[02]
Hari ketiga UTS dengan mata pelajaran yang tidak terlalu sulit dan juga bisa pulang lebih pagi ... rasanya sepadan untuk masuk di hari yang mendung ini. Awan kelabu yang berarak di atas sekolah beserta angin yang cukup kencang menandakan hujan semakin dekat. Ujian pertama akan segera dimulai, jadi sebaiknya Darrell belajar lagi.
Dan memang itulah yang dia lakukan—dengan dua alasan berbeda.
Pertama, tentu saja untuk mendapat nilai lebih bagus. Kedua, ada gadis aneh yang terus menerus mengajak Darrell bicara sejak ia masuk ke kelas. Sayup-sayup Darrell mendengar suara gadis yang namanya ... siapa, ya? Oh. Kaia. Ya, Kaia. Darrell mendengar kata 'kemarin' dan 'aku', serta 'kamu' dan 'pergi dari bangku belakang'. Tapi sejujurnya dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan Kaia. Dengan alasan yang sudah jelas tertera dari wajah dan tindakannya, namun gadis itu sama keras kepala dengan Darrell.
Menghela nafas lelah, Darrell kehabisan ide untuk dipikirkan. Ujung-ujungnya, otak Darrell akan kembali pada fakta bahwa ujian hari ini cukup menentukan nilai bagus di rapornya. Ia mengalihkan pandangan dari buku ke arah gadis-gadis yang sedang bergosip. Atau setidaknya mereka mulai bergosip.
"Eh, eh, kalian udah denger belum, barang yang dibawa Lintang di tangannya pas dibunuh?" Suaranya terdengar ngeri ketika mengucapkan kata terakhir, namun di awal dia terdengar ... bahagia? Puas? Yang mana saja, nada awalnya terdengar akan memberitakan sesuatu yang memalukan.
Temannya tampak tidak begitu peduli, terbukti ketika ia menanggapi, "paling hafalan rumus fisika."
"Bukan. Ini bener-bener fakta yang bikin geger satu sekolah," jelas si gadis dengan bersemangat. Segera saja wajah teman-temannya tampak penasaran. Dengan dramatis gadis itu melanjutkan, "di tangan kanan Lintang ada kertas contekan mapel Bahasa Inggris."
Wah, itu baru berita, pikir Darrell dengan tawa dalam kepalanya. Tanpa sadar pemuda itu mengukir senyum di bibirnya, ditambah dengan dengusan ketika mendengar berita mengejutkan itu. Sungguh ironis, kan? Juara Olimpiade Fisika yang menyontek untuk mapel Bahasa Inggris?
"Dia mempermalukan diri sendiri nggak lama setelah mati, kasihan banget deh."
Senyum yang ada di wajah Darrell mendadak menghilang. Awalnya dia memang senang akan berita itu, namun otaknya mulai berpikir kurang rasional ketika mendengar komentar di atas. Kertas ... contekan? Jantungnya berdegup begitu kencang ketika kepalanya memutar kembali memori peristiwa satu tahun lalu. Potongan-potongan gambar yang menyeruak dari dalam pikirannya mengacaukan kesadaran Darrell, membuat keringat dingin keluar beserta kedua tangan gemetaran tanpa sadar.
"Lo dengerin gue nggak, sih?"
Suara Kaia dan tepukan berkali-kali di bahunya membangunkan Darrell dari pengaruh alam bawah sadarnya. Pemuda itu menoleh dengan wajah konyol ketika menjawab, "hm? Dengar, kok." Meski menyebalkan, ternyata Kaia juga bisa berguna di situasi seperti ini.
Gadis itu mendelik curiga, kemudian bertanya menantang, "emangnya tadi gue ngomong apa aja?"
"Mungkin sesuatu tentang kronologi kejadian kemarin?" Wajah Darrell semakin sombong ketika melihat ekspresi Kaia yang terbungkam, padahal kepalanya hanya menghubungkan beberapa kata yang tadi ia dengar. Dengan pongah Darrell menambahkan, "gue nggak budek, kok."
"Oh, ya?" Kaia tidak terlihat peduli. Mata mokanya menangkap gadis-gadis yang dilihat Darrell kemudian bertanya lagi, "lo tadi dengerin anak-anak itu ngomong?"
"Hm," balas Darrell pendek.
"Dia sial banget, kan? Citranya hancur setelah semua yang dia lakuin."
Darrell melirik Kaia sinis tanpa kendali, seharusnya mulutnya diam tanpa komentar untuk mengakhiri segala permasalahan seperti yang selalu ia lakukan selama ini, namun ia malah membalas dengan penuh dendam dalam suaranya, "nggak usah munafik, deh. Kayak nggak pernah nyontek aja."
