Bab 3

BAB INI BAKALAN AGAK BERAT KARENA MEMBAHAS KETIMPANGAN GENDER DAN POLA PIKIR VALENDRA KENAPA DIA SAMPAI ANTI LAKI-LAKI. SO, SIAPKAN MENTAL KALIAN. VOTE DAN KOMEN YANG BANYAK!

VALENDRA

Aku bahkan belum sampai ke mobil, tapi kepalaku sudah penuh. Jadi ini maksudnya. Golf siang-siang, Ayah yang tiba-tiba hangat, lalu muncul laki-laki dengan nama keluarga yang terlalu besar untuk diabaikan. Suvarnapati. Lima puluh hotel dan resort di seluruh Indonesia. Old money. Power yang diwariskan, bukan dibangun dari nol. Aku tidak butuh riset untuk tahu itu. nama itu terlalu sering muncul di berita ekonomi, terlalu sering jadi simbol "yang selalu menang." Dan sekarang... dilempar ke depanku seolah aku bagian dari aset yang bisa dinegosiasikan. Jinjja michin geoya... serius, ini gila.

Aku membuka pintu tengah mobil. Biarlah Ayah nanti duduk di depan bersama playboy itu. Ya, aku tahu Vyan adalah womanizer yang ahli menaklukkan wanita. Alih-alih terpesona, aku malah ngeri berdekatan dengannya. Membayangkan barangnya menclok sana menclok sini seperti selang pom BBM Pertamina saja sudah membuatku merinding sebadan-badan.

Vyan Ezra Suvarnapati. Bahkan cara dia bicara... ada jeda yang aneh. Bukan karena gugup murni, tapi lebih seperti otaknya berjalan cepat menyusun strategi. Aku kenal tipe itu. Mereka tidak pernah benar-benar hadir di momen. Selalu menghitung, selalu menimbang. Dan yang paling mengganggu, dia tidak terlihat tersinggung waktu aku tidak memberinya perhatian. Itu bukan ego yang biasa. Itu... lebih berbahaya. Aish, jinjja.... Tipe seperti itu tidak butuh validasi, karena mereka sudah tahu nilainya sendiri.

Sambil menunggu kedatangan Ayah, aku membuka Instagram. Aku punya akun bernama @Nepenthes.Ironpetals. Tahu kan Nepenthes, bunga kantong semar favoritku. Belakangan ini, ramai gender war di sosmed. Para pria suka memprotes tingkah para wanita sekarang. Padahal menurutku, tingkah laki-laki lebih parah. Anehnya mereka jengkel kalau perempuan bertingkah seperti laki-laki yang memaksimalkan logika.

Aku langsung menemukan akun sok maskulin. Postingannya terdiri dari lima slide, tapi baru slide 1 saja sudah bikin aku naik darah.

Jangan mau menjadi jaminan pensiun bagi perempuan...

Aku geser ke slide berikutnya.

Slide 2

Perempuan sekarang maunya enak. Cari laki-laki mapan biar hidupnya terjamin.

Alisku terangkat. Serius?

Slide 3

Laki-laki harus sadar. Jangan sampai kerja kerasmu cuma dinikmati perempuan yang tidak membawa value.

Aku terkekeh pendek. Bukan karena lucu. Karena terlalu dangkal.

Slide 4

Perempuan itu secara naluri hypergamy. Selalu cari yang lebih tinggi secara finansial.

Nah. Ini dia. Kata sakti yang selalu mereka pakai supaya terdengar ilmiah.

Slide 5

Makanya, fokuslah jadi laki-laki sukses. Biar perempuan datang sendiri.

Dan balasannya datang dari para laki-laki pecundang.

@Rajahata155

Betina emang gitu, Bang. Gak mau dianggap barang, tapi ngincer laki-laki yang bisa ngasih mahar paling tinggi. Gak mau disebut barang, tapi pasang harga.

Aku segera mengetik dengan lincah membalas ocehan manusia tidak punya ilmu ini:

@Nepenthes.Ironpetals

Minimal kalau gak punya ilmu tuh belajar biar pinter. Kau pikir perempuan diperlakukan seperti barang karena menerima mahar? HP kau keluaran tahun 1726 makanya gak bisa buat baca jurnal hah?

