BAB 1: Inddy
Aku memperhatikan jari pria yang memiliki umur lebih tua 2 tahun dari ku yang berdiri didepanku. Jarinya mulai berpindah dari jari telunjuk, lalu ditambah jari tengah, dan berakhir dengan jari manis. Tak lupa ia selalu memberikan ku senyumnya yang selalu terlihat manis dan ramah. Aku membalas senyumnya lalu, mengahlikan pandangan ku ke sebuah lensa berwarna hitam yang tengah menyorotku. Jari-jari yang digerakkannya tadi adalah sebuah kode bahwa kamera yang ada di depanku ini akan mulai merekam ku. Aku tersenyum ramah ke kamera tersebut, lalu mulai berucap dengan nada penuh semangat.
"Hai guys, welcome back to Devannka Story. Di Chanel ini kita akan membahas seluruh hal bertema misteri yang pernah terjadi di seluruh dunia..."
Aku diam sesaat. Memberikan tatapan horor dan gestur penuh misteri, "...sudahkah kamu menemukan misteri hidup mu? Let's talk about mystery with me. Are you ready?"
"Cut." Ucap pria itu yang sering aku panggil Andrew dan memang itu adalah nama panggilanya.
Aku membaca lagi kisah pembunuhan yang aku rangkum di laptopku. Aku membacanya hingga beberapa kali lalu memberikan kode jempol ke arah Andrew.
"San, Make up aku?" Tanyaku kepada Sani.
Sani adalah sahabatku sekaligus make-up artis ku. Aku, Sani, Andrew, dan Sasa adalah teman satu Program Studi di sebuah universitas yang cukup ternama di kota Jakarta. Aku, Sasa, dan Sani adalah teman satu kelas. For your information, Sasa dan Sani adalah anak kembar. Sedangkan Andrew, adalah Kaka smester ku yang tengah sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti program kampus yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata).
Karena mengambil program studi ilmu komunikasi, Andrew cukup jago dalam hal berbau kamera, editing seperti, dan ada banyak lagi yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu. Satu hal yang membuatku kagum padanya adalah dia jago dalam hal IT. Hal ini karena ayahnya adalah seorang profesor di program studi Teknik Informatika. Ayahnya menurunkan pengetahuannya kepada anaknya dan berharap Andrew mengikuti jejaknya, namun Andrew malah memilih program studi ilmu komunikasi.
Alasan Andrew cukup klise, Ia bosan dengan hal-hal berbau komputer dan koding. Ia akhirnya memilih ilmu komunikasi karena ia tertarik dengan kamera. Padahal di jurusan ilmu komunikasi dia juga berhadapan dengan komputer. Namun katanya, yang penting tidak ada ngoding atau program-program aneh yang membuatnya pusing. Tapi, dia malah membantuku ketika akun YouTube ku dibajak, dimana dia akan berhubungan dengan program-program itu yang aku sebut bahasa alien.
Sedangkan Sani dan Sasa memiliki ketertarikan yang berbeda. Walaupun mereka adalah kembar identik, Sani lebih tertarik dengan dunia perfilman dan make-up. Sedangkan Sasa tertarik menjadi seorang jurnalistik. Cita-cita Sasa cukup sederhana namun sulit untuk digapai. Dia bercita-cita menjadi penerus Najwa Shihab.
Sedangkan aku, cita-cita aku simpel. Aku hanya ingin menjadi seorang host di sebuah program TV yang membahas tentang kejahatan dan juga misteri. Tentu saja. Itu adalah ketertarikan terbesar ku.
"Sudah siap," ucap Sani setelah merapikan make-up ku.
"Jangan lupa menyebutkan sumber-sumber yang kita dapatkan," peringat Sasa yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya mencari sumber terpercaya lainya untuk tambahan dari kisah pembunuhan yang akan aku bahas.
Sebenarnya aku sudah merangkum semuanya dengan baik, namun Sasa selalu tidak puas dengan hasil rangkumanku. Dia akan mengkoreksi rangkuman ku dengan gaya ala Najwa Shihab, menanyai ku beberapa hal bahkan sumber yang aku dapatkan dengan ekspresi serius ala Najwa Shihab. Seandainya, sekali waktu aku mendapatkan kesempatan diundang ke program TV yang dibawa Najwa Shihab, aku tidak akan tegang sama sekali. Aku akan akan sesantai mungkin, sebab aku sudah merasakannya dikehidupan sehari-hari ku.
