Armin: Doubt
Requested by strawgir ⭐
Sudah nyaris satu tahun sejak perang berakhir--satu tahun sejak dunia akhirnya menjadi sedikit lebih tenang.
Satu tahun setelah Armin Arlert berlutut dan memintaku untuk menikah dengannya. Namun, cincin di jariku masih terasa seperti janji yang belum benar-benar memiliki bentuk.
Kami bertunangan, ya. Semua orang tahu itu. Tapi Armin jarang ada di sini.
Sebagai sosok yang sekarang terlibat dalam urusan negara dan diplomasi setelah perang, ia sering bepergian. Kadang berminggu-minggu. Kadang berbulan-bulan.
Suratnya masih datang. Selalu sopan. Selalu penuh perhatian. Namun tetap saja ada jarak yang tak bisa diisi oleh tinta di atas kertas. Kadang-kadang aku bertanya-tanya dalam diam--apakah Armin benar-benar serius mencintaiku?
Atau mungkin di kota lain, di negeri lain, ia bertemu seseorang yang lebih pantas untuk berdiri di sampingnya? Seseorang yang lebih cantik. Lebih elegan. Lebih cocok dengan dunia baru yang sekarang ia jalani.
Pikiran itu selalu datang ketika malam terlalu hening. Dan setiap kali itu terjadi, aku hanya melakukan satu hal yang sama seperti biasanya--melanjutkan hidup.
Toko roti kecil ini selalu menjadi mimpiku sejak dulu. Sekarang akhirnya berdiri di sudut jalan yang tenang, dengan papan kayu sederhana bertuliskan 'Ackerman's Bakery' di depan jendela.
Setiap pagi aku bangun sebelum matahari terbit. Membuat adonan. Memanaskan oven. Menyeduh teh. Rutinitas kecil itu menjadi satu-satunya cara agar pikiranku tidak terlalu jauh melayang pada hal-hal yang belum tentu terjadi.
Namun aku tidak sendirian di sini--di dekat jendela toko, suara roda kursi bergerak pelan di lantai kayu. Kakakku, Levi Ackerman, duduk di sana seperti biasa. Tatapannya mengarah ke pintu toko. Memperhatikan setiap orang yang masuk.
Kebiasaan lamanya sebagai kapten tidak pernah benar-benar hilang, meski tubuhnya kini tidak lagi seperti dulu.
Setelah perang, kaki Levi tak mampu menopang tubuhnya lagi. Ia hanya bisa berjalan beberapa langkah dengan tongkat sebelum rasa sakit memaksanya berhenti.
Sebagian besar waktu ia menggunakan kursi roda.
Namun yang membuatnya tinggal di sini bukan hanya karena itu. Aku yang memintanya. Waktu itu, dunia terasa terlalu kosong. Begitu banyak orang yang pergi. Begitu banyak tempat yang berubah.
Dan ketika semuanya akhirnya selesai, aku menyadari satu hal yang sederhana namun menyakitkan--hanya kami berdua yang tersisa bagi satu sama lain di dunia ini.
Aku masih ingat hari aku mengatakannya padanya.
"Levi," kataku waktu itu. "Pindahlah ke rumahku."
Dia menatapku lama, seolah menimbang apakah aku sedang bercanda.
"Aku tak butuh penjaga."
"Aku juga tak butuh rumah kosong."
Kami saling menatap beberapa detik.
Lalu aku berkata pelan,
"…Kita cuma punya satu sama lain sekarang."
Levi tidak menjawab waktu itu.
Namun keesokan harinya ia datang dengan satu koper kecil.
Sejak saat itu ia tinggal di rumah kecil yang bersebelahan dengan toko ini.
Awalnya hanya kami berdua. Namun beberapa bulan kemudian, dua anak lain ikut tinggal bersama kami.
Gabi Braun dan Falco Grice. Dua mantan prajurit kecil yang juga kehilangan banyak hal setelah perang.
Falco membantu di toko--mengangkat karung tepung, membersihkan meja, bahkan kadang melayani pelanggan dengan senyum canggungnya. Gabi lebih sering mengomel tentang betapa lambatnya Falco bekerja.
Namun rumah kecil ini terasa jauh lebih hidup dengan mereka. Kadang aku berpikir hidupku sudah cukup penuh seperti ini.
Toko kecil. Dua anak yang membuat rumah selalu berisik. Dan seorang kakak penggerutu di kursi roda yang setiap hari mengkritik caraku menyeduh teh.
Namun setiap kali aku tanpa sadar memutar cincin di jariku, pikiran itu selalu kembali.
Armin.
Janji yang belum menjadi kenyataan.
Dari dekat jendela, Levi tiba-tiba bersuara.
