1 - ankle support
"Sial--Apa tak kubawa?"
"Kau tidak lucu, Yakkun."
"Aku serius!"
"Teledor."
"Minta tolong adikmu saja."
"Yaku-san punya adik? Ada Yaku lain yang lebih kecil?"
Buagh!
"..."
"Lev bodoh."
.
.
.
Fic about H. Lev x Reader (aamiin)
Hakyuu!! is Haruichi Furudate's only
Warning for typo(s) and OOC
Enjoy!
.
.
.

Hari Sabtu.
Akhir pekan begini enaknya dipakai untuk menghabiskan waktu dengan berbelanja, hangout, bersih-bersih, atau sekedar berdiam diri di rumah saja.
(Name) sendiri berniat menghabiskan akhir pekannya bergelung bersama kasur empuk kesayangan. Rebahan istilahnya.
Namun sial, mimpi indahnya hancur. Terima kasih kepada sang kakak tersayang.
"Ayolah!" rengek Morisuke dari seberang telepon.
"Kak, aku malas."
Habis sudah rencana bangun siang (Name). Kepalanya kini menyembul sedikit dari balik selimut. Mata mengerjap, mencoba mengatur fokus cahaya yang masuk.
Ponsel ia letakkan di sebelah kepala dengan speaker dikeraskan. Layar ponsel dilirik sedikit. Masih pukul 7 kurang.
'Masih pagi dan dia sudah menyusahkan,' (Name) membatin.
"Jangan begitu! Kau tahu aku baru saja cedera. Aku benar-benar butuh ankle supportku!"
(Name) mendengus. "Kalo butuh kenapa ditinggal?"
"Ya mana kutahu? Aku kan lupa!"
"Hnggh..."
"(Name)--Hei! Jangan tidur lagi sialan!"
Wah. Kasar sekali kakaknya satu ini. (Name) semakin tak mau peduli.
Helaan berat lagi-lagi terdengar. Morisuke di seberang terdengar hampir putus asa.
'Rasakan,' batin (Name).
"Bocah satu ini--dengar! Kau bawa ankle supportku, nanti kutraktir sebagai gantinya!"
"Hnn... kau tak pintar membuat kesepakatan--"
"Jersey Golden State Warriors nomor 007."
(Name) spontan terbangun. Matanya terbuka lebar.
"Ryouta-kun? Kau mentraktirku jersey Ryouta-kun?"
"Ugh... Iya!"
"Hmm, tapi aku mengincar yang ori kau tahu. Aku bertaruh kau tidak akan--"
"Ahhh iya iya, aku mengerti! Pokoknya cepat bawa saja ankle supportku kemari!"
(Name) berkedip tak percaya. Kakaknya serius? Benar-benar serius?
"Hei!! Cepat kubilang!"
Senyum merekah di wajah (Name). Ia tak bisa menahan rasa senangnya.
Ingin fangirl, tapi kakaknya menunggu.
"Tunggu 15 menit." (Name) langsung beranjak.
Tangannya menyambar hoodie. Berencana sesegera mungkin mengantar barang kepunyaan sang kakak yang tertinggal.
"Jangan lupa mandi dulu, bodoh!"
Setelah mandi tentunya.
________
"Oya? Yaku kecil akhirnya datang." pemuda berambut pantat ayam menyambut (Name) di depan pintu gym.(Name) meninju Kuroo kesal.
"Berhenti mengataiku kecil, Kuroo-san."
Kuroo mengaduh sambil mengusap lengan kirinya. Tenaga si adik kelas tidak main-main.
"Aku memanggilmu begitu karena kau adiknya Yaku, (Name)-chan," ucap Kuroo.
Sama seperti Morisuke, (Name) juga sangat benci jika disinggung soal tinggi badan. Itu jelas body shamming namanya.
"Dan lagi, panggil aku senpai seperti kau memanggil Kai, dong?" Kuroo bahkan harus benar-benar menunduk untuk menatap (Name) saat ini.
Apa salahnya dengan memanggil Yaku kecil?
(Name) menatap Kuroo sebal.
"Kau sama sekali tak terlihat seperti senpai tahu. Aku saja sampai bingung kenapa bukan Kai-senpai saja yang jadi kapten."
Kuroo meringis. Hatinya terluka sempurna.
Ia mengangkat dagu (Name) pelan lalu menundukkan badannya sedikit. "Kau dan mulut manismu itu."
Tiba-tiba kepala Kuroo tertarik kebelakang.
Sial. Kuroo hampir lupa dengan Yaku yang satunya.
"Jangan ganggu adikku, kapten sialan." Morisuke menatap Kuroo sengit.
