Chapter 3
"Kamu tahu persamaan antara kamu dan tanggal merah? Iya, kalian sama-sama aku harapkan."
***
"Kak Rangga!"
Rangga yang baru saja akan memasuki kelasnya langsung berhenti saat mendengar ada yang memanggil. Saat menoleh ke belakang, ia mendapati Kayla yang sedang menatap intens ke arahnya.
"Apa?" tanya Rangga to the point.
Kayla menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. Sedikit takut ditatap begitu tajam oleh seseorang yang dia sukai. "Em ... anu, aku mau minta maaf soal kemarin. Gara-gara aku, Kakak jadi terluka."
Rangga menaikkan sebelah alisnya. "Gara-gara lo?"
Kayla mengangguk. "I-iya. Kalau aja Kak Rangga nggak ngelihatin aku, pasti Kak Rangga nggak bakal—"
"Stop, stop. Geer banget lo. Siapa juga yang ngelihatin? Jangan kebanyakan nonton drama korea. Jadi halu kan lo," semprot Rangga sebelum Kayla benar-benar menyelesaikan kalimatnya.
Seketika Kayla merasa hatinya tercubit. Namun, hanya sebentar. Karena pada detik berikutnya, ia tersenyum begitu lebar. Hal itu mengundang tatapan ngeri dari Rangga. Sepertinya, gadis itu betul-betul gila, pikirnya.
"Nggak usah ngelak Kak Rangga. Kita tuh udah terikat batin. Jadi, aku bisa rasa apa yang Kak Rangga rasain," sahut Kayla diakhiri dengan kekehannya.
"Bucin. Nggak sudi gue terikat batin sama lo. Sana deh pergi, ganggu aja," usir Rangga sambil mendorong-dorong bahu Kayla agar menjauh darinya.
Kayla mengerucutkan bibirnya tak suka. "Kasar banget. Maafin dulu, Kak. Baru deh Kayla pergi."
"Ogah!"
"Ya udah kalau nggak mau, Kayla nangis nih," ancam Kayla.
"Bodo amat."
Setelah itu, Rangga langsung masuk ke kelasnya. Dan, Rangga harus mengelus dadanya sabar saat menyadari Kayla masih setia membuntutinya seperti seekor anak kucing yang mengikuti induknya.
"Lo ngapain sih ngintilin gue? Pergi, nggak?" usir Rangga dengan tatapan tajamnya. Sungguh, ia sangat dongkol dengan sikap Kayla yang keras kepala.
"Maafin dulu, baru Kayla pergi."
"Ogah!"
"Maafin, Kak."
"Nggak peduli."
Kayla tidak mau kalah. "Ya udah, kalau gitu Kayla bakal tetep di sini sampai Kak Rangga maafin Kayla," putusnya.
Ya Tuhan, ingin sekali rasanya Rangga menenggelamkan gadis pendek itu ke dalam kolam yang berada di dekat aula. "Nyusahin ya lo."
"Biarin."
Satu per satu teman sekelas Rangga mulai memasuki kelas. Rangga semakin geram saat Kayla sama sekali belum beranjak dari hadapannya.
"Ya udah, ya udah, gue maafin. Sekarang, cepet pergi dari sini," ucap Rangga pada akhirnya.
Seulas senyum manis terbit dari bibir Kayla. Gadis itu melompat-lompat saking girangnya. "Nah, gitu dong dari tadi. Ya udah, Kayla ke kelas dulu, ya. Bye ... Kak Rangga, jangan kangen, ya."
Setelah Kayla benar-benar pergi, Rangga terus saja mengumpat. Rangga merasa hidupnya benar-benar tidak tenang setelah hadirnya Kayla. Gadis tengil nan menyebalkan itu terus saja menghantuinya di mana pun ia berada. Setelah dipikir-pikir, Rangga jadi menyesal telah menolong Kayla di hari pertama mereka bertemu.