Search soal DOWRY DEATHS. Di India, Pakistan, dan Bangladesh, perempuan sudah bayar dowry, tapi tetap aja diperlakukan semena-mena, dijadikan pembantu gratisan, dijadikan budak seks, dipukuli, dianiaya. Bahkan istri di India dijadikan sandera di rumah keluarga suaminya. Diperas untuk terus ngasih uang, emas, kendaraan, bahkan property / rumah. Kalau perempuan dan keluarganya menolak atau harta mereka sudah habis, apa yang terjadi? Si istri yang sudah kasih mahar ini dibunuh dengan cara apa? DIBAKAR! Paham kau luwak?

Kau tahu kenapa angka pembunuhan terhadap anak perempuan di India sangat tinggi? Karena anak perempuan dianggap beban ekonomi bagi keluarganya di masa depan.

Sekarang kutanya sama kau, apakah di Indonesia ini, ada laki-laki yang dijadikan sandera dan diperas sampai dibakar di rumah keluarga istrinya? Ada?

Kalian ini laki-laki, mau yang ngasih mahar, ataupun yang dapat mahar memang otak kalian ini penjahat.

Kau baca tuh buku Bridewealth and Dowry karya Jack Goody, tentang bagaimana perempuan dijadikan alat tukar oleh orang tuanya. Apa kau pikir perempuan yang menikmanti mahar? TIDAK, tapi dia yang paling menderita karena dibawa masuk ke keluarga laki-laki.

Kau tahu kenapa ada UNIT PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK di setiap Polres di Indonesia tidak ada Unit Perlindungan Laki-laki? Kenapa ada Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga? Kenapa ada Komnas Perempuan tidak ada Komnas laki-laki? Kenapa ada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak tidak ada Kementerian Pemberdayaan Laki-laki? Karena banyak laki-laki di Indonesia dan dunia, pola pikirnya macam kau luwak birahi. Hanya mau mengambil, menyiksa, menganiaya, memperkosa, dan membunuh wanita saja.

Memang seharusnya perempuan tidak perlu menikah. Kerja sendiri, cari duit sendiri, belanjain diri sendiri, cantikin diri.

.

.

.

"Lho, kamu nggak duduk di depan?"

Aku mendongakkan kepala mendengar suara Ayah, sosok yang katanya menjadi cinta pertama semua anak perempuan di dunia. Tentu saja aku adalah pengecualian karena keluargaku spesial.

Berkat Ayah, aku belajar membenci pernikahan. Dari Ayah, aku percaya bahwa pernikahan adalah penjara berkedok ikatan suci untuk merampas semua hak perempuan. Selama ini, karena merasa digelari pemimpin, laki-laki suka bertindak sesuka hati. Padahal, pemimpin negara yang seenaknya sendiri pun bisa digulingkan.

"Enakan di sini, Yah. Lega." Jawaban macam apa itu? Sungguh basa-basi yang sangat busuk.

Ayah meletakkan tas golfnya lantas duduk di sebelahku. Di usia senjanya, Ayah menyesali perbuatan masa mudanya. Waktu beliau tampak senang membelikan perlengkapan untukku memulai usaha nail art, kukira Ayah tengah berusaha memperbaiki hubungan denganku. Prasangka yang tidak seratus persen benar, sebab Ayah ingin memperbaiki hubungan denganku supaya aku mau dijebak dalam ikatan penjajahan bernama pernikahan.

"Om Dananjaya masih jago main golfnya," Ayah membuka pembicaraan. Sama basa-basinya denganku. Beginilah Ayah sekarang, tidak lagi menampakkan binar jumawa di matanya. Tidak ada gestur petantang-petenteng yang semasa kecil sering kujumpa. Tidak ada lagi sikap sok kuasa mentang-mentang satu-satunya pencari nafkah dan kepala keluarga. Sekarang yang duduk di sampingku hanyalah seorang lansia dengan banyak uban di kepala.

"Menurut kamu, Vyan gimana?"

Aku tersenyum, sudah tahu sebetulnya sejak tadi Ayah memang mau menanyakan ini.

"Ganteng," jawabku to the point.

"Ganteng?" Kelelahan Ayah setelah lama dijemur di bawah matahari lapangan golf, seketika sirna digantikan binar bahagia.

"Ya, cocok dipajang buat model iklan rumah sakit Ayah."

Ayah menghela napas, "Serius sedikit, Valendra."

