Too Much
Kesibukan adalah obat mujarab untuk segala yang sedang Raya rasa. Sejak kepulangannya dari Singapore, yang Raya lakukan hanyalah bekerja dan bekerja. Dia bahkan benar-benar menjauhi ponsel karena takut dengan harapannya sendiri. Bahwa Majeed akan menghubungi, atau tidak menghubungi. Bahwa dia akan kecewa, bahwa apa yang terjadi di Singapore berakhir begitu saja. Dia benar-benar takut sakit hati hingga menggila. Maksudnya bekerja membabi buta.
Berusaha menyibukkan diri untuk melewati hari. Bagusnya tempat dia bekerja mengadakan acara tahunan. Dia mengajukan diri untuk menjadi ketua panitia.
"Ya, telpon itu diangkat dong, Ya," protes Andi. "Gue nelpon lo tiga kali, lo nggak ngangkat. Ponsel lo mana?"
"Di meja, nggak kebawa," dia terus menyusuri koridor kantor menuju ruangan Baskara.
"Ini kebiasaan baru lo nih. Biasanya lo selalu bawa ponsel," Andi juga bersikukuh berjalan mengiringi.
"Lagi nggak kepingin."
"Tapi nggak bisa gitu, Ya. Itu menghambat kerjaan."
Pintu ruangan Baskara sudah dia ketuk dua kali lalu dia dorong agar terbuka. Ada Alea sedang berdiri tersenyum sambil mengobrol dengan atasannya. Dia menyapa istri bosnya itu.
"Sore, Al," sapa Andi.
"Hai, Ndi. Raya," kepala Al mengangguk sambil tersenyum padanya.
"Hi, Mba. Sorry saya cuma sebentar kok," kepalanya menoleh pada Baskara. "Undangan sudah selesai kirim. Barusan saya kirim list yang sudah konfirmasi. Sekitar 90% sudah confirm. Tolong dicek dulu, Pak."
"Panggil saya Bas, kenapa jadi panggil saya Pak," keluh Baskara.
"Iya, Bas," ujarnya cepat.
Bas memberikan pandangan aneh padanya kemudian berpindah ke Andi yang menggendikkan bahu.
"Bas, tolong cek email dulu," pintanya lagi.
"Okey," Bas sudah mencermati laptop sambil berujar lagi. "Kamu sehat kan, Ya?"
"Sehat."
"Andi bilang kamu lembur terus udah seminggu. Hari ini pulang cepet aja. Kan persiapan sudah hampir 100%," Baskara masih memeriksa email.
"Mau ngecek tempat dulu."
Tubuh Bas sender ke belakang kemudian bosnya itu menghirup nafas dalam. "Siapa perwakilan yang akan datang dari kantornya Herjuna? Yang sudah konfirmasi."
Okey, ini aneh sekali. Karena Nadin adalah sahabatnya dan tunangan dari laki-laki mantan – hampir suami – istri dari bosnya sekarang. Hhrghhh kenapa jadi rumit begini.
"David dan Herjuna."
Senyum tipis Alea mengembang. "Apa kabar Juna? Kamu tahu?" tanya Alea padanya dengan ekspresi penasaran.
"Sayang, please..." Bas memotong.
"Bas selalu bilang saya gagal move on, padahal udah punya anak tiga. Jadi kayaknya temen kamu tuh Ndi, yang gagal move on," ledek Alea sambil tersenyum. "Aku cuma nanya kabarnya Herjuna, Bas."
"Herjuna baik. Mau married sama temennya Raya," ujar Baskara cepat. Ya, desas-desus hubungan Herjuna dan Nadin memang cepat menyebar. Sebagian juga karena dia yang dengan senang hati menyebarkannya.
"Aah, seneng dengernya," dahi Alea mengernyit. "Indra dan Laras waktu itu kayaknya ketemu sama Juna dan cerita kalau Juna sudah tunangan. Jadi sekarang udah mau married?"
Padahal waktu itu Nadin si usil itu cuma berpura-pura di kedai soto. Raya tahu ceritanya dari Nadin. "Ya, namanya Nadin. Dia sahabat baik saya," jelasnya sambil tersenyum sedikit canggung.
Senyum Al tambah lebar benar-benar terlihat bahagia. "Really happy to hear the news. Salam buat teman kamu, bilang congratulation sama dia. She's lucky. Juna is a very good man."
"Jadi kamu nggak lucky?" timpal Bas mulai kesal pada Alea.
"Aku beruntung lebih dulu," senyum Al terkembang lagi menatap suaminya.
