-u n。

.
.
.

「 ✦ ᴛ ʀ ᴀ ᴘ ᴘ ᴇ ᴅ。 」

.
.
.

Kanagawa, Japan.
...

Mungkin, tak banyak yang begitu mengenal Jepang dengan baik. Tak hanya teknologi, hiburan, dan bunga sakura, segala hal tentang Jepang adalah mimpi manis yang diharapkan semua orang. Memang, Jepang begitu indah, tampak tak bercela, begitu mengerikan.

Bukankah sudah pasti, dibalik segala sesuatu yang tampak begitu sempurna, sudah pasti memiliki fakta gelap di baliknya?

Kabukicho? Shinjuku? Tokyo? Pada bagian yang manakah dari ketiga kawasan itu yang menjadi kawasan paling berbahaya di Jepang?

Tidak.

Mereka, penduduk Jepang, mengerti, bahwa ketiga kawasan itu bukanlah tabir hitam Jepang.

Prostitusi, yakuza, pembunuhan. Begitu apiknya Jepang menutupi kebusukan yang ia miliki. Bagaimana para pembunuh berkeliaran, prostitusi bertebaran, perdagangan gelap terjadi. Ayolah, hal itu adalah hal yang sangat sangat wajar terjadi di Kawasaki.

Kawasaki tak pernah mati. Mungkin, itulah kata-kata yang dapat mendeskripsikan Kawasaki. Saat siang maupun malam, Kawasaki selalu hidup.

Tak ada malam tenang di Kawasaki. Tawa riuh bergema, menggetarkan keberanian. Semua dosa tertuang, melumuri siapapun disana. Membalut mereka dalam kenikmatan dunia, dan mencengkramnya hingga mereka hancur di dalamnya.

Sebagaimana Minhyun, bocah berusia sepuluh tahun, turut hancur di dalamnya.

Malam itu adalah malam yang tentu saja tidak sepi di Kawasaki. Genangan air hujan memenuhi jalanan sempit dan gelap di Kawasaki. Kegelapan itu dipaksa untuk terbelah oleh derap langkah kaki yang saling mengejar.

Sepasang kaki mungil Minhyun berlari tanpa alas kaki, membiarkan perih dan luka mengotori dirinya, seperti genangan air yang terciprat pada pakaian tak layaknya setiap kali ia menginjak genangan air itu. Nafasnya berhamburan dan tercekat di pangkal tenggorokannya, namun ia tetap berlari tanpa menoleh sekalipun.

Meski namanya diteriakkan penuh amarah di belakang sana, meski desingan peluru memekakkan telinganya, meski timah panas melesat dan meninggalkan luka di sekujur tubuhnya.

Ia tak boleh menoleh, atau ia akan mati.

Minhyun bagaikan rusa yang tengah berlari secepat yang ia mampu, menghindar dari kejaran sang pemburu yang mengincar dirinya. Atau mungkin organ tubuhnya. Tampaknya, sang pemburu belumlah puas hanya mendapatkan organ tubuh appa dan eommanya.

Minhyun mengerti, tubuhnya dan apa yang ia miliki di dalamnya, patut mendapatkan harga yang mahal di Kawasaki. Mereka para makhluk gila, Minhyun menyebutnya demikian, tentu tak mungkin melewatkan kesempatan mereka untuk memiliki Minhyun kapanpun mereka mendapat kesempatan. Minhyun menyadarinya ketika ia melintas sepulang sekolahnya, bagaimana tatapan lapar memenuhi jiwa mereka, dan terpancar dari mata mereka.

Minhyun takut, tentu saja. Namun ia tak memiliki pilihan lain. Imigran sepertinya dan kedua orang tuanya yang tak memiliki materi, tentu tak dapat berbuat banyak. Mereka tak dapat melawan, atau bahkan melindungi diri mereka sendiri.

"Berhentilah sebelum aku benar-benar membunuhmu, Minhyun-!"

