Bab 2

VYAN

Jujur, ini pertama kalinya aku tidak langsung menghitung seseorang seperti biasa. Biasanya aku segera bisa menebak orang ini worth berapa, bisa jadi apa, atau minimal bisa aku arahkan ke mana. Tapi Valendra berbeda. Dia tidak cari perhatian, tidak peduli siapa pun di sekitarnya, bahkan seperti tidak sadar kalau aku ada di situ. Padahal biasanya orang bakal minimal melirik. Dan anehnya, justru itu yang bikin aku ke-trigger. Bukan karena dia paling cantik atau paling seksi. Sorry, aku sudah lihat yang lebih dari itu. Namun, karena dia susah dibaca. Seperti ada sesuatu yang tidak bisa kupegang, kuatur, kuarahkan dan entah kenapa. Sialnya, itu malah bikin aku terpancing lebih dekat, bukan karena butuh, tapi karena aku belum bisa "punya."

"Vyan," panggilan Om Basri mendistraksiku dari mengamati Valendra. "Jadi nebeng?"

"Nebeng?" tanyaku refleks, hampir seperti orang yang baru bangun tidur, alisku naik sebelah sambil menengok ke arah Om Basri yang tiba-tiba bicara seenaknya. Tanganku masih setengah menggenggam botol air mineral.

Om Basri malah menyahut santai. "Tadi katanya mau nebeng ke Amaya?" ujarnya ringan, seolah barusan tidak melempar aku ke situasi yang bahkan belum sempat aku pikirkan. Tangan kokoh tapi sudah keriput dimakan usianya meraih handuk kecil dan menepuk-nepuk keringat di lehernya.

Aku mengedip dua kali. Amaya? Oke, aku tahu itu. Salah satu cluster di Eco Residence Cibinong, tidak jauh dari Mount Aurum. Tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya kenapa aku jadi ikut masuk skenario ini? Otakku langsung jalan cepat, mencari alasan paling masuk akal dalam waktu kurang dari dua detik.

"Iya... mau ketemu temen di sana," kataku akhirnya, suaraku tidak setenang biasanya. Ada jeda tipis yang bahkan aku sendiri sadar . Tanganku masuk ke saku celana, pura-pura santai padahal kepala lagi ngebut menyusun skenario.

Valendra melirik ke arahku. Tatapannya datar, tapi bukan kosong. Lebih seperti... sedang menge-scan. Di sini aku adalah barang yang lagi dia timbang, worth it atau tidak. Tanpa senyum, tanpa basa-basi.

"Oh ya?" katanya pendek, alisnya naik sedikit, tangannya menyelipkan kunci mobil di antara jari-jarinya, gesturnya simpel tapi somehow kelihatan dominan.

Aku tarik napas dikit, merapikan nada suara. "Kalau... nggak keberatan, gue boleh numpang?"

Eh, ini aman kan kalau pakai gue-lo? Apa harus aku-kamu? Ya masa Saya-Anda? Ini kan bukan wawancara kerja. Aku tidak mau kelihatan kaku sekali, terlebih kami seumuran. Valendra lebih muda sedikit dariku. Masih satu generasi lah. Aku berusaha lebih sopan dari biasanya, tapi jangan sampai kelihatan old school. Aku bahkan sedikit menunduk, sesuatu yang jarang sekali aku lakukan ke perempuan. Tanganku terbuka sedikit seolah kasih gesture minta izin.

Valendra tidak menjawab pakai kata-kata. Cuma mengangguk sekali. Lalu tanpa drama, dia lempar kunci mobil itu ke arahku.

Aku refleks menangkap. "Thanks," kataku cepat, sedikit senyum, tapi jujur saja... ini pertama kalinya aku merasa seperti bukan aku yang pegang kontrol di awal permainan, Jariku memutar-mutar kunci itu sebentar.

"Ambil mobilnya di depan," katanya singkat, sudah mulai jalan duluan tanpa menunggu responku. Langkahnya stabil, tidak buru-buru tapi juga tidak menoleh ke belakang memastikan apakah aku ikut atau tidak.

