9 - bow down

Hallo readers/siders
Happy reading

Dingin menyeruak kala angin malam meneroa tubuhnya, membuat bibir yang ada perlahan ikut tertutup untuk manahan rasa hangat yang akan keluar terbawa pergi oleh dinginnya angin malam.

"Ugh.."

Gesekan kedua tangan seakan tak henti untuk terus mengosok, jangankan menghilangkan memudarkan pun rasanya sangat sulit untuk saat ini.

[Name] menatap nanar kedua pergelangan tangan yang memerah karena pergerakan paksa yang ia lakukan untuk menhindari tangannya yang hampir beku. Semenjak, interogasi dihentikan dirinya terkunci didalam ruangan yang semakin lama semakin terasa dingin menusuk.

Rasa kebas di ujung jari-jari lentiknya terasa begitu menyakitkan karena dingin yang begitu menusuk.

"Ugh..."

Matanya terangkat ke arah meja, telepon kecil di atasnya menyala redup menandakan telfon itu terhubung pada seseorang dibalik layar. Suara dari speaker itu kembali terdengar tenang, datar, hampir seperti seseorang yang sedang berbicara santai.

“Kau tahu tidak ada gunanya untuk bertahan saat kau bisa menyerah dan mengakui perbuatanmu.”

[Name] menatap alat itu beberapa detik tanpa menjawab. Napasnya keluar pelan, terlihat samar di udara dingin bagaimana sesuatu yang memaksanya untuk bertindak.

“Aku bahkan belum tahu perbuatan apa yang kalian maksud,” gumamnya akhirnya, suaranya serak karena udara yang terlalu dingin.

Tidak ada jawaban selama beberapa detik, hanya dengungan listrik halus dari lampu di langit-langit. Lalu suara itu kembali.

“Kau pintar. Jangan pura-pura bodoh.”

Sudut bibir [Name] sedikit terangkat, meskipun wajahnya terlihat pucat dan merah karena lelah sehabis manangis.

“Kalau aku benar-benar pintar, aku tidak akan duduk di ruangan ini.”

[Name] kembali menggerakkan jarinya, mencoba memulihkan sensasi di tangannya. Pergelangan tangannya masih memerah dengan dingin di ruangan itu terasa semakin menusuk, tapi pikirannya justru mulai terasa lebih jernih.

Karena jika mereka benar-benar punya bukti— mereka tidak akan menunggu pengakuan... Suara dari telepon itu terdiam lagi sejenak, seolah sedang menilai sesuatu.

Kemudian terdengar lagi, sedikit lebih rendah.

“Kau masih keras kepala.”

[Name] menyandarkan kepalanya ke kursi dingin di belakangnya, matanya tetap menatap lurus ke arah telepon.

“Bukan keras kepala,” jawabnya lirih.

“Cuma… tidak suka dituduh tanpa alasan.”

Keheningan kembali memenuhi ruangan, dingin tetap menusuk. Meskipun ruangan terasa begitu dingin dan ujung jarinya yang sudah memutih tidak membuat [Name]  menunduk lagi.

"Aku tidak akan pernah mengakui kesalahan yang aku tidak perbuat."

-------

Seringai kecil muncul dibibir Jonggun mendengar balasan dari [Name], manik hitamnya dengan tenang memperhatikan setiap pergerakkan perempuan itu dari balik kaca 2 arah.

Ketertarikannya pada gadis didepannya bukan tanpa alasan. Melihat [Name] yang posisinya sebagai perempuan taguh saja sudah membuat Jonggun tertarik, ditambah sikap pemberontak dan halus secara bersamaan menambah daya tarik gadis kerasa kepala itu.

Jonggun bersandar santai pada kursinya, satu tangan bertumpu di sandaran sementara tangan lainnya memegang cangkir kopi yang sudah mulai dingin. Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari sosok [Name] di seberang kaca.

