Chapter 2
"Tulus bukan hanya diekspresikan dengan kata, tetapi juga pada tindakan."
***
Rangga, Ken, Iqbal dan lainnya tengah bermain basket. Mereka seolah tak mempedulikan teriknya matahari. Peluh di tubuh sama sekali tidak mengurangi ketampanan mereka. Bahkan, kaus basket dikenakan sudah basah oleh keringat. Di pinggir lapangan penuh oleh siswa/siswi yang menyaksikan pertandingan sengit itu.
Tak jarang mereka bersorak riuh kala tim Rangga berhasil mencetak poin dan mengungguli tim. Cakra.
Aduh, pengen deh jadi keringetnya.
Kak Rangga cool banget.
Ya Allah pangeran gue.
Saat ini, bola basket telah berpindah di tangan Iqbal. Saat sang lawan berusaha mengambil alih bola tersebut, ia segera menghindar.
Di lain sisi, Kayla dan Tyas sedang berjalan menuju UKS. Kayla mengerutkan keningnya saat mendengar sorakan heboh. "Ada apa, sih? Kok rame banget," ucapnya penasaran. Matanya memicing menatap ke arah lapangan.
"Paling juga nontonin Kak Rangga dkk main basket," jawab Tyas santai.
Ucapan Tyas membuat Kayla langsung menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.
Tyas mengernyit bingung. "Kenapa?"
Kayla hanya nyengir; menampilkan deretan giginya yang rapi.
Tyas yang sudah paham dengan tabiat Kayla hanya mengangguk pasrah. "Ya udah cepetan. Gue tunggu di sini," putusnya.
Dengan semangat '45 Kayla melangkahkan kedua kakinya ke pinggir lapangan tanpa mempedulikan lututnya yang nyeri. Kedua matanya menyipit menjelajahi seisi lapangan sampai akhirnya sosok yang ia cari sudah di depan mata.
Sudut bibir Kayla tertarik ke atas sebelum akhirnya berteriak dengan kencang.
"KAK RANGGAAA ... SEMANGAT!!!" teriaknya sangat keras disertai senyuman manis dan kedipan sebelah matanya.
Tanpa ia sadari, dirinya sudah jadi pusat perhatian. Banyak sekali cibiran-cibiran yang terdengar. Namun, Kayla tidak peduli.
Sedangkan di tengah lapangan, Rangga berdiri kaku bak patung seolah terhipnotis oleh senyuman juga kedipan maut gadis itu. Tatapannya bertabrakan dengan mata indah Kayla.
Kenapa gue degdeg-an? gumamnya dalam hati.
"Rangga, awas!"
Bruk!
"Argh!" Rangga masih menatap Kayla yang tampak terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu. Dan setelahnya, Rangga tergeletak tak sadarkan diri.
Ken dan Iqbal segera berlari, mengangkat tubuh Rangga dan membawanya menuju UKS.
Semua orang membubarkan dirinya masing-masing. Sedangkan sebagian ikut ke UKS untuk melihat keadaan Rangga.
Tyas segera menyusul Kayla.
"K-kak Rangga pingsan bukan karena Kayla, kan?" tanya Kayla lirih.
"Hah? Ya bukanlah. Kan udah jelas Kak Rangga pingsan karena kena bola," sahut Tyas.
"Tapi, Kak Rangga diem aja karena ... karena ngeliatin Kayla," cicit Kayla dengan suara bergetar menahan tangis. Ia takut Rangga akan marah padanya.
"Ish, udah deh jangan nyalahin diri lo sendiri. Ini cuma kecelakaan, jangan terlalu dipikirin," ucap Tyas sambil mengusap bahu Kayla.
Kayla mengangguk lemah.
"Jadi ke UKS, nggak?" tanya Tyas.
Kayla menggeleng. "Nanti aja deh. Kayla nggak berani ketemu Kak Rangga."
***
Rangga pulang dengan perban yang menempel di kening sebelah kirinya. Sebelum mengetuk pintu, ia menyempatkan diri guna merapalkan doa agar Zahra tidak menyeramahinya.
Baru saja menyelesaikan doanya, ia harus dikejutkan dengan kemunculan Zahra di belakangnya.
"Kenapa nggak langsung masuk, Ga?" tanya Zahra dengan dahi berkerut.
Rangga segera menoleh ke belakang, "Eh, Mbak abis belanja? Sini, biar Rangga aja yang bawa belanjaannya," ucap Rangga gugup. Diam-diam ia bersyukur karena Zahra tidak menyadari luka pada keningnya.
Namun, sepertinya itu hanya berlaku sementara. Sebab si kembar dengan polosnya menunjuk ke arah keningnya. "Itu kening Kak Langga kenapa dikasih tempelan?" tanya Nabila.
"H-hah?" ucap Rangga tergagap.
Aduh, anak ini, batinnya.
Seketika Zahra mengikuti arah yang ditunjuk oleh Nabila. Ia terkejut bukan main. "Astaghfirullah, Rangga. Kenapa sama kening kamu?" tanya Zahra.
