BAB 2: The Notes

Mata pria itu mengerjab-erjab. Rautnya menunjukkan bahwa ia sedang merasakan kesakitan dari salah satu bagian tubuhnya. Tangannya terangkat meraba kepala belakangnya yang menjadi penyebab rasa sakit yang Ia rasakan. Gerakannya terhenti ketika seseorang melangkah masuk dan berhenti tepat di depannya. Ia memperhatikan sepatu boots kulit berwarna hitam itu. Dahinya mengernyit, bingung. Siapakah yang berdiri didepanku? Batinya.

Perlahan Ia mendongak, namun belum sempat Ia melihat wajah itu, satu tendangan keras di kepalanya membuat tubuhnya langsung terjatuh ke samping. Bunyi rantai yang terikat di kedua tangan dan kedua kakinya membuat ruangan gelap dan pengap itu menjadi ramai.

Orang itu mengambil cambuk yang diujungnya terpasang bilahan tajam dari besi yang terpasang didinding. Dinding tersebut terpasang banyak alat berat dan juga alat-alat tajam yang terlihat baru. Selain itu, ada juga tali tambang, rantai, borgol, kabel, dan juga kamera yang terpasang di stand kamera. Satu hal yang paling mengerikan dari semua hal itu adalah kursi dan meja. Terdapat dua kursi yang salah satunya terpasang paku-paku dengan bagian tajam tertancap ke atas. Sedangkan satu kursi lainya, tertancap beling tajam.  Meja yang berada di depan kursi tersebut terdapat alat pemotong kayu yang sering digunakan oleh para tukang kayu untuk memotong kayu dengan cepat tanpa perlu menggunakan gergaji.

"Terkadang ketika Tuhan memberikanmu kemudahan untuk menolong sesamamu, maka manfaatkan itu untuk menolong sesamamu. Jangan kamu gunakan kemudahan itu untuk menolong dirimu sendiri. Sebab, ketika tiba saatnya untuk pembalasan dari Tuhan atas dosa itu, Ia tidak akan memberikan kamu kesempatan untuk menjelaskan." Suara itu menggema diruangan kecil tersebut.

Pria itu mencoba mendongak, ingin melihat wajah dibalik kata-kata bijak dan suara berat tersebut.  Namun, belum sempat Ia mendongak, satu cambukan mendarat di punggungnya. Bilahan tajam yang ada di ujung cambuk mengiris punggung itu dalam dan panjang. Darah mengalir membasahi kaos oblong berwarna hitam dengan tulisan Talk With Daffa Anggara dengan logo Chanel berbentuk huruf D dan A serta logo YouTube.

Tidak memberikan kesempatan pria itu untuk meredam luka di punggungnya, orang itu kembali memberikan cambukan dan cambukan lagi. Cambukan itu berhenti ketika tubuh pria itu sudah lemah tak berdaya dibawah lantai. Luka sayatan berasal dari bilahan tajam itu terdapat dia setiap bagian tubuh pria itu. Mulai dari goresan kecil hingga goresan yang cukup panjang dan dalam, terus mengeluarkan darah membuat area sekitar pria itu  dipenuhi darah.

"Akhirnya kamu ikut merasakan setiap luka yang dia rasakan," ucap orang itu lalu memasang kembali cambuk penuh darah itu ke dinding dan meninggalkan pria itu sendirian.

...

Malamnya, orang itu datang lagi dan menatap pria itu dengan raut penuh belas kasihan. Ia mendekati pria itu dan membantu pria itu berbaring dengan posisi terlentang. Pria itu terlihat lemah dan pucat disebabkan semua luka di tubuhnya yang ia dapatkan sore tadi.

"Aku akan mengobati mu," ucap orang itu dengan suara parau.

Ia lalu mengeluarkan alat-alat medis yang biasa digunakan untuk menjahit luka pasien dan 2 botol alkohol dari kotak P3K yang dibawahnya. Ia lalu merobek baju pria itu dengan kasar, dan juga membuka celana pria itu menyisakan celana boxer berwarna hitam. Dengan santai orang itu menuangkan 2 botol alkohol ke seluruh luka di tubuh pria itu membuat pria itu menjerit kesakitan. Luka menganga di seluruh tubuhnya menyerangnya dengan rasa perih dari alkohol secara bersamaan membuat jeritan itu semakin keras.

"Ssttt!" Orang itu meletakkan jari telunjuknya ke bibir pria itu memintanya diam.

Dengan santai orang itu mulai menusuk kulit  dibibir luka yang ada dirusuk kiri pria itu. Karena kulit tubuh yang cukup keras membuat orang itu menggunakan tenaganya dan malah merobek kulit tersebut.

"Upss. Aku tidak sengaja," gumamnya tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Ia lalu mulai menjahit lagi. Ia menusuk jarum tersebut tepat disamping tusukan jarum yang gagal. Kali ini, Ia berhasil menusuk jarum itu dan rautnya berubah senang karena keberhasilannya. Ia lalu menusuk kulit yang ada di sebelah luka. Setelah berhasil menusuk kulit tersebut, ia mengikat kedua benang tersebut, lalu mulai menusuk kulit yang berada di samping tusukan kedua.

Tusukan demi tusukan membuat tubuh pria itu semakin lemah. Perih akibat alkohol yang disiram ke seluruh tubuhnya saja belum redam, kini Ia harus menahan luka tusukan tanpa bius yang kian banyak.

