[13]

Setelah sekian lama, ibu Darrell akhirnya memutuskan untuk meluangkan waktu lebih banyak di rumah. Sesungguhnya Darrell sangat kaget akan perubahan ini, sampai ia lupa untuk berpamitan pada ibunya sebelum berangkat sekolah kemarin. Tetapi sekarang dia harus berpamitan, kalau tidak ibunya akan marah.

"Jangan lupa hari ini, kita makan malam sekeluarga. Hari ini kamu nggak kemana-mana, kan?" tanya ibu Darrell setelah pemuda itu menyalaminya. Bagus, pikir Darrell, sekarang ceramahnya mulai lagi.

Namun situasi dengan kedua orang tuanya selalu membuat Darrell jadi canggung, sehingga kali ini ia menjawab sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "iya." Darrell melirik ibunya dan bertanya, "Papa datang?"

"Pasti. Mama udah pastiin supaya kita bisa makan bareng hari ini," ujar ibu Darrell dengan pandangan berapi-api penuh semangat. Mirip Darrell ketika pemuda itu marah, namun kali ini bukan marah, melainkan semangat.

Kepala Darrell mendadak memutar kejadian ketika ia masih terjaga untuk bermain ponselnya sampai pagi, dan mendengar percakapan kedua orang tuanya di telepon, marah akan suatu hal yang Darrell dengar sebagai 'makan malam'. "Ya udah, aku berangkat dulu." Seolah tidak ingat, Darrell kembali menyalimi ibunya.

"Belajar yang bener, Mama nggak masalah meski kamu nggak naik kelas." Suara ibu Darrell kaku, seolah-olah baru saja berlatih. Ketika Darrell menyadari hal itu, ia diam dan menatap datar ibunya yang sekarang hampir lebih pendek darinya. "Tapi Mama udah mikir, apa kamu mau ikut kelas aksel kalau kamu malu di kelas satu?"

Akhirnya, Darrell tahu arah pembicaraan ini. Pemuda itu langsung kembali tersulut api dan tertawa sinis sembari menyembur tanpa berpikir, "udah telat, Ma. Semester satu udah habis. Semua yang mau Mama lakuin, nggak akan ada gunanya." Setelah mengatakannya, jujur saja Darrell agak menyesal.

Ibu Darrell terdiam dengan wajah kaget yang sangat terlihat, namun tidak mengubah suara lembutnya ketika membuka suara, "hati-hati di sekolah. Langsung pulang habis bel bunyi. Maester Jaques nungguin kamu pulang sekolah nanti."

"Latihanku ditambah lagi?" tanya Darrell sinis.

"Mama lebih suka kamu ada di rumah dan latihan piano, ketimbang di luar sama entah siapa aja. Di sekolah kamu sekarang ada dua pembunuh. Kalau bisa, kamu tahun depan pindah aja," omel ibu Darrell.

"Ya. Dua pembunuh yang udah ketangkep. Seperti biasa, nggak usah khawatir sama aku." Setelahnya, Darrell tidak menunggu balasan ibunya dan langsung berbalik menuju mobil jemputannya.

Terdiam sejenak, setelah anaknya beberapa langkah ibu Darrell berkata buru-buru, "Darrell, kamu tahu Mama peduli sama kamu."

"Mungkin." Tanpa melihat, Darrell berjalan menjauhi ibunya, tidak terlihat menyesal sama sekali.

~•••~

"Jadi bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya ayah Darrell. Beliau duduk di ujung meja berbentuk persegi panjang, dengan sebuah kursi yang ... kelihatan lebih bagus ketimbang yang berada di sisi lain meja. Meja itu terbuat dari kayu jati yang keempat kakinya diukir berbentuk hewan-hewan dalam berbagai posisi. Sebuah taplak yang ukurannya sedikit lebih kecil dari meja mewadahi sedikit makanan yang ditaruh di atas meja panjang itu. Terkadang, ayah dan ibu Darrell akan membawa klien, tamu, dan semacamnya untuk makan di rumah mereka, sehingga meskipun tinggal bertiga saja, meja itu panjang dan cukup besar.

