chapter four
c h a p t e r f o u r
Suara erangan menyambut Raven ketika ia berjalan memasuki gudang gelap itu. Ia menatap vampir di hadapannya yang baru saja sadar. Tangan kanannya membawa sebuah kantong darah. Vampir di hadapannya hanya mengerang kesakitan.
"Morning sunshine," kata Raven sambil berjalan mendekati sang vampir. Ia melambaikan kantong darah tersebut di depan wajah sang vampir yang hanya menatapnya dingin.
"You snapped my neck," kata vampir itu dengan tenang dan dingin. Walaupu begitu, Raven tahu bahwa ada kemarahan yang tersembunyi di dalam kata-katanya.
Raven hanya mengangkat kedua bahunya. "You were babbling stuffs, making my head hurts," katanya.
"But it's the truth."
Raven hanya mendesah. Ia kembali melambaikan kantong darah tersebut di depan wajah sang vampir. "You hungry ?" tanyanya. "By the way, I took the chain off for a while, to speed your recovery. But I chained you back as soon as you seemed well enough. You must be hungry after everything."
Sang vampir hanya menatapnya dingin. Raven kembali medesah sambil menggelengkan kepalanya. Ia membuka tutup dari kantong darah tersebut dan mendekatkannya pada hidung sang vampir. Mencium bau darah yang sangat menggoda, mata vampir itu berubah menjadi warna merah. Ia menggeram mencoba untuk menahan kedua taringnya, mencoba menahan rasa laparnya.
"C'mon boy, show me your trueself, show me the predator you really are."
Sambil menggeram, kedua taring vampir itu keluar dari gusinya. Ia menarik nafas sambil menutup matanya, mencoba untuk menahan rasa lapar yang amat sangat. Membutuhkan tenaga yang banyak untuk menyembuhkan lehernya yang patah dan agar tangannya beserta kakinya tidak putus dengan vervain yang terus menerus mengenai kulitnya. Kulitnya terbakar ketika bersentuhan dengan vervain.
Raven menyeringai menatap vampir di hadapannya yang berusaha sangat keras untuk tidak lepas kendali. Ia kemudian menjauh dan berjalan menuju meja. Ia meraih sebuah gelas kecil dari dalam sebuah kantong belanjaan yang terletak di samping tasnya. Kemudian, ia menuangkan sebagian darah dari dalam kantong darah tersebut ke gelas kecil. Raven berjalan mendekati vampir di hadapannya yang masih berusaha untuk tidak lepas kendali.
"Here's how it's gonna go," kata Raven. "Everytime you answer my question I will give you a glass of this blood because even if you don't want to admit it, you are hungry. And if you didn't drink this blood, you won't last until tomorrow, especially when I intend to keep that chain on you."
Vampir tersebut hanya diam. Mata merahnya menatap ke segala arah, mencoba untuk menghindari menatap gelas yang di pegang Raven. Ia mengkatupkan mulutnya rapat-rapat, seolah-olah ia tidak ingin kedua taringnya terlihat.
"What's your name ?" tanya Raven. Kali ini suaranya tidak sedingin dan sekasar sebelumnya.
Ketika vampir dihadapannya tidak menjawab, Raven mendesah pelan. Ia kemudian berjalan mendekati vampir tersebut. Ia mendekatkan gelas yang berisi darah tersebut ke depan wajah vampir tersebut. Tetapi vampir itu hanya menatap kedua mata Raven dengan dingin.
"Fuck you," umpatnya.
Raven hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya. This vampire is so fucking stubborn. Tanpa berkata apa-apa, Raven berjalan menuju meja dan mengambil pistolnya. Ia kemudian menembakkan 2 peluru yang tebuat dari kayu ke kaki dan bahu vampir itu. Vampir itu menggeram menahan sakit.
"I'm trying to be hostile here, okay ?" kata Raven. "Jangan mempersulit keadaan."
"Kalian hunters semua sama saja," kata vampir itu pelan. "You shoot first, ask questions later."
"Wrong."
Raven kembali menyodorkan gelas yang ia pegang ke vampir itu yang hanya menatapnya dingin. Walaupun begitu, Raven tahu bahwa aroma dari darah itu akan menggoyahkan vampir itu sebentar lagi. Ia sudah bertemu banyak sekali vampir yang berusaha untuk tidak lepas kendali, tetapi semuanya sama saja pada akhirnya. Pada akhirnya, darahlah kelemahan mereka. Darah dapat membuat mereka menjadi makhluk terkuat yang tidak terkalahkan, tetapi darah juga dapat membuat mereka menjadi makhluk paling lemah yang pernah ada. Pada titik terpuncak kelaparan mereka hingga mereka berasa sedang dibakar dari dalam dan luar, pada saat itulah mereka menjadi makhluk paling lemah dan rentan.