Ayah nyaris putus asa mencarikan jodoh bagiku. Di matanya, aku adalah barang dagangan yang belum laku. Mendekati expired date dan meresahkan pedagang. Baginya aku adalah beban, padahal setelah lulus kuliah S1, aku cari beasiswa S2 ke Korea. Berbeda dengan Vincant yang selalu disokong Ayah, bahkan kuliah PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) jantungnya dibiayai Ayah, di negara orang aku berdiri di atas kakiku sendiri. Pagi kuliah, sore bekerja apa saja. Jangan kira hidupku mudah. Orang Korea Selatan itu rasisnya ampun-ampunan. Orang-orang di halte menatapku terlalu lama, seolah warna kulitku adalah sesuatu yang salah tempat di negeri mereka, dan bisik-bisik pelan terdengar setiap kali aku lewat. Bahkan di kafe tempatku bekerja, beberapa pelanggan sengaja memanggil temanku yang orang lokal, pura-pura tidak melihatku berdiri tepat di depan mereka. Aku berjuang sampai bisa mengungguli teman-temanku. Aku lulus dengan predikat Choe-udeung alias lulusan terbaik atau top of the class. Namun tetap saja perjuanganku tidak membuahkan rasa bangga pada Ayah.

"Aku serius."

"Vyan itu Raja Midas, kata Om Dananjaya. Selain mengelola bisnis hotel keluarga, dia juga punya tempat golf dan persewaan yacht."

See? Buat Ayah, laki-laki yang setara denganku hanya dilihat dari bisnis dan jumlah uang di rekeningnya. Padahal tidak begitu. Pola pikir lebih penting. Aku tidak mau seperti Ibu yang menikah hanya berdasarkan harta. Setelah Ibu meninggal, Ayah tampak berduka dan tidak menikah lagi sampai sekarang. Orang di sekitar kami mengira cinta Ayah kepada Ibu begitu besar seperti Pak BJ. Habibie kepada Ibu Ainun. Padahal kenyataannya tidak begitu. Di mata Ayah, istri tak ubahnya mobil atau mesin cuci. Layak dipertahankan selagi berfungsi. Kalau fungsinya menurun, siap-siap diganti. Toh banyak perempuan di luar sana mengantri untuk mendapatkan posisi Ibu. Aku tahu apa yang menghalangi Ayah menikah lagi, karena belum mendapatkan wanita yang manfaatnya setara Ibu.

"Nak, umur kamu udah 28. Waktu seusia kamu, Ibumu sudah punya Vincent."

"Sayang ya, padahal karir ibu lagi bagus-bagusnya, tapi malah dikebiri demi keluarga. Karir Ayah melejit, sedangkan karir Ibu mati."

"Ibu berkorban demi hal yang lebih penting. Keluarga."

Aku mencibir. "Oh, begitu? Jadi buat Ayah, keluarga itu nggak penting?"

"Penting."

"Lalu kenapa bukan Ayah yang berhenti berkarier, mengabdikan diri demi keluarga, membiarkan Ibu tetap jadi aktris? Aku udah nonton film-film Ibu. Kalau nggak keburu menikah lalu fokus urus anak dan suami, aku yakin Ibu bakal dapat Piala Citra."

Ayah menatapku prihatin seakan aku manusia tersesat yang butuh diselamatkan. "Ya karena memang begitu seharusnya. Laki-laki bekerja di luar rumah, istri mengurus rumah."

"Dan diremehkan, tidak berhak bersuara karena dianggap menumpang hidup?" balasku sengit.

Ayah tampak terpukul mendengar jawabanku. Ayah pastilah merasa miris sebab sebagai satu-satunya anggota keluarga terdekat, hubungan kami jauh dari kata mesra. Kami selalu saja meributkan hal yang sama. Ayah yang ingin aku menikah supaya tidak dianggap gagal sebagai orang tua dan aku yang menganggap pernikahan bukanlah bukti kesuksesan manusia.

"Ayah memang salah karena Ayah tumbuh pada masa perempuan jarang yang berkarier. Nenekmu ibu rumah tangga. Nenek buyutmu juga. Makanya Ayah terbawa pola pikir seperti itu," kata Ayah terdengar mencoba mengalah. "Tapi sekarang zaman sudah berbeda, banyak laki-laki yang memahami kalau istrinya mau meniti karier."