Oke. Menarik.

"Jangan diambil hati, Vyan." Om Basri menepuk bahuku. "Valen emang begitu anaknya. Itu yang bikin Om khawatir nggak ada laki-laki sanggup ngadepin dia. Tapi kalau Om lihat, kamu ini tipe yang udah pengalaman sama perempuan ya?"

Hmmm... Gimana ya jawabnya?

"Justru karena kamu nggak terintimidasi sama kelakuannya, Om yakin mentalmu pasti sekuat baja."

Bolehkah aku tertawa? Daripada terintimidasi, lebih tepat kalau disebut aku tertantang. Tertantang karena baru kali ini ada perempuan yang tidak berminat atau cari muka kepadaku.

Om Basri seperti seorang Ayah yang sudah capek menghadapi anaknya, lalu mau kirim anak itu ke pesantren. Aku menengok ke arah Ayah sebentar. Beliau cuma senyum tipis, tatapannya penuh arti yang bikin aku harus menafsirkan.

"Saya ke clubhouse sebentar ya, Om. Mau ambil HP," kataku sambil jalan mundur beberapa langkah. "Om duluan ke mobil aja."

"Nggak usah lama-lama," kata Ayah, nadanya ringan tapi jelas ada warning tipis di situ.

Aku cuma mengacungkan jempol, lalu langsung putar badan dan jalan cepat ke arah clubhouse.

Begitu masuk, udara dingin AC yang kontras dengan nuansa panas di lapangan golf langsung menerpa wajahku. Mata kakak-kakakku menyorot penuh rasa ingin tahu. Terutama Mas Vadiem yang menganggap aku adalah bajingan yang harus dijauhkan dari segala lubang. Mas Vadiem pernah bilang ibarat kata, kambing dibedakin pun, bisa aku coblos. Itu omongannya kalau sedang mencela nafsu birahiku.

"Oke, ini mulai menarik," gumamku pelan, menyengir sendiri sambil menyisir rambut pakai tangan.

Mas Varaz masih duduk di sofa dekat bar, tengah mengobrol dengan Mas Vadiem dan Mas Dewa. Posturnya santai, tapi auranya tetep... bossy. Selalu begitu.

"Mas Varaz," panggilku.

Dia menengok, alisnya sedikit naik. "Balik lagi, aku kira kamu main golf sama Ayah."

"Bentar lagi mau cabut," kataku, duduk di sebelahnya. Aku mengedarkan mata ke sekeliling ruangan, dan ketika tertumbuk pada para bodyguard Mas Varaz, sebuah ide cemerlang langsung menyala di otakku.

"Aku butuh bantuan," lanjutku langsung, nada suaraku turun sedikit lebih serius, tapi masih santai.

Mas Varaz langsung curiga. "Bantuan apa?"

"Pinjem empat bodyguard Mas," kataku tanpa basa-basi, tanganku menunjuk ke arah para pria berpakaian kaus dan celana jins serba hitam. Konon katanya Mas Varaz memilih mantan siswa akmil yang dikeluarkan karena bermasalah. Dia tampung, dia latih sendiri, lantas dipekerjakan sebagai pengawal pribadi.

Dia menyipitkan mata. "Buat apa?" tanyanya tajam, tone-nya berubah jadi lebih dingin, khas dia kalau lagi mengecek apakah aku lagi bikin masalah.

Aku hanya tersenyum tipis. "Entertain calon investor."

Mas Varaz diam beberapa detik, jelas lagi mikir. Lalu dia hembuskan napas pelan.

"Kamu nggak lagi bikin drama aneh-aneh lagi, kan?" Mas Varaz menginterogasi.

"Mas," kataku sambil ketawa kecil, mengangkat tangan seolah defensif, "aku tuh profesional."

Dia mendengus pelan. "Kalau kamu sampai bikin ulah...."

"Iya, paham," Aku langsung menyela sebelum dia melancarkan ancamannya untuk bikin aku miskin.

