chapter three
c h a p t e r t h r e e
Seumur hidupnya ia telah dilatih untuk melakukan sesuatu yang bagi orang lain merupakan tindakan keji.
Membunuh.
Sejak ia kecil, Raven telah dilatih untuk membunuh. Dan ia sangat ahli dalam melakukan itu. Ia dapat membunuh siapa pun tanpa pernah tertangkap. Raven tidak pernah merasa bangga dengan kehidupannya dan keahliannya. Tetapi, hanya itulah satu-satunya hidup yang ia ketahui. Honestly, dia membenci hidupnya. At one point of her life, dia pernah merasa iri dengan anak-anak sebayanya yang mempunyai kehidupan normal. Memiliki keluarga yang mencintai mereka, ke sekolah dan bertemu dengan teman-teman, dan yang perlu mereka khawatirkan hanyalah pelajaran sekolah mereka. Mereka tidak perlu memikirkan strategi yang tepat agat tidak tertangkap ketika sedang melakukan pekerjaannya. Mereka tidak perlu memegang senjata-senjata tajam dan berbahaya bahkan sampai membawanya ke samping tempat tidur. Mereka tidak perlu memikirkan mengenai keluarga dari orang yang ia bunuh. Raven mendambakkan sebuah kehidupan normal namun itu tidak akan pernah terjadi. Karena sebagai satu-satunya anak dari Christopher Blackstar, maka hanya inilah satu-satunya kehidupan yang ia tahu.
Which is why ia memilih untuk menjadi hunter semenjak ia mengetahui tentang keberadaan para monster yang tidak berasal dari dunia ini. Killing is the only thing she knows. The least she can do is try to lessen the far more deadly creatures of the night roaming on this earth.
Nyawa pertama yang ia ambil adalah seorang laki-laki yang berusaha untuk membunuh ayahnya. Saat itu ia baru berusia 7 tahun. Ia menatap pria yang ia bunuh dengan dingin, tidak ada rasa bersalah atau ketakutan terpancar di matanya. Ketika Raven menusukkan belatinya tepat pada jantung pria itu, ia hanya menatap korbannya dengan tatapan kosong. Mata hijaunya tidak pernah lepas dari kedua mata biru milik pria itu ketika akhirnya pria itu menatap kosong ke depan.
Dan itulah yang terjadi sekarang ini ketika Raven menarik pelatuk dari pistolnya, menembakkan 2 peluru yang terbuat dari kayu dan mengenai perut laki-laki yang sedang menahannya. Vampir dihadapannya pun melepaskan tangannya dari leher Raven ketika peluru tersebut mengenai perutnya. Kedua tangannya kini berada pada perutnya, mencoba untuk memperlambat darah yang keluar. Vampir itu berjalan sempoyongan ke belakang. Matanya yang berwarna merah kini menatap Raven dengan marah. Ia menggeram marah dengan kedua taringnya yang sudah keluar.
Ketika vampir itu berusaha untuk memukul Raven dengan kecepatan supernya, Raven sudah mengantisipasinya dengan menembak 2 peluru kayu lagi. Satu mengenai kaki kanan vampir tersebut, satunya lagi mengenai bahu kirinya. Vampir itu terjatuh ke tanah. Tangan kanannya beralih memegang luka tembakan di bahu kirinya. Mata merahnya tidak pernah lepas dari kedua mata hijau Raven.
"Who are you ?"
Alih-alih menjawab pertanyaan vampir itu, Raven berjalan mendekati vampir itu. Ia mengarahkan pistol itu ke jantung vampir tersebut. Tidak ada ketakutan di wajahnya, yang ada hanyalah kekejaman dan kehampaan.
"You killed her, didn't you ?"
Vampir itu mendengus ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Raven. Ia kemudian berdiri setelah berhasil mengeluarkan peluru di kakinya. Matanya tidak pernah lepas dari kedua mata Raven. Dengan pelan, vampir itu berjalan maju mendekati Raven, seperti seorang pemburu yang sedang mendekati mangsanya. Tetapi bedanya adalah mangsanya hanya menatap kedua mata merah milik vampir itu dengan dingin. Vampir itu kemudian berhenti ketika dadanya tepat mengenai pistol yang dipegang oleh Raven.
