FOUR
Lovely song :
Way back home by Shaun 😍
Sedaritadi senyum Darren tidak henti-hentinya menghias wajahnya sehingga dia tampak sumringah. Apa yang dirasakannya sudah tercetak jelas di wajahnya yang memberikan ekspresi seperti orang tolol. Itu sudah pasti.
Jika dibilang pria gampangan juga tidak masalah baginya. Hanya karena sudah melakukan ritual seks panas dengan mantan kekasihnya yang kini bukanlah anak remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, hal itu saja sudah membuatnya kesenangan.
Saat ini dirinya sedang menjalani peran sebagai seorang pria selingan merangkap pengawal pribadi yang bahkan rela membawakan tas bawaan beserta koper milik Patricia. Apakah dia terlalu hina sampai harus merendahkan diri seperti itu? Tidak apa-apa, katanya lagi. Merendahkan diri saat ini adalah langkah awal untuk menaikkan mutu dirinya.
Berbekal kepercayaan dirinya yang sudah tidak ada batasnya itu, dia masih yakin kalau Patricia masih menaruh perasaan padanya. Apalagi ketika dia mencapai orgasmenya dan berteriak memanggil namanya. Sungguh itu sangat memuaskannya. Bahkan hanya dengan mengingat hal itu saja sudah membuat kejantanannya menegang di balik celana jeansnya.
“Aku tidak percaya kalau suhu udara disini bisa sedingin ini.” gumam Patricia dengan suara gemetar sambil berusaha mengambil kopernya dari troli yang dibawa Darren.
“Kau mau apa?” tanya Darren bingung.
“Mencari mantelku. Aku ingin memakainya dan sweater ini tidak bisa menahan hawa dingin yang terasa menusuk di kulitku.” jawab Patricia yang kembali ingin mengambil alih kopernya tapi langsung dihalangi Darren.
Patricia mendesis geram ketika Darren mulai melepas jaket kulitnya dan memakaikannya pada Patricia.
“Hey, kau tidak perlu memakaikan jaketmu padaku.” seru Patricia sambil menolak jaketnya tapi Darren sudah lebih dulu merapatkan jaket itu pada tubuhnya.
Jaket kulit itu terlihat kebesaran di tubuh Patricia yang langsing. Darren tersenyum karena mendapati bagaimana wanita itu terlihat begitu cute mengenakan jaketnya.
“Tentu saja perlu karena aku ingin kau merasa hangat. Jarak rumah sewa yang kau berikan alamatnya itu kurang lebih memakan waktu sampai dua jam dari bandara. Jaketku ini cukup tebal dan hangat, pakailah.” ujar Darren hangat.
“Lalu kau memakai apa?” tanya Patricia heran.
Darren tertawa pelan sambil merangkul bahu Patricia dengan mantap dan mendorong troli bagasi mereka. “Kau bisa menghangatkanku seperti ini. Atau kalau kau mau, aku ingin kau memelukku sepanjang perjalanan.”
Patricia langsung meringis jijik dan meliriknya dengan sinis. I love that devilish manner, batin Darren senang. Dia terlihat luar biasa dengan sikap sinisnya yang malah membuat Darren menjadi semakin mengaguminya.
“Jangan mencari-cari kesempatan yang tidak akan kau dapatkan, Darren. Aku sudah bilang aku tidak mau terlibat dalam hubungan apapun denganmu.”ujar Patricia dengan tegas.
“Tidak masalah. Selama aku bisa bersamamu seperti sekarang rasanya itu menyenangkan. Mungkin saja nanti kau akan terbiasa denganku dan berharap lebih.” balas Darren dengan penuh percaya diri.
“Kenapa sih kau berubah menjadi pemaksa? Bukankah kau itu selalu santai dalam hal apapun dan terkesan masa bodo terhadap hubungan? Kau bisa memakai selusin wanita sekaligus seperti biasanya ketika berkumpul bersama para bawahan sepertimu.” cetus Patricia dengan nada pedas.