Dia berdehem. "All of you are very-very lucky. Jadi nggak usah berantem karena masing-masing udah ada jodohnya. Mari kita kembali ke list customer tadi."
Mereka tertawa dan mengangguk setuju. Baskara melakukan pemeriksaan terakhir dan memberi beberapa catatan padanya. Segera setelah itu dia keluar untuk bersiap pergi menuju tempat acara untuk memeriksa.
Malamnya di apartemen. Raya tiba pukul sembilan malam. Melepas sepatu, meletakkan tas, menyiapkan air mandi di bathtub sambil memisahkan pakaian yang akan dia kirim ke binatu besok. Sebelumnya dia suka suasana hening begini, sebelumnya dia tidak merasa terganggu. Tapi setelah Majeed, pikirannya berisik sekali. Berdebat soal hati.
Periksa ponsel, Raya.
Nggak perlu. Majeed nggak akan telpon.
Ya periksa dulu dong. Kenapa takut?
Kecewa yang bertumpuk bisa berubah jadi sakit hati dan merusak kenangan indah kemarin. Gue nggak mau.
Tapi lo nggak akan tahu. Apalah susahnya meriksa ponsel. Kemarin lo paksa Nadin.
Tubuhnya otomatis bergerak melakukan kebiasaan rutinnya setelah pulang kerja, namun pikirannya tidak di sana. Terus memperdebatkan hal yang sama. Selalu begitu setiap malam hingga dia lelah dan tertidur.
Pakaian sudah dia lepas dan dia masuk perlahan untuk berendam air hangat. Merasa kesal pada dirinya sendiri yang jadi kacau begini. Wangi-wangian aroma terapi dia hirup dalam-dalam. Perpaduan lavender dan vanilla yang menenangkan. Tubuh dia senderkan santai kemudian mata dia pejamkan sejenak berusaha meredam apapun yang dia rasa.
Kemudian benda yang menghantuinya itu berbunyi hingga dia terlonjak kaget. Ya, ponsel itu ada di dekatnya. Ragu-ragu, dia menatap untuk tahu siapa yang menghubungi. Mama. Hhhhhh... nafas dia hembus dalam. Cepat-cepat dia mengangkat panggilan.
"Assalamualaikum, Nduk. Kamu nggak apa-apa kan?" itu kalimat pertama Mama.
"Aku nggak bisa jawab salam, Ma. Lagi di kamar mandi dan aku baik-baik aja."
Kemudian dimulai lah segala keluhan yang sama. Betapa Mama khawatir karena dia tidak mengangkat telponnya. Diiringi dengan pertanyaan penuh selidik tentang ada apa, kenapa sikapnya begini. Dia menjawab dengan cara berpura-pura baik-baik saja. Ya, dia pura-pura. Setelah sepuluh menit yang panjang, serta janji untuk datang di acara keluarga minggu depan, dia berhasil mengakhiri sambungan itu.
Ponsel dia tatap lagi. Membaca deretan notifikasi. Puluhan telpon tidak terangkat, dan ratusan pesan whatsapp, ditambah banyak notifikasi lain. Nafas dia hirup panjang dan benda itu dia letakkan lagi. Lima menit kemudian dia menyudahi mandi, mengenakan skin care, mengeringkan rambutnya, serta pergi ke kamar untuk tidur. Di dalam kamar, dia duduk di pinggiran kasur merasa lelah sekali.
Tanpa sengaja dia menatap novel tebal yang dia letakkan di atas meja nakas. Alexander Dumas. The Count of Monte Cristo. Novel itu dia cari dan beli tiga hari setelah dia tiba dari Singapura. Kemudian tanpa dia mau air matanya jatuh satu-satu. Dia begitu merindukan Majeed tapi selalu menghindar. Malam ini rindunya sudah berada di puncak hingga terasa sesak, dia ingin meledak. Dia bahkan gagal membendung tangisnya sendiri. Duduk di pinggir kasur merasa kalah dengan rindu sambil menangis tersedu. Menyedihkan.
Hubungi dia, Raya. Angkat ponsel dan hubungi Majeed sekarang.
Air mata dia hapus, lalu cepat-cepat dia berdiri dan setengah berlari menuju kamar mandi untuk mengambil ponsel, sebelum seluruh keberaniannya hilang. Dia ingin mendengar suara Majeed. Tidak peduli apakah laki-laki itu menghubunginya kemarin, atau tidak menghubungi. Mengirim pesan, atau tidak mengirim pesan. Dia bahkan tidak peduli jika Majeed mungkin sudah lupa dengannya. Dia hanya ingin mendengar suara Majeed saja. Tangannya sedikit bergetar saat dia angkat ponsel dan tempel di telinga setelah menekan nomor Majeed.