"Inddy, Siap?" Tanya Andrew.
"Siap," jawabku memberikannya jempol lalu menatap lurus ke lensa kamera di depanku.
Andrew memberikan ku kode yang sama seperti sebelumnya. Setelah tanda sudah sampai pada jari ke tiga, aku memulai kalimat ku. "Kali ini kita akan membahas sebuah kasus pembunuhan disebuah kota kecil di Amerika. Kasus yang akan aku bahas kali ini cukup rumit dan penuh misteri menurut ku. Aku salut sih sama pihak kepolisian disana yang mampu memecahkan kasus ini walaupun cukup memakan waktu hingga 5 tahun." Ucapku sengaja tidak menjelaskan lebih detail dari kasus yang akan aku bahas agar penonton penasaran dan tetap menonton videoku.
Itu adalah hal yang aku pelajari selama perjalanan 3 tahun aku menekuni dunia YouTube. Aku mensyukuri berkat Tuhan yang diberikan kepada ku. Aku adalah pendatang baru tapi telah mendapatkan 5 juta subscribe, semua ini dikarenakan konten ku yang tidak biasa, kasus Flamboyan yang mampu aku pecahkan, dan tim belakang layar yang luar biasa.
Kasus Flamboyan adalah Kasus pembunuhan berantai yang terjadi satu tahun yang lalu. Hal itu tidak terjadi secara sengaja, aku sedang mencari beberapa sumber dan berkas-berkas, serta beberapa dokumen berupa foto yang aku dapatkan saat aku mendatangi tempat kejadian. Karena kejadiannya ada di Indonesia, aku biasanya akan langsung mengunjungi tempat kejadian kasus yang akan aku bahas. Tanpa sengaja aku menemukan bukti yang tidak dapat ditemukan oleh polisi, karena aku adalah orang yang tingkat penasarannya ada di atas rata-rata, aku akhirnya menyelidiki hal tersebut sendiri dan mengungkap sang pelaku. Aku hampir saja menjadi korban selanjutnya jika saja Andrew tidak menyelematkan ku.
Andrew adalah penggemarku yang bisa dibilang cukup fanatik. Aku berani mengambil asumsi tersebut sebab Andrew membuntuti ku beberapa kali, mengetahui alamat rumahku, mengetahui nomor WhatsApp pribadi ku, dan bahkan memanfaatkan kemampuannya untuk memblokir akun-akun yang menghina ku di setiap sosial mediaku. Hari itu dia mengikuti ku dan menemukan ku hampir dibunuh oleh pelaku kasus Flamboyan. Ia menelpon polisi dan detektif yang aku kenal, aku yakin Ia mendapatkan nomor itu dari hasil menghack kontaku. Selain itu, Ia mengorbankan dirinya ketika aku hampir saja ditikam.
Dari kejadian itu, aku memasukannya kedalam timku dan tidak melaporkannya ke pihak kepolisian atas pelanggaran privasi. Aku juga mengikuti permintaannya untuk masuk ke kampus yang sama sepertinya, dengan imbalan tidak ada bayaran selama dia menjadi kameraman ku menggantikan Sani. Melihat kemampuannya, aku mengiakan saja, sebab kampus tempat Ia berkuliah memang adalah tujuan keduaku setelah UI.
"Okay. Kerja bagus hari ini." Ucap Andrew seperti biasa setelah aku mengakhiri kalimatku yang selalu aku ucap setiap akan mengakhiri video YouTube ku. Aku memperhatikan Andrew yang mulai sibuk dengan kamera dan laptopnya. Andrew adalah orang yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Ia akan langsung mengedit hasil rekaman hari ini Juga.
"Aku traktir hari ini,"ucapku setelah menutup laptop dan merapikan meja didepanku.
"Okay. Setelah aku dan Sani merapikan set," ucap Sasa sibuk membantu Sani mengembalikan beberapa alat ketempatnya.
"Kamu harus ikut!" Tegasku kepada Andrew yang tengah sibuk dengan laptopnya. Aku harus memberikannya ketegasan sebab Andrew tidak akan mau ikut makan dengan ku. Jika aku memaksanya, maka dia akan memberikan aku banyak alasan.
"Tidak!" Jawabannya singkat.
"Bisa-bisanya kamu datar sama idola kamu sendiri," celetuk Sani.