Desingan peluru kembali meluncur ketika panggilan kematian itu selesai diucapkan. Kali ini, timah panas itu tepat mengenai dirinya, menembus daging dari kaki mungilnya. Minhyun tersungkur keras. Tak cukup lama baginya untuk mengerang, menahan rasa sakit yang tak seharusnya dirasakan oleh anak kecil berusia sepuluh tahun. Ia segera berdiri, menguatkan dirinya untuk terus bertahan, dan melanjutkan larinya yang tak lagi secepat beberapa saat lalu.

Darahnya menetes hebat di jalanan. Jalan raya di Kawasaki kini berhias merah, nampak mengerikan, namun begitu wajar untuk terjadi. Tepat ketika ia melompat melintasi pembatas di seberang jalan, saat itulah sebuah truk melesat cepat, nyaris menabrak sang pemburu. Lengkingan dan geraman amarah meluncur dari sang pemburu yang gagal menggapai Minhyun di seberang jalan.

Kesempatan emas yang mungkin Tuhan berikan pada sang bocah bersimbah darah itu. Kesempatan yang mungkin hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidupnya.

Minhyun kembali berlari, berbelok di tiap gang kecil Kawasaki, dan jatuh terduduk ketika ia merasa sudah tak sanggup lagi untuk berlari dan cukup aman untuk bersembunyi sementara. Tubuhnya bergetar, tersandar pada dinding dingin nan kumuh Kawasaki.

Tangisnya tanpa suara, dengan bibir yang ia gigit kuat, ia menekan luka tembak di kakinya. Ia hanya ingin menghentikan darahnya tercecer, namun usahanya tak juga membuahkan hasil. Merah itu terus mengalir, membasahi kaki mungilnya yang berlubang.

Minhyun memeluk lututnya erat. Tubuhnya bergetar hebat, entah karena isak tangisnya ataukah rasa sakit yang mulai membuat kakinya mati rasa. Teriakan penuh amarah terdengar semakin dekat, siap untuk membunuh dirinya.

Mungkin, dirinya memang sudah seharusnya terjebak di Kawasaki selamanya, bahkan ketika ia menjadi sesosok roh sekalipun. Dosa yang dilumurkan pada tubuhnya sejak kecil seakan menjadi rantai yang mengekang dirinya untuk tetap menjadi bagian hitam dari Kawasaki.

Mungkin.

"Hey, kau baik-baik saja?"

Sebuah suara berat menyentak kesadaran Minhyun yang semakin menipis. Ia sontak mendongakkan kepalanya, mempertemukan pandangnya dengan seorang pria yang tampak berusia seperempat abad yang entah sejak kapan sudah berdiri disana, mengawasi dirinya dengan cerutu terselip di antara bilah bibirnya.

Pria dengan jas mahal membungkuk, menyapa bocah berusia sepuluh tahun di hadapannya yang sibuk memeluk lututnya ketakutan dan gemetar. Tangannya terulur, mencoba menarik perhatian sang anak lelaki.

"Aku dapat membantumu, kalau mau ikut denganku," tawarnya manis. Seulas senyum menghias bibir tebalnya. Manik pria itu menyelami luka parah yang menghiasi sekujur tubuh, terutama kaki milik Minhyun.

Minhyun menatapnya dengan wajah pucat. Kepalanya menggeleng, menolak kuat-kuat tawaran pria asing di hadapannya. Minhyun tumbuh di Kawasaki, ia jelas mengerti, apapun itu, sebaik apapun itu, tawaran yang kau buat di Kawasaki tetaplah tawaran yang mengikat darah.

"Begitukah?," sang pria mengendikkan bahunya. "Sayangnya, kau memang harus ikut denganku."

"T-tidak- k-kumohon, biarkan aku p-pergi-!"

"Dengan luka itu?," pria itu mendengus konyol atas penolakan Minhyun. "Well, baiklah. Itu maumu, benar?"

Sang pria menjauhkan uluran tangannya dan kembali menghisap cerutunya. Binar kebaikan terhapus begitu saja dari manik gelap itu, digantikan dengan tatapan dingin dan tak acuh. Tanpa keinginan untuk menoleh lagi, pria itu berjalan menjauh selangkah demi selangkah, meninggalkan Minhyun yang menangis kebingungan.