Darren tersenyum dan menghentikan langkahnya lalu menarik Patricia agar bisa menatap kearahnya. Senyum itu masih ada di wajahnya hanya saja tidak terkesan ramah melainkan ancaman. Dia memaklumi jika Patricia membencinya karena masih tidak terima dirinya memutuskan hubungan mereka secara sepihak dulu, tapi itu bukan berarti wanita itu boleh merendahkan teman-temannya.
“Kau boleh menghinaku atau bahkan menganggapku sampah tapi tidak teman-temanku.” ucap Darren dengan datar. “Kami berkumpul bukan untuk melakukan hal yang kau bilang barusan. Aku akui kalau kami memang bajingan tapi kami masih memiliki perasaan jika orang lain meremehkan pekerjaan kami dan kedudukan kami sebagai orang bawah direndahkan seperti ini. Kami jauh lebih bermartabat karena melakukan sesuatu yang benar atas perintah pemimpin kami.”
Patricia bungkam. Dia terlihat menyesal setiap kali melumat bibirnya dan tampak mengerjap cemas.
“Jika kau hanya ingin merendahkanku, silahkan. Tapi tidak kepada oranglain karena yang menyakitimu adalah aku, bukan mereka.” tambah Darren sambil meraih troli bagasinya dan mendorongnya untuk memulai berjalan keluar dari terminal kedatangan bandara itu.
Dia berjalan lebih dulu dan membiarkan Patricia di belakangnya dengan pikiran yang sudah mengembara.
Patricia yang dikenalinya adalah wanita yang memiliki kebaikan hati dan menghargai sesama, dia bahkan selalu menghampiri pengemis yang duduk di pinggir jalan dengan membawa satu kantong plastik besar berisi makanan lalu mengajak pengemis itu makan bersama disitu.
Dia yang akan marah jika ayahnya memarahi salah satu pekerja kebun hanya karena urusan sepele. Dia pun sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan akan memperjuangkannya jika ketidakadilan terjadi di hadapannya.
Makanya Darren sama sekali tidak heran jika Patricia gigih dalam melanjutkan pendidikannya dengan nilai memuaskan dan mengejar impiannya menjadi seorang diplomat yang mewakili negaranya. Tapi sekarang? Hanya karena rasa bencinya pada Darren, dia mengeluarkan ucapan yang begitu kasar dan merendahkan.
Dia merasa tidak nyaman dengan akibat yang dia sebabkan sampai membuat Patricia menjadi pribadi yang seperti itu karena itu bukan dirinya.
Ketika dia sudah tiba pada lobby bandara itu, dia sudah melihat seseorang yang sudah berdiri di samping mobil SUV pesanannya. Dia melempar tatapan kearah orang itu dan segera mengoper troli bagasinya kepadanya agar dimasukkan ke dalam bagasi mobil itu. Orang itu mengoper kartu kunci mobil padanya dan dia segera masuk ke dalam kursi kemudi.
Ketika mesin kemudi sudah dijalankan dan koper yang sudah dimasukkan ke dalam bagasi, Darren tidak langsung menjalankan kemudinya karena dia menatap tajam kearah Patricia yang sedang duduk di kursi belakang dari kaca spionnya.
“Kenapa kau diam saja? Jalankan mobil ini.” perintah Patricia dengan lantang.
“Aku tidak akan menjalankan mobil ini jika kau tidak pindah duduk di sampingku.” balas Darren datar.
“Bukankah tugasmu memang menyetir dan membawa kemanapun majikanmu suruh? Kenapa...”
“Aku hanya menjalankan perintah dari sir Petra, bukan kau!” sela Darren sambil menggeram pelan.
“Dan kakakku menyuruhmu untuk menemaniku sekaligus melindungiku selama aku berada disini.” tukas Patricia dengan nada tidak mau tahu.
“Itu berarti aku bukan supirmu! Tugasku menemanimu dan melindungimu yang berarti kau harus mengikuti apa yang kukatakan agar kau aman.” ucap Darren langsung.
Patricia mengerang kesal dan menatap Darren dengan tatapan sengit. “Apa sih maumu?”
“Mauku adalah kau pindah duduk di depan karena aku bukan supirmu.” jawab Darren.
