[20]
"Nak Darrell mau kemana?"
Suara itu mengagetkan Darrell. Ia berencana pergi sembunyi-sembunyi, tapi ternyata ketahuan juga. Dengan perlahan ia berbalik dan tersenyum canggung, "mau beli jajan dulu, Tante."
"Oh, oke. Hati-hati di jalan," balas wanita itu, ditambah dengan senyum manis nan ramah. Hati Darrell menghangat, ia tidak pernah diberikan senyum seperti itu oleh ibunya lagi sejak lulus SD.
Sebetulnya Darrell sangat canggung berada di panti asuhan itu sendirian bersama dua pengurus panti. Semua anak-anak panti asuhan sedang bersekolah, dan Kaia tidak meninggalkan pesan apa-apa saat berangkat tadi pagi. Darrell tidak enak karena ia merasa sangat berdosa sendirian di sana, tidak bersekolah, dan bahkan kabur dari rumahnya sendiri. Pemuda itu mengendap-endap dan pergi ke ATM terdekat, ia berencana mengecek apakah kartu kreditnya dibekukan oleh orang tuanya atau tidak.
Darrell tidak mengharapkan kemungkinan terburuk. Bagaimanapun, dia butuh uang untuk setidaknya membayar jasa pengurus panti asuhan Kaia. Setelah menekan berbagai tombol di mesin ATM, Darrell menghela nafas lega karena kartunya belum dibekukan. Dia punya uang jajan yang berlimpah di dalam sana, entah dia menginginkannya atau tidak. Dan setelah kejadian itu ... Darrell tidak terlalu berselera menghabiskan uangnya. Namun saat ini ia ingin setidaknya menyenangkan hati anak-anak kecil di panti asuhan.
Darrell melirik arlojinya yang rusak karena kejadian kemarin dan melepaskan benda itu, kemudian membuangnya ke tempat sampah. Ia mengecek jam di ponsel dan memutuskan untuk berkeliling sekitar tempat tinggal Kaia. Namun hal paling pertama yang akan ia lakukan adalah menyendiri terlebih dahulu.
.
.
.
Panti asuhan Kaia terletak agak jauh dari jalan besar, sehingga Darrell butuh berjalan kaki cukup lama untuk mencapai kafe terdekat. Ia duduk dan memesan americano sambil melihat jalanan yang ramai. Sudah begitu lama sejak terakhir kali ia membolos sekolah. Setelah memblokir nomor orang tuanya—setidaknya sampai ia punya cukup nyali untuk pulang ke rumah—Darrell tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
Matanya masih bengkak setelah ditonjok kemarin, beberapa tulang di tubuhnya retak, dan fitur wajahnya masih terlihat babak belur. Darrell tidak berani pergi ke sekolah atau bahkan pulang ke rumahnya sendiri. Nah, bukankah dia sangat pengecut? Darrell menertawai dirinya sendiri.
Dulu ketika ia membolos, ada teman-temannya yang selalu menemani dan punya ide kemana mereka akan pergi. Sekarang ia menyeruput americano-nya dan masih berpikir kemana dia akan pergi selanjutnya. Yah, setidaknya sampai jam pulang sekolah. Namun bagaimanapun, dia masih punya hutang satu orang lagi untuk dimata-matai pada Aurora dan Arya. Ah, Darrell bingung sekali. Kenapa dia punya tanggung jawab yang sangat besar?
Sebuah panggilan dengan nomor asing muncul di ponsel Darrell secara tiba-tiba. Dengan enggan pemuda itu mengangkat telepon, ditambah wajah sebal sambil berkata, "halo. Siapa, ya?"
"Ini gue," kata orang lain di seberang telepon. Darrell mengenali suaranya, itu suara Ansel.
"Hai. Kenapa?" Darrell sedang tidak memiliki suasana hati yang bagus, akan lebih menyenangkan jika Ansel segera mengatakan apa yang ia inginkan.