Nomor yang anda hubungi berada di luar service area. Silahkan...
Dia mencoba lagi hingga tiga kali dan benar saja, hantaman rasa sakit hati datang tanpa aba-aba. Mengetahui bahwa ponsel Majeed tidak aktif atau mungkin sudah tidak digunakan lagi. Mungkin Majeed sudah melupakannya. Sungguh dia bodoh sekali. Karena kalutnya rasa, dia menangis lagi. Merasa gagal membendung rindunya sendiri. Atau merasa bahwa dia sudah kalah dengan segala situasi.
Satu tangannya mengusap dada. Ponsel itu sudah dia letakkan kembali di meja nakas. Nafas dia hirup dalam-dalam beberapa kali berusaha menenangkan diri. Dia adalah wanita mandiri dan dewasa. Tidak cengeng begini. Dua kalimat tadi dia ulang terus di dalam hati. Kemudian dia berdiri dan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air minum.
Bunyi bel di pintu membuat dia menoleh heran. Security di jam segini? Ya, tidak mungkin tamu karena jika tidak, security di bawah sudah menghubu – wait. Kok koneksi TV dan sambungan intercom mati? Dari kapan?
Bel berbunyi lagi. Dia mendekat ke pintu untuk memeriksa dari lubang intip. Ada seorang security di sana. Pintu dia buka.
"Ya, Mas?"
"Malam, Mba. Koneksi TV dan Intercom sepertinya ada masalah ya Mba? Karena Mba nggak bisa kami hubungi."
Matanya menatap lurus ke security itu sambil merapatkan gaun tidurnya. "Iya saya baru sadar. Besok saya buat laporannya" suaranya sedikit serak karena menangis tadi. "Ada apa, Mas?"
"Ada tamu, jadi saya antar langsung ke sini."
Saliva dia loloskan menatap sosok itu yang sebelumnya berada di sebelah kanan hingga terhalang tembok.
"Ini benar tamu, Mba? Beliau mengaku sebagai tunangan Mba," jelas security tadi.
Tenggorokan dia basahi, matanya lekat di sana.
"Iya, benar," pandangannya kembali ke security tadi kemudian tersenyum kecil. "Terimakasih, Mas. Maaf sudah repot."
"Nggak apa-apa, saya tinggal dulu."
Security tadi sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Untuk sesaat dia hanya bisa berdiri mematung saja, kehabisan kata.
"Saya tak diminta masuk?" tanya suara dalam yang dia rindu itu. "Apartemen mu, strict sekali keamanannya, jadi mungkin lebih baik kita bercakap di dalam."
Pintu apartemen dia buka lebar kemudian laki-laki itu masuk. Jika dia kira pikirannya tadi berisik sekali, ternyata kali ini dada dan jantungnya tiga kali lipat lebih berisik daripada tadi. Bagaimana tidak, laki-laki yang dia rindu lebih dari seminggu tiba-tiba datang begini.
"Apa kabarmu, Raya?" tanya Majeed sedikit canggung. "Maaf, saya berkunjung terlalu malam." Mereka sudah berdiri berhadapan. Majeed mengenakan setelan jas tanpa dasi berwarna navy. Koper cabin size Majeed sudah diletakkan di dekat pintu apartemennya.
Saliva dia loloskan untuk menghindari air mata yang akan jatuh sebentar lagi. Tapi dia gagal karena titik air itu sudah meluncur di pipi.
"Kenapa menangis? Apa kamu sudah banyak rindu saya?"
Satu tangannya bersedekap di depan sementara tangan lain sibuk mengusap air mata yang jatuh satu-satu. Dia terkekeh. "Terlalu banyak."
Kemudian Majeed memangkas jarak mereka, merengkuh tubuhnya perlahan, menenggelamkannya dalam pelukan.
"Semestinya saya yang marah, karena kamu tak angkat telefon. Saya hubungi kamu setiap hari, mengirim mesej setiap hari. Tidak ada balasan sama sekali. Saya putus asa, jadi saya berlari ke sini dengan sisa harapan saya." Tangan Majeed membelai puncak kepalanya.
Sementara dua tangannya sudah terbuka dan balas memeluk Majeed erat sambil menangis karena sangat rindu.
"Kenapa malah kamu yang menangis?" Majeed mencium pipinya. "Kamu tak berfikir saya tepat janji? Saya sudah bilang saya akan berada di depan pintumu jika rindu-mu sudah banyak, bukan?"