Apa yang harus ia lakukan?

Haruskah ia mati di tangan penjual organ tubuh itu, ataukah di tangan pria muda itu?

"T-tunggu-."

Pria itu tak menoleh. Ia mendengarnya, Minhyun mengerti bahwa pria itu mendengar dengan jelas suaranya yang terlampau serak, tapi ia tak mau menolehkan kembali kepalanya pada sampah seperti Minhyun.

"T-tuan- k-kumohon-," Minhyun berdiri. Langkahnya terseok, berusaha mengejar pria muda yang sudah berjalan terlebih dahulu di depannya. "T-tuan- hiks," Minhyun mengusap lelehan air mata yang menghalangi dengan susah payah. Telapaknya yang kotor terus menghapus lelehan permata yang turun.

"Minhyun! Bajingan kecil, kemari kau!"

Terlambat.

Minhyun tersentak. Nafasnya tercekat kuat, kepalanya turut berdentam ketika sang pemburu melingkarkan lengannya dan menekan kuat saluran pernafasan Minhyun, menarik tubuh itu begitu saja dan mengangkatnya di udara seakan ia adalah kertas tipis.

Manik Minhyun berputar. Ia terbatuk dan meronta di udara. Kuku-kuku mungilnya menancap dan bergerak memanjang, meninggalkan luka di kulit sang pemburu.

"K-kh-! T-tuan-"

"Sialan-! Diam dan mati saja kau, keparat kecil! Jangan-"

DOR!

"Tuan, keparat kecilmu adalah milikku."

Minhyun terjatuh dengan tubuh lemah ketika sebuah peluru melesat, melubangi tempurung kepala pemburunya. Minhyun melihatnya, melihat bagaimana darah memancar saat timah panas melesat dan menabrak kepala pria yang nyaris membunuhnya detik itu juga.

"Jadi-"

Minhyun mengais nafasnya terburu. Maniknya menatap tepat pada ujung dari sepatu kulit milik pria muda yang sudah merendahkan tubuhnya, berjongkok di hadapannya. Asap cerutu mengepul, menyelimuti Minhyun secara mendadak.

"-kita sepakat, Minhyun?"

Minhyun mengangguk lemah. Ia berusaha mati-matian untuk bergerak, mengangkat tubuhnya sendiri sehingga ia bisa menatap sang penyelamat untuk saat ini.

"Tidak bisakah kau menjawabnya dengan mulutmu itu, bocah?"

Minhyun terisak sekali, kemudian mengangguk lagi. "Y-ya, sepakat- hiks."

"Bagus!," pria itu menepuk tangannya dramatis dengan nada bahagia yang dibuat-buat. "Karena kau harus tau dari sekarang, bahwa aku tak pernah menyukai bantahan-"

Tangan pria itu terulur, membantu Minhyun untuk duduk dan menghadap padanya. Manik gelapnya menyelami dua iris kecokelatan milik Minhyun, mencoba meraih titik terdalam dari bocah sepuluh tahun itu.

"-well, tentu saja, kecuali kau mau menanggung akibat yang terjadi jika kau membantah," ia tersenyum tipis, melengkungkan garis mata di balik kacamatanya.

Ia berusaha untuk terlihat ramah. Dan Minhyun mengerti, kata ramah sudah terhapus lama pada dunia malam di Kawasaki. Dan pria itu tengah berada di Kawasaki.

Senyum itu begitu palsu dan menawan di saat yang bersamaan.

"S-sakit- hh," Minhyun mencicit pelan. Jemari mungilnya yang kotor tampak tak mengganggu sang pria ketika ia meremat jas mahalnya yang hebatnya terasa begitu lembut.

"Ah, kakimu?," tatapan sang pria bergulir, berganti menatap luka mengerikan di kaki Minhyun. Merah pekat terus berlomba turun disana. Decakan pelan terdengar dari balik bilah tebal pria itu. "Kenapa kau berlari dengan kaki seperti itu? Dengan keadaan seperti ini, seharusnya kau mati tadi."