"Oi. Roti itu gosong."
Aku tersentak, "Tidak gosong, kok."
Levi menyesap tehnya. "Dua puluh detik lagi."
Aku memutar mata, tapi tetap membuka oven. Aroma roti hangat langsung memenuhi ruangan. Falco yang sedang menyapu langsung mengangkat kepala.
"Wah, baunya enak!"
Gabi mendengus, "Falco, kau selalu bilang itu."
Levi tetap menatap ke arah pintu toko.
Kemudian tanpa melihatku, ia berkata datar,
"Kau murung lagi."
Aku berhenti.
"Tadi tidak."
"Kau memutar cincinmu tiga kali dalam lima menit."
Aku menatapnya.
Kadang aku lupa betapa tajamnya pria ini.
Levi akhirnya menoleh sedikit.
Tatapan abu-abu itu berpindah ke tanganku.
"Jika dia tidak serius denganmu,” katanya pelan, "Tinggalkan saja."
"Levi--" aku tersedak.
"Tidak ada yang memaksamu menikah."
Nada suaranya tetap tenang, seolah ia sedang membicarakan sesuatu yang sangat logis.
Ia menyesap tehnya lagi sebelum melanjutkan,
"Lagipula, menikah bukan satu-satunya cara untuk hidup dengan baik."
Aku menatapnya bingung.
Levi mengangkat bahu sedikit.
"Kau sudah punya toko, (Y/N)," tatapannya menyapu ruangan kecil itu. “Tempat ini cukup ramai.”
Falco yang sedang menyapu hampir menjatuhkan sapunya. Gabi melirik curiga.
Namun Levi melanjutkan seolah mereka tidak ada.
"Kau punya dua anak yang menghabiskan makananmu setiap hari."
Falco tersedak, "Kapten, saya--"
"Diam."
Falco langsung diam.
Levi kembali menatapku.
"…Dan aku di sini."
Kalimat itu keluar begitu saja, sederhana seperti fakta. Namun anehnya membuatku terdiam.
Levi menoleh lagi ke arah jendela.
Seolah pembicaraan ini tidak terlalu penting baginya.
"Jadi kalau Armin tidak punya waktu untukmu," ia berhenti sebentar. “Tidak perlu menunggu.”
Aku masih memegang loyang roti di tanganku.
"Dia sibuk dengan urusan negara, Levi."
"Itu bukan alasan." Nada suaranya dingin. "Kalau seseorang benar-benar ingin berada di suatu tempat, dia akan datang."
Aku tidak menjawab. Levi menatap cangkir tehnya beberapa detik sebelum berkata lagi,
"Selain itu…"
Ia berhenti, seolah sedang mempertimbangkan kata-kata berikutnya.
"Menikah hanya akan membuat hidupmu lebih merepotkan."
Aku hampir tertawa kecil.
"Bagaimana bisa?"
Levi mengangkat alis tipis.
"Suami akan tinggal di rumahmu."
"Ya. Lalu?"
"Dia akan mengatur banyak hal."
"Aku tidak yakin Armin seperti itu."
"Dia tetap akan ada di sini."
Tatapannya bergerak pelan ke arah pintu yang menghubungkan rumah di sebelah toko.
"Kau tidak akan punya ruang sendiri."
Aku menyipitkan mata.
"Levi…"
Ia melanjutkan seolah tidak mendengar nada suaraku, "Belum lagi kau harus berbagi waktu."
"Levi."
"Dan perhatianmu."
Aku menaruh loyang roti di meja dengan bunyi kecil.
"Levi!"
Akhirnya ia menoleh. Tatapan kami bertemu. Beberapa detik hening.
Lalu aku berkata pelan,
"Kedengarannya seperti kau hanya tidak ingin aku menikah."
Levi tidak menjawab. Tidak menyangkal.
Ia hanya menyesap tehnya lagi. Kemudian berkata dengan nada yang terlalu tenang,
"Banyak hal lain yang masih bisa membuatmu bahagia, (Y/N)."
Tatapan abu-abu itu kembali ke arah pintu toko.
"Tidak perlu menjadi milik orang lain untuk itu."
Kalimat Levi masih menggantung di udara ketika--
kling.
Bel kecil di atas pintu toko berbunyi.
Pintu terbuka.
Udara yang dingin masuk bersama sosok yang berdiri di ambang pintu: seragam militer rapi, sepatu yang masih berdebu perjalanan. Dan di tangannya tergenggam
seikat bunga kecil serta sebuah kotak hadiah yang dibungkus sederhana.
Armin Arlert. Untuk sesaat aku hanya berdiri membeku, seolah pikiranku membutuhkan waktu untuk mengejar kenyataan di depanku.