"Jangan bad mood dulu. Gua udah coba jelasin ulang ke Aldo sama Kevin, tapi mereka nggak mau denger."
Terus, itu jadi masalah gue gitu? Tanya Darrell sinis dalam hati. "Sel, gue nggak butuh yang kayak gitu. Itu udah nggak penting lagi buat gua," balas Darrell marah. "Mereka nggak percaya, dan itu nggak apa-apa. Gua nggak bakal maksa. Yang penting, keselamatan gue terjaga. Gue nggak mau jadi korban selanjutnya kayak lo."
Ansel terdiam, dan untuk sementara waktu, hanya suara samar-samar yang terdengar dari mereka berdua. "Gue nggak bisa cegah apa yang terjadi sama kalian bertiga, dan gue nggak bisa nanganin semua itu. Setelah ini, gua harap lo selamat. Karena jadi orang kayak gue itu ... nggak enak."
Telepon ditutup. Darrell ditinggal tanpa ada penjelasan lain. Ia mengernyit dan ingin membanting ponselnya, tapi tidak jadi. Setelah menarik nafas dalam-dalam, Darrell meminum kembali pahitnya americano dan dalam hati benar-benar membenci hidupnya.
~•••~
"Tante, Om, sebenernya saya mau sedikit berbagi sama panti asuhan ini," mulai Darrell perlahan menjelaskan maksudnya. "Saya mau ngajak anak-anak makan di luar boleh? Sama Tante dan Om juga."
Wajah dua pengurus panti itu bercampur antara kaget dan terharu. "Ya ampun, nggak usah repot-repot."
Darrell bisa merasakan tatapan memohon dari anak-anak panti di belakangnya yang sedang mengintip dari balik tembok. "Nggak apa-apa. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih saya sama panti asuhan ini," kata Darrell.
Setelah saling bertatapan, akhirnya kedua pengurus panti itu mengiyakan ajakan Darrell. "Hore!" seru salah satu anak di belakang Darrell. "Makasih, Kak Darrell!"
"Iya. Pacar Kak Kaia baik, deh," sambung yang lain dengan wajah polos. Sementara anak-anak yang lebih besar langsung tertawa, membuat wajah Kaia sedikit merona.
Nggak heran mereka semua mikir kayak gitu, pikir Darrell sambil memaklumi semua perkataan anak kecil itu. "Hari ini kalian mau makan di mana?" tanya Darrell sambil berjongkok.
"Kak, di restoran baru kemaren boleh nggak?" tanya salah satu dari mereka. Ia langsung menggelayut manja di tangan Darrell, bersama dengan anak-anak lain.
"Eh, jangan yang mahal-mahal!" seru Kaia—selaku yang paling rasional dan lebih tua. "Kalian nggak kasihan sama Kak Darrell?"
Wajah anak-anak kecil itu langsung kecewa. "Nggak apa-apa, kok. Santai aja. Mau makan di mana aja gua yang traktir," kata Darrell yang sedang dipeluk bocah-bocah SD. Buru-buru ia berkata demikian agar anak-anak kecil yang jarang makan enak itu tidak kecewa. "Mau ke sana? Ayo berangkat sekarang."
Sorakan anak-anak panti asuhan—terutama yang masih kecil-kecil—terdengar menggema. Batas waktu tinggal Darrell di panti asuhan tinggal sehari lagi. Pengurus panti tidak memperbolehkan Darrell tinggal lebih dari dua hari, malah mereka menyuruh pemuda itu pulang sebisa mereka. Setelah bersiap-siap, anak-anak kecil memimpin jalan dan meninggalkan anak-anak yang lebih besar bersama pengurus panti di belakang. Darrell berjalan di samping Kaia dan dua anak yang lebih muda dua tahun dari mereka. Pemuda itu belum menghafal semua nama mereka, namun yang hampir seumuran dengannya—Rafka dan Eka—sudah ia hafal.