Minhyun meremat jas itu semakin erat, isakannya berubah begitu pilu dan kesakitan. "T-tolong aku- hh, p-please-."

Pria itu melepaskan cengkraman Minhyun, mengakibatkan tubuh mungilnya terhuyung dan nyaris terjatuh kembali ke tanah. "Berdirilah."

Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kain miliknya, kemudian berputar, dan mulai berjalan. Ia meninggalkan Minhyun yang tengah berusaha berkompromi dengan kesadarannya.

"Apa kau pernah naik helikopter-"

Ketika pria itu berbalik karena merasa tak juga mendengar langkah kaki Minhyun, ia menemukan bocah itu berbaring di tanah dengan nafas berat dan mata terpejam. Pada akhirnya, Minhyun pingsan setelah berusaha menahan gelap yang menjemputnya.

"Sialan, merepotkan-!"

.
.
.

* . · . ♥️ ˚ 🖤 . · . *

.
.
.

Gangnam, Korea.
...

"Tuan, penjualan- t-tuan?"

"Shut the fuck up, Guanlin. Aku tau apa yang ada di dalam pikiranmu."

Guanlin, pelayan sang pria yang menyelamatkan Minhyun, membolakan matanya melihat sosok berdarah dalam gendongan tuannya. Tetes merah dari tubuh terluka itu membentuk lintasan, mulai dari heli pad di halaman rumah tuannya hingga ruang tengah.

Bocah dalam gendongan tuannya terkulai lemas dengan wajah pucat dan kedua kelopak mata yang tertutup rapat. Mengingat banyaknya darah yang menetes, oh astaga- Jepang Korea bukanlah perjalanan yang cepat! Sudah pasti darah anak lelaki itu terkuras cukup banyak.

"Bukankah Anda baru saja melakukan perjalanan dari Kanagawa, tuan?"

"Ya, dan kau mendapatkan oleh-olehmu dari Kawasaki, di prefektur Kanagawa," pria dengan jas hitam berlumur darah Minhyun memasukkan tangannya dalam saku celananya. "Jadi sebaiknya kau menelepon Jaehwan sekarang karena aku tak mau melihat darah itu menetes lebih banyak di rumahku."

Sang pria mengacak surai biru gelapnya, melepaskan jasnya dan meletakkannya sembarangan. Ia melangkah pergi, meninggalkan Guanlin yang mulai menelepon dokter sekaligus teman dekat tuannya.

"Guanlin," pria itu berbalik sejenak, menatap bocah Taiwan yang juga membalas tatapannya. "Sebaiknya kau cepat, kalau kau tidak mau mengubur mayat bocah itu."

"Baik-"

"Dan siapkan kamar kotor di seberang kamarku itu."

Barulah pria itu melanjutkan langkahnya, menuju kamarnya sendiri, setelah melihat Guanlin mengangguk sekali, menyanggupi permintaannya.

Hey-yo Guanlin, aku memang merindukanmu, tapi aku sedang dalam operasi yang gawat-

❝Tuan memanggilmu, hyung.❞

Oh ya? Dan keadaan apakah yang terjadi sehingga aku harus menyelesaikan operasiku dengan cepat dan melesat seperti orang kesetanan di jalanan?

❝Seorang bocah berusia sekitar sepuluh hingga lima belas tahun tertembak di kaki, aku rasa peluru bersarang di kakinya, atau mungkin tidak. Dan dia sekarat disini, darahnya terkuras cukup banyak.❞

Hela nafas panjang terdengar di seberang sana. ❝Hhh, baiklah baiklah. Katakan pada tuan muda Hyunbin yang terhormat untuk menunggu sementara aku menyelesaikan transplantasi ginjal disini.

❝Sebaiknya kau tidak terlambat hyung. Aku tidak mau mengubur mayat seseorang saat ini. Dan kau pasti tidak mau melihat tuan Hyunbin mengamuk.❞

Sialan, matikan teleponnya Guanlin! Aku rasa aku sudah bilang aku sedang mentransplantasi ginjal seseorang disini!

