[19]

Setelah sekitar sepuluh pukulan, Darrell sepertinya betulan pingsan. Ia tidak melihat apa pun lagi, kemudian tiba-tiba cahaya memasuki matanya. Karena kena pukul, mata kanannya bengkak dan sepertinya sedikit membiru. Untung saja Darrell tidak merasakan adanya gigi yang patah. Sayangnya ia tidak bisa bangun sekarang, Darrell bahkan kesulitan bergerak. Perlahan-lahan ia mengambil ponsel yang jatuh di dekat kakinya dan memilih kontak yang mungkin bisa dihubungi.

Orang tuanya jelas pilihan terakhir.

Darrell ingin menelepon sopirnya, tapi dia pasti akan melapor ke orang tuanya. Tentu saja, karena itulah ia dibayar. Dia tidak punya teman lagi ... kecuali Kaia. Darrell menghela nafas lelah dan lebih memilih ditolong Kaia daripada orang tuanya. Yah, meski Kaia selalu sibuk sepulang sekolah. Darrell tidak yakin dia bakal ditolong.

Darrell mencoba tidak memikirkan semua kemungkinan terburuk dan menekan tombol hijau untuk menelepon. Tidak dijawab. Darrell menghela nafas dan mencoba duduk, kemudian menekan tombol untuk menelepon sekali lagi. Setelah menunggu sebentar, suara keresek terdengar dan disusul suara yang telah ia kenal, "halo."

Darrell berdeham untuk menormalkan suaranya dan berkata, "lo bisa dateng ke sekolah sekarang?"

"Lo kenapa?" Nada suaranya terdengar khawatir, seolah Kaia tahu ada sesuatu yang terjadi pada Darrell.

"Dateng aja," desak Darrell. "Belakang gedung lama. Gua nggak bisa gerak."

Terdengar jeda yang agak panjang sebelum Kaia menjawab, "oke. Tunggu di sana."

Kaia mematikan sambungan telepon, dan Darrell duduk sambil melihat tembok kusam. Ia berharap bisa membagikan lokasi lewat ponsel, tetapi sayangnya ia tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya sakit di seluruh bagian, dan ia tidak yakin akan bisa bersekolah besok ... atau untuk beberapa waktu. Cepat atau lambat orang tuanya akan tahu, dan Darrell harus segera memutar otak agar mereka tidak marah besar.

Sekitar lima belas menit kemudian, langkah kaki terdengar, dan Darrell langsung bersuara sekeras yang ia bisa, "Kaia? Gua di sini!"

Langkah kaki yang terdengar semakin dekat menjauh, kemudian mendekat lagi. Darrell mengulangi kata-katanya dengan susah payah dan akhirnya ia melihat teman sekelasnya itu. "Lo kenapa lagi?" tanya Kaia yang langsung lari menghampiri Darrell.

"Entar aja jelasinnya," kata Darrell susah payah. Ia dibantu berdiri oleh Kaia, dan perlahan-lahan mereka meninggalkan sekolah yang sudah sangat sepi. "Jam berapa?" tanyanya ketika sudah cukup jauh dari sekolah.

"Jam tujuh," jawab Kaia pendek. "Sekarang lo mau kemana?"

"Kalau lukanya kayak gini ... bisa dirawat di rumah nggak?"

Kaia menghela nafas, "kita ke rumah sakit aja dulu."

Darrell menghargai pendapat Kaia untuk tidak bertanya macam-macam setelah disuruh-suruh menjemputnya di sekolah di waktu larut seperti ini. Namun ia bingung bagaimana Kaia bisa datang ke sekolah secepat itu. "Lo habis dari mana tadi?" tanya Darrell, sudah bisa bicara dengan jelas.

Kaia berdecak kesal, "gue buru-buru pergi dari tempat kerjaan dan malah harus bantuin lo ke rumah sakit."

"Lo kerja? Kenapa?" tanya Darrell, ia hampir melupakan Kaia yang seharusnya sedang kesal karena disuruh-suruh.

Kaia menggerutu tidak jelas, "nggak penting. Itu nanti aja. Sekarang kenapa lo bisa ada di sekolah babak belur gitu? Gue pikir lo hampir mati di sana tadi." Nada suaranya terdengar sangat khawatir, dan Darrell tidak menyalahkannya. "Lo ini ngapain lagi, sih?"

Darrell terkekeh dan malah bertanya dengan nada menyebalkan, "coba tebak?"

Kaia menatap Darrell galak, namun tetap menjawab, "pasti gara-gara temen-temen sableng lo itu."

"Seratus buat lo." Darrell tidak bisa terkekeh lagi, karena pipinya terasa sangat sakit. Rumah sakit terdekat terasa sangat jauh, dan jalanan yamg agak ramai membuat Darrell merasa seperti pecandu narkoba yang sedang digotong temannya yang sadar.

Kaia mendadak berhenti. "Udah berhenti dulu, ah. Lo berat banget, gua capek ini," kata Kaia sambil menurunkan Darrell di tanah. Tiba-tiba ada pedagang kaki lima lewat sambil melihat mereka dengan tatapan menuduh.

Darrell membalas tatapan si pedangang kaki lima dengan sewot dan mengecek isi sakunya. "Duh, tas gue ketinggalan di sana tadi," protesnya. "Untung aja dompet sama hp aman."

"Kenapa lo nggak ambil tas tadi? Gue nggak mau balik ke sana sekarang."

Darrell mendengus pelan, "besok aja, gue juga udah capek."

"Rumah sakit masih jauh, lo nggak mau panggil taksi aja?" tawar Kaia.

Darrell baru saja memikirkan hal yang sama, "ya udah, panggil aja kalau ada yang lewat. Kaki gue juga udah nggak kuat."