"Aku syok," tambah ku membuat pandangan Andrew langsung berahli menatapku.
"Sorry. Aku tidak bisa meninggalkan kerjaan, Vann." Ucap Andrew.
"Sampai kapan aku akan tetap jadi Vann mu, bukan Inddy teman mu atau rekan kerja mu?" Tanya ku kesal.
Vann adalah nama Fans club ku. Itulah mengapa Andrew memanggil ku Vann bukan Inddy karena Ia masih menganggapku sebagai idolnya. Stengah mati aku menjelaskan kepadanya bahwa aku tidak pernah menganggapnya sebagai fans melainkan adalah teman baikku. Hasil dari usahaku adalah Andrew marah kepada ku selama satu minggu, karena dia mengira aku tidak menganggapnya sebagai fans.
"Tidak akan sampai pada kapan pun, because, kamu tetap idol aku."
"Aku kasih tahu kamu satu hal penting, Kak Andrew. Tidak ada hal keren dalam diri Inddy, atau hal-hal positif dalam diri Inddy yang bisa Kak Andrew ambil. Aku serius," Ucap Sasa tampak serius tanpa memperdulikan aku yang tengah memberikannya tatapan tajam.
"Bisa-bisanya kamu ya," komentar ku.
Sani tertawa kecil lalu duduk di sampingku. "Aku setuju sama Sasa," ucapnya memasukan chiki-chiki di dalam toples kaca yang sejak tadi memang terbuka ke dala mulutnya.
Aku menutup toples itu se-rapat mungkin. Sangat rapat sehingga Sani akan kesulitan membukanya.
"Jahat kamu," kesal Sani yang kesulitan membuka toples tersebut. Aku tersenyum senang.
"Jadi, hari ini kamu traktir kita makan dimana?" Tanya Andrew menutup laptopnya membuat ku sangat bersemangat sedangkan Sasa dan Sani terlihat syok.
"Kamu mau ikut?" Tanyaku lagi memastikan apa yang baru saja aku dengar.
"Menurut kalian?" Tanya Andrew masih sibuk merapikan semua kamera dan memasukan ke dalam tasnya.
"Ikut," jawab Sasa yang kini ikut bergabung bersama kami.
"Tadinya aku mau ajak Sasa dan Sani ke restoran yang biasa kami makan. But, karena hari ini spesial Andrew ikut bergabung dan juga akan menjadi hari peringatan makan malam tim Devannka Story secara lengkap, i have special place for you are." Aku sangat bersemangat hari ini. Sebab, Andrew yang sejak awal masuk ke tim Devannka Story tidak pernah ikut makan-makan Tim, kini ikut bergabung.
"Yeah. I'm so excited." Semangat Sani yang memang suka makan.
"Devannka Story." Teriak ku.
"Semangat! Semangat! Pasti Trending satu," Teriak Sani penuh semangat.
"Semangat tidak akan membuat Chanel Devannka Story Trending satu. Yang terpenting itu, riset, sumber terpercaya, dan bagaimana cara kita mengeksekusi kasus tersebut sehingga menarik penonton untuk menonton channel YouTube kita." Ucap Sasa.
"Yah!yah!yah. Lebih baik kita pergi sekarang daripada dengar celetukan dari Najwa Shihab KW super," goda Sani langsung disambut tatapan tajam dari Sasa.
"Ucapan Sasa benar," ucap Andrew yang kini sudah mengenakan jaket berwarna hitam, membuatnya lebih keren dari penampilannya tadi yang hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih dengan logo brand di dada kirinya.
"Iya, Najwa Shihab KW super ke-2." Goda ku lalu beranjak dari tempat dudukku dan melangkah keluar dari studio yang berada dilantai dua rumahku.
Aku membiarkan, Sani, Sasa, dan Andrew berjalan mendahului ku. Aku memperhatikan ke tiga orang yang menjadi penyebab dari semua yang aku dapatkan. Kesuksesan, nama besarku, dan 5 juta subscribe adalah apa yang aku dan mereka sebabkan.
Aku memulai Chanel Devannka Story sendirian, lalu bertemu Sani dan Sasa yang menjadi pendatang baru di daerah tempat tinggalku alias tetangga ku. Lalu bertemu Andrew ditempat yang paling mengerikan. Dan semua hal tak terduga itu menjadikan kami satu tim yang cukup kuat untuk bersaing dengan banyak YouTubers.
To Be Continue...
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top