Restoran itu tidak terlalu jauh dari panti asuhan. Suara ribut anak-anak yang ingin memesan makanan yang belum pernah mereka coba membuat Darrell bersyukur dia memiliki orang tua lengkap dan uang untuk makan enak setiap hari. Mendadak hidupnya yang ia benci ... tidak terasa begitu buruk. Bangunan itu tingkat dua, dengan cat warna merah dan kuning yang terlihat menyala. Itu adalah restoran cabang Mc'D lain yang menjamur di setiap sudut kota. Buru-buru Darrell memimpin jalan karena pastinya anak-anak kecil itu tidak tahu cara memesan makanan di sana.
"Di sini ternyata dingin, ya," komentar salah satu anak.
"Iya. Untung aku pakai jaket tadi."
"Lo mau pesen apa?" tanya Darrell pada Kaia.
"Apa aja. Gua tiba-tiba nggak tahu mau makan apa," jawab Kaia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan.
Anak-anak kecil itu dengan bingung menunjuk-nunjuk papan menu, dan Darrell harus sabar meladeni mereka. Bersama Kaia, Rafka, dan Eka, mereka membantu anak-anak yang lebih kecil memesan makanan. Seolah masih berpikir jika Kaia dan Darrell saling berpacaran, anak-anak kecil itu duduk di tempat terpisah dari mereka berdua. Yah, Darrell juga tidak keberatan, sebab dia tidak memiliki perasaan apa pun pada Kaia sejauh ini.
"Hei, makasih, ya," kata Kaia tiba-tiba setelah makanannya habis.
Darrell masih meminum sodanya, ia hampir menyembur karena tidak pernah mendengar Kaia berkata dengan nada seperti itu. "Lo kenapa?" tanya Darrell sambil melirik Kaia heran. "Santai aja. Gue seneng kalau mereka seneng."
"..."
Darrell menghela nafas dan berkata dengan suara rendah, "gue benci hidup gue sendiri. Tapi setelah gua pikir-pikir, ternyata nggak seburuk itu."
Kaia tersenyum miring, "lo dapet kabar apa lagi?"
"Nggak banyak. Ansel telepon gua tadi pagi," jawab Darrell. Mendadak ia lupa sedang makan bersama anak-anak panti asuhan selain Kaia. "Lo sendiri gimana?"
"Wali kelas nanyain lo. Gua jawab nggak tahu," balas Kaia, ia menghela nafas dengan ekspresi meremehkan. "Padahal menurut gue, lo itu udah mulai kehilangan pamor di sekolah. Tapi ternyata nggak juga. Lo udah jadi bahan gosip baru karena bolos sekolah, terus Bu Aurora sama Pak Arya nanyain lo juga."
Darrell menoyor kepala Kaia pelan, "enak aja kehilangan pamor. Gua ini bakal selamanya populer dan dikenang di sekolah. Yah, seenggaknya sampe tiga tahun di bawah gue."
Kaia mengaduh kesakitan, padahal Darrell tidak menoyornya keras-keras. "Anak-anak di kelas kepo sama lo dan nanya ke gue terus. Malesin banget," cibir Kaia, terdengat sangat bosan dan malas.
"Emang nanya kayak gimana?" tanya Darrell.
"'Kemana Darrell?' atau 'Dia bolos lagi? Kenapa?'" Kaia menirukan ucapan anak-anak di kelas dengan sangat sinis. "Seakan gua bakal tahu, mentang-mentang kita terus bareng-bareng beberapa minggu ini."
Darrell tertawa mendengar kata-kata Kaia. Sudah lama ia tidak tertawa ringan seperti ini, "ternyata masih kepo juga. Padahal kalau gua dihukum mereka yang paling seneng."
Kaia ikut tertawa kecil. "Emang nggak jelas mereka." []
~•••~
Hai! Sebelumnya terima kasih sudah membaca sampai sini. Jangan lupa share kalau kalian suka, berbagi bacaan itu indah :")
Calypso. A.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top