“Aku tidak mau!” celetuk Patricia keras kepala.
“Kau tidak mau?” balas Darren dengan alis terangkat setengah.
“Tidak!”
Darren mengerjap lalu mengangguk paham dan segera bertindak cepat untuk menyelesaikan urusan kecil ini tanpa perlu membuang waktu terlalu lama. Jika wanita itu tetap mempertahankan sikap keras kepalanya, maka tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain menunjukkan otoritasnya. Jika dia berada di negara wanita itu, dia merasa perlu tunduk pada aturan yang ditetapkan. Tapi disini, aturan itu tidak terpakai lagi.
Tanpa berkata apa-apa, Darren memundurkan kursinya sampai batas terjauh dan segera mencekal lengan Patricia dengan erat lalu menarik tubuh wanita itu ke atas pangkuannya.
“What the hell! Get off me!” desis Patricia yang langsung memberontak dengan melayangkan tangannya kearah wajah Darren tapi dengan cepat Darren menahannya.
Kedua tangan Patricia dicengkeram erat Darren lalu melingkari tubuh wanita itu dengan tubuh besarnya sambil dia mengarahkan bibirnya pada telinga Patricia.
“Jangan memberontak karena ada yang mengawasi kita.” bisik Darren dengan suara rendah dan mata yang berkilat tajam.
Patricia menggeram sambil menatapnya sinis. “Bilang saja kau mencari-cari alasan untuk hmmmpphhh...”
Darren membungkam bibir lancang itu dengan menciumnya dan melahap bibir itu dengan rakus sambil mempererat dekapannya dimana Patricia yang terduduk diatas pangkuannya.
Jika dilihat dari depan, mereka tampak seperti pasangan baru yang sedang asik bercumbu dan tidak ingin diganggu. Padahal saat ini Patricia berusaha keras untuk keluar dari dekapan Darren dimana pria itu semakin mengeratkan dekapannya agar wanita itu tidak bisa menggeliat.
Patricia yang tidak bisa diam diatas pangkuannya membuat Darren merasakan liukan bokong wanita itu bergerak gelisah dan seakan-akan menggoda dirinya untuk menegang begitu saja. Hal itu membuatnya memperdalam ciumannya dengan memainkan lidahnya yang terlatih untuk menguasai rongga mulut wanita itu yang perlahan menyerah untuk memberontak tetapi mulai menikmati ciumannya.
Patricia mulai melemah dan tidak lagi memberontak. Wanita itu yang tadinya menggeram kini mengerang pelan dan mengikuti gerakan mulutnya lalu membalas ciumannya dengan saling bertukar lidah. Seperti itu. Dan ciuman itu masih terjadi selama beberapa saat sampai akhirnya mereka sama-sama menarik diri untuk bernafas.
Keduanya bernafas dengan terengah-engah dan saling bertatapan dalam diam. Darren melonggarkan dekapannya lalu melirik sekilas kearah luar untuk memperhatikan seseorang yang dicurigainya sejak dirinya sudah mencapai lobby bandara ini.
Patricia pun menunduk dan mengikuti arah tatapan Darren sambil memicingkan matanya lalu kembali menatap Darren.
“Kau hanya cukup bilang padaku kalau ada yang mencurigakan tanpa perlu bertindak konyol seperti tadi.” tegur Patricia sambil melepas kedua tangan Darren yang melingkar di pinggangnya lalu berpindah pada kursi penumpang di sampingnya.
Darren memberikan senyuman tipis kearahnya. “Kalau tidak begitu, aku tidak akan mendapatkan ciuman liar seperti barusan. Lihat apa yang kau lakukan padaku sekarang.”
Patricia menoleh kearahnya lalu tatapannya menunduk melihat ketegangan yang terlihat jelas di balik celana jeansnya sambil menyeringai. “Apa kau sudah terlalu lama tidak merasakan bokong wanita diatas pangkuanmu?”
“Tidak juga. Sekitar semenit yang lalu ada bokong indah menggeliat gelisah diatas pangkuanku.” balas Darren santai sambil memindahkan gigi dan melajukan kemudinya untuk keluar dari area lobby bandara.