Masih dengan suasana hati yang dongkol, Rangga membuka tasnya dan mengeluarkan buku fisika. Sepuluh menit lagi bel jam pelajaran pertama akan segera berbunyi. Tetapi, ketiga temannya belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Ini tiga bocah pada ke mana, sih? Tumben jam segini belum pada datang," gumamnya.
Rangga menoleh ke sebelah kirinya, yaitu Samuel. "Sam, tadi lo ketemu Iqbal, Ken sama Fikri, nggak?"
"Tadi sih kalau nggak salah liat mereka lagi pada nongkrong di pinggir lapangan," jawab Samuel seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Rangga hanya ber-oh ria.
Tepat pada saat bel berbunyi, barulah ketiga orang tersebut muncul dari ambang pintu. Sesekali mereka tertawa, entah apa yang mereka bicarakan.
"Dari mana aja kalian?" tanya Rangga langsung.
"Itu Ga, si Fikri minta ditemenin nongkrong godain adik kelas yang lewat," sahut Iqbal.
Fikri tak terima dengan jawaban Iqbal. "Enak aja, itu juga saran dari lo ya, Bal," elaknya.
"Yeee, terus kenapa lo mau waktu gue ajak?" ucap Iqbal telak.
Fikri mendesis kesal. "Ya daripada jadi kambing congek di depan Ken sama dedek manis," alibinya.
"Siapa tuh dedek manis?" tanya Rangga dengan kening berkerut.
"Si Kayla, Ga. Kan dia emang manis," timpal Iqbal.
"Cewek kayak gitu dibilang manis," cibir Rangga.
"Jangan gitu Ga, jatuh cinta tau rasa lo," sahut Ken setelah beberapa saat hanya menyimak.
"Nggak sudi, ambil noh kalau mau," ucap Rangga datar.
"Oke, kita lihat aja nanti," ucap Ken seraya mendaratkan bokongnya di samping Rangga.
"Iqbal, Fikri, segera duduk di bangku kalian masing-masing!" seru Bu Mei yang masuk dengan tiba-tiba.
Kedua cowok itu segera duduk.
***
Rangga baru saja sampai di gerbang setelah beberapa menit yang lalu pergi ketempat fotocopy yang letaknya berseberangan dengan sekolah. Ini semua gara-gara Iqbal dan Fikri yang membuat keributan sambil bawa-bawa namanya. Akhirnya, malah dia yang kena.
Langkah kaki Rangga terhenti saat ada seseorang yang memanggilnya dari belakang. Seorang pria paruh baya berlari ke arahnya dengan napas tersengal-sengal.
"Bapak manggil saya?" tanya Rangga sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Mas kenal sama yang namanya Non Kayla, nggak?" tanya bapak itu setelah mengontrol deru napasnya yang tidak beraturan.
"Kayla yang mana ya, Pak? Kayla kan ada banyak," tanya Rangga untuk memastikan.
"Kayla Zulfa Nafiza. Tolong panggilkan, ya, Mas. Ini sangat penting. Menyangkut bundanya."
Rangga diam sejenak. Berusaha memastikan bahwa Kayla yang dimaksud bapak tadi adalah Kayla si gadis menyebalkan itu. "Baik, Pak. Akan saya panggilkan."
Huft, lagi-lagi harus berurusan sama tu cewek, batinnya.
Setelah itu, Rangga segera mencari keberadaan Kayla. Dan bodohnya ia tidak tahu Kayla masuk di kelas yang mana. Tentu saja akan sangat sulit menemukannya. Tebersit rasa penasaran dalam diri Rangga. Apa yang sebetulnya terjadi? Sepertinya bapak tadi sangat khawatir.
Setelah mencari-cari ke setiap kelas, akhirnya ia menemukan Kayla yang sedang mengobrol bersama teman-temannya di depan kelas. Tampak dari jauh Kayla sedang menceritakan hal yang mungkin memang seru sampai teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal.
"Kayla."
