Erwin: Personal Assistant
Komandan Erwin tidak sebijak yang orang-orang pada umumnya ketahui. Ini tahun keempatku menjadi asisten pribadi untuk Erwin Smith, dan kuakui meski pria itu tampan, dia adalah manusia yang tak berperasaan.
Ada kalanya ia tak ingin ruang pribadinya diganggu, tetapi di kemudian hari ia akan menunjuk-nunjuk kesalahanmu karena tak merawatnya dengan baik.
Seperti sekarang ini.
"Seperti yang biasanya, (Y/N), kau datang dan mengantarkanku makan siang dan makan malamku. Kau bisa saja memaksaku untuk makan kemarin."
Ia berdiri, membuat kursinya berderit ke belakang.
"S-Saya pikir Komandan sedang sibuk dengan--"
Ia mengangkat tangannya sebagai sinyal untuk membuatku berhenti bicara. Ia lalu berjalan mendekat dengan kedua tangannya tersilang di atas perut.
"Kau adalah asisten pribadiku, bukan sekretaris yang tugasnya hanya mencatat jadwal."
Nada suaranya rendah, tapi jelas ada kemarahan di sana.
"Tugasmu memastikan aku menjalankan semua jadwal itu. Termasuk makan."
Aku mengigit bibir, "Tapi, Komandan, anda biasanya tak suka dipaksa.."
"Memang," dia berjalan semakin dekat, tingginya membuat bayangannya jatuh menutupi tubuhku. "Namun kemarin aku bekerja sepanjang hari sampai lewat tengah malam, (Y/N),"
Baru sekarang sudah sedekat ini, ia melepaskan ketegangan di wajahnya, suaranya parau dan sorot matanya melembut menatapku.
"Dan sekarang aku sakit," bisiknya dengan suara parau. Ia menekan pelipisnya, sedikit mengerutkan kening. Baru sekarang aku benar-benar sadar bahwa suaranya sedikit serak.
"Komandan, anda demam?"
"Itu tidak penting."
"Penting."
Kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja tanpa aku bisa menahannya. Wajahku memerah.
Komandan Erwin hanya diam, menatapku cukup lama. Lalu, sekilas, kudapati kedua telinganya merekah merah--mungkin karena suhu tubuhnya sedang tinggi.
"Aku tak menyuruhmu berdebat."
"Tapi tugas saya menjaga anda supaya tetap bisa bekerja, Komandan."
Ia menghela napas, "Dan orang yang sedang sakit tak bisa memimpin pasukan dengan baik, (Y/N)."
"Saya telah lalai." aku membungkuk dengan penyesalan. "Izinkan saya--"
Tanpa peringatan, pria itu tumbang ke arahku, syukur aku masih sempat menangkapnya. Tubuhku terkulai ke belakang selagi berusaha menjaga supaya badannya tak jatuh ke lantai.
Aku berjalan membopong Komandan Erwin ke sofa dan merebahkannya, kemudian kuselimuti tubuhnya dengan jubah seragam miliknya yang kuambil dari laci meja kerjanya, untuk sementara waktu sampai aku bisa pergi ke klinik untuk mengambil beberapa obat-obatan dan selimut yang layak.
***
Saat aku kembali ke ruangannya, kudapati pria itu tertidur dengan wajah yang tegang dan pucat. Rahangnya bergemeletuk setiap beberapa waktu sekali, dan keningnya dibanjiri keringat.
Rambut pirangnya yang biasa terlihat rapi tampak berantakan, kemejanya juga sudah basah akibat keringat demam.
Aku berlutut di lantai, di sisi sofa tempat kepalanya terbaring, untuk menghalau keringat dan mengganti kemejanya. Kuletakkan baskom dan kain kecil dari tanganku, lalu saat tanganku mulai bergerak menyentuh keningnya, tangannya menangkapku.
"Komandan.." bisikku pelan, memastikan kalau pria itu baik-baik saja.
Tidak ada respons--napasnya berat, tetapi stabil.
Namun tangannya masih menggenggam pergelangan tanganku.