Sorot matanya melirik tajam kearah kaca spion yang ada di samping kanannya dan mendapati kesan bahwa sepertinya mereka diikuti.
“Sebenarnya siapa orang yang mengikuti kita? Setahuku Eagle Eye tidak memiliki musuh di area Eropa Utara dan negara ini tidak masuk di dalamnya.” ucap Patricia dengan alis berkerut mengawasi sebuah sedan berwarna hitam mengikuti mereka.
“Apa kau yakin kalau seorang diplomat bermulut tajam sepertimu tidak memiliki musuh?” balas Darren yang mulai memainkan laju kendaraannya dengan sedikit cepat dan meliukkannya dengan menyalip kendaraan lain.
“Kebanyakan tidak ada yang percaya kalau aku adalah seorang diplomat dan lebih peecaya kalau aku adalah wanita penggoda.” sahut Patricia enteng.
Darren langsung menoleh kearahnya. “Jadi, semua pria banyak yang menggodamu dan berusaha mendekatimu? Wow! Aku kuatir kalau mereka akan kehilangan jari-jari tangannya atau bahkan kemaluannya.”
Patricia terkekeh geli sambil mengangkat bahu dengan santai. “Tidak juga. Hanya beberapa. Biasalah. Jika mereka tidak mendengarkan peringatan maka itulah yang akan mereka dapatkan.”
Darren meringis ngilu membayangkan hal itu terjadi dengannya sambil memainkan kemudinya ke kanan dan ke kiri untuk menghalangi mobil yang mengikutinya.
“Mau sampai kapan kau membuang waktu seperti itu?” tanya Patricia sambil memutar bola matanya.
“Salahkan dirimu yang lebih memilih penerbangan komersil sehingga aku tidak bisa membawa senjataku untuk membidik sih pengemudi karena pengecekan yang begitu ketat di bandara.” jawab Darren yang masih fokus menyetir dengan tatapan waspada kearah belakang.
Apakah tidak keterlaluan jika dia baru saja tiba dan langsung mendapatkan urusan seperti ini? Dia yang harus mengebut karena ada yang mengejar mereka dengan maksud yang masih diragukan olehnya.
Patricia pun melepas sabuk pengamannya dan mulai melepas jaket kulit miliknya, sweaternya, t-shirtnya lalu... astaga! Untuk apa wanita itu melepas pakaiannya?
“Really? Kau ingin menggodaku di saat seperti ini?” tanya Darren tidak percaya sambil melirik gelisah kearah Patricia yang sudah melepas kaitan branya.
“Otak pria hanya bisanya berpikiran kotor ketika melihat wanita membuka pakaian, tanpa berpikir untuk mencurigai mereka kenapa dengan mudahnya dia membuka pakaiannya.” ujar Patricia yang dengan santai melepas branya dan melakukan sesuatu pada bra itu.
Darren menahan nafas melihat sepasang payudara yang mengayun lembut ketika mobil itu bergerak, bahkan dia melihat tubuh Patricia meremang dengan puting yang menegang.
“Shit, Petal! Pakai bajumu, kau akan kedinginan!” umpat Darren dengan rahang mengetat ketika mobil belakang mulai semakin mendekat padanya dan pengalihan perhatian berupa wanita setengah telanjang disampingnya.
Patricia mengabaikan umpatan Darren dengan mengeluarkan alat kecil dari push up bra-nya yang berbentuk seperti peluru. Masing-masing sisi bra terselip satu buah alat itu dan kemudian Patricia melempar branya ke kursi belakang dengan sembarangan.
“For Godsake, put your clothes on, Petal!” desis Darren dengan geraman.
Patricia memutar bola matanya dan mulai mengenakan t-shirtnya tanpa bra, lalu sweaternya dan mengabaikan jaket kulit miliknya. Dia kembali bekerja untuk mengambil sesuatu dari dalam tas tangannya.
“Apalagi yang kau bawa? Apakah kau selalu bersikap mustahil seperti itu?” seru Darren sambil menginjak pedal gas dalam-dalam untuk mendahului mobil yang baru saja sudah menghantam kasar sisi belakang mobilnya. Shit!