Panggilan Rangga membuat suasana tiba-tiba menjadi hening. Pikir mereka, tumben sekali Rangga yang menghampiri Kayla duluan. Biasanya kan, Kayla yang harus menghampirinya untuk sekadar mengganggu. Mendapat panggilan dari Rangga tentu saja membuat Kayla senang bukan main.
"Eh Kak Rangga, ada apa ke sini? Kangen ya ...," goda Kayla dengan menaik turunkan alisnya.
Tingkah Kayla kembali mengundang tawa dari beberapa teman-temannya.
Rangga memutar bola matanya jengah. "Ada bapak-bapak nyariin lo. Lo ditunggu di depan gerbang. Katanya, ada hal penting. Tentang ibu lo," jelasnya.
Seketika tubuh Kayla menegang. Senyum semringahnya langsung menghilang berganti dengan ekspresi pias. Tanpa bertanya lebih lanjut, Kayla segera memasuki kelasnya untuk mengambil ransel. Ia keluar dari kelas dan berlari terburu-buru tanpa mempedulikan panggilan teman-temannya.
Mereka bingung. Ada apa sebenarnya dengan Kayla?
Tak hanya mereka, Rangga juga bingung. Mengapa setelah Rangga mengucapkan hal itu raut wajah Kayla langsung berubah?
Tak ingin berlama-lama di sana, Rangga segera pergi menuju kelasnya. Di dalam hanya ada Iqbal, Ken dan Fikri juga beberapa siswa lain. Sedangkan lainnya mungkin sedang di kantin begitu bel istirahat berbunyi. Rangga duduk di bangkunya sambil menopang dagu setelah memasukkan lembaran fotocopy-an tadi. Entah mengapa, tiba-tiba ia memikirkan Kayla. Bagaimana keadaan gadis itu? Apakah ia baik-baik saja?
Jawabannya adalah tidak. Sepanjang Kayla berlari, air matanya terus berjatuhan. Tak terhitung banyaknya orang yang tak sengaja ia tabrak.
Ia tidak peduli, karena yang ada dipikirannya saat ini hanya satu.
Bunda.
Setelah gadis itu masuk ke mobil, ia tak henti-hentinya menangis. Tadi, Kayla sempat bertanya pada Pak Pur tentang keadaan Sarah, bundanya. Setelah Pak Pur bercerita, tubuh Kayla langsung lemas. Kayla takut keadaan bundanya semakin parah, sedangkan ia tidak bisa melakukan apa-apa.
Pak Pur adalah seorang supir sekaligus orang kepercayaan bundanya sejak Kayla masih kecil. Ia memiliki istri yang tak lain adalah Bi Ijah, pembantu di rumah. Mereka sudah bekerja belasan tahun di rumahnya. Baginya, Pak Pur dan Bi Ijah sudah seperti keluarganya sendiri.
Tak terasa, Kayla telah sampai di depan sebuah Rumah Sakit Jiwa. Tanpa membuang-buang waktu, Kayla segera masuk menuju ruang bundanya dirawat.
Ya, perlu kalian ketahui. Sarah mengidap depresi selama hampir dua tahun. Penyebabnya yang tak lain adalah Nugroho alias ayah Kayla selingkuh dengan wanita yang tak lain adalah sahabat Sarah sendiri. Namanya adalah Mega. Sarah dan Mega bersahabat sejak SMA sampai mereka kuliah. Sarah tak pernah menyangka Mega akan setega itu merebut Nugroho darinya. Peristiwa itu berdampak buruk bagi kesehatan Sarah. Ia seringkali mengamuk, menangis histeris dan berbicara sendiri.
Kayla telah sampai di depan ruang rawat Sarah. Dari sini, ia dapat mendengar begitu jelas teriakan Sarah. Hati Kayla begitu sakit saat melihat sosok wanita yang begitu ia sayangi tampak tersiksa. Pak Pur datang setelah memarkirkan mobilnya. Ia menatap miris pada Kayla. Tangannya bergerak merengkuh tubuh Kayla ke dalam dekapannya. Tangis Kayla semakin pecah. Pak Pur terus mencoba menenangkan Kayla dengan mengusap-usap punggungnya.
