[12]

"Yakin?" tanya Kaia. Ia duduk di pinggiran jendela kelas yang cukup besar, sekarang menjadi setinggi Darrell. Gadis itu menatap temannya bingung, meragukan apakah ia yakin atau tidak.

"Nggak juga, sih. Tapi gua nggak mau nyesel kalau belum coba," balas Darrell dengan suara yang cukup mantap. "Lagian gua kepo, kalo seandainya bener Ansel pelakunya."

"Bentar, bentar. Ini cuma pendapat gue, sih," kata Kaia sambil menatap Darrell super serius. "Lo bilang mau ngunjungin Ansel buat nanya-nanya dan ngasih tahu pendapat lo tentang kasus ini. Tiga hari lalu lo bilang kalau Ansel dan Rendra nggak mungkin ngebunuh orang dengan alasan bla bla bla. Gua jadi mikir, apa lo yakin mereka masih jadi orang yang sama sejak terakhir kali ketemu?"

Wajah Darrell tampak terhenyak, ia tidak tampak seolah baru saja menyadari fakta ini. "Lo bener. Mereka mungkin udah jauh dari waktu gua sama mereka. Tapi nggak ada salahnya gua cari tahu apa ini ada hubungannya sama kejadian waktu itu."

"Kenapa?" tuntut Kaia.

"Gua takut," jawab Darrell enggan. Ia mengalihkan pandangannya sambil mengepalkan tangan penuh amarah ketika melanjutkan, "gua takut gua bakal difitnah kayak gini. Gua nggak mau masuk penjara."

"Nggak ada yang mau," kata Kaia. Gadis itu turun dari tempat duduknya, kembali menjadi lebih pendek dari Darrell, kemudian memilih kembali ke tempat duduknya. Ia menahan semua yang ingin ia katakan tentang hal ini: kenapa ngelakuin kalau nggak mau tanggung jawab?

Darrell diam saja, Kaia tidak mendengar langkah kaki pemuda itu mengikutinya. Namun beberapa saat kemudian Kaia mendapati Darrell berdiri di samping mejanya, "gimana menurut lo kalau gua ngunjungin Ansel di penjara? Tadi lo malah balik nanya."

"Menurut gua, sih, nggak apa-apa. Soalnya Ansel dipenjara. Apa pun yang bakal dia lakuin, nggak akan ada efeknya sama lo. Justru hukumannya malah diperpanjang," jawab Kaia.

"Gua masih nggak yakin kalau Ansel dan Rendra ngebunuh orang cuma gara-gara benci. Harusnya mereka lebih rapi. Mereka kaya dan bisa nyuruu orang. Kenapa harus mereka sendiri yang ngelakuin?" tanya Darrell bertubi-tubi. Nada suaranya terdengar begitu yakin, namun Kaia melihat keraguan di wajah Darrell.

Kaia berkacak pinggang di atas kursinya, mendongak menatap Darrell, "tapi sekarang mereka berdua ketangkep, kan? Berarti mereka memang pelakunya. Polisi bakal nyari tahu lebih lanjut soal ini. Dan gua ragu kalau mereka salah tangkap."

"Salah tangkap?" Darrell membeo. "Apa pun itu, gua harus cari tahu. Ansel dan Rendra sekali pun nggak harus dapet nasib kayak gini."

Kaia menatap Darrell marah dan penuh kebencian. Dengan berapi-api ia berkata setengah berteriak, "Rendra pem-bully, Ansel juga sama. Mereka bully anak-anak kelas satu, berjalan di lorong seolah sekolah ini punya mereka, ngomong seenak jidat ke semua orang, ngelunjak sama guru, dan lain-lain yang males gua sebutin. Kenapa lo bisa bilang kalau nereka nggak harus dapet nasib kayak gini?"

Darrell terdiam. Dia tampak merasa bersalah, dan juga menyadari kesalahannya.

"Jujur aja, semua orang suka kalau mereka ketangkep kayak gini. Udah waktunya sekolah ini kehilangan tukang bully kelas kakap mereka. Dan gua rasa, cuma lo yang ragu kalau mereka beneran bunuh orang," lanjut Kaia, masih dengan tatapan marahnya. Suaranya terdengar begitu tajam dan menohok. Namun kenyataannya dia benar. Dia tahu jika dia benar.

Darrell diam, ia menatap Kaia seolah ingin mengatakan sesuatu, namun mengurungkan niatnya. Kaia tahu jika Darrell malas berdebat. Jadi ia juga diam saja ketika pemuda itu kembali ke tempat duduknya.

Mendadak Kaia sadar jika dia dan Darrell menjadi sumber tontonan gratis seisi kelas. Kaia memijat pelipisnya seraya melirik Darrell diam-diam. Pemuda itu menyangga kepalanya dengan satu tangan, menatap pojok kelas dengan tatapan hampa. Kaia menggerutu dan berpura-pura membuka buku cetak IPA untuk mengalihkan perhatian semua orang.