Rangga menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. "Eh, mending kita masuk dulu. Nanti Rangga jelasin."
Kini, Rangga tengah duduk di hadapan Zahra juga si kembar. Ia sudah memasrahkan telinganya bersiap mendengar ceramah dari kakaknya itu.
"Jadi, kenapa kening kamu sampai diperban gitu?" tanya Zahra
"Jadi, tadi Rangga lagi main basket. Terus-"
"Makanya Rangga, kalau main itu hati-hati. Coba kalau benturannya keras, bisa bahaya untuk syaraf otak kamu. Ini nih yang Mbak takutin kalau kamu keseringan main basket. Terjadi juga kan akhirnya," ceramah Zahra panjang lebar tanpa mempedulikan Rangga yang memanyunkan bibirnya karena belum selesai menjelaskan.
"Tap-"
"Nggak ada tapi-tapian. Pokoknya, sekali lagi kamu terluka karena main basket, Mbak nggak akan biarin kamu main basket lagi, ingat itu," tukas Zahra tak mau dibantah. Kalau sudah seperti itu, Rangga hanya perlu mengangguk sebagai jawaban.
Rangga mendelik saat menyadari si kembar tengah cekikikan mengejeknya. Runtuh sudah harga dirinya di hadapan si kembar. Mau bagaimana lagi? Rangga mana berani membantah Zahra? Bahkan, setiap kali Zahra mengomelinya, ia selalu minta perlindungan dari Ali.
"Kak Langga tiap dimalahin Ibu mukanya lucu," celetuk Nabil sambil cekikikan.
"Kalau Ibu lagi celamah, dengelin Kak Langga. Jangan diem aja," ucap Nabila diiringi senyum mengejek.
Rangga makin geram. Kenapa si kembar terlihat menyebalkan hari ini? Setelah berkutik dengan pikirannya, Rangga menyunggingkan seringainya. Lihat saja nanti, ia akan membalas perbuatan si kembar.
"Rangga udah salat ashar, belum?" tanya Zahra.
"Udah, Mbak."
"Ya udah, sekarang kamu mandi dulu. Setelah itu makan. Mbak udah siapin makanan kesukaan kamu," ucap Zahra.
Itulah yang Rangga sukai dari Zahra. Di balik sifat cerewetnya, Zahra selalu perhatian padanya. Zahra berperan penuh dalam menggantikan posisi Ratih selama bekerja di Singapura. Rangga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengecewakan orang-orang yang menyayanginya.
"Iya, Mbak. Rangga ke kamar dulu, ya," pamitnya.
Sore berganti malam, dan saat ini Rangga, Ali, Zahra dan juga si kembar tengah berkumpul di ruang keluarga. Nabil dan Nabila tampak fokus dengan mainan barunya. Sepulang dari kantor tadi, Ali sengaja membelikan keduanya mainan baru sesuai janjinya. Kemarin Ali mendadak harus ke kantor karena urusan penting sehingga tak jadi menemani sang anak jalan-jalan sesuai rencana sebelumnya. Alhasil, keduanya marah dan enggan mengajaknya bicara. Setelah di iming-imingi mainan baru, barulah keduanya mengangguk antusias.
"Gimana sekolahnya, Ga?" tanya Ali setelah menyesap teh yang dibuatkan Zahra.
"Alhamdulillah baik-baik aja, Bang." jawab Rangga santai.
"Syukurlah. O, iya, tadi kata si kembar kamu habis dimarahin Zahra, ya?" tanya Ali sambil melirik Zahra yang tertidur di sampingnya.
"Hehe ... ya gitu," ucap Rangga.
"Mbak kamu ini paling nggak bisa melihat orang yang dia sayanginya terluka. Dulu juga waktu Abang sakit karena kehujanan dia ngomel-ngomel sepanjang hari. Sampai Abang harus pura-pura tidur supaya dia berhenti ngomel. Dan kamu tau, apa yang dia lakukan saat Abang pura-pura tidur?"
Rangga menggeleng.
"Dia peluk Abang sambil nangis sesenggukan. Dia juga bilang bahwa marahnya dia itu suatu bentuk kekhawatiran mendalam. Dia cuma takut kalau terjadi hal buruk pada orang yang dia sayangi," ucap Ali sambil mengelus puncak kepala Zahra dengan lembut.
"Jadi, maklumi aja ya kalau Zahra suka berlebihan. Dia itu sudah menganggap kamu seperti adik kandungnya sendiri," lanjut Ali.
"Iya, Bang. Rangga paham kok sama sifatnya Mbak Zahra. Malah Rangga seneng ada yang merhatiin," ucap Rangga diselingi senyum tulusnya. Sesekali matanya melirik ke arah Zahra yang terlelap dengan damai di sisi Ali.
"Ya sudah, kamu tidur gih. Ajak juga si kembar. Abang mau mindahin Mbak kamu dulu," ucap Ali.
"Oke," ucap Rangga. Setelah itu ia pun mengajak si kembar untuk segera tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.45 WIB. Tumben sekali si kembar belum mengantuk.
To Be Continue➡
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top