Kaia terdiam dengan ekspresi terperanjat. Ia tidak terlihat menduga akan jawaban Darrell.
"Balik ke tempat duduk lo sana, habis ini ujiannya mulai," ucap Darrell, kini lebih terkendali. Pemuda itu sama sekali menyesal untuk kata-kata tadi, meski tidak seharusnya dia bersikap begitu sinis-meskipun ucapannya memang benar. Tetapi tentu saja sensasi yang diperoleh dari kalimat singkat itu sangat memuaskan. Darrell bahkan merasa jika dia bisa bahagia seharian ini.
Kembali dengan buku di depannya, Darrell terbuai dengan perasaan yang membuatnya percaya diri mampu mendapat nilai bagus di mata pelajaran ini.
~•••~
Polisi? Tanya Darrell ketika ia berdiri di balkon depan kelas. Seragam yang sangat ia kenal itu muncul dalam berbagai manusia berbeda di bawah sana. Apa mereka sedang menyelidiki TKP?
"... ditangkap di kelasnya tadi."
Darrell menoleh spontan, bertanya-tanya siapa dan bagaimana orang itu ditangkap. Apa yang mereka maksud itu pelaku pembunuhan Lintang? Darrell mengawasi para polisi yang bolak-balik di sekitar sekolah, kemudian berpikir lagi, memangnya apa lagi selain penangkapan pelaku kejadian kemarin? Kepala Darrell mendadak berdenging dengan alasan yang tidak ia ketahui. Manusia-manusia yang berjalan melewatinya terlihat seperti bias cahaya, ketika otaknya kembali teringat akan hal yang coba ia kubur mati-matian. Selama sepersekian detik berikutnya, Darrell berhasil mengembalikan pandangannya seperti semula. Namun telinga pemuda itu masih berdenging.
"Rel, lo dipanggil ke ruang guru."
"Hah?" Seperti komputer jadul yang sedang menyalakan ulang dirinya sendiri, Darrell begitu lamban memproses informasi yang didengarnya. Suara itu datang langsung setelah dengung dalam telinganya hilang. Atau mungkin suara itulah yang menyebabkan dengung di telinganya sirna. Kaia berdiri di sampingnya selama sesaat, terlihat seperti menunggu jawaban dari Darrell. "O-oke," balas pemuda itu, ia kemudian langsung pergi ke arah ruang guru.
Sambil menuruni tangga, kepala Darrell memikirkan alasan mengapa dirinya mendadak bingung dan lamban tadi. Jantungnya semakin keras berdetak, memompa adrenalin ke sekujur tubuhnya, ada firasat buruk yang ia rasakan ketika langkahnya semakin dekat ke ruang guru. Sesuatu yang ia khawatirkan entah mengapa. Tanpa sadar kedua kakinya sudah memasuki pintu ruang guru, Darrell melihat sekeliling dengan bingung, lupa menanyakan pada Kaia siapa yang telah memanggilnya ke tempat itu.
"Darrell. Sini, Nak." Wali kelas pemuda itu langsung berdiri dari kursinya dengan wajah cemas.
Darrell menghampiri dan menyalimi wali kelasnya, kemudian bertanya, "ada apa, ya, Pak?" Jantung Darrell semakin berdegup kencang tanpa alasan yang jelas, firasat buruk semakin jelas terbentang dalam dirinya.
"Ada polisi yang mau bicara sama kamu," ucap pria paruh baya itu dengan wajah yang semakin diliputi keresahan. Mendengarnya membuat Darrell sadar apa yang akan terjadi, ketika otaknya mengingat kembali kejadian kemarin di mana dia hampir ketahuan mencuri dengar pembicaraan dua polisi itu dan kepala sekolah. "Mereka ada di sana."
Darrell berjalan ke arah yang ditunjuk oleh wali kelasnya. Kedua kakinya terasa semakin lemas ketika ia semakin mendekat pada tujuannya. Dia bisa melihat Aurora dan Arya duduk di kursi dengan wajah kaku nan profesional, semakin yakin jika hal ini akan ada hubungannya dengan kemarin. "Ya? Ada apa, ya?" tanya Darrell sambil mengambil tempat duduk tanpa diminta.
Ketika sadar kebiasaan buruknya ini, sudah terlalu telat untuk berdiri lagi dan meminta dipersilahkan duduk.
"Dengan Darrell Tarachandra?" tanya Aurora tanpa nada. Di sebelahnya, Arya tampak sama kaku dengan wanita itu.