~•••~

Tampaknya Darrell dan Kaia memang tak bisa terus-terusan bertengkar. Kaia mendapati dirinya ada di perpustakaan bersama Darrell, dengan sebuah papan catur di antara mereka. Perpustakaan sedang cukup ramai tanpa alasan yang Kaia ketahui. Orang-orang berlalu lalang dengan setumpuk buku di pelukan mereka. Suara-suara celotehan ringan terdengar, kadang ada suara tawa. Di jam istirahat pertama, cukup banyak anak-anak yang membawa bau bakso kantin bersama mereka.

Darrell menggerutu, ia sudah kehilangan ratunya. Entah bagaimana, keduanya kembali berdamai dan kini bermain catur lagi di perpustakaan.

Sementara itu Kaia tersenyum santai, ia menggenggam ratu hitam milik Darrell dan duduk dengan wajah sombong. "Kapan lo mau ke penjara?" tanya Kaia.

"Nggak tahu," jawab Darrell, terdengar malas diganggu. Ia tampak sedang mempersiapkan strategi baru untuk mengalahkan Kaia.

Kaia menghela nafas, "santai aja mainnya. Ini, kan, cuma selingan."

"Diem lo."

Gadis itu menggerutu. Ia mengalihkan pandangannya dari papan catur ke anak-anak perempuan yang sedang membicarakan nilai ulangan mereka. Ia masih dengan sabar menunggu Darrell melakukan gerakannya. "Apa, sih, yang lo lakuin semester lalu, sampe ketahuan nyontek?"

Darrell terlihat enggan membicarakan hal ini, namun ia tetap menjawab, "kita nggak ngelakuin apa-apa. Cuma beli bocoran soal doang."

"Lo beli di mana waktu itu?"

"Ada, lah. Pokoknya kita beli, terus ketahuan. Intinya, sih, gitu," lanjut Darrell. Masih tampak enggan, Kaia mengerti. Dia telah menyinggung topik yang kurang mengenakkan.

"Lo yakin banget mereka nggak bakal membunuh orang. Apa gara-gara mereka dulu temen lo, dan lo yakin kalau ngebantu mereka, lo bakal temenan lagi sama mereka?" tanya Kaia frontal. Ia sebetulnya sudah curiga sejak Darrell ingin mengunjungi Ansel.

Darrell menghela nafas, wajahnya tidak bisa dibaca. Kaia tidak tahu apa yang dipikirkan Darrell sekarang. Pemuda itu menatap Kaia tajam dan berkata, "itu bukan urusan lo."

Suaranya yang terdengar begitu menusuk membuat Kaia sedikit merasa bersalah, namun ia tetap melanjutkan, "terserah lo aja, sih. Toh gua juga bakalan tahu waktu kasus ini selesai."

"Selesai? Maksud lo?"

"Kalau polisi udah nemu barang bukti, dan nggak ada persidangan yang meringankan hukuman Ansel, artinya kita semua bakal tahu kalau dia emang pembunuh," kata Kaia santai, tanpa melihat ekspresi Darrell. "Di sisi lain, kalau lo bantuin Ansel, dia mungkin bakal berhutang budi dan jadi temen lo lagi."

"Ansel doang? Lo nggak ngomongin Rendra?" Kaia melihat perubahan ekspresi yang cukup drastis dari wajah Darrell. Gadis itu mendengarkan pertanyaan sinisnya dengan sikap yang ia coba untuk santai.

"Rendra masuk rumah sakit jiwa, Rel. Nggak ada yang bisa ngeluarin orang dari rumah sakit jiwa kecuali pasiennya udah sembuh beneran," jawab Kaia. Namun sedetik kemudian ia tampak ragu dengan jawabannya dan buru-buru menambahkan, "setahu gua, sih."

"Kalau dia sehat, artinya dia bisa ngasih tahu polisi kalau dia bukan pelakunya?" tanya Darrell. Wajahnya terlihat bangga selama sedetik setelah berhasil melakukan gerakan sempurna untuk menjebak Kaia dan memakan ratunya.

"Kayaknya nggak semudah itu. Orang-orang percaya kalau Rendra itu ngelakuin perbuatannya karena gila. Kalau dia bersaksi nggak ngelakuin itu, orang lain bakal tetep nganggap kesaksiannya dari mulut orang gila dan nggak akan percaya."

"Artinya, Rendra bakal ada di rumah sakit jiwa sampai ... entah kapan. Dan Ansel bakal dapat sidang buat menyangkal tuduhan pembunuhan," rangkum Darrell. Ia berpikir sejenak dan meyudutkan benteng Kaia dalam permainan caturnya. "Gua nggak yakin dia bakal dipenjara. Keluarganya kaya, dan gua tahu kalau keluarga Ansel masuk hukum semua. Dia juga bakal jadi pengacara abis lulus."