Patricia mengeluarkan sebuah lipstick dari pouch kosmetiknya dan membuka tutup lipstik lalu... astaga! Kenapa lipstick itu bisa berubah menjadi alat yang menyerupai sebuah pistol?
Patricia pun memasukkan dua buah peluru yang diselipkan dalam branya tadi ke dalam pistol lipstick itu dan terlihat sudah siap untuk menembak.
“Jangan terlalu kaget, sayang. Wanita jauh lebih hebat daripada pria, akuilah itu. Dan inilah yang kubilang soal kakakku yang membuang-buang uangnya untuk membayar gajimu karena kehadiranmu sama sekali tidak diperlukan.” balas Patricia dengan senyum yang meremehkan.
“Tetap saja dua peluru itu tidak akan bisa melumpuhkan keparat yang sedang mengejar kita” sahut Darren sambil membanting setirnya ke kanan untuk mengarahkan kemudinya kearah sisi jalan tebing yang curam.
“Apakah atap mobil ini bisa kau buka?” tanya Patricia sambil bergerak untuk mengambil posisi.
“Untuk apa?”
“Untuk menutup mulutmu soal dua peluru tidak cukup untuk melumpuhkan mobil sialan itu” jawab Patricia angkuh.
Darren menekan sebuah tombol yang ada di sisi kanannya dan atap mobil pun terbuka diatasnya. Patricia pun segera beranjak untuk mengarahkan tubuhnya kearah belakang sambil berdiri diatas kursi.
“Hati-hati” seru Darren dan Patricia hanya melengos saja.
Ketika Patricia sudah berdiri diantara atap mobil terbuka dengan posisinya yang mengarah ke belakang untuk menghadap mobil itu yang semakin mendekat.
Tanpa ragu, Patricia membidik dengan mata yang menyipit tajam dan dia menembak kearah dua sisi kanan dan kiri pada spion mobil itu lalu dia kembali duduk di kursinya.
“Injak pedal gasmu dan naik pada kecepatan maksimal. Sekarang!” perintah Patricia sambil mengeluarkan bedak padatnya dari pouchnya.

Darren melakukan apa yang disuruhnya tanpa perlu protes terhadap ucapan Patricia dengan kecepatan diatas rata-rata hingga posisi mereka mulai menjauh dari mobil itu dengan cepat. Dan ketika Patricia mencongkel sisi bedaknya kuku jarinya dan meretakkan isi bedak itu, disitu terjadi ledakan hebat yang berasal dari mobil itu.
Mata Darren melebar melihat apa yang terjadi di belakangnya lalu menoleh kearah Patricia yang sudah menyeringai puas terhadap hasil kerjanya.
“Wow” ucap Darren dengan takjub.
“I told ya” balas Patricia sambil membuang alat kosmetik yang dipakainya tadi keluar jendela.
“Aku tidak tahu apa yang mengintai kita tapi ada baiknya jangan menuju ke rumah sewa yang kau inginkan sekarang. Sepertinya kedatanganmu kali ini memicu pihak yang tidak senang dan berniat untuk menghalangimu.” tukas Darren dengan pikiran berkecamuk.
“Eagle Eye tidak memiliki base camp disini dan aku tidak yakin kalau kedatanganku memicu ketidaksukaan dari pihak lain. Aku datang sebagai turis.” ucap Patricia kemudian.
“Tentu saja penyamaran kedatanganmu sebagai turis akan menjadi sebuah kecurigaan. Mereka pasti mengecek setiap data penumpang dengan detail.” balas Darren sambil membelokkan kemudi untuk memasuki jalan panjang dengan satu jalur mengarah kearah perbukitan.
“Masuk diakal tapi aku masih tidak yakin. Memangnya siapa yang akan mengecek diriku? Bukan hanya aku yang menjadi penumpang pesawat airbus yang kita tumpangi tadi dan menurutku itu semacam kebetulan yang disengaja. Sekali lagi, tidak ada jangkauan Eagle Eye disini dan negara ini bersih dari organisasi kriminal. Aku yakin itu karena aku sudah melakukan riset sebelum kesini.” ucap Patricia dengan lugas.