"Benar." Darrell menggeliat kaku dalam duduk, sudah pasrah akan apa yang mungkin terjadi padanya.
"Temanmu yang bernama Rendra ditangkap dengan tuduhan pembunuhan terhadap Lintang Rajasa, sekitar dua hari yang lalu. Tadi dia bersaksi kalau kamu adalah aalah satu orang yang terakhir kali diajak bicara sebelum waktu kematian Lintang." Penjelasan panjang lebar itu membuat firasat buruk Darrell benar-benar terjadi, bahkan berhubungan dengan kejadian kemarin seperti yang ia pikirkan, hanya saja bukan karena situasi hampir tertangkap. Tampaknya dua polisi itu bahkan tidak menyadari kedatangan Darrell ke TKP kemarin.
Hanya saja hal yang paling membuat Darrell kaget adalah nama pelaku pembunuhan itu ... Rendra bisa benar-benar membunuh, dan dia ngelakuin itu di sekolah?
"Kapan kalian mulai mengobrol, kapan selesai, dan apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Arya dengan buku catatan siap di tangan secara mendadak, sama seperti Aurora.
Darrell bisa melihat semacam perekam suara di atas meja, membuatnya semakin waspada dan menjaga suaranya setenang mungkin. "Dimulai sepulang sekolah dan selesai sebelum ekskul Pramuka-nya Rendra dimulai," jawab Darrell sambil mengepalkan tangan di posisi yang tidak bisa dilihat dua polisi di depannya. Dia sangat gugup sampai-sampai menjaga nada suaranya saja sangat sulit. "Kami cuma mengobrol ringan seperti biasa di tangga gedung kelas dua."
Aurora dan Arya kompak mencatat apa saja yang dikatakan Darrell, seolah lupa dengan perekam suara di atas meja.
"Maaf, boleh tanya sesuatu? Bagaimana Rendra bisa jadi tersangka?" Benak Darrell mencocokkan kejadian ini dengan obrolan singkat yang tadi dia dengar saat ada di depan kelas. Kemudian penasaran apakah dua polisi itu mau memberitahukan sesuatu tentang pembunuhan itu atau tidak.
"Kami menemukan sapu tangan dengan sidik jarinya di dekat mayat Lintang," jawab Arya—karena tidak mendapat respon buruk dari Aurora, dia tampak santai-santai saja.
"Kamu tahu sebelum dan setelahnya Rendra bertemu siapa saja?" tanya Aurora.
"Tidak. Saya langsung pulang setelah Rendra sudah mulai ekskul. Sehabis itu Rendra sepertinya selesai di malam hari."
"Hm, cocok," gumam Aurora dengan suara kecil, namun tetap saja terdengar. Ia kemudian melanjutkan, "apa ada kemungkinan kamu tahu kebiasaan-kebiasaan Rendra yang berhubungan dengan organ dalam hewan atau manusia?"
Dahi Darrell berkerut mendengar pertanyaan aneh itu. Orang-orang ini mau ngomong apa, sih? Tanyanya dalam hati. "Setahu saya dia takut dengan darah, tapi belakangan ini sudah semakin berani mengatasi ketakutannya," jawab Darrell bingung.
"Semakin berani bagaimana?" tanya Arya, matanya menilik Darrell lebih tajam.
"Dia suka mem-bully anak-anak lain dan adik kelas? Atau salah satunya?" tanya Aurora, tidak menunggu Darrell menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Setahu saya dia memang suka memukuli adik kelas dan teman seangkatan," jawab Darrell, merasa bingung untuk bekerja sama dengan polisi atau membela sahabatnya. Nggak, pikir Darrell tegas, kalau gue ketahuan bantu dia malah bisa kena masalah nantinya. "Dulu dia hanya memukul biasa, tapi sekarang saya selalu melihat korbannya ada luka berdarah."
"Kamu sendiri? Bagaimana kamu bisa dekat dengan Rendra?" Arya menatap Darrell semakin curiga ketika mendengar jawaban pemuda itu.
"Dia sudah jadi teman saya sejak masuk sekolah ini."
"Apa dia pernah melakukan kekerasan terhadap teman terdekat? Seperti kamu, atau teman-teman lain?" Wanita itu tetap bersikap profesional tanpa memberikan tatapan kecurigaan pada Darrell, namun pertanyaannya tetap tajam.
"Menurut saya Rendra paling loyal di antara yang lain, tapi tidak menutup kemungkinan terjadinya kekerasan jika sedang bertengkar."
"Katanya kamu tidak naik kelas tahun ajaran lalu." Mendengar ini, Darrell semakin mengeras dalam duduknya. Jantungnya berdegup semakin kencang apalagi ketika Arya melanjutkan, "apa ada kejadian tertentu di masa lalu yang menyebabkan Rendra melakukan hal itu?"
"Maaf, kejadian itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Kami tidak memiliki masalah internal satu sama lain. Tetapi setahu saya Rendra tidak pernah menutupi masalahnya dari saya sejak dulu." Ekspresi Darrell mengeras, ia menatap dua polisi di depannya dengan dingin dan mengharapkan percakapan ini segera selesai.
"Hm, baiklah. Jika ada sesuatu yang lain, kami akan menghubungimu lagi," ucap Aurora dengan ekspresi melunak. Wanita itu memasang senyum tipis di wajahnya yang kaku dan berkata, "untuk saat ini cukup sampai di sini dulu."
"Terima kasih. Saya pergi dulu," kata Darrell sambil menunduk dan melangkah menjauh pelan-pelan. Ia sedikit berpikir sebelum terhenti ketika mendengar percakapan pendek dua polisi di belakangnya.
"Dibiarkan pergi saja?" tanya suara Arya yang sedikit bingung, suaranya terdengar bahkan sampai tempat Darrell berdiri sekarang.
"Biarkan anak itu, kita mungkin akan menemuinya lagi. Aku punya firasat." Suara Aurora terdengar sama sekali tidak hangat seperti yang Darrell dengar kemarin, namun pemuda itu juga punya firasat buruk perihal pertemuan jangka panjangnya dengan dua polisi itu.
Darrell kembali ke kelasnya dengan perasaan gundah, sudah melupakan pikiran tadi paginya yang mengatakan bahwa dia akan ceria seharian. Mengikuti saran dari internet, Darrell selalu ingin melakukan hobinya sebisa mungkin agar terhindar dari stres—seperti sekarang. Coba pikirin aja kelanjutan nadanya, lupakan Rendra dan semua ini seenggaknya sejenak. Buru-buru tangan Darrell merogoh laci mejanya dengan harapan menemukan kertas jelek di mana dia mencoba menulis lagu sendiri, namun di sana sepenuhnya kosong.
Darrell berjongkok dan melihat laci mejanya yang kosong melompong. Hah? Kok bisa hilang? Tanyanya bingung dalam hati. Ia menunduk dan mencari-cari kertas di bawah mejanya, namun tetap tidak ada sesuatu yang berarti. Darrell kemudian menyadari benda lain yang seharusnya satu paket dengan kertas itu.
Pulpen mahalnya hilang.
Kalau Darrell bilang mahal, artinya memang benar-benar mahal. Pulpen itu adalah pemberian ibunya, yang dibelikan di Prancis, asli dari abad kesembilan belas. Benda berharga itu akhirnya tidak lagi jadi benda pajangan ketika dipakai untuk menulis nada-nada di kertas, dan sekarang malah hilang begitu saja.
Ketika Darrell melihat Kaia lewat, ia menahan tangan gadis itu dan bertanya sambil menahan nada panik dalam suaranya, "lo lihat pulpen sama kertas jelek di laci meja gue?"
"Mana gue tahu? Gue nggak suka ngobok-ngobok laci meja orang, ya," jawab Kaia sewot, tetapi terlihat sama bingung dengan yang kini dirasakan Darrell. "Lagian gue habis dari ruang OSIS barengan sama lo pergi ke ruang guru tadi. Kenapa?"
"Pulpen sama kertas itu hilang."
Melihat kesempatan ini, Kaia langsung membalas dengan sangat sinis, "cuma pulpen aja nggak usah dibikin ribut, kan?"
"Itu dibeliin mama gue di Prancis, asli dari abad kesembilan belas. Barangnya sendiri paling langka di antara yang lain," balas Darrell sengit, ditambah dengan tatapan tajam.
"Makanya barang mahal jangan dibawa-bawa ke sekolah," omel Kaia sambil mengambil tempat duduk di samping Darrell.
"Lo nggak nolong sama sekali. Sekarang minggir, gue mau cari pulpen gue." Darrell menatap gemas pada Kaia yang tidak bergeming.
"Nggak bakal ketemu," ucap Kaia sok tahu, meski terdengar sangat yakin. "Kayaknya pulpen lo hilang sama kayak punya gue."
Menolak percaya dan menganggap Kaia sok tahu, Darrell berpura-pura tidak dengar dan menggeser kursinya sendiri guna pergi ke ruang guru lagi. Dia akan melaporkan hal ini pada guru ... atau siapa pun pihak lebih tua nan berkuasa yang mau membantunya. []
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top