“Dia tidak akan mengakuinya,” gumam seseorang di belakangnya, sedikit heran.

Jonggun hanya menghela napas pendek, seolah itu hal yang sudah ia duga sejak awal.

“Tentu saja belum.”

Di dalam ruangan, [Name] kembali menggerakkan tangannya yang kaku, mencoba mengembalikan sensasi di ujung jarinya. Bahunya sedikit menegang karena dingin yang menusuk, tapi wajahnya tetap datar.

Tidak ada panik.

Tidak ada permohonan. Jonggun memperhatikan itu dengan lebih serius sekarang. Jika sebagian besar orang yang duduk di kursi itu akan mulai goyah setelah beberapa waktu—entah karena dingin, kelelahan, atau tekanan psikologis.

Namun [Name] masih duduk tegak.

Matanya bahkan sesekali menatap langsung ke arah cermin, seolah tahu ada seseorang yang mengawasinya dari sana.

Seringai Jonggun sedikit melebar.

“Menarik,” gumamnya pelan.

Ia meletakkan cangkir kopinya di meja, lalu menekan tombol kecil yang terhubung ke telepon di ruang interogasi.

Suara statis kecil terdengar dari speaker. Di dalam ruangan, telepon di atas meja kembali menyala.

*masih belum mau mengakuinya?"

Hening kembali menyelimuti ruangan setelah pertanyaan itu.

[Name] tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap meja beberapa detik, mencoba mengingat kembali fragmen malam yang dimaksud. Namun sebelum ia sempat berkata apa pun—

Klik.

Suara kunci pintu terdengar membuat [Name] mengangkat kepalanya. Menatap kearah sumber suara sampai akhirnya pintu besi di ujung ruangan terbuka perlahan.

Tiga orang pria masuk dengan langkah berat. Seragam mereka menyerupai petugas, namun sikap mereka jauh dari profesional—kasar, santai, dan penuh niat buruk.

Salah satu dari mereka menutup pintu dengan keras.

“Jadi ini orangnya?” gumam pria pertama sambil melirik [Name] dari atas sampai bawah.

Pria kedua mendekat beberapa langkah, tangannya dimasukkan ke saku.

“Katanya keras kepala.”

Di kursinya, [Name] tetap duduk tegak meskipun tubuhnya jelas menegang.

“Siapa kalian?” tanyanya datar.

Pria itu tertawa kecil, berhenti tepat dihadapan [Name]

“Bukan pertanyaan yang harusnya kamu tanyakan.”

“Kami cuma di sini buat bikin kamu lebih… kooperatif.”

Di balik kaca dua arah, Jonggun memperhatikan tanpa mengubah ekspresinya.

Ia tidak bergerak.

Tidak menghentikan.

Tidak juga terlihat terganggu.

Matanya hanya mengikuti setiap gerakan di ruangan itu dengan ketenangan yang sama seperti sebelumnya seolah ini hanyalah bagian lain dari eksperimen yang ia jalankan.

Di ruang interogasi, pria ketiga menarik kursi dan membaliknya sehingga sandarannya menghadap [Name]

“Dengar,” katanya pelan. “Kami tidak peduli kamu bersalah atau tidak.”

“Kami cuma butuh kamu bilang kalau kamu yang melakukannya.”

Jari-jarinya yang dingin sedikit menggenggam. Ujung-ujungnya sudah hampir kehilangan rasa karena suhu ruangan yang menusuk kulitnya—perih, seperti ditusuk jarum halus dari dalam.

Namun [Name] tetap mengangkat kepalanya.

“Aku tidak akan mengakuinya.”

Pria kedua menyeringai lebar.

“Makanya kami masuk ke sini.”

Ia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, kedua tangannya bertumpu di meja.

“Supaya kamu berubah pikiran… dan mengakui salahmu.”

[Name] menatapnya lurus dengan tenang, meskipun maniknya tak bisa berbohong akan rasa yang tak mengenakkan. Beberapa detik tidak ada yang bergerakpria pertama mendecakkan lidahnya pelan.