“Masuk akal. Tapi tetap saja kita harus mencari tempat baru dan bukan rumah yang kau sewa itu.” sahut Darren lagi dan dia menepi ke pinggir jalan yang sepi tanpa adanya pengendara selain mereka.
“Maksudmu kita tinggal di pinggir jalan? Yang benar saja! Apa kau gila?” seru Patricia kaget dan dia memekik ketika Darren tahu-tahu sudah mencondongkan tubuhnya, mendorong bahu Patricia agar bersandar di kursinya dan mencium bibirnya dengan nafsu yang tertahan sedaritadi.
“Mmmm... kau benar-benar membuatku bergairah sedaritadi dengan aksi hebatmu tadi...” ucap Darren sambil asik melumat bibir wanita itu dan tangan yang sudah merayap diatas tubuhnya dengan meremas lembut payudaranya dari balik pakaian tanpa bra yang dikenakannya itu.
“Apakah setiap apa yang kulakukan selalu membuatmu seperti ini?” balas Patricia sambil membalas ciumannya tanpa menolak sedikitpun. Hmmm...
Darren menyeringai dan menjilati bibir Patricia dengan gemas. “Aku bahkan ingin menyetubuhimu sekarang juga tapi mobil ini terlalu sempit dan aku tidak suka kalau ada yang menginterupsi keasikanku.”
“Lalu kenapa kau menciumku sekarang?” tanya Patricia dengan desahan pelan saat Darren meremas dan memainkan putingnya dengan gemas.
“Karena aku membutuhkan kekuatan ekstra untuk mengemudi.” jawab Darren pelan lalu menyudahi ciumannya dan menarik sentuhannya dengan enggan.
Patricia menarik nafas dan mengerjap dengan wajahnya yang merona. “Aku heran kenapa kau semakin lancang untuk mencium dan menyentuhku.”
“Kau tidak menolak.” balas Darren dengan seulas senyuman hangat.
“Karena aku suka dengan ciumanmu dan sentuhanmu.” sahut Patricia tanpa ragu. “Sebagai seorang pria selingan, kau cukup memuaskan dan tidak ada salahnya mengambil sebuah keuntungan dari bodyguard sepertimu.”
Darren mengangkat alisnya dan senyumannya semakin melebar. Dia sangat senang mendengarnya. Well...
“Dengan senang hati aku akan memuaskanmu, Petal.” ucap Darren sambil mengecup kening Patricia dan kembali melajukan kemudinya. “Kita akan menuju ke sebuah desa dan aku janji kalau aku tidak akan menyia-nyiakan waktu sedetik pun untuk kebersamaan ini. Kau tahu jelas apa maksudku.”
Patricia tertawa meremehkan. “Jangan terlalu percaya diri, sayang. Aku kuatir kalau kau yang akan semakin jatuh padaku dan tidak bisa lepas dariku.”
“Lepas darimu? Justru sebaliknya, kau yang tidak akan lepas dariku sekalipun kau ingin melepaskan diri dariku jika sudah masuk ke dalam duniaku, Petal.” tukas Darren dengan senyuman setengahnya yang dingin.
Karena sepertinya hal-hal yang tidak menyenangkan akan datang untuk mengusiknya sehingga dia harus kerepotan nantinya. Namun Darren sama sekali tidak takut karena dirinya sudah cukup siap untuk memberikan perlindungan kepada Patricia seperti yang sudah dia janjikan kepada Petra.
■■■■■
23.09 PM, January 12th 2019
Ulalala....
Sudah babang katakan untuk jangan rindu tapi qm masih saja nakal.
Berat kan? Sukurin!
Babang meminta bantuan authormu untuk ide adegan action part ini soal yang pake lipstick sama bedak sebagai senjata. Keren yah dia?
Babang nggak sempet balas komen tapi tetap dibaca kalo sempat.
Soalnya sibuk cari nafkah buat halalin anak orang tapi kebingungan mana yang mau dihalalin dulu 😎


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top