8 - Do you?

Hallo readers/siders

Happy reading

Kilatan cahaya kamera seakan membutakan pengelihatan, manik [Name] menatap dalam diam saat dirinya ditarik paksa oleh para polisi untuk masuk kedalam kantor kepolisian yang penuh dengan wartawan diseluruh penjuru.

Teriakan sampai makian terdengar, entah apa yang membuat orang-orang seakan marah kepadanya bahkan ada yang tak segan melemparkan barang seperti sampah plastik botol dan kaleng. Terasa menyakitkan jika saja, polisi Kwak tidak melindunginya dari lemparan orang-orang itu.

Pintu kaca tertutup keras dibelakang mereka. Suara teriakkan berubah menjadi gema samar. Di dalam, suasana tak kalah karena kilatan lampu kamera tetap saja terlihat dari balik kaca, ditambah bisikkan dari petugas yang bahkan tidak seperti bisikan padanya.

"Masuklah, itu ruangan introgasi.."

[Name] mengangkat kepala menatap polisi Kwak dengan mata berair sebelum mengangguk dan melangkahkan kakinya untuk masuk.

"Katakan saja yang sebenarnya.."

Tangan terkepal kuat saat pintu yang tadinya terbuka kembali tertutup membuat ruangan yang tadinya masih terdengar suara kini berpindah menjadi ruangan kedap yang bisikan sekecil apapun tak lagi terdengar.

Maniknya terangkat menatap seorang lelaki yang sudah berumur yang kini menatapnya dengan tenang, manik itu memperhatikan gerak-geriknya membuat [Name] tak tahu akan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

"Duduk."

Suara pria itu rendah dan stabil, tidak meninggi, tidak pula terdengar mengintimidasi secara terang-terangan. Justru ketenangannya itulah yang membuat dada [Name] terasa semakin sesak.

Kursi besi di depannya bergeser pelan saat ia menariknya. Suara gesekan itu terdengar tajam di ruangan kedap suara yang terlalu sunyi. Borgol di pergelangan tangannya beradu pelan ketika ia duduk, rantainya pendek, membatasi geraknya seolah mengingatkan bahwa ia bukan lagi seseorang yang bebas melangkah sesuka hati.

Lampu neon putih menggantung tepat di atas meja interogasi, memantulkan bayangan wajahnya di permukaan kayu yang dingin. Matanya sembab, sisa tangis yang belum benar-benar reda. Napasnya belum sepenuhnya stabil.

Pria di depannya menyilangkan jari-jari tangannya di atas meja.

"Kau tahu kenapa kau ada di sini."

Bukan pertanyaan. Sebuah pernyataan bagi [Name] yang perlahan menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

"Saya tidak membunuhnya."

Jawaban itu keluar cepat, hampir seperti refleks. Namun suaranya serak, tidak sekuat yang ia harapkan.

Pria itu tidak langsung menanggapi. Ia membuka map cokelat di depannya dengan gerakan terukur, mengeluarkan beberapa lembar foto dan meletakkannya satu per satu di atas meja.

Foto CCTV.
Foto botol Yamazaki.
Foto Haneul.
Foto tubuh yang sudah ditutupi kain putih.

Manik mata [Name] membesar. Jari-jarinya tanpa sadar mengepal di atas pangkuan.

"Kamera merekam kau menyerahkan botol ini padanya."

"Dia yang memintanya... aku hanya memberikan itu karena botol itu ada dibar kami." Napasnya mulai memburu.

"Saya tidak tahu ada apa di dalamnya."

"Racun sianida ditemukan di tubuhnya."

Keheningan jatuh seperti palu.

[Name] menggeleng pelan. "Saya tidak mungkin... saya bahkan tidak punya akses untuk-"

"Kau bertemu seseorang setelah meninggalkan bar."

Pria itu mendorong satu foto lagi ke arahnya. Rekaman gang belakang. Bayangan dua orang berdiri saling berhadapan.

"Itu hanya-"

"Pria itu ditemukan tewas pagi harinya."

Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada tuduhan sebelumnya, ruangan terasa menyempit. Udara terasa lebih tipis membuat [Name] tak lagi kuat untuk menahan air matanya.

"Saya tidak melakukan apapun..," bisiknya, hampir tidak terdengar. "Saya tidak pernah... saya tidak akan melakukan hal seperti itu."

Pria itu mengamatinya lama, terlalu lama.

"Kau tampak terkejut."

"Karena saya memang terkejut!"

Suara itu pecah untuk pertama kalinya. Tangannya bergetar di atas meja. Rantai borgol berdering pelan, suara kecil yang terdengar nyaring dalam keheningan.

"Saya bekerja di bar. Saya memang sahabatnya tapi malam itu kami hanya mengobrol dan dia yang meminta Yamazaki itu dan hanya sebatas pelanggan. Malam itu saya hanya bertemu sebentar. Itu saja."

Pria itu bersandar di kursinya. Tatapannya tak berubah, tetap datar, namun ada sesuatu yang sulit dibaca di sana-apakah itu ragu, atau sekadar pengamatan yang dingin?

"Kau tahu, bukti-bukti yang kami miliki cukup kuat untuk membuat jaksa percaya bahwa kamu pelakunya"

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada ancaman. Justru karena terdengar begitu biasa, kalimat itu terasa lebih menakutkan.