"Kemana sopir lo?"

Darrell diam, ia bingung apakah akan menjawab pertanyaan Kaia atau tidak. "Intinya, gue nggak mau dia lapor ke ortu gue," jawab Darrell akhirnya. Ia membuang muka, tidak melihat reaksi Kaia.

"Terus habis dari rumah sakit mau kemana? Cepat atau lambat, mereka bakal tahu juga," komentar Kaia. Ia mengeluarkan air dari dalam tas pinggang yang dikenakan dan meminumnya tanpa menawari Darrell.

Sejujurnya pemuda itu haus sekali. "Hei, bagi dong."

Kaia menatap Darrell tidak terima, namun sepertinya dia sangat kasihan dan memberikan airnya. "Jam segini belum pulang nggak dimarahin?" tanya Darrell.

"Gua pulang jam sembilan nanti. Biasa jam segitu," jawab Kaia. Tiba-tiba ia berkata, "gue laper. Beliin makanan dong."

"Ngarang aja. Kalau duitnya nggak cukup buat bayar rumah sakit gimana?" omel Darrell. Ia mengecek dompetnya dan ingat jika ia membawa satu kartu kredit di dalam. Karena merasa berterima kasih, Darrell mengeluarkan selembar uang kertas dan memberikannya pada Kaia. "Nih. Beliin gua juga."

Kaia tersenyum senang dan berdiri, kemudian pergi meninggalkan Darrell.

.

.

.

"Sudah boleh pulang," kata si dokter dengan senyum ramah. "Lain kali jangan bertengkar, untung saja hanya retak. Kalau patah, penyembuhannya bisa lebih lama."

Darrell tersenyum canggung dan tertawa hambar, sedangkan Kaia di sampingnya tersenyum lebar mengejek. "Nggak harus operasi, kan?" tanya Darrell khawatir.

Si dokter tertawa, "untung saja nggak parah. Tinggal minum obat yang saya resepkan, dan hindari semua yang tadi saya katakan. Pasti cepat sembuh."

Setelah saling berterima kasih Darrell berdiri dan merasa tubuhnya sudah lebih baik. Kemudian pergi dengan langkah tertatih-tatih di samping Kaia. "Gua kaget karena nggak ada yang patah. Kayaknya preman-preman itu masih punya hati," kata Darrell.

"Lo dipukulin berapa orang, sih?"

"Lima kayaknya. Gue nggak begitu inget habis ditonjok beberapa kali," jawab Darrell. "Terus kerjaan lo gimana?"

"Nggak mungkin bakal diterima kerja lagi jam segini. Besok aja gue dateng lagi terus izin," kata Kaia setelah melirik arlojinya.

Darrell menatap Kaia dengan rasa bersalah, "sori ya, gara-gara gue...."

"Emang gara-gara lo. Pokoknya gua nggak mau tahu, pulang sekarang lo." Kaia berkata dengan nada mengancam.

Darrell agak kaget, tapi tetap menjawab, "gue nggak bisa pulang sekarang. Gua mau kabur ... seenggaknya dua atau tiga hari."

"Sewa hotel kek, atau nginep di rumah kerabat lo. Di mana aja, pokoknya buruan pulang," omel Kaia. Ia mendorong tubuh Darrell menjauh, tidak peduli rintihan kesakitan temannya itu.

Darrell berpikir sejenak dan sadar kerabat terdekatnya ada di kota sebelah, dan kartu kreditnya terancam dibekukan sementara jika memakai terlalu banyak. Apalagi jika ketahuan kabur, uang di dalam sana tidak akan bisa dipakai. "Nggak bisa," jawab Darrell sendu. "Gue nginep di mana dong? Masa tidur di kolong jembatan?"

Darrell menatap wajah Kaia yang sedang kesal, kemudian membuang muka. Setelah menghela nafas, Kaia akhirnya berkata, "tidur di tempat gue aja dulu. Ada satu kamar kosong."

"Ortu lo gimana?"

Kaia berdecak, "kan gue tinggal di panti asuhan."

Darrell lupa. Apakah Kaia pernah mengatakan itu padanya?

"Asal pengurus panti setuju, sih. Tapi kalau kata gue, sih, cuma boleh dua hari aja," kata Kaia tegas.

"Di sana banyak anak cowoknya nggak?" tanya Darrell khawatir tanpa sebab.

"Banyak. Tapi rata-rata masih anak SD," jawab Kaia, "yang seumuran sama kita cuma dua orang."

Darrell menghela nafas lega. Meskipun hanya anak-anak, setidaknya dia tidak sendirian sebagai anak laki-laki. Setelah memanggil taksi, Kaia memberitahu arah jalan mereka dan dengan segera, keduanya sampai ke sebuah panti asuhan yang menurut Darrell kecil.

Bangunan itu sedikit tua, dan ukurannya tidak besar. Kamar Darrell saja lebih besar dari tempat itu. Lampu yang cukup terang menerangi pintu depan, namun sisanya remang-remang, dan di depan pintu berdiri dua orang. Satu wanita dan pria berusia paruh baya dengan mata penuh kekhawatiran. "Kaia!" panggil mereka. Setelah bersalaman, mereka langsung bertanya, "ini siapa?"

Kaia menatap dua orang itu canggung dan berbisik untuk menjelaskan situasi. Darrell tidak tahu apakah Kaia memberitahukan yang sebenarnya atau tidak. Sepertinya untuk mendapat izin, Kaia perlu mendramatisir. Terlihat dari wajah dua orang yang langsung terlihat sangat kasihan, kemudian langsung mempersilahkan Darrell masuk. Darrell tidak tahu apa yang dikatakan Kaia, tetapi sekarang dia sudah memasuki tempat itu tepat pada jam sepuluh malam. []

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top