Mas Varaz berdiri lalu menoleh ke arah pintu. "Raka. Dimas. Arga. Leo," panggilnya tegas.

Empat pria besar tadi langsung datang, postur mereka tegap, langkahnya berat tapi terkontrol.

"Iya, Pak," jawab salah satu dari mereka. Namanya Raka, suaranya dalam, tangannya di belakang seperti siap menerima instruksi.

Mas Varaz menunjukku. "Ikut dia," katanya singkat, lalu matanya balik kepadaku, "apa pun yang dia bilang, lakuin. Tapi jangan goblok."

Aku menyengir lebar. "Tenang aja," kataku ringan seraya berdiri dan menepuk bahu Mas Varaz sekali.

Kami berlima keluar. Begitu agak menjauh, aku langsung berhenti dan menghadap mereka.

"Oke, gue jelasin cepat," kataku, nada suaraku berubah jadi lebih taktis, tanganku terlipat di dada.

Mereka semua fokus.

"Nanti kalian ikut mobil yang gue setirin dari belakang. Jaga jarak, jangan terlalu dekat," Aku berkata sambal berpikir cepat. "Terus, di satu titik... hadang mobil gue," lanjutku, mataku menyipit sedikit, mulai terbayang skenarionya.

Dimas mengangkat alis. "Hadang... serius, Pak?" tanyanya hati-hati.

"Relax," kataku sambil tertawa kecil. "ini bukan kriminal, ini... performance."

Mereka saling pandang, agak curiga dengan arahanku.

"Nanti gue turun," lanjutku, "kalian pura-pura nyerang."

Arga tertawa kecil. "Pura-pura?" katanya, jelas mulai mengerti arah pembicaraan.

"Ya, pura-pura," kataku sambil menunjuk dia, "tapi tetap keliatan real."

Leo menyengir. "Terus?" tanyanya, tangannya dilipat di dada.

Aku senyum pelan. "Terus gue hajar kalian," kataku santai, seolah membicarakan cuaca.

Mereka semua langsung diam setengah detik.

Raka yang pertama menyahut, "Kami harus mukul Bapak balik?" tanyanya, nadanya netral tapi jelas mengetes.

"Bapak mau dipukul di daerah mana?" tanya Leo.

"Kami khawatir sama keselamatan Bapak." Dimas berkata khawatir padaku tapi aku tahu dia khawatir pada dirinya sendiri kalau Mas Varaz sampai tahu aku celaka.

"Ya, kalian harus mukul gue balik. Hindari kepala. Gue juga nggak akan mukul kepala kalian." Aku maju selangkah, mendekati dia, senyumku miring. "Gue punya sabuk hitam Dan 3 karate," kataku dengan mata tidak lepas dari mereka. "Kalian nggak usah khawatir."

Wajah mereka semua langsung berubah lebih hormat, lantas mengangguk kecil. "Siap."

"Nanti kalian jatuh. Kalah. Clean," lanjutku, tanganku bikin gesture jatuh satu per satu.

"Jangan lebay, tapi juga jangan pelan. Gue nggak mau keliatan settingan," tambahku, serius.

Dimas tertawa. "Wah, ini mah film action," katanya sambil geleng-geleng.

"Budget unlimited," balasku cepat, senyumku balik santai, "target satu orang."

Mereka semua mengerti sekarang.

"Cewek ya, Pak?" Raka bertanya.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Sebagai sesama laki-laki, dia pasti tahu rencanaku.

"Oke, posisi standby. Gue jalan duluan," kataku sambil mundur, memberi isyarat selesai.

"Siap, Pak," jawab mereka serempak.

Aku balik badan, jalan ke arah parkiran, kunci mobil Valendra masih di tangan. Senyumku pelan muncul lagi.

Game on.

***

Ada yang penasaran sama POV Valendra? Bab 3 itu pakai POV Valendra, sudah posting di Karyakarsa Belladonnatossici sampai bab 9. Baca duluan di sana, murah meriah.


Love,

Bella

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top