"I'm trying to give you a chance here," kata Raven dengan pelan. "I'm not stupid. I can see that there's something fishy going on with you supernatural creatures. But you have to understand that I don't trust anyone easily especially your kind. So you have to proof yourself that you are trustworthy and I can try trusting you by answering my questions."
Sang vampir hanya menatap kedua mata Raven. Ia sedang menimbang-nimbang opsi yang dimilikinya. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat.
"Jonathan," kata vampir itu akhirnya. "Jonathan Parker."
Raven kemudian mendekatkan segelas darah yang ia pegang ke bibir vampir di hadapannya. Ia kemudian memiringkan gelas tersebut sehingga sang vampir yang kini dapat diidentifikasi sebagai Jonathan Parker dapat meminum darah dari gelas tersebut. Setelah Jonathan meminum habis darah dari gelas tersebut, Raven kembali berjalan menuju meja dan mengisi ulang darah ke gelas kecil tersebut.
"So, where's your nest ?" tanya Raven sambil berjalan mendekati Jonathan.
"Don't have one," jawab Jonathan sambil menggeleng kepalanya.
Mendengar perkataan dari vampir di hadapannya, Raven mengangkat satu alisnya. Vampir memang bukanlah makhluk yang terkenal dengan keramah-tamahannya tetapi seperti para werewolves yang memiliki pack, seorang vampir juga memiliki kawanannya.
Biasanya seorang vampir akan menjadi anggota sebuah kelompok berisikan vampir-vampir lainnya dan mereka akan tinggal bersama di sebuah tempat untuk dijadikan sarang. Vampir-vampir tersebut bukan hanya manjadi lebih kuat, tetapi hubungan vampir-vampir yang terdapat pada kelompok tersebut akan menjadi semakin dekat. Mereka akan merasakan suatu solidaritas dan kebersamaan serta loyalitas tertentu, a bond kind of like a family, except it is consists of murderers and predators. These group of vampires are just like werewolves with their packs. Ada beberapa vampir yang memilih untuk tidak mengikuti kelompok-kelompok tersebut dengan berbagai macam alasan tertentu. Even though they are strong, but together, they are so much stronger.
"So what ? You're a rogue ?" tanya Raven sambil kembali mendekatkan gelas yang berisi darah tersebut ke bibir Jonathan yang meminum habis darah tersebut dengan sedikit rakus.
Even though they try so hard to keep themselves under control, their bloodlust will overpower their mind and humanity.
Jonathan hanya menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menghabiskan segelas darah lagi dengan cepat. Ia merasa sangat haus dan darah yang diberikan kepadanya sangatlah sedikit.
"How do you know that the vampires aren't behind the killings ?" tanya Raven dengan segelas darah lagi di tangannya.
Sebelum Jonathan dapat menjawab, sebuah peluru tiba-tiba melesat dari seberang gudang tua itu dan mengenai bahu perempuan di hadapannya. Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Namun sepertinya perempuan yang menangkapnya sudah dilatih untuk selalu siap dalam keadaan apapun. Sang hunter hanya tersentak kaget dan menggeram ketika rasa sakit dari peluru yang mengenai bahunya menyerangnya. Tetapi ia dengan cepat pulih dan ia segera mengambil sebuah pistol dari atas meja. Ia mengarahkan pistol tersebut ke arah datangnya peluru yang tadi mengenainya. Kedua lengannya mengangkat pistol tersebut dengan tegap.
Sementara itu Jonatahan hanya menatap kejadian tersebut dengan kaget.
"Whoever you are, I know you are here," kata Raven dengan tenang. "Come out and play."
Kesunyian menjawab tantangan Raven. Namun tak lama kemudian sebuah peluru melesat menuju Raven dengan sangat cepat. Peluru itu melesat melewati kepala Raven, hanya beberapa centimeter dari kepalanya. Raven dengan segera menembak beberapa kali ke arah datangnya peluru. Kesunyian kemudian menyelimuti gudang itu.
Seseorang tiba-tiba berjalan dari seberang gedung sambil menembakkan beberapa peluru ke arah Raven. Raven dengan segera membalikkan meja tua tersebut, menggunakannya sebagai pelindung dari peluru-peluru yang terus menerus menghujaninya. Raven kemudian berlutut di balik meja tersebut sambil menembakkan beberapa peluru ke arah orang tersebut. Tetapi di tengah peluru yang terus menghujaninya, Raven kesuliant untuk menembak tepat sasaran.