❝Baiklah baiklah. Tapi cepatlah, dan jangan lupakan kantung darah apapun itu golongannya. Aku tidak tau golongan darah dari bocah ini.❞

Kau mengatakannya seakan dia adalah barang yang dipungut oleh Hyunbin.

❝Tampaknya tuan memang memungutnya,❞ Guanlin mengerutkan alisnya jijik, melihat pakaian anak sepuluh tahun yang tengah berbaring, mengotori sofa yang sudah ia bersihkan dengan teliti.

Apa?! Kau gila? Apa itu berarti dia imigran gelap?!

❝Sudahlah hyung, sebaiknya kau kemari dan melihat sendiri bagaimana keadaan disini, karena aku juga memiliki urusan dengan darah bocah ini.❞

.
.
.

* . · . ♥️ ˚ 🖤 . · . *

.
.
.

Hyunbin melepaskan kemejanya tergesa. Rasa lengket dari keringat dan juga darah Minhyun benar-benar mengganggu pria itu. Kemeja bersimbah darah Minhyun ia lemparkan tepat pada keranjang sampah di kamarnya.

"Menjijikkan-," hidung Hyunbin mengerut, merasa muak dengan rasa kotor yang menempel pada dirinya.

Ketukan halus di pintu kamarnya berhasil merenggut atensinya dari kemeja sampah miliknya. Hyunbin berdeham, mengizinkan Guanlin, sang pengetuk pintu, untuk masuk ke dalam.

"Saya sudah menelepon Jaehwan hyung, ia akan kemari secepat yang ia bisa."

Hyunbin menaikkan alisnya mendengar laporan tak memuaskan yang Guanlin berikan. "Apa yang sedang ia lakukan?"

"Operasi transplantasi ginjal, tuan."

"Hh, sialan," Hyunbin menghempas tubuhnya pada kasurnya sendiri. Telapaknya melambai pada Guanlin, mengusir pria Taiwan itu untuk pergi. "Sebaiknya kau awasi bocah itu sebelum dia benar-benar mati."

"Apa dia imigran gelap- tuan?"

Hyunbin mendengung panjang, menggumamkan sesuatu secara abstrak. "Terserah dengan apa kau menyebutnya, tapi dia adalah milikku," Hyunbin menegakkan tubuhnya, sekedar untuk memberikan tatapan dalam pada Guanlin.

"Kau mengerti?"

"Sangat jelas tuan," Guanlin membungkuk dalam. "Apa kau butuh sesuatu untuk saat ini?"

"Pergilah, sialan. Aku lelah."

Sekali lagi, Guanlin mengangguk, kemudian bergegas untuk berbalik dan menjauh dari kamar tuannya. Cukup bahaya jika ia ada terus di dekat tuannya dalam keadaan sulit diajak berbicara seperti saat ini. Terakhir kali Guanlin bisa mengingatnya, kepalanya harus menjadi sasaran lemparan vas keramik milik tuannya karena dirasa mengganggu oleh tuannya.

❝T-tuan- hiks.❞

"Sialan-!"

.
.
.

. · . ✦ ⋆ ˚ ♥️ ⋆ ˚ ° ♡ • ˚ ⋆ 🖤 ˚ ⋆ ✦ . · .
To be continue
. · . ✦ ⋆ ˚ ♥️ ⋆ ˚ ° ♡ • ˚ ⋆ 🖤 ˚ ⋆ ✦ . · .
.
.
.
.
.
.
.
.

a/n: Dd tau ini nda greget, belum greget, aneh pula;______; myane myane hajeemaaa~

In case bingung kenapa locationnya Kanagawa, tapi di ketiknya Kawasaki. Kawasaki is bagian of Kanagawa, okay?

Jangan tanya chap 2 kapan keluar bcs q juga tidak tau when q bisa ngetik selaw seperti ini HEHE, THIS IS AN EXCUSE GUISE, TIMPUK SAJA DIRI Q

Nice dream, baby♡ Jangan tidur kemaleman, and see ya as soon as I can!

XOXO,
Jinny Seo [JY]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top