"Protektif sekali, sih. Aku cuman mengobrol dikit dengannya kok, Yakkun."
Gantian kepalanya yang sakit kena jambak Morisuke. Sempat terpikir oleh Kuroo, apa karena ia menunduk Morisuke jadi mampu menggapai belakang kepalanya?
(Name) memutar bola mata lalu melempar ankle support milik kakaknya. "Nih."
"Ah, akhirnya. Sankyu!" Morisuke tersenyum cerah. Ia lalu mendudukkan diri dan memakai ankle supportnya.
(Name) melipat tangan di depan dada. "Kau berhutang jersey Ryouta-kun kepadaku." ucapnya mengerucutkan bibir.
"Aah, soal itu (Name). Aku memang bilang mau mentraktirmu, tapi aku hanya akan membantu setengah tabunganmu," Morisuke menyengir.
(Name) sontak memelototi Morisuke.
"Hah!? Tabunganku saja belum sampai seperempatnya!?" (Name) berseru tak terima.
"Itu sih salahmu boros," ucap Morisuke cuek.
Morisuke tidak salah sih. Tidak sama sekali. Bayangan uang-uang yang harus kandas akibat dipakai membeli cemilan serta alat tulis imut muncul di benak (Name).
Mau gimana lagi? (Name) membutuhkan semua itu demi menggarap tugas-tugasnya di klub mading.
Meski begitu (Name) tetap merasa tidak terima. Teganya Morisuke setelah menghancurkan akhir pekannya?
"Kakak siala--"
"Kuroo-san! Kau dipanggil Coach Nekomata lho! Are?" rambut perak menyembul dari balik pintu gym.
Mata kucingnya berkedip. Memerhatikan satu-satunya perempuan diantara kedua senpainya.
'Mirip... Ah! Jangan-jangan...!'
"Adiknya Yaku-san? Kecil banget!!" Lev berseru sambil tersenyum lebar.
Perempatan imajiner muncul di dahi (Name). Kurang ajar sekali titan satu ini, mentang-mentang kepalanya hampir mencapai puncak pintu gym.
"Kurang aja--"
Kuroo langsung menahan pundak (Name). Mencoba meredam amukan (Name) pada si kandidat ace Nekoma.
"Don't mind, (Name)," ucap Kuroo menenangkan. Ia lalu ganti merespon Lev.
"Aku datang, Lev. Yaku, segeralah menyusul,"
"Oke," balas Morisuke di tengah kegiatannya mengikat tali sepatu.
Kuroo dan Lev pun kembali ke dalam gym, meninggalkan kedua Yaku bersaudara.
"Apa-apaan si titan itu!?" (Name) menggerutu.
"Namanya Haiba Lev. Dia murid kelas satu sama sepertimu. Kau belum pernah melihatnya?"
"Murid kelas satu?! Ko bisa gede banget?!"
"Dia bilang dia keturunan Rusia."
"Ha. Pantes no akhlak." (Name) kembali mendengus.
"Dipikir kau punya akhlak?" Morisuke berdiri.
"Omong-omong kak, aku capek sekali berlari ke sini. Belum sarapan juga. Aku tunggu sampai kakak selesai latihan saja ya?"
"Boleh. Ikut tunggu di dalam saja. Tadi aku bawa roti kalau kau mau."
(Name) ingin, tapi ragu. "Tapi banyak senpai di dalam."
Morisuke mengacak pelan rambut adiknya.
"Mereka tak akan mengganggumu kok. Ada Kai juga. Ayo."
________
(Name) menopang dagu. Pandangannya tengah memperhatikan pemuda bersurai perak, sedangkan mulutnya asik mengunyah bekal roti yang tadi dibawa Morisuke.
Siapa namanya tadi? Haiba Lev? Iya, itu.
Para pemain kini tengah beristirahat. Walau begitu masih terlihat satu dua pemain yang sibuk melatih kemampuan yang mereka rasa kurang.
Lev salah satunya. Dibantu Morisuke, pemuda jangkung itu kini sedang melatih receivenya.
Jujur, (Name) kaget melihat permainan si titan Rusia.
Sangat malah.
'Payah sekali ternyata dia,' (Name) membatin.
"Padahal lebih tinggi dari Ryouta-kun, tapi mainnya seperti anak kemarin sore begitu," gumam (Name).
"Tapi dia punya potensi yang besar lho, (Name)-chan."
(Name) menoleh.
"Kai-senpai! Hisashiburi!"
Kai yang membawa handuk dan minuman isotonik mendekat. "Halo. Terima kasih ya sudah mau repot-repot mengantar ankle support Yaku."
"Santai saja, senpai. Aku juga mau disuruh karena diiming-imingi jersey Ryouta-kun kok," ucap (Name) frontal.