Armin tersenyum begitu matanya menemukan wajahku. Senyum yang sama seperti dulu. Hangat. Lembut. Sedikit canggung.
"Halo," katanya pelan dan lembut.
Suara itu langsung membuat dadaku terasa ringan.
"Armin--"
Loyang roti hampir terlepas dari tanganku.
Aku buru-buru menaruhnya di meja dan berjalan cepat ke arahnya.
"Kau pulang? Apakah urusanmu sudah selesai?"
Armin mengangguk sedikit, rambut pirangnya masih berantakan oleh perjalanan.
"Baru tiba pagi ini."
Ia mengangkat bunga di tangannya sedikit.
"Dan aku langsung ke sini."
Aku tidak bisa menahan senyum yang muncul di wajahku. Selama berminggu-minggu hanya membaca suratnya--melihatnya berdiri di depan pintu seperti ini terasa hampir tidak nyata.
Namun sebelum aku sempat mengatakan apa pun lagi, suara roda kursi bergerak pelan terdengar dari belakangku.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
Kakakku. Kursi rodanya berhenti beberapa langkah di belakangku. Tatapan abu-abunya langsung tertuju pada Armin.
Tajam. Diam. Waspada. Armin juga menyadarinya. Ia sedikit menegakkan punggung.
"Kapten."
Levi tidak menjawab.
Ia hanya menatap bunga di tangan Armin, kemudian kotak hadiah itu. Lalu kembali ke wajahnya.
Beberapa detik sunyi. Falco berhenti menyapu, Gabi ikut menoleh.
Levi akhirnya bersuara,
"Kau lama sekali."
Nada suaranya datar. Namun ada sesuatu yang keras di dalamnya.
Armin tidak tersinggung. Ia hanya tersenyum kecil.
"Urusan diplomasi memakan waktu lebih lama dari yang kupikirkan."
Levi mendengus pelan, "Tentu."
Matanya kembali ke bunga itu.
"Bunga?"
Armin tampak sedikit canggung sekarang.
"Oh-- Ya! Untuk (Y/N).”
Aku langsung memerah. Namun sebelum aku bisa mengatakan apa pun, Levi bergerak sedikit lebih maju dengan kursi rodanya.
Tubuhnya sedikit berada di depanku sekarang. Gerakan kecil. Namun cukup jelas. Seolah tanpa sadar menempatkan dirinya di antara kami. Tatapannya tetap dingin.
"Perjalanan jauh hanya untuk membawa bunga?"
Nada suaranya halus. Terlalu halus.
Armin menatapnya beberapa detik sebelum menjawab dengan tenang,
"Aku juga membawa sesuatu yang lain."
Ia mengangkat kotak kecil di tangannya.
Levi menyipitkan mata.
"Apa?"
Armin tidak langsung menjawab, ia justru menatapku dulu. Senyumnya muncul lagi.
"Janji yang semestinya sudah lama kutepati."
Di belakangku, aku bisa merasakan Levi menegang.
Namun cukup untuk membuat suasana di ruangan itu tiba-tiba terasa jauh lebih berat.
"Baru sekarang?"
Nada itu rendah.
Levi memajukan kursi rodanya sedikit lagi. Posisinya sekarang jelas berada di antara aku dan Armin.
Tatapan dinginnya menusuk lurus ke arah Armin.
"Kau butuh satu tahun untuk mengingat tunanganmu?"
Aku menegang sedikit.
"Levi--"
Namun Levi tidak berhenti.
"Dia menunggumu."
Kalimat itu keluar tanpa emosi. Namun justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.
"Menunggu suratmu. Menunggu kau datang."
Tatapannya bergerak sedikit ke arah tanganku yang memakai cincin itu.
"Kau tahu berapa kali dia berpikir kau mungkin tidak serius?"
Aku langsung menatapnya kaget.
"Levi, jangan--"
"Kau tahu berapa malam dia duduk di sini sendirian setelah toko tutup?"
Nada suaranya tetap datar. Namun sekarang ada sesuatu yang lebih keras di dalamnya.
"Memutar cincin itu seperti orang bodoh."
Ruangan menjadi sunyi. Falco menelan ludah. Gabi bahkan tidak berani menyela.
Levi akhirnya berkata lagi,
"…Dan sekarang kau datang membawa bunga."
Armin tidak bergerak. Ia tidak terlihat marah. Tidak juga tersinggung. Ia hanya menatap Levi dengan tenang.
Kemudian ia melangkah satu langkah ke dalam toko.
"Aku tahu, Kapten,"
Jawabannya pelan. Jujur.
"Aku tahu aku terlambat."
Levi menyipitkan mata.
"Kalau kau tahu, kenapa baru sekarang?"