Aku menunggu beberapa detik, berpikir ia mungkin akan sadar. Tapi matanya tetap tertutup, alisnya sedikit berkerut seolah bahkan dalam tidur pun pikirannya tak pernah benar-benar tenang.
Genggamannya kuat… tapi tidak menyakitkan.
Aku menatap wajah pria itu--Komandan Erwin Smith--yang biasanya selalu tampak tegak, dingin, dan tak tergoyahkan di hadapan semua orang. Sekarang, dalam keadaan demam dan tertidur seperti ini, ia terlihat jauh lebih manusiawi. Lebih rapuh.
"Komandan," bisikku lagi, kali ini sedikit lebih lembut.
Perlahan aku mencoba menarik tanganku.
Namun jari-jarinya justru mengencang sedikit--seakan ia takut kehilangan sesuatu.
Aku terdiam.
Mungkin tidak sekarang.
Dengan hati-hati aku mengambil kain dari baskom menggunakan tangan yang bebas, lalu menyeka keringat di dahinya perlahan. Kulitnya panas, jauh lebih panas dari sebelumnya.
Setelah beberapa saat, aku memandang kemejanya yang basah.
Ini harus diganti.
"Maafkan saya, Komandan."
Aku bergerak pelan, membuka satu kancing kemejanya dengan tangan yang masih bisa kugerakkan. Genggamannya pada pergelanganku membuat gerakanku sedikit canggung, tapi akhirnya satu kancing terbuka.
"Kalau terus seperti ini, besok benar-benar tidak bisa bekerja, loh," gumamku pelan.
Setelah kancing terakhir terbuka, aku menarik pelan kemeja yang sudah basah oleh keringat itu dari bahunya. Gerakanku hati-hati agar tidak membangunkannya, walaupun tangannya masih menggenggam pergelanganku.
Kemeja itu akhirnya terlepas.
Aku segera mengambil kemeja yang bersih dari kursi di dekat sofa, lalu membantunya mengenakannya kembali. Saat aku merapikan kerahnya, aku merasakan genggamannya bergerak sedikit.
Lebih sadar dari sebelumnya.
Aku baru saja hendak menarik tanganku ketika--
“…(Y/N).”
Suaranya rendah dan serak.
Aku membeku.
Matanya perlahan terbuka, tatapan biru itu masih berat oleh demam, tapi kini jelas terfokus padaku.
"Komandan-- maaf, saya tidak bermaksud membangunkan--"
"Tidak."
Suaranya pelan, tapi tegas seperti biasa.
Tangannya masih memegang pergelangan tanganku, kali ini tanpa refleks defensif.
Lebih seperti… menahan.
Beberapa detik berlalu sebelum ia berbicara lagi,
“Aku sudah bangun sejak tadi.”
Aku terdiam. Panas langsung naik ke wajahku.
"Kalau begitu saya--"
"Biarkan."
Ia menghela napas pelan, matanya sempat menutup sebentar sebelum kembali menatapku.
"Sesekali… aku tidak keberatan."
Nada suaranya berbeda.
Masih rendah, masih tenang--tapi jauh lebih lembut dari yang biasa kudengar darinya.
"Apa maksud Anda, Komandan?"
Komandan Erwin terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan apakah ia benar-benar ingin mengatakan ini.
Lalu akhirnya ia berkata pelan,
"Cara kau memperlakukanku sekarang."
Aku menatapnya bingung.
"Kau tidak kaku. Tidak menjaga jarak seperti biasanya."
Ia menoleh sedikit ke arah langit-langit, rahangnya yang tadi tegang akhirnya mengendur.
"…Itu lebih menyenangkan."
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Selama ini aku selalu berhati-hati setiap berada di dekatnya.
Takut berbicara terlalu santai.
Takut terlihat tidak sopan.
Takut membuatnya tersinggung.
Namun sekarang komandan itu sendiri yang mengatakan ini.
"Aku sering melihatmu di koridor," lanjutnya pelan. "Dengan para prajurit."
Alisnya sedikit berkerut, seolah mengingat sesuatu.
"Kau tersenyum pada mereka."
Ada jeda kecil.
"Bahkan tertawa."