"Kau ini kenapa sangat terobsesi dengan si pirang itu sih? Aku lebih keren lho padahal," Kuroo yang tiba-tiba sudah duduk disamping (Name) menimpali.
"Siapa bilang? Kuroo-san saja lebih pendek dari Ryouta-kun," (Name) mencibir.
"Lihat siapa yang bicara. Kau bahkan jauhhh lebih pendek da--"
Brak!
(Name) menendang Kuroo dari kursi bench.
"Sakit, (Name)-chan..."
(Name) mengabaikan Kuroo dan lebih memilih mengobrol dengan Kai.
"Apa maksudmu dia punya potensi besar, senpai? Dilihat sekilas pun orang akan tau kalau dia payah sekali. Aku bertaruh dia bahkan tak bisa melakukan block dengan benar."
Kai terkekeh pelan. "Dia memang baru di voli, jadi wajar saja fundamentalnya belum bagus. Tapi biar kuberi tahu, dia orang yang bertekad kuat lho, (Name)."
"Antara tekadnya yang kuat atau dia cuman bocah nekat. Anak itu bahkan terang-terangan menyaingi posisi Taketora sebagai ace," sambung Kuroo.
(Name) mengernyit. 'Ace? Dia?'
(Name) tersenyun geli. "Nyalinya boleh juga ternyata."
Di sisi lain lapangan, Morisuke tengah meneguk minuman isotoniknya.
Ia memutuskan beristirahat sebentar setelah membantu Lev dengan receivenya. "Ahh, segar!"
"Yaku-san," Lev berkata sembari memandangi adik si libero.
"Hm? Nani?"
"Adikmu juga di Nekoma? Aku tak pernah melihatnya sebelumnya."
"Yah, dia juga bilang tidak pernah melihatmu. (Name) memang lebih sering menghabiskan waktunya di kelas." sahut Morisuke.
"Dia mungil sekali, Yaku-san. Lebih pendek darimu ya?"
Morisuke spontan melempar botol isotonik ke arah si adik kelas.
"Sakit, Yaku-san!"
"Jangan mengejek adikku, sialan."
Lev mengaduh. "Aku memujinya tahu," ucapnya mengerucutkan bibir.
Morisuke tak paham. "Bagian mananya kata-katamu tadi yang memuji?"
Eh, tunggu sebentar. Morisuke merasa ada yang janggal disini.
Ia menoleh. Memperhatikan Lev yang kini asik memandangi adiknya. Pandangannya lalu beralih pada (Name) yang sedang mengobrol dengan Kai dan Kuroo.
Alisnya mengernyit. Ia lalu kembali memandang Lev.
'Ha. Apa-apaan?'
Morisuke akhirnya bangun. Kaki melangkah berdiri di depan Lev.
Bagus. Ia lebih tinggi sekarang.
Lev mengadah, memandang senpainya heran. Matanya berhadapan langsung dengan tatapan garang Morisuke.
Aduh.
Apa Lev salah bicara tadi?
"Oi. Langkahi dulu mayatku."
"E-EH-!?" Lev shock.
"Kau mendengarku. Jangan berani-berani mendekatinya." ucap Morisuke sambil menyilangkan tangan.
Kini wajah Lev memanas. Ketahuan.
"T-tapi--"
"Tidak. Awas saja kau."
Lev langsung memalingkan muka. Rona merah tipis menghias pipinya. Antara malu dan kesal.
Jadi Lev harus meluluhkan Yaku yang lebih tua dulu nih?
Ha.
Dipikir ia tak mampu?
"Aku bisa mendapatkan dua Yaku jika aku mau kok, Yaku-san!" ucap Lev menantang kakak kelasnya.
Atau kakak ipar? Bukan Lev, masih calon.
"HAAAHHH!?! BICARA APA KAU BARUSAN, SIALANN?!!"
Setelahnya, Morisuke menambah porsi latihan Lev 3 kali lipat dari biasanya.
A/N :
Halo!
Buat para shipper LevYaku, ku otak-atik dikit yaa ship kalian hehe .-.
Btw cuman mau bilang, rYOUTA PAKE JERSEY GSW ITU KECE WOI KECE .y

See??! SEEEE!??!
UDAH MA DI LAST GAME BANG RYOU JD LEBI MASKULIN GITUU AHSHHJAJSJSKAK
Iya, saya memang ngehusbu abang model ini di knb 😔✋
Ryouta dibikin setim sama bang Curry dong, monang aku bayangin mereka game bareng ;-;
Udah deh, aku bakal berenti bacot. Terima kasih buat yang sudah sudi membaca sampai akhir <333
See you next chapter!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top