"Free me from this chains !" teriak Jonathan di tengah-tengah aksi tembak-menembak yang sedang terjadi. "I can help you !" teriaknya lagi.
"Shut up !" teriak Raven sambil mengisi kembali pistolnya yang sudah kehabisan peluru.
Jonathan mencoba untuk melepaskan rantai tersebut dari tangannya tetapi yang ada justru vervain yang terdapat di rantai tersebut semakin mengenai kulitnya. Jonathan mendesis ketika ia merasakan rasa sakit yang amat sangat dari tangannya.
Orang yang menembak Raven adalah seorang perempuan yang berusia beberapa tahun lebih tua dari Raven. Perempuan itu memiliki rambut pendek blonde dan matanya yang berwarna hijau menatap targetnya dengan kosong. Seperti sebuah robot yang sedang menjalankan tugasnya. Perempuan terus menembakkan pistolnya ke arah Raven. Ketika pistolnya akhirnya kehabisan peluru, perempuan tersebut hanya melemparkan pistolnya ke tanah dan berlari menuju Raven. Raven yang melihat adanya kesempatan dengan segera menembakkan beberapa peluru ke arah perempuan tersebut. Tetapi perempuan tersebut dengan sigap menghindari setiap tembakannya.
Perempuan tersebut menendang perut Raven tetapi Raven menghindar dari serangannya. Raven dengan segera melemparkan pistolnya ke tanah dan beralih menyerang perempuan di hadapannya. Ia melayangkan tinjunya ke wajah perempuan tersebut tetapi serangannya dihindar. Raven kemudian melayangkan sebuah tendangan ke perut perempuan itu ketika ia sedang menghindari dari pukulan Raven. Perempuan itu terhuyung ke belakang sedikit tetapi ia pulih dengan cepat. Ia kemudian melayangkan pukulan ke perut dan wajah Raven. Raven mencoba menghindari serangan perempuan tersebut tetapi tidak berhasil. Alhasil Raven terjatuh. Ketika perempuan di hadapannya hendak memukulnya lagi, Raven dengan cepat mengambil pistol yang tadi ia jatuhkan dan menembakkan beberapa peluru ke arah kaki dan perut perempuan tersebut. Perempuan tersebut akhirnya terhuyung ke belakang dan terjatuh.
"What do you want ?" tanya Raven.
Tetapi perempuan tersebut hanya menyeringai. Ia kemudian bangkit dan berusaha untuk menendang Raven tetapi Raven berhasil menghindar dan membalas tendangan perempuan tersebut. Perempuan itu jatuh terjerembab di lantai. Raven kemudian menarik rambut perempuan itu dan memaksanya untuk berlutut. Sementara itu perempuan tersebut meludahkan darah ke lantai. Darah segar mengalir dari luka tembakan perempuan itu. Wajahnya pun memar-memar dan hidungnya mengeluarkan darah. Perempuan itu hanya menyeringai menatap mata Raven yang memandangnya dingin. Raven kembali mengokang pistolnya dan mengarahkannya ke kepala perempuan itu.
"Wait !" seru Jonathan. "She might know something about what's going on."
Tetapi Raven tidak pernah melepaskan pandangan dinginnya dari kedua mata hijau perempuan itu. Karena ia tahu, perempuan itu tidak ada hubungannya dengan dunia supranatural yang dihadapinya sekarang. Tidak, perempuan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan vampires, werewolves, witches, or even demons. Ia tahu ini karena ia pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Walaupun ia tidak pernah mengenal perempuan di hadapannya ini tetapi ia pernah melihatnya sebelumnya. Ia pernah melihatnya berkelahi.
"Any last words ?" tanya Raven dengan dingin.
"Wait ! Wait !" seru Jonathan yang masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari rantai-rantai yang membelenggu dirinya. Ia dapat merasakan kulitnya terbakar karena vervain yang semakin mengenai kulitnya. Namun seberapa kuat ia berusaha untuk lepas dari rantai tersebut, vervain yang ada di rantai itu menahannya dan melemahkannya. "You don't have to kill her," katanya.
Tetapi Raven hanya menatap perempuan di hadapannya dengan dingin.
"Your father said hello," kata perempuan itu sebelum suara tembakan menggema di gudang tua itu.
AUTHOR'S NOTE :
Hello guys !
I'm so sorry that I just post this now. I kind of have a writer's block when writing this chapter.
Please comment, vote and be a faithful reader. Tell me what you think of this chapter.
Thank you !
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top