"Ya, benar, zaman sudah berubah, tapi pola pikir laki-laki masih begitu-begitu saja." Aku menyodorkan ponsel, memperlihatkan pendapat para laki-laki yang mengeluhkan perilaku perempuan zaman sekarang. Ada yang bilang standar TikTok lah, ada yang bikin konten candaan 'Unboxing hasil bayar mahar 300 juta' lah, dan sederet konten lain yang bikin aku emosi. "Ini yang Ayah bilang sudah berubah?"

Lalu aku menunjukkan video suami memukuli istri karena saat pulang dari kantor, istrinya belum masak. Ada lagi video suami memaksa istri berhubungan intim karena merasa sudah bayar mahar sudah selayaknya dilayani.

"Ini? Ini yang Ayah bilang sudah berubah?" tanyaku.

"Tapi Vyan nggak begitu, Ayah yakin."

Aku tidak mendebat, tapi menggeleng. "Nggak, Yah. Aku nggak mau. Aku bukan tipe perempuan yang baru merasa berharga kalau sudah jadi pendamping laki-laki."

"Lalu kamu mau hidup seperti apa?" Ayah terdengar nelangsa, "Mau luntang-lantung sendirian sampai tua? Nggak ada yang nemenin, nggak ada yang jagain."

Aku menahan tawa. "Jagain dari apa? Ayah pikir kita ini tinggal di hutan belantara dikelilingi binatang buas? Ayah tahu kenapa ada Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga? Karena banyak perempuan punya pola pikir menikah untuk dilindungi, padahal kenyatannya justru pernikahan membuka pintu menjadi korban KDRT sampai masuk rumah sakit bahkan liang kubur!"

"Nggak semua laki-laki seperti itu. Ayah akan carikan laki-laki yang tidak melakukan KDRT sama kamu," janji Ayah.

"Dengan cara mencarikan laki-laki playboy yang berpotensi menularkan HIV?" tantangku.

Ayah terdiam, bukan karena kehabisan kata, melainkan seperti seseorang yang untuk pertama kalinya dipaksa menatap cermin terlalu dekat hingga setiap retakan yang dulu diabaikan kini terlihat jelas. Di dalam mobil yang sempit itu, udara terasa berubah berat, dipenuhi sisa-sisa masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai diucapkan. Valendra memalingkan wajah ke jendela, menatap pantulan dirinya sendiri yang tampak tenang di permukaan, meski di dalamnya beriak hal-hal yang jauh lebih rumit dari sekadar amarah. Sementara di kursi depan yang masih kosong, bayangan tentang laki-laki bernama Vyan Ezra Suvarnapati seolah sudah lebih dulu duduk di sana, bukan sebagai tamu, melainkan sebagai awal dari sesuatu yang dia tahu, cepat atau lambat, akan memaksa semua keyakinannya diuji satu per satu.

"Valen, laki-laki itu seperti wine, sedangkan perempuan seperti susu."

Aku benci kalau Ayah sudah pakai analogi. Seakan laki-laki semakin berkualitas jika umurnya semakin tua, sedangkan perempuan akan menjadi barang basi yang harus dibuang. Biasanya aku mendebat, sekarang aku mengiakan.

"Ayah benar," Aku mengangguk. "Laki-laki memang seperti alkohol yang semakin banyak dikonsumsi, semakin mematikan. Sedangkan susu adalah sumber kehidupan. Nggak ada anak bayi dikasih minum wine, tapi bayi manusia sangat disarankan minum susu supaya sehat. Wine semakin banyak diminum akan bikin sirosis, GERD, bahkan kematian. Aku setuju. Makanya jangan dekat laki-laki kalau nggak mau mati."

Ayah tidak langsung menanggapi. Tangannya yang tadi sempat bergerak kini diam di atas lutut, seolah setiap kata yang baru saja keluar dari mulutku masih berputar-putar di kepalanya, mencari tempat untuk mendarat tanpa melukai lebih dalam. Di luar kaca mobil, langit siang terlihat terlalu terang, kontras dengan suasana di dalam yang mendadak redup dan sunyi.

"Ayah tahu kan, aku capek berdebat soal ini? Tolong hargai keputusanku. Aku nggak akan menikah, nggak akan berhubungan seks, dan aku nggak akan mau punya anak."

***

Gimana, gimana? Capek nggak baca POV Valendra? Muehehehe.... Lebih suka POV Valendra atau Vyan? Vote dan komen yang banyak.

Sebenarnya yang berpikiran kayak Valendra itu banyak. Cuma di Indonesia jarang yang berani speak up aja.



Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top