"Oh, jadi lo mau bilang kalau semua usaha balas dendam yang jadi teori lo tiga hari lalu itu nggak bakal berarti buat Ansel?" tantang Kaia. Saking kesalnya, ia agak menggertak pion yang ia gerakkan.

Darrell berdecak dan berkata, "bukan itu maksud gua. Tapi hukum nggak berlaku buat orang-orang kayak Ansel dan Rendra. Apalagi temen-temen gua yang lain."

"..."

"Kalau orang itu emang ngincar balas dendam, gua pikir bakal lebih efektif dengan ngebunuh kita semua satu-satu ketimbang bunuh orang lain yang nggak ada hubungannya."

Kaia menghela nafas, "menurut lo gitu, ya? Itu pun kalau emang beneran ada yang dendam sama kalian. Tapi kalau nggak ada? Artinya Rendra dan Ansel memang pembunuh. Dan bagi gua itu nggak harus nyata. Gua seneng kalau mereka ketangkap, sekolah terasa lebih nyaman."

Darrell mengabaikan Kaia, ia maju dengan cepat lewat benteng dan berhasil memakan kuda Kaia yang sudah tinggal satu. Pemuda itu tersenyum, membuat Kaia lumayan jengkel. "Gua nggak nyalahin seisi sekolah karena punya pemikiran kayak gitu. Tukang bully di sekolah ini emang banyak, dan berkurang dua udah cukup bagus," komentar Darrell. Selama sedetik, ia tampak dewasa dalam menghadapi kritik tajam Kaia, namun gadis itu langsung menarik kembali pemikirannya ketika mendengar kelanjutan Darrell, "tapi gua temen mereka. Gue marah karena mereka ngejauhin gua dan mikir kalau gua udah nggak layak jadi teman. Tapi gua bukan orang kayak mereka. Kalau susah, sebisa mungkin gue pasti bantu."

"Dengan cara diem aja waktu Ansel ketangkep?" tanya Kaia penuh nada menyindir.

"Lo lihat itu?"

"Gua lihat semuanya."

Darrell terlihat salah tingkah. "Yah, gimana, ya. Gua masih marah sama dia. Setelah gue pikir-pikir, itu kelakuan bocil banget."

"Hm," balas Kaia. Ia sudah mengabaikan ucapan Darrell yang sebelumnya, malas berdebat.

Darrell maju dengan kuda, kemudian mengurung raja Kaia di pojok. "Skak mat," kata Darrell puas.

Kaia tersenyum pahit dan diam sejenak, kemudian berkata, "bagus. Yang hitam menang. Lo mau tahu apa yang gue pikirin?"

Darrell diam saja, entah setuju atau tidak.

"Gua agak sakit hati gara-gara kalah pakai putih. Padahal putih itu punya keuntungan sendiri, karena dia jalan duluan," kata Kaia sambil memasang tampang sedih. Ia memainkan jemarinya di atas meja dan melanjutkan, "sama kayak kasus ini. Entah siapa pun itu yang lo kira mau jebak kalian, dia udah jalan duluan. Dia bidak putihnya. Dan yang jalan duluan pasti punya keuntungan."

Darrell diam saja, menatap Kaia datar. Tatapannya aneh, tidak seperti biasa, kalau menurut Kaia. Ia tidak melihat tangan terkepal penuh amarah seperti biasa dalam gestur Darrell, hanya wajah datar saja. "Lo bener," kata Darrell, akhirnya bicara setelah diam agak lama. "Tapi yang hitam juga bisa menang, kan?"

"Kalau lo pinter aja, sih."

Tidak berkomentar, Darrell memilih diam, kemudian berkata, "ayo ke kelas." Ia berdiri dan Kaia mengikuti.

~•••~

"Kaia, kamu dari mana aja?"

"Baru pulang sekolah. Sori, ya, lama," balas Kaia sambil tersenyum. "Gimana tadi? Aman semua, kan? Jangan sampai tugas kalian nggak bagus gara-gara nggak ada aku, ya."

Kaia tertawa, diikuti mereka yang mengajaknya bicara. "Kamu mau makan dulu? Aku yang traktir."

"Halah, memangnya kamu ada uang? Mau makan di mana?" tanya Kaia. Sejujurnya ia juga merasa sedikit lapar.

"Ada tempat makan baru dekat sini. Kau mau nggak? Aku dapet uang hasil kemarin kerja."

"Bagus, deh. Sekalian aku ajak adik-adik sama ibu panti, ya," balas Kaia. Ia mengambil tas yang sebelumnya ia letakkan di tanah dan bergegas berbalik, "aku bilang dulu sama mereka, ya."

"Kutunggu jam lima nanti." []

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top