“Masih keras juga.”

Ia berjalan memutar di belakang kursi [Name], langkahnya sengaja dibuat lambat. Pria ketiga yang duduk di kursi terbalik menghela napas.

“Harusnya kita langsung mulai dari awal.”

[Name] bisa merasakan keberadaan pria di belakangnya sekarang. Bayangannya jatuh di lantai di bawah lampu putih yang tajam.

“Dingin, ya?” gumam pria itu dari belakang.

Tidak ada jawaban.

Ia tertawa kecil.

“Ruangan ini memang dibuat begitu.”

Di balik kaca dua arah, Jonggun memperhatikan tanpa mengubah posisinya. Tangannya kembali terlipat di depan dada, tatapannya tenang namun tajam. Di dalam ruangan, pria kedua mengetuk meja pelan.

“Dengar baik-baik.”

Ia menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah [Name].

“Kami nggak peduli cerita apa yang kamu punya.”

Senyumnya perlahan memudar.

“Yang kami butuhkan cuma satu kalimat.”

Pria di belakang kursi tiba-tiba menekan bahu [Name] sedikit ke bawah—tidak cukup kuat untuk menjatuhkannya, tapi cukup untuk menunjukkan tekanan.

“Bilangi saja kamu yang melakukannya.”

"Aku tidak melakukan apapun."

PLAK!

Suara tamparan keras memecah udara dingin. Kepala [Name] tersentak ke samping. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya, kursi logam di bawahnya berderit tipis karena gerakan mendadak itu.

Rasa panas menyengat di pipinya—kontras tajam dengan dingin yang sudah lama menggigit kulitnya. Beberapa detik ia hanya diam, napasnya sedikit terputus seperkian detik karena shock.

Di depannya, pria kedua perlahan menurunkan tangannya, menatap [Name] dengan senyum tipis yang dingin.

Pria ketiga di samping meja menghela napas, tampak hampir bosan.

“Keras kepala banget.”

Sementara pria pertama yang berdiri di belakang kursi [Name] tertawa pendek.

“Biasanya satu tamparan udah cukup.”

Rambut yang menutupi wajah [Name] sedikit bergeser saat ia menarik napas panjang. Perlahan—sangat perlahan—ia mengangkat kepalanya lagi meskipun rasa sakit dipipinya menyiksa.

Bekas merah mulai terlihat jelas di pipinya, namun matanya tetap sama, mempertahankan dirinya untuk tidak terlihat lemah. Pria kedua memperhatikan itu beberapa detik, lalu mencibir.

“Masih mau pura-pura kuat?”

Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, kedua telapak tangannya menekan meja.

“Kami cuma butuh kamu bilang kamu yang melakukannya.”

Di belakang kursinya, pria pertama tiba-tiba menekan bahu [Name] dengan kasar—mendorongnya sedikit ke depan.

Tubuhnya hampir goyah, namun ia menahan diri.

Hening kembali menggantung di ruangan itu.

Napas [Name] keluar tipis di udara dingin.

Lalu ia menoleh sedikit ke depan lagi, menatap pria di depannya tanpa berkedip.

“Aku…”

Ia berhenti sejenak, suaranya hampir berbisik.

“…tidak melakukan apa pun.”

Beberapa detik sunyi.

Kemudian pria ketiga mendesah panjang.

“Ya ampun.”

Ia berdiri dari kursinya.

“Ini bakal jadi malam yang panjang.”

Di balik kaca dua arah, Jonggun masih berdiri tanpa bergerak.

Namun kali ini, seringai di bibirnya perlahan melebar.

Bukan karena tamparan itu.

Tapi karena setelahnya, [Name] tetap tidak menunduk meskipun air mata dipelupuk seakan menunggu waktunya untuk jatuh.

To be continued...
TR
10 3 26

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top