"Kayla yang tenang, bunda pasti baik-baik saja."
"Jangan menangis. Kayla kan gadis yang kuat."
"Kayla nggak boleh terlihat lemah di depan bunda. Nanti Bunda sedih lho."
Pak Pur mengecup lembut puncak kepala Kayla dengan penuh kasih sayang. Mungkin, karena dirinya yang sampai saat ini belum dikarunia seorang anak.
Setelah Kayla sedikit lebih tenang, keduanya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan itu. Sedangkan kedua suster yang menangani Sarah tadi segera keluar setelah menyuntikkan obat penenang untuk Sarah.
Kayla berjalan mendekati bundanya yang tampak damai setelah diberi obat penenang. Air mata Kayla kembali menetes. Ia rindu dekapan hangat Sarah. Ia rindu senyum Sarah. Ia rindu saat Sarah memarahinya. Ia rindu Sarah yang selalu mendengarkan keluh kesahnya.
"Lala kangen Bunda," bisiknya lirih setelah mengecup kening Sarah begitu lama.
Kayla mengangkat tangan Sarah dan diarahkan ke pipinya yang sudah basah oleh air mata. "Lala kangen usapan lembut Bunda."
"Katanya, Bunda nggak suka lihat Lala nangis. Ayo Bunda, usap pipi Lala. Jangan biarin Lala nangis."
Sudah, Kayla tidak sanggup menahan air matanya yang terus memberontak ingin keluar. Pertahanannya runtuh, Kayla kembali menangis terisak.
Pur sengaja membiarkannya. Biarlah Kayla mengeluarkan semua kesedihannya.
Tak ada yang tahu, Kayla yang biasanya menunjukkan wajah ceria ternyata menyimpan luka yang begitu mendalam. Alasan kenapa ia terlihat baik-baik saja di depan orang lain sebab ia tidak ingin mereka mendekatinya karena iba.
Kayla meneliti setiap inci wajah Sarah. Terkadang, Kayla bingung. Sarah adalah sosok ibu yang baik dan parasnya pun sangat cantik. Hidungnya mancung, pipinya tirus, bulu matanya lentik, bibirnya yang tipis. Tapi, kenapa ayahnya begitu tega sampai menyelingkuhinya? Sebegitu cantiknyakah tante Mega sampai Nugroho rela meninggalkan Sarah?
Dulu, Kayla begitu mengidolakan Nugroho. Sosoknya tegas, berwibawa, humoris dan penyayang. Sayangnya, semua itu telah berganti menjadi Nugroho si pria berengsek. Biarlah orang lain menganggap Kayla durhaka. Mungkin, jika mereka yang berada di posisi Kayla sekarang, belum tentu mereka sekuat Kayla.
Selama ini, Nugroho memang masih menafkahi Sarah dan Kayla. Namun, tak pernah sepeser pun uang itu Kayla pergunakan untuk kehidupan sehari-harinya. Mungkin uang itu sudah menumpuk di ATM-nya. Selama ini, Kayla hidup dengan uang yang ia peroleh dari keuntungan bisnis cafe yang sudah sejak lama bundanya rintis tanpa sepengetahuan ayahnya.
Sosok Kayla begitu dikagumi para pegawai cafenya. Meski ia tergolong gadis kecil, tapi jangan pernah meragukan kecerdasan otaknya. Dengan kecerdasannya itu, Kayla berhasil menambah cabang cafenya dari tiga menjadi enam cabang atas bantuan pamannya.
Ia bertekad akan membuktikan pada Nugroho bahwa ia dan Sarah masih bisa hidup tanpanya.
___________________________________
Setelah sampai bawah, jangan lupa tekan 'vote'
To Be Continue➡
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top