"Ap-apakah kam-mu mau menjahit semua luka di tu-buh ku i-ni?" Tanyanya lemah.

"Tentu. Aku akan membantu menyembuhkan semua lukamu. Tenang saja, luka-luka ini akan segera sembuh dan kamu bisa beraktivitas seperti biasa lagi." Orang itu tersenyum ke arahnya, lalu kembali menusukkan jarum itu ke kulitnya.

Ia memejamkan mata, mengeraskan rahangnya, dan  menahan semua rasa sakit itu. Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat air mata itu mengalir semakin deras.

Setelah hampir satu jam jarum itu menusuk tubuhnya. Akhirnya pria itu meninggalkannya sendirian tanpa menutup semua luka itu dengan perban. Darah yang terus mengalir dari setiap lukanya membuat kepalanya semakin pusing, pandangannya pun mulai buram. Tubuh itu akhirnya jatuh pingsan tak berdaya dengan hasil jahitan, berada dimana-mana.

...

Besok paginya, orang itu kembali mendatangi pria itu. Pria itu terlihat lemah, bahkan hanya untuk bangun saja dia tidak bisa. Semua luka di tubuhnya akan sangat terasa perih, apa bila dia bergerak dari posisinya saat ini.

"Perbaiki posisi mu!" Bentak orang itu. Nada suaranya kini terdengar begitu tegas dan kasar.

Pria itu diam ditempanya. Ia memang tidak bisa bergerak, karena selain rasa perih yang menyerang tubuhnya, ia pun tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Hal ini disebabkan semua luka di tubuhnya sudah mulai mengering, dan kulitnya seperti saling tarik-menarik, sehingga jika dia menggerakkan tubuhnya akan menimbulkan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"PER-BAIKI POSISIMU!" bentak orang itu. Orang itu melangkah maju, lalu mengubah posisi pria itu yang awalnya terbaring menjadi berlutut. Pria itu meringis kesakitan ketika semua luka itu seperti mengamuk kepadanya karena mengusik posisi mereka. Rasa perih dari setiap luka di tubuhnya membuat air mata pria itu kembali jatuh.

"Akibat dari kamu mengecewakan apa yang telah Tuhan percayakan adalah rasa sakit lagi. Sama seperti dia yang kepercayaannya telah kamu kecewakan. Kini hukuman mu bertambah dari sekedar rasa sakit akibat luka jahitan, akan menjadi akhir untuk semuanya."

Orang itu mengakhiri kalimatnya, lalu melangkah mendekati tembok penuh benda tajam itu, dan mengambil cambuk yang ujungnya penuh dengan darah kering.

"Jang-jangan lagi. Ampuni aku," geleng pria itu memohon dengan air mata  yang terus mengalir di pipinya.

Air mata memohon belas kasihan itu membuat raut wajah orang itu berubah penuh kemarahan. Kilatan penuh dendam itu tersalurkan melalui cambukan yang kini merobek setiap kulit dari pria yang berlutut didepannya. Luka jahitan yang baru saja dijahit kini terobek membuat luka lama itu kembali terbuka.

Tangisan pria itu, serta teriakan kesakitan yang keluar dari mulut pria itu membuat orang itu semakin bersemangat untuk merobek tiap kulit dari tubuh pria itu.

Cambukan itu semakin membabi buta, membuat dinding yang sudah penuh dengan darah kering kini bertambah lagi dengan darah segar. Luka baru dari hasil goresan bilahan tajam yang ada diujung cambuk mengalirkan banyak darah. Darah terciprat kemana-mana, memenuhi seluruh  dinding yang ada dibelakang pria itu.

Cambukan itu berhenti, ketika tubuh pria itu jatuh lemah terkulai ke bawah tanah. Senyum puas ditunjukkan orang itu lalu memasang kembali cambuk itu dan keluar dari ruangan itu dengan senyum penuh kepuasan.

...

3 hari meninggalkan tawanannya di sana membuatnya tidak sabar untuk mengecek keadaan korbanya. Matanya berbinar penuh kebahagiaan melihat tubuh yang terbujur kaku didepannya. Tubuh itu dipenuhi oleh luka goresan yang masih basah.

Senyum dibibirnya tidak pernah lepas, bahkan senyum itu semakin melebar ketika  ada tulisan maaf di samping tubuh korban.

"Kamu puas?" Tanyanya pada seseorang.

Tawanya tiba-tiba menggelegar memenuhi seluruh ruangan ketika ia mendapatkan jawaban yang dinginkan dari orang tersebut.

"Mari kita buang sampah ini pada tempatnya," ucapnya lalu memakai sarung tangan lateks.

Dengan santai Ia memasukan tubuh yang sudah terbujur kaku itu kedalam plastik sampah dan mengikatnya dengan kuat. Tubuh itu diangkatnya dan diletakkan di atas grobak proyek berwarna merah. Ia lalu mendorong gerobak itu keluar dari ruangan itu, dan mendorongnya menaiki tangga yang ditengahnya Ia sengaja memasang papan agar memudahkannya mendorong grobak itu keluar dari ruangan.

Setelah sampai, tubuh itu dimasukkan ke dalam bagasi mobil dan ditinggalkan begitu saja.

To Be Continue...

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top