Pria itu memiliki mata obsidian yang sama yang dimiliki Darrell, dengan rambut hitam yang sedikit memutih, disisir rapi ke belakang. Pakaiannya lumayan formal untuk makan malam keluarga, dan ia memakai kacamata berbingkai perak yang sedikit turun dari hidungnya. Tak perlu dikatakan, Darrell lebih mirip ibunya, bahkan hampir bersamaan dengan sifat-sifatnya, namun bukan berarti pemuda itu sama sekali tidak mirip ayahnya. Saat masih kecil, orang-orang sering berkata jika ia adalah fotokopi ayahnya.

"Baik, Pa," jawab Darrell canggung. Suara denting piring dan sendok yang beradu memenuhi ruangan luas itu, mengumpulkan seluruh situasi canggung menjadi satu. Darrell benci situasi semacam ini.

"Hari ini kata Maester Jaques, Darrell punya peningkatan besar," kata ibu Darrell, seolah sedang berusaha mencairkan suasana. Namun atmosfir dalam ruangan itu terlanjur dingin dan canggung, tidak terasa hangat sama sekali. Darrell jadi bertanya-tanya, sudah berapa lama ia tidak makan bersama kedua orang tuanya, sampai-sampai mereka terasa seperti orang asing baginya.

"Selamat, ya, Rel," puji ayah Darrell. Namun suaranya terdengar seolah hanya sebatas formalitas, bukan murni pujian. Kali ini, Darrell benar-benar merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

"Iya." Uh, aku benci situasi ini, pikir Darrell sambil menggenggam sendok erat-erat. Tidak ada lagi tanggapan, dan untuk sementara waktu, tidak ada yang bicara sama sekali.

Suara deham terdengar, kemudian ibu Darrell kembali bersuara, "tadi pagi Mama udah ngobrol sama Darrell tentang kelas aksel. Tapi dia nggak mau, Pa."

Darrell berdecak kecil, langsung menjadi pusat perhatian, namun tidak lama kemudian ayah Darrell bertanya, "kenapa?"

Darrell kembali berdecak, kemudian berkomentar tanpa bisa ia tahan, "wah, tiba-tiba semua orang peduli, ya. Benar-benar terlambat." Ia tidak bisa menahan sinismenya kali ini, dan sejujurnya itu sangat melegakan.

"Darrell—"

"Jaga bicaramu," tegas ayah Darrell kaku. Ia bicara tanpa melihat ke arah Darrell, fokus pada makanannya sendiri.

Pemuda itu marah, sekali lagi tanpa bisa ia tahan. Darrell berdiri dan membanting sendok perak ke atas meja, kemudian menatap ayahnya dengan pandangan benci yang sangat kentara. Ia berkata setengah berteriak dengan sinis, "kelas aksel, ya? Gampang banget. Aku bisa kejar materi dari sekarang, ditambah latihan piano dan PR yang banyak. Kalian pasti suka."

Ruang makan benar-benar hening. Suara nafas Darrell dan orang tuanya pun hampir tidak terdengar. Darrell masih berdiri, menunggu balasan ayahnya. Namun tidak ada yang mengatakan apa pun. Ibu Darrell duduk di kursinya dengan wajah cemas, tidak tahu apakah yang akan terjadi selanjutnya. Dari keheningan yang berlangsung hanya sekitar beberapa detik itu, Darrell langsung kehilangan selera makannya. Pemuda itu menghela nafas dan berkata dengan suara yang lebih terkendali, "aku udah selesai."

"Rel, makananmu belum habis."

Darrell tidak menghiraukan ibunya, ia berbalik dan pergi, kemudian menghela nafas lega. Ia sangat merasa lega hari ini. Karena hubungannya dengan sang ibu mulai membaik, Darrell bahkan sudah berpikir untuk berdamai dengan kedua orang tuanya. Namun kejadian malam ini membuatnya menarik keputusan baru untuk menjauhi orang tuanya. Hubungan ini ... sudah tidak bisa diselamatkan lagi, pikir Darrell sok dramatis. Mungkin suatu saat gua bisa berdamai sama mereka, tapi bukan sekarang.

Maka dari itulah, ia tidak jadi minta izin pada ibunya untuk pergi ke penjara mengunjungi Ansel. []

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top