"Saya tidak membunuh Haneul," ulang [Name] lagi, kali ini lebih pelan.

"Saya tidak tahu tentang racun. Saya tidak menyuruh siapa pun menyentuh tubuhnya. Saya tidak melakukan semua ini, bagaimana mungkin saya bisa membunuh sahabatku sendiri?."

Matanya mulai memanas kembali. Ia menunduk, mencoba menahan air mata yang memaksa keluar. Di belakang ruangan itu ad sebuah ruangan yang bisa melihat jalannya introgasi, di sana dibalik kaca satu arah, bayangan seseorang berdiri mengamati. Sosok tinggi dengan tatapan yang tak bisa terbaca dari luar. Bibirnya melengkung tipis tersenyum dengan puas.

Jonggun.

Ia menyaksikan setiap detik itu dengan ketenangan yang nyaris mengganggu. Melihat bagaimana bahu [Name] yang dulu selalu tegak kini sedikit merosot. Melihat bagaimana suaranya yang dulu tegas kini retak di bawah tekanan.

Ia tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Hanya mengamati.

Di dalam ruangan, pria tua itu kembali membuka suara saat maniknya bertemu dengan manik hancur [name].

"Tidak ada yang bisa dilakukan selain mengakui kesalahanmu..."

Kalimat itu jatuh perlahan, namun menghantam keras di dada [Name].

Ia tertegun. Maniknya yang basah terangkat, menatap pria itu seakan berharap menemukan sedikit saja keraguan di sana. Namun yang ia temukan hanya dinding dingin tanpa celah. Air matanya akhirnya luruh tanpa bisa ia tahan lagi, mengalir di pipi yang pucat.

"Tapi aku tidak melakukan apa pun..."

Suaranya pecah, tipis, hampir seperti bisikan yang tersesat di ruangan kedap suara itu. Tangannya yang terborgol mengepal di atas meja. Rantai kecil itu bergetar pelan, suara logam yang terdengar begitu jelas di tengah keheningan.

Pria tua itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser beberapa lembar foto lebih dekat ke arahnya...rekaman CCTV, botol whiskey, gambar gang sempit tempat ia terakhir terlihat berbicara dengan pria yang kini telah mati.

"Kamera tidak berbohong," ucapnya pelan.

"Orang bisa salah menafsirkan apa yang mereka lihat," balasnya dengan napas memburu. "Saya hanya bekerja. Saya bertemu banyak orang malam itu. Saya tidak tahu tentang racun. Saya tidak tahu tentang pria itu. Saya bahkan tidak tahu kenapa semua ini terjadi."

"Namun semua bukti mengarah padamu."

Kata "semua" terasa seperti vonis sebelum pengadilan dimulai.

Kepalanya terasa pening. Ia menunduk, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya yang basah oleh air mata. Pikirannya berputar, mencoba mengingat setiap detail malam itu-setiap percakapan, setiap langkah, setiap tatapan. Tidak ada yang terasa aneh saat itu. Tidak ada yang memberinya tanda bahwa hidupnya akan runtuh seperti ini.

"Saya tidak membunuh Haneul," ulangnya, kali ini lebih pelan namun lebih tegas, seolah ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Saya tidak punya alasan untuk melakukannya."

Pria tua itu bersandar di kursinya, memperhatikannya dengan sorot mata yang sulit dibaca.

"Alasan bisa tersembunyi di balik banyak hal."

"Kalau memang saya bersalah, katakan di mana kesalahan saya." Suaranya bergetar, tetapi ada serpihan keberanian di sana. "Tunjukkan pada saya apa yang benar-benar saya lakukan."

Keheningan kembali menggantung. Di balik kaca satu arah, bayangan tinggi berdiri tanpa suara. Jonggun menyaksikan setiap gerakan kecil itu...cara bahunya bergetar, cara bibirnya berusaha tetap tegar meski air mata tak berhenti jatuh. Senyum tipis terlukis di wajahnya, samar namun jelas.

Ia menyukai momen ini, melihat perempuan itu terpojok, namun masih berusaha berdiri. Melihat bagaimana tekanan perlahan mengikis ketenangannya. Baginya, ini bukan sekadar proses hukum. Ini proses penghancuran yang berjalan tepat sesuai rencana.

Di dalam ruangan, pria tua itu kembali berbicara.

"Jika kau terus menyangkal, proses ini akan lebih panjang dan lebih menyakitkan."

"Saya tidak bisa mengakui sesuatu yang tidak saya lakukan," jawabnya, kali ini hampir seperti permohonan. "Bagaimana saya bisa mengaku kalau itu bukan saya?"

Air mata kembali jatuh, namun tatapannya tidak lagi sepenuhnya kosong. Ada kebingungan, ada ketakutan, tetapi juga ada keteguhan kecil yang belum sepenuhnya runtuh saat pria tua itu menutup map di depannya dengan pelan.

"Kau akan tetap di sini sampai kami mendapatkan kebenaran."

"Kebenaran tidak akan berubah," bisiknya lirih.

Di balik kaca, Jonggun memiringkan kepalanya sedikit. Ia tahu ini baru awal. Tekanan akan semakin besar. Media akan semakin keras. Orang-orang akan semakin menjauh. Dan perlahan, dunia akan terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

To be continued...

7 - 3 - 26

TR

Salam manis


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top