Nafas dia hirup dalam dan makin mengeratkan pelukan mereka. Kepalanya mengangguk dua kali untuk menjawab pertanyaan Majeed tadi. Satu tangan Majeed mengelus punggungnya perlahan, berusaha menenangkannya. Ketika dia sudah bisa sedikit mengendalikan diri, dia mulai berujar.
"Saya ketakutan. Saya pikir kemarin itu hanya sementara saja. Saya pikir kamu sudah lupa."
"Apa itu sebab kamu tidak angkat telefon dari saya dan balas mesej saya?"
Kepalanya mengangguk lagi. "Tidak ada hal baik terjadi pada saya sudah lama sekali. Jadi saya, tidak mau berharap."
"Saya betul-betul kesal saat ini," Majeed sudah melonggarkan pelukan mereka hingga laki-laki itu bisa menatapnya.
Mata Majeed mengikat matanya sendiri, dan dia bisa melihat banyak rindu di sana. Rindu untuknya. "Maaf."
"Saya bukan seorang yang pemaaf," kalimat Majeed berbanding terbalik dengan senyum kecil di wajah laki-laki itu. Ekspresi bercanda khas Majeed sudah ada di sana.
"Saya serius...maaf."
"Jauh lebih serius rindu saya padamu, Raya."
Kemudian Majeed menghidu wangi tubuhnya, dan kembali memeluknya erat. Mereka tenggelam dalam rindu malam itu. Rindu karena jauh, rindu dengan waktu, rindu karena kosongnya hati saat mereka tidak bersama.
***
Runtutan acara malam itu di sebuah hotel bintang lima berjalan semestinya. Herjuna masih mengobrol santai dengan beberapa tamu saat makan malam – prasmanan dihidangkan. Dia sendiri tidak terlalu lapar, namun tetap bertandang ke meja tempat salad berada. Senyumnya terkembang kecil karena jika Nadin ada di sini, wanitanya itu akan menceramahinya tentang betapa penting makan malam untuknya setelah lelah bekerja.
Pundaknya ditepuk dari belakang kemudian dia menoleh dan mendapati senyuman lebar Indra. Mantan bosnya dulu di kantor Alea.
"Juuun, apa kabar?" mereka berjabatan sambil tertawa kecil.
"Baik, Ndra."
"Gila, gue nggak sangka ketemu lo di sini." Indra melanjutkan tanpa basa-basi.
Sedari dulu Indra memang tipe people person yang tidak pernah canggung memulai pembicaraan dengan siapapun. Tidak seperti dia – bahkan sekarang. Jadi dia hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Indra lontarkan. Itu lebih mudah.
Berita pertama adalah Laras yang memutuskan untuk resign setelah suaminya diangkat menjadi petinggi di salah satu perusahaan bonafid. Dia senang mendengar hal itu karena tahu Laras lebih cocok menjadi ibu rumah tangga karena benar-benar tergila-gila dengan suaminya.
Lalu beranjak ke berita seputar roda kepemimpinan yang berganti. Siapa yang naik jadi apa, atau pindah ke perusahaan besar lainnya. Dia senang untuk tahu teman-teman sekantornya dulu banyak yang sudah tersebar dan menjadi orang-orang penting pada industry masing-masing. Dalam hati dia akan mengingat untuk tetap saling terhubung, karena networking adalah nilai tambah sempurna yang akan menaikkan harga jualnya.
Kemudian berita tentang Indra sendiri – ini dia yang bertanya pada Indra. Bos dan kawan lamanya ini sudah bercerai dari istri pertama dan menikah lagi. Sedikit mengejutkan tapi setiap orang punya jalan mereka sendiri. Indra sudah diangkat untuk memimpin divisi lain yang lebih besar. Tidak heran mengingat Indra memang sangat piawai.
"Jadi lo sendiri gimana? Gue denger lo mau married?" tanya Indra.
Senyumnya mengembang. "Soon. Dua minggu sebelum acara gue akan kirim undangannya ke elo dan Laras. Datang ya."
"Cewek yang waktu itu di kedai soto?" tanya Indra lagi.
Kepalanya mengangguk. "Lucky me."
Sebelum pembicaraan berlanjut David memanggilnya dari ujung ruangan. Dia berpamitan sopan pada Indra dan berjanji untuk tetap saling memberi kabar. Ternyata David hanya ingin memberi tahu bahwa David harus pulang lebih dulu karena anaknya yang tiba-tiba demam di rumah. Setelah itu David pamit pergi.
Meja minuman di pinggir ruangan dekat dengan balkon dia sambangi. Ada beberapa pilihan juice buah, soda, dan air mineral dalam wadah yang cantik. Sementara seluruh alkohol berada di meja bar tengah ruangan lengkap dengan bartendernya. Dia yang tidak minum alkohol hanya mengambil segelas orange juice dan melangkah ke salah satu balkon. Udara malam menerpa sejuk saat dia mendengar seseorang menyapa.
"Malam, Jun."
Alea. Dia tidak akan pernah lupa suara wanita itu. Tubuhnya berbalik perlahan dan mendapati Alea sungguh cantik sekali dengan gaun hitam panjangnya.
"Hai, Al," dia tersenyum kecil dan mengangguk sopan. "Apa kabarmu?"
Alea balas tersenyum. "Aku baik, Jun," wanita itu melangkah untuk berdiri di sebelahnya. Menatap langit malam dari atas balkon. "Ini whiskey Wednesday dan kamu nggak minum. Benar-benar seperti Juna yang aku kenal."
"Tidak semuanya sama, sebenarnya," balasnya sambil tersenyum lagi.
Tubuh Alea berbalik ke samping jadi mereka berdiri berhadapan. "Oh, aku tahu apa arti senyummu itu, Jun," kekeh Alea. "Aku turut berbahagia, sungguh. Siapapun dia, dia sangat beruntung."
"Aku yang beruntung."
"Ya, dan aku bisa melihat itu semua jelas. Kamu sedang benar-benar bahagia karena jatuh cinta," Alea tersenyum tulus menatapnya.
"Bagaimana kabar si kembar?"
"The twin plus one. I have three, now. Can you imagine?"
"Yes, I can," sahutnya.
Mereka tertawa kecil bersama. "Bas terus membujukku untuk berhenti kerja."
"Turuti suamimu, biar berkah semuanya."
"Hah, kalian laki-laki selalu berpikir bisa mengurung perempuan begitu saja. Tidak adil," canda Al sambil memasang wajah pura-pura kesal.
"Apa yang tidak adil?" Baskara sudah berada di dekat mereka.
"Hanya perkara kecil. Para perempuan selalu merasa dijajah laki-laki padahal laki-laki hanya ingin perempuannya tidak lelah dan bahagia," jawabnya.
"Hah, soal bekerja ya. Kalian baru bertemu dan Al sudah curhat soal itu?" Baskara merangkul Alea dengan wajah konyol juga. "Dengar apa yang Jun katakan Al, aku hanya ingin kamu tidak lelah dan bahagia."
Alea tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala tidak percaya. "Sungguh persengkokolan yang baik. Tapi sayang saya tidak bisa lama-lama, Gentleman. Tugas negara sudah memanggil."
Baskara menatapnya. "Nikmati makan malamnya, Jun. Saya harus antar Nyonya ke bawah sebentar."
Kepalanya mengangguk. "Malam, Al. Salam untuk anak-anakmu."
"Malam, Jun. Sekali lagi selamat untuk pertunanganmu. Semoga semua lancar sampai acara nanti."
"Terimakasih."
Baskara dan Alea pamit dari sana. Matanya mengikuti sosok mereka berdua. Mencoba merasakan apapun yang lebih dari lima tahun dulu dia rasakan. Yang paling melegakan, untuk tahu bahwa dia sudah kehilangan rasa itu. Sudah lama. Ponselnya berbunyi kemudian dia tersenyum melihat siapa yang menghubungi.
"Yes?"
"Kamu pulang jam berapa?"
"Acaranya masih satu jam lagi."
"Aku nggak bisa tidur."
"Takut aku dilirik cewek lain?" ledeknya.
"Iya. Kata Raya kamu ganteng banget hari ini," suara Nadin lesu.
"Hey, Nad. I love you, in case you forgot."
Ada jeda di sana. "Besok jemput aku buat pergi ke kantor ya."
"Iya."
"I love you too, cowok nyebelin."
"Good night, cewek usil."
***
All is well, finally. We will miss them later for sure.
https://youtu.be/ujgqXfdmiGY
Broken Heart Song Project List
⭐Senin-Rabu:
Penulis: andini_dee
Judul cerita: This City
Inspirasi lagu: This city by Sam Fischer
⭐
Penulis: coffeenians
Judul cerita: Kultusan
Inspirasi lagu: Kultusan by Sal Priadi
⭐
Penulis: inag2711
Judul cerita: Not Me Not I
Inspirasi lagu: Not Me Not I by Delta Goodrem
⭐
Penulis: awtyaswuri
Judul cerita: Too Good at Goodbyes
Inspirasi lagu: Too Good at Goodbyes by Sam Smith
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top