Armin tidak langsung menjawab. Ia menatapku sebentar--seolah memastikan aku masih berdiri di sana.
Lalu ia berkata,
"Karena jika aku datang lebih cepat, aku mungkin tidak akan kembali lagi."
Aku mengerutkan kening.
"Apa maksudmu, Armin?"
Armin menghela napas pelan.
"Negosiasi setelah perang tidak stabil, (Y/N)."
Ia menatap Levi lagi, matanya penuh harap.
"Setiap perjalanan memiliki kemungkinan tidak kembali."
Levi tidak terlihat terkesan.
"Jadi kau memilih pergi selama setahun."
"Tidak," Armin menggeleng. "Aku memilih memastikan dunia cukup aman… agar ketika aku kembali, aku bisa tinggal."
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Armin mengangkat kotak kecil di tangannya sedikit.
"Kalau aku datang setahun lalu, aku mungkin harus pergi lagi,"
Tatapannya berpindah kepadaku. Lembut.
"Aku tidak ingin menjanjikan hidup bersamamu kalau aku sendiri tidak yakin bisa tetap hidup untuk menjalaninya, (Y/N)."
Levi mendengus pelan.
"Kau pikir itu membuatnya lebih baik?"
Armin tidak mundur.
Ia justru melangkah satu langkah lagi.
Sekarang jaraknya hanya beberapa langkah dariku.
"Tidak."
Jawabannya sederhana.
"Aku tahu itu tidak mudah untuk (Y/N)."
Ia menatapku lagi.
"Aku tahu dia mungkin marah padaku, tapi aku tidak akan menyerah."
Tatapannya menjadi lebih serius.
"Aku sudah memilihnya sejak hari aku berlutut di depan toko ini."
Armin kemudian memegang bunga itu lebih erat.
"Dan aku masih memilihnya sekarang."
Di belakangku, aku bisa mendengar Levi menghela napas pendek.
Nada yang terdengar sangat tidak senang.
"…Tch."
Suara kecil itu keluar dari mulut Levi seperti desahan yang tertahan.
Ia menatap Armin beberapa detik lagi.
Tatapan yang tajam. Mengancam. Seolah mencoba menemukan kebohongan di wajah pria pirang itu.
Namun Armin tidak mengalihkan pandangan.
Akhirnya Levi menghela napas pendek.
"Falco."
Falco langsung tersentak.
"Iya, Kapten!"
"Ayo pergi."
Falco berkedip bingung.
"Sekarang?"
"Sekarang."
Falco buru-buru berjalan ke belakang kursi roda.
"Baik, Kapten."
Levi lalu menoleh sedikit ke arah gadis berambut cokelat yang berdiri dekat rak roti.
"Gabi."
Gabi Braun mengangkat alis, "Apa?"
"Keluar."
"Ha?"
"Kau juga keluar."
Gabi membuka mulut seolah ingin protes. Namun satu tatapan dari Levi cukup membuatnya mengangkat tangan menyerah.
"Baik, baik…"
Ia berjalan menuju pintu.
Falco mulai mendorong kursi roda Levi perlahan menuju keluar.
Namun sebelum benar-benar pergi, Levi berhenti tepat di depan pintu toko.
Ia tidak menoleh pada Armin, tatapannya justru jatuh padaku. Lalu ia berkata dengan nada datar,
"Jangan terlalu mudah memaafkan."
Kalimat itu keluar dengan ringan dari mulutnya. Namun ada sesuatu di dalamnya yang terasa nyaris seperti peringatan. Setelah itu Falco mendorong kursinya keluar.
Pintu toko menutup di belakang mereka.
kling.
Dan tiba-tiba ruangan itu menjadi sangat sunyi. Menyisakan hanya aku dan Armin.
Armin menatap pintu beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas pelan.
"Kapten masih sama seperti dulu, ya."
Aku hampir tertawa kecil.
"Dia bahkan lebih buruk sekarang."
Armin tersenyum sedikit. Lalu tatapannya kembali padaku. Untuk beberapa detik ia tidak berkata apa-apa.
Seolah mencoba mencari kata yang tepat.
Akhirnya ia berkata pelan,
"…Maafkan aku."
Aku menelan ludah.
"Aku tahu satu kata itu tidak cukup."
Ia menggenggam bunga di tangannya sedikit lebih erat.
"Aku tahu aku membuatmu menunggu terlalu lama--kau mungkin meragukan perasaanku sekarang,” Suaranya lembut, namun serius. "Tapi semua yang kukatakan tadi benar."
Aku tidak langsung menjawab.
Armin kemudian mengambil satu langkah lebih dekat.
"(Y/N)," Nada suaranya jauh lebih pelan sekarang. "Bolehkah kau ikut denganku sebentar?"
Aku mengerