[01]

"Mundur!" teriak pria itu dengan wajah pucat penuh kepanikan. Tubuhnya sedikit gemetar, dan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Kedua tangan pria itu mendorong murid-murid yang tidak terkendali dalam keinginan untuk setidaknya melirik pemandangan di dalam gudang yang pintunya tiba-tiba macet-sehingga tidak bisa ditutup.

Tiba-tiba ada murid muntah di depan kaki guru itu, membuat temannya harus membantu si gadis menyingkir dari kerumunan yang jijik. Ada dua atau tiga anak yang langsung pingsan, membuat begitu banyak orang semakin panik. Beberapa murid-terutama perempuan-berteriak melengking ketika berhasil melihat apa yang mereka inginkan. Sungguh merepotkan.

"Heh, kalau Bapak bilang mundur ya mundur!" seru guru lain. Tangannya yang gemuk menghalau murid-murid dengan tatapan tajam. Tingkah guru ini lebih tenang dari guru di sebelahnya, namun tetap saja tidak bisa menyembunyikan nada panik dalam suaranya. "Tidak ada yang boleh mendekati tempat ini atau menyentuh apa pun!"

Guru lain datang tergopoh-gopoh dan membantu menghalau rasa penasaran sekumpulan murid di depan, kemudian bertanya pada guru yang tadi terlihat lebih tenang. "Pak, apa polisi sudah dipanggil kemari?" tanyanya panik.

Menghela nafas, guru itu menjawab sok tegas, "sudah, mereka dalam perjalanan ke sini."

Guru pertama yang terlihat paling panik berseru tegas dengan kekuatan yang sudah ia siapkan, "ayo mundur semuanya! Jangan seenaknya mengambil foto, atau semua ponselnya Bapak sita!"

Siswa-siswi lain menyembunyikan ponsel mereka, namun sebetulnya mereka hanya mengambil foto dengan sudut berbeda yang sangat tersembunyi. Bagi mereka tentu saja lumayan untuk memasukkan hal ini dalam lini masa media sosial, menarik banyak penonton dan tanda suka dari orang-orang.

Guru yang tadi barusan datang berkata lemah, "ya Tuhan, siapa yang berani melakukan hal keji seperti ini?" Ia melirik takut-takut pada sosok yang terbaring di atas lantai cor-coran semen khas gudang olahraga.

Makhluk yang dulunya manusia utuh itu kini tiduran dengan posisi janggal, dengan sepasang mata berwarna cokelat gelap terbuka lebar, menampilkan kengerian menjelang mautnya. Mulutnya sedikit terbuka, sementara hampir seluruh kulit tubuhnya terbuka lebar. Merahnya darah dari dalam perut yang menampilkan semua organ mengalir sampai mengenai sepatu hitam mengkilap dari guru-guru di sekitarnya. Ususnya terburai di samping tulang rusuk putih itu, dengan posisi kaki yang aneh ... bisa dipastikan kedua kakinya patah. Bau anyir memenuhi kawasan yang dipenuhi aliran darah dari mayat itu, sementara beberapa lalat mulai hinggap di atasnya.

"Semuanya kembali ke kelas!" teriak guru pertama.

Akhirnya, ada salah satu murid paling pemberani yang berseru, "tapi, kan, sekarang waktunya istirahat, Pak!"

"Bubar semuanya! Kembali ke kelas! Jangan ada yang protes!"

Di belakang ketiga guru itu, mata si mayat tampak memelototi kerumunan. Lampu gudang yang remang-remang nyaris tidak ada semakin menambah ngeri tatapan menjelang maut itu.

~•••~

"Hei, udah denger, kan, tentang mayat Lintang di gudang olahraga?" ucap gadis itu dengan kengerian dalam setiap suku katanya. "Sumpah, itu serem banget. Gue merinding, nih, dari tadi."

Di sebelahnya, lawan bicara gadis itu bergidik ketika menjawab, "ih, gue jadi takut kalau mau pergi ke sana lagi."

Satu anak lain di samping gadis yang memulai pembicaraan menanggapi dengan sangat serius, "tadi gue lihat mayatnya, uh ... bener-bener brutal. Gue masih mual sampai sekarang. Siapa pun pelakunya, dia pasti sakit jiwa."

"Hah, palingan lo yang tadi katanya muntah itu, kan?"

Pencuri dengar ini menoleh sejenak dari buku pelajaran yang dibacanya dan bertanya-tanya dalam hati, hm, mayat di sekolah? Gudang penyimpanan alat olahraga? Ia menyaksikan tiga gadis-gadis itu lewat di depan kelasnya-dan posisinya kebetulan sangat strategis untuk tetap mencuri dengar-namun memutuskan tidak peduli dan kembali ke buku paket fisika di tangannya.

"Kasihan, ya, Lintang. Padahal baru kemarin dia menang Olimpiade Fisika," ucap salah satu gadis dengan nada prihatin. "Mayat Lintang yang posisinya kayak gitu bikin gua tambah ngeri sendiri."

"Gue lebih penasaran siapa pembunuhnya, sih."

Aduh, ngomongin itu mulu, pikir si pemuda pencuri dengar itu. Ia menghela nafas dan tidak menampik rasa penasarannya. Ia melirik jam dinding di kelasnya dan menghitung waktu istirahat yang tersisa, masih ada sepuluh menit lagi ... apa gue coba pergi ke sana, ya? Yah, meski gue nggak kenal si Lintang ini. Ia memutuskan untuk berdiri atas rasa penasarannya dan keluar dari kelas yang separuh sepi itu, kemudian berjalan mengelilingi koridor menuju tangga yang menuju langsung ke gudang penyimpanan alat olahraga di seberangnya.

Semakin mendekati tangga, kerumunan semakin terlihat. Mereka berbisik-bisik dalam kelompok kecil, sepertinya membicarakan hal yang sama dengan gadis-gadis tadi. Wajah mereka benar-benar tegang, dan banyak di antara mereka yang kembali dengan minyak angin di hidung. Beberapa kali tubuhnya ditabrak orang yang buru-buru berlari ke arah sebaliknya dari pemuda itu. Jantungnya semakin berdebar ketika menemukan kerumunan murid-murid kelas satu di sana. Eh, beneran? Tanyanya dalam hati dengan panik. Ia berhenti di tengah jalan sambil mengepalkan tangan dengan gugup. Menahan keinginan untuk melihat sesuatu di tempat tujuannya. Ia membatin, jangan cari masalah ... balik ke kelas dan jangan mikir apa pun tentang kejadian ini. Pelan-pelan kedua kakinya berbalik dan mengikuti arah lari siswa-siswi lain yang telah melihat mayat Lintang di dalam gudang. Bersama-sama, wajah mereka tampak lebih pucat dari sebelum saat mereka kembali dari arah yang diselimuti aura mengerikan itu.

Tepat ketika ingin memasuki pintu kelas, seorang gadis menghalanginya dengan tatapan galak. "Heh, balikin pulpen gue," ucapnya kelewat tegas. Dia tidak terlalu tinggi-barangkali hanya setinggi telinga atau malah di bawah telinga pemuda itu-namun sikapnya terlihat sangat galak.

Mundur selangkah karena kaget, ia hampir berseru kaget, pemuda itu tidak bisa menahan diri untuk berpikir buset, siapa cewek ini? Ia mencoba tenang dan membalas, "eh, kayaknya lo salah orang, deh."

Gadis di depannya menaikkan sebelah alis dan dengan tegas berkata, "nggak." Ia menyilangkan tangannya dengan sikap ngebos, kemudian memutar bola matanya sembari menjelaskan dengan nada seolah ia tak perlu melakukan semua ini, "Lo Darrell, kan? Anak cowok yang nggak naik kelas tahun ajaran lalu. Gue sekelas sama lo, mana mungkin gue salah orang?"

Darrell berdecak kesal ketika statusnya diungkit, rasa malu dan kemarahan menguasai dirinya. Namun dia tidak boleh marah, apalagi pada orang seperti gadis di depannya. Tenang, Darrell ... ia menarik nafas dan menjawab dengan nada paling tenang, "gue nggak pinjam apa pun dari teman-teman sekelas. Sekarang minggir, gue mau duduk."

"Enak aja." Gadis itu terkekeh bernada mengejek, masih bertahan berdiri di depan Darrell, kemudian berkata lagi dengan penekanan pada setiap suku katanya, "kasih dulu pulpen gue."

Berusaha menahan amarah yang menggelora dalam dirinya, Darrell kembali menarik nafas sebelum menjawab panjang lebar, "pertama, gue bahkan nggak tahu pulpen lo kayak gimana. Kedua, buat apa gue ambil-ambil pulpen orang? Nggak ada gunanya. Ketiga, itu cuma pulpen. Lo bisa beli lagi, kan?" Ia balas menatap gadis di depannya dengan tajam, menampilkan tatapan paling berbahaya yang bisa ia buat.

"Lo nggak ngerti. Itu hadiah ulang tahun gue lima tahun lalu," rengek gadis di depannya, mulai kehilangan sikap galak yang tadi ia buat. Cuma buat urusan pulpen aja, dia sampai berbuat kayak gitu, pikir Darrell. "Lo orang terakhir yang gue lihat duduk di bangku belakang. Gue lupa pulpen gue masih ada di sana."

"Gue nggak peduli, oke?" seru Darrell, separuh membentak dengan galak. Suara bisik-bisik di kelas mulai menggunjingkan pertengkaran dua orang di depan kelas itu, kebanyakan dari mereka tentu saja mendukung si gadis. Darrell mencoba mengendalikan dirinya lagi, menahan kata-kata kasar yang sudah di ujung bibirnya, mengatur nafas, dan berkata dengan suara lebih terkendali, "sekarang minggir, lo bikin banyak orang nggak bisa masuk kelas, tahu."

Gadis itu menyingkir dengan malu, kemudian Darrell melewatinya dan berkata sinis, "bagus. Makasih."

Masih belum menyerah, sepasang mata berwarna moka itu menatap Darrell tajam dan galak seraya berucap galak, "gue bakal kejar lo sampai pulpen gue balik."

Menahan segala kata kasar dan balasan menyakitkan hati yang sudah terpikir jelas di kepalanya, Darrell masih bisa menahan amarahnya dan duduk di kursi seolah tidak terjadi apa-apa. Namun tetap saja pikirannya tidak bisa tidak mengumpat untuk gadis aneh uang menyebalkan itu. Apa-apaan, sih, cewek itu? Lagian dia siapa coba? Ngaku-ngaku temen sekelas kok gue nggak kenal, pikir Darrell dengan satu tangan menopang dagu sementara yang lain mengetuk-ngetuk meja guna menyalurkan amarah. Alisnya menekuk dan bibirnya sedikit mengerucut, ketika itulah sebuah pemikiran muncul di otaknya, menyegarkan segalanya. Oh iya, gue emang nggak kenal siapa-siapa di sini.

"Lihat, tuh. Darrell bikin masalah lagi. Tunggu aja sampai Kaia lapor Guru BK," ucap salah satu murid di dekat Darrell, sama sekali tidak berminat mengecilkan suaranya. Tentu saja karena Darrell hanya akan diam menanggapi semua itu.

Darrell bisa merasakan tatapan sinis dari gadis yang memulai pergunjingan di kelas mengenai dirinya dengan gadis yang ternyata bernama Kaia itu. Namun apa yang bisa ia lakukan selain diam? Menanggapi semua hal mengerikan yang ia alami hanya akan memperburuk keadaan.

"Anak bermasalah selamanya bakal jadi anak bermasalah, kan?" balas temannya yang lain. Sama sinis, namun suaranya terdengar lebih keras dan lebih tajam. Darrell bisa merasakan jika gadis itu tersenyum tanpa perlu melihat, jenis senyum menyebalkan yang bisa membuat siapa saja kesal.

"Diam, semua. Kalian nggak kasihan? Beban hidupnya udah banyak, tuh." Meski bernada membela, percayalah jika ini adalah sindiran sekaligus sebagai tanggapan untuk dua temannya.

Tiga gadis itu tertawa sinis, terdengar begitu jelas. Ketidaksukaan mereka terhadap Darrell sebetulnya sama sekali tidak bisa dipahami, karena ... setiap orang di sekolah ini pasti pernah melakukan dosa yang sama yang dilakukan pemuda itu. Tentu saja yang disalahkan akan tetap Darrell. Pemuda itu menarik nafas sambil terus menerus mengetuk meja dengan kuku-kuku tangannya, sabar, Darrell. Mereka cuma cewek-cewek berotak cetek. Nggak perlu mengurus mereka, lebih baik belajar lagi buat ulangan fisika.

~•••~

Tatapan mati dari mayat itu terlihat begitu mengerikan sampai kepala sekolah memalingkan pandangannya ke arah lain. Darah yang mengalir kemana-mana ternyata juga mencoreng berbagai peralatan olahraga di dalam dengan cipratan besar-besar. Tidak ada tulisan apa-apa yang menjadi watermark si pembunuh, atau petunjuk yang sengaja ditinggalkan pelaku guna menantang polisi. Hanya satu mayat dengan isi perut terburai, darah mengalir dan menciprat kemana-mana, dengan posisi yang janggal.

Hanya tubuh dan kaki saja yang terlihat rusak, selebihnya tampak baik-baik saja. Fitur wajah pemenang Olimpiade Fisika yang tersembunyi di balik ekspresi memilukan dan cipratan darah itu cukup dikenali oleh kepala sekolah. Beliau berjalan mendekat dan menghindari darah agar tidak mengotori sepatu mengkilapnya sembari menutup hidung atas bau anyir yang memenuhi area itu. Cepat-cepat beliau mundur dan mengipasi kepalanya yang dihinggapi lalat. Makhluk-makhluk itu akhirnya menuju mayat Lintang yang tidak diutak-atik di udara terbuka.

"Kenapa bisa ada kejadian seperti ini?" tanya kepala sekolah panik dalam gumaman. Pria itu berjalan mondar-mandir di sekitar mayat sambil menahan nafas, sesekali menutupi hidungnya dari bau darah yang begitu kental.

Seorang guru datang ke kepala sekolah dan berkata dengan nada separuh panik separuh lega, "Pak, polisi sudah datang."

Wajah kepala sekolah tidak tampak tenang mendengar semua ini. Beliau bertanya dengan suara kecil, "apa ada wartawan yang mengikuti mereka?"

"Tidak, Pak. Hanya sekumpulan polisi." Guru itu melirik kesana-kemari sebelum menjawab pertanyaan atasannya dengan suara sama kecilnya.

Kepala sekolah memegangi pelipisnya dengan wajah lelah, mencoba mengendalikan diri. "Berita ini akan tercium wartawan cepat atau lambat. Siapa pun pelakunya, dia benar-benar menghancurkan nama baik sekolah," ucap pria itu kesal. Kembali berjalan mondar-mandir, beliau terlihat berpikir bagaimana mengatasi masalah mengerikan yang melanda sekolah ini sekaligus dirinya.

Suara langkah kaki terdengar menggema ke arah dua orang itu, kemudian suara wanita terdengar, "Bapak Mulyadi?" tanyanya guna memastikan. Di sampingnya, ada seorang pria berdiri dengan wajah tegang-mungkin ini adalah hari pertamanya. Sikap wanita itu tampak tenang dan profesional, agak berbanding terbalik dengan pria di sampingnya yang kelihatan pemula.

Kepala sekolah mengangguk, beliau mengamati dua orang di depannya selama beberapa detik kemudian membalas, "benar. Apa Anda berdua yang menangani kasus ini?"

"Benar, Pak. Saya Aurora, dan ini Arya. Kami ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini." Matanya melirik kamar mandi, kemudian menyenggol Arya seperti sedang memberi kode untuk sesuatu yang harus dikerjakan.

Pria yang terlihat seperti pemula itu bertanya dengan gugup, "di mana mayatnya, Pak?"

Kepala sekolah tampak agak kaget, namun beliau menunjukkan arah mayat yang dimaksud. Sebelum pergi menemani Arya, lengannya ditahan Aurora. Wanita berusia sekitar akhir dua puluhan itu berkata tegas, "tolong tetap di sini dulu. Saya ingin menanyakan beberapa hal tentang korban."

"Oh, ya ... baiklah."

"Siapa nama korban?" tanya Aurora sambil mengeluarkan notes dan pulpen dari saku jaketnya.

"Lintang. Kelas satu jurusan IPA," jawab kepala sekolah.

"Nama lengkap?"

"Lintang Rajasa."

Di bagian tangga yang tertutupi tembok, Darrell menutup mulutnya guna menahan suara keluar dari dirinya. Telinga pemuda itu menangkap banyak hal, namun ia tidak bisa bergerak begitu saja setelah datang ke sana. Kalau ketahuan, bisa-bisa dia masuk ke dalam daftar tersangka. Polisi bernama Arya tidak terlihat berbahaya, namun yang bernama Aurora harus sangat diwaspadai menurut Darrell. Dia butuh waktu dan rencana agar bisa pergi dari sana tanpa suara. Ya ampun, gimana bisa gue lupa kalau ada kasus pembunuhan di sini? Tanyanya dengan wajah panik. Selain mewaspadai orang-orang di balik dinding itu, Darrell juga harus waspada akan kemungkinan guru dan murid yang lewat. Pokoknya ... dia harus pergi tanpa menimbulkan kecurigaan. []

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top