"You wouldn't believe me even if I told you the truth."
Raven terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab, "No, I won't."
Suara tembakan kemudian bergema di sepanjang gang yang gelap itu.

Raven membuka penutup kepala yang di pakai oleh vampir itu. Sang vampir hanya dapat mengerang kesakitan. Ia menyipitkan kedua matanya yang kini sudah berubah menjadi warna biru gelap ketika cahaya lampu menyinari wajahnya. Raven hanya berdiri sambil melipatkan kedua tangannya di dadanya, menunggu sampai vampir itu akhirnya dapat beradaptasi dengan cahaya.
"Where am I ?" tanya vampir itu. Ia berusaha untuk menggerakkan kedua tangannya tetapi kedua tangannya sudah diikat di kursi dengan menggunakan sebuah rantai yang terbuat dari silver dan telah di lumuri dengan vervain. Kedua kakinya juga telah diikat di kursi tempatnya terperangkap sekarang. Vampir itu mengerang kesakitan ketika dirasakannya vervain dari rantai tersebut mengenai kulitnya.
Oh yes, ada 6 hal yang dapat membunuh seorang vampire : matahari, vervain jika diberikan dengan dosis yang cukup tinggi, kayu tepat pada jantung mereka, fire, jika jantung mereka di ambil dari tubuhnya, dan jika kepala mereka ditebas. Silver dapat melemahkan mereka tetapi tidak cukup untuk membunuh mereka.
"What do you want ?" vampir itu berkata sambil berusaha untuk menahan rasa terbakar pada kulitnya yang terkena vervain.
"Simple," jawab Raven, tangan kanannya meraih pisaunya dari atas meja. "I'm going to ask you some questions and you are going to answer them honestly."
Vampir itu mengerang sekali lagi. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Sepertinya mereka sedang berada di salah satu gudang yang sudah ditinggalkan tidak terawat di Blanchard. Ia bahkan tidak yakin apakah mereka masih di Blanchard atau tidak. Ia tidak sadarkan diri ketika di bawa ke gudang itu. Perempuan di hadapannya menembak 2 peluru di dekat jantungnya dan kemudian mematahkan lehernya. Ini berarti bahwa sudah lama sejak ia tidak sadarkan diri karena walaupun ia dapat sembuh dengan cepat, leher yang patah agak sulit untuk sembuh. Mereka sedang berada di sebuah gudang yang sudah tua dan bau. Hanya ada sedikit lampu yang menyala namun lampu berada tepat di atasnya memiliki cahaya yang lebih terang dari lampu lainnya. Gudang itu kosong dan hanya berisikan sebuah kursi tempatnya ditahan sekarang dan sebuah meja kayu tua. Ada sebuah tas yang berisikan beberapa pistol dan pisau, botol air yang telah dicampurkan dengan vervain, korek api, dan beberapa wooden stake.
"First, what's your name ?" tanya Raven, jari-jarinya memutar-mutar pisaunya.
"Screw you."
Raven hanya mendesah.
"We can do this the hard way or the easy way," kata Raven. Ia berjalan perlahan mengitari vampir yang terperangkap itu. "Your choice."
"Screw you."
Raven memberikan seringaian khasnya sebelum menusukkan pisaunya ke paha kiri vampir itu. Sebuah teriakan terdengar dari sang vampir. Ia dapat merasakan kakinya serasa terbakar ketika pisau itu menancap pada pahanya.
"For your information, pisau ini terbuat dari silver asli dan memiliki ukiran yang terbuat dari serbuk kayu. So, if you don't want to die yet, then answer my goddamn questions," kata Raven pelan namun tajam.
"Screw you."
Mendengar jawaban dari vampir itu, Raven menarik pisaunya dari paha vampir itu dan menancapkannya di paha yang satunya. Vampir di hadapannya hanya berteriak kesakitan. Ia kemudian menatap perempuan di hadapannya dengan marah. Matanya yang tadinya berwarna biru tua sekarang berubah menjadi warna merah.
"Listen to me, you fool. My name does not matter," kata vampir itu sambil berusaha untuk mengatur nafasnya. "You want the truth ? I did not kill that woman. That's the truth."
"Then who killed her ?"
