknya," ucap (Name) ketus saat menyodorkan kembali ponsel Lev.
Lev abai dengan nada kesal (Name). Bukannya menyerahkan susu kotak di genggaman, Lev malah sibuk dengan ponselnya. Tak lama, terdengar bunyi notifikasi pesan masuk dari saku (Name). Lev tersenyum puas.
"Sankyu (Name)-chan! Save alamat mail-ku juga ya!" Lev berseru senang. Susu kotak ia letakkan di keranjang belanja (Name) dengan hati-hati.
(Name) hanya mengiyakan. "Kalau begitu aku duluan ya, Haiba-san."
(Name) sudah hampir berbalik pergi sampai tangan Lev menahannya. "Barengan saja! Aku juga sudah selesai kok," ucap Lev.
Keduanya pun berjalan berdampingan menuju kasir. Setelah selesai membayar barang-barang dari keranjang belanja, mereka berdua berjalan keluar Supermarket.
"Sampai jumpa lagi, Haiba-san," ucap (Name).
"Ah, tunggu! Aku antar saja, (Name)-chan." Lev lagi-lagi menahan (Name).
(Name) memasang wajah tak suka. "Aku bukan anak kecil, Haiba-san. Aku bisa pulang sendiri."
Lev terkekeh. Diambilnya salah satu kantong belanjaan dari tangan (Name). "Memang bukan. Aku hanya ingin."
(Name) mengerutkan dahi. "Kakakmu kasian kalau harus menunggu, lho," ucap (Name) tak enak hati.
"Yang kubeli ini hanya persediaan kok. Dia tak butuh barang-barang ini segera. Rumahmu di daerah mana (Name)-chan?"
(Name) menyebutkan daerah tempat kediaman Yaku. "Di sekitar situ."
"Serius? Rumahku tak jauh dari daerah itu! Beruntung sekali!" Lev tersenyum senang. Mereka pun mulai menyusuri jalan khusus pejalan kaki. Langkah Lev yang lebar dipelankan agar sejajar dengan (Name).
"(Name)-chan ikut klub mading? Kau pernah membuat tulisan di mading dong?" Lev bertanya di tengah perjalanan.
(Name) mengangguk. "Pernah beberapa kali. Aku ditugasi menulis tentang kegiatan klub, lalu aku memilih klub basket."
Lev mengernyit heran. "Kenapa bukan voli?"
(Name) terkekeh. "Aku pernah ikut klub basket saat SMP. Jadi aku lebih familiar dengan basket," ucap (Name) sambil mengendikan bahu.
Lev kini memandang (Name). "Tapi kenapa setelah ikut basket (Name)-chan masih saja kecil ya-ADUH"
Ucapan Lev terpotong karena (Name) menjegal kaki panjangnya. Untung (Name) sempat merebut kantong belanjaan miliknya dari tangan Lev. Camilannya (Name) aman.
"Bacot." (Name) menatap Lev dingin.
"A-ah, maaf," Lev berkeringat dingin. 'Lebih menakutkan dari Yaku-san' batinnya.
(Name) membuang muka sambil menggerutu. Ia lalu melanjutkan jalannya, meninggalkan Lev di belakang.
"(N-Name)-chan, tunggu dulu dong-- aduh." Lev buru-buru bangkit lalu kembali menyejajarkan langkah.
Setelah beberapa saat hening, Lev kembali buka suara. "(Name)-chan bisa main basket?"
(Name) mendengus lalu menggeleng. "Dibandingkan bermain basket, aku lebih suka melihat orang bermain," ucapnya.
"Kalau liat orang main voli, suka?" Lev menatap (Name) berbinar-binar.
"Kalau yang main payah, aku tak suka." (Name) memandang Lev dengan sebelah mata.
"Aku cuma belum jago kok!" seru Lev merasa tersindir.
"Oh? Berarti sekarang kau masih payah?" ucap (Name) mengejek.
"Tentu tidak! Kenma-san bilang spike-ku sudah mulai membaik." Lev berucap dengan nada meyakinkan.
"Tapi Kak Mori bilang kau payah sekali melakukan receive." ucap (Name) jahil.
"Itu wajar dong. Aku kan memang baru belajar," Lev berucap sambil mengalihkan pandangan malu. (Name) tertawa puas. Matanya menyipit menahan geli di perut.
Lev kembali memandangi (Name). 'Gemas.'
Lev langsung menatap jalan di depannya lalu mengusap wajah kasar. "Sialan. Masih ada Yaku-san ya?" gumamnya sebal.
"Hm? Kau ngomong apa barusan?" tanya (Name) sambil mendongak memandang Lev.
"Bukan apa-apa," balas Lev singkat. Jika diperhatikan, rona tipis tampak menghias wajahnya.
Tak terasa, keduanya sudah memasuki daerah tempat tinggal (Name). "Rumahku di depan situ Haiba-san. Antar sampai sini saja," kata (Name) berhenti melangkah.
"Ah, yasudah. Tak perlu terlalu formal (Name)-chan, panggilnya Lev saja," balas Lev.
"Oke, Lev. Kalau gitu aku duluan. Terima kasih sudah menghantar," (Name) lalu berjalan mendahului.
Lev mengangguk. "Sampai jumpa besok!" Lev lalu melambaikan tangan. Lev masih berdiri di tempat menunggu (Name) masuk rumah.
Lev terkekeh kecil sambil kembali berjalan. 'Semoga Yaku-san tidak terlalu kesal,' batinnya.
________
"Aku pulang," ucap (Name) saat memasuki rumah. Ia melepas alas kaki lalu berjalan menuju ruang makan.
Diletakkannya dua kantong belanjaan besar di meja makan. Tangannya mulai memilah beberapa camilan yang akan dimakan dan disimpan.
"Oh, akhirnya sampai! Mana susu pesananku?" Morisuke menghampiri sang adik.
"Masih di plastik yang itu," ucap (Name).
Morisuke mendesis melihat banyaknya camilan yang (Name) beli. "Kau beli banyak seperti biasa. Tapi sankyu!"
(Name) hanya mengangguk. Setelah menyendirikan camilan yang akan dibawanya ke kamar, (Name) teringat mail Lev. Dirogohnya kantung hoodie, lalu mengecek ponselnya. Dahi mengernyit melihat pesan yang dikirim Lev.
"Kak," (Name) berucap.
"Hm?" Morisuke hanya menggumam karena tengah sibuk menuangkan susu kotak di gelas.
"Lev bilang, 'Aku dapat 1 poin, Yaku-san'." (Name) membaca pesan di ponselnya meniru cara bicara Lev.
Morisuke sontak menghentakan kotak susu pegangannya. (Name) terlonjak kaget. Dilihatnya Morisuke sedang memasang tampang tak senang.
"Awas saja bocah itu besok," ucap Morisuke geram.
A/N:
Hayolo Liep diamuk calon kk ipar hshshs.
Aku kebiasaan up malem deh. Atau pagi? /dibuang
Dahla ngantok, bsk nugas.
See you next chapter!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top