Tatapannya kembali padaku.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang jarang ada di mata seorang komandan.
Sesuatu yang hampir terdengar seperti pengakuan.
"Aku iri."
Kata itu keluar begitu saja.
Jantungku langsung berdegup keras.
"Iri…?"
"Aku komandan mereka."
Suaranya kembali tenang, tapi tetap rendah.
"Mereka bisa berdiri santai di dekatmu. Berbicara tanpa memikirkan setiap kata."
Ia menatap tanganku yang masih berada dalam genggamannya.
"Melihatmu tersenyum tanpa takut melakukan kesalahan."
Kemudian ia menatapku lagi.
"Sedangkan setiap kali kau berbicara denganku…"
Sudut bibirnya bergerak tipis.
"…kau terlihat seperti sedang berdiri di depan pengadilan militer."
Aku tidak bisa menahan napas kecil yang keluar dari bibirku.
"Komandan… itu karena Anda menakutkan." aku sadar bahwa aku telah memerah.
"Begitu, ya?" ia tersenyum. Untuk pertana kali setelah beberapa lama aku tak melihat senyuman setulus itu menghiasi wajahnya.
Nada suaranya hampir terdengar… geli.
Aku menunduk sedikit, mencoba menyembunyikan wajahku yang memanas.
Namun genggamannya pada tanganku tidak dilepaskan.
Justru ibu jarinya bergerak sedikit, hampir tanpa sadar.
"…Jadi," katanya pelan. "Sesekali saja."
Tatapan birunya tetap tenang, tapi kini jauh lebih hangat.
"Perhatikan aku seperti ini."
Aku membeku.
Panas langsung naik ke wajahku, dan aku yakin sekali wajahku sudah semerah tomat sekarang. Aku buru-buru menunduk, berharap ia tidak menyadarinya.
Namun genggamannya pada pergelangan tanganku belum juga dilepaskan.
Sebaliknya--jari-jarinya justru sedikit menyesuaikan posisi, seolah memastikan tanganku tetap berada di sana.
Aku bisa merasakan tatapannya.
Tatapan tajam milik seorang Erwin Smith yang biasanya membuat seluruh ruangan diam… sekarang terasa jauh lebih lembut.
"Komandan, anda sedang demam," kataku pelan, mencoba terdengar profesional walaupun suaraku sedikit goyah. "Itu sebabnya Anda bicara seperti ini."
Ia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik ia hanya menatapku. Kemudian sebuah napas pelan keluar dari dadanya.
"Mungkin."
Suaranya masih serak, tetapi stabil.
"Demam memang membuat orang mengatakan hal-hal yang biasanya tidak mereka katakan."
Aku semakin tidak berani mengangkat wajahku.
“…Tapi bukan berarti semuanya tidak jujur.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Aku akhirnya memberanikan diri mengangkat pandanganku.
Pria itu masih menatapku.
Wajahnya masih pucat, rambut pirangnya masih berantakan karena demam, tetapi tatapannya sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang mengigau.
Justru terlalu sadar.
"Aku tahu aku sedang demam," ia berkata lagi, "Dan mungkin besok aku akan menyesal mengatakan ini dengan cara seperti ini."
Jari-jarinya sedikit mengencang di pergelangan tanganku--bukan menyakitkan, hanya menahan.
"Tapi dengarkan baik-baik, (Y/N)."
Tatapan birunya menjadi serius.
"Saat kau memperhatikanku seperti ini…"
Ia berhenti sebentar.
Seolah memilih kata-kata yang tepat.
"...Aku tak ingin kau berhenti."
Jeda kecil.
Lalu dengan suara yang lebih rendah lagi, hampir seperti pengakuan yang hanya diperuntukkan untukku--
"Aku menyukainya."
Matanya tidak berpaling sedikit pun dari wajahku yang memerah.
?!?!?!
***
Hi guyss, kalian apa kabar? Long time no see! Semoga sehat-sehat yaaaa
BTW Izin promosi original story ku yah! Siapa tahu ada yang tertarik baca:D

Boleh langsung cek saja di profile ku. Makasihh ❤
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top