Vampir itu tertawa dingin. Ia menatap kedua mata hijau Raven dengan tajam.
"I'm guessing you're a hunter and you've done this a pretty long time because you know exactly what you're doing," kata vampir itu. "Tapi kau salah menangkap orang, hunter. Aku bukanlah vampir yang kau cari."
"Then tell me, who killed her ?" tanya Raven, suaranya dingin and void of all emotions.
"Another vampire," jawab vampir itu. "You don't have to worry about her because I've taken care of her."
"How do I know that you're not lying to me ? How can I trust your words ?"
Raven menyandarkan punggungnya di ujung meja kayu tua. Matanya memperhatikan vampir di hadapannya, berusaha untuk mencari tahu apakah ia dapat mempercayai vampir itu. Vampir di hadapannya kemudian tertawa hambar sekali lagi.
"You don't," katanya. "You can't trust anyone, but I assume you already know that."
"Listen to me, hunter. Something is going on. Something big is happening soon and it's not going to be pretty. There has been an increase to animal attacks and killings in these last few months. The vampires are blamed for all of these stuffs by you hunters. But I have looked into it and all of the attacks and killings are not done by vampires."
Raven hanya menatap vampir di hadapannya dengan dingin. Tangannya meraih sebuah stake dari dalam tas dan memutar-mutarnya di antara jari-jarinya.
"You know, aku bisa menghabisimu sekarang ini dengan mudah," kata Raven. "I can just drive this stake right through your heart and you'll be dead in seconds. And how do I know that you're not just making all of this up ?" Raven mengangkat bahunya. "Maybe this is just a trick so I'll let you go."
"Then kill me."
Raven hanya diam menatap kedua mata vampir di hadapannya yang kini sudah kembali menjadi biru tua. Ia sedang menimbang-nimbang opsi yang tersedia.
Kill him and call it a day ? Or let him live and use him to gather more information ?
Tetapi Raven sadar bahwa memang ada sesuatu fishy yang sedang terjadi. Belakangan ini berita mengenai strange deaths bertambah banyak. Setiap kali ia mencoba untuk mencari tahu lebih dalam lagi mengenai kematian-kematian tersebut yang ia dapatkan hanyalah jalan buntu. Ada sesuatu yang janggal dengan semua kematian-kematian itu. Seperti ada seseorang yang menutupinya dan menghilangkan semua jejak tanpa meninggalkan apapun.
"You have done this for a long time," kata vampir itu. "So tell me, why are the witches suddenly being silent right now ? They are usually the one that talks the most. Why are the werewolves nowhere to be seen right now ? It's like they all have gone into hiding because they know that something is coming. You know deep down in your bones that something is wrong. Because the witches are silent and the werewolves are nowhere to be seen, the vampires are being blame for all of the killings. The vampires are anxious because your people are coming after us. No, they have started slaughtering us. But we did not do it."
Raven menatap vampir di hadapannya seolah-olah ia sudah gila. Raven tertawa hambar sambil menatap vampir di hadapannya dengan tertarik.
"Now you're telling me that the werewolves are working together with the witches ?" kata Raven, sebuah senyuman terbentuk di bibirnya. "Please, do continue. Humor me."
"You don't get it, hunter," bentak vampir itu. Ia menatap kedua mata hijau Raven dengan serius. "Something is coming. Something big and powerful and ancient. No one is going to see it coming. But when it finally comes, we are all going to die."
Raven mendesah perlahan. Ia masih saja memainkan stake di tangannya.
"If you want to kill me, then do it," kata vampir itu. "But you have to listen to me. Something dark is coming and it's coming to kill us."
Raven hanya berjalan mendekati vampir itu. Ia menatap vampir itu dengan dingin.
"That's enough, you talk too much and it's making my head hurts."
Dengan sekali sentakan, Raven mematahkan leher vampir itu untuk kedua kalinya.
AUTHOR'S NOTE :
I am so sorry. I forgot to post this yesterday. I know that this is out of my posting schedule but I promised you guys a double update so I'm posting this today.
Please comment what you think about this chapter. Don't forget to vote and continue to read this story.
Have you seen Stranger Things Season 2 first look from the Superbowl ? I can't wait for the Season 2. Halloween is still a long way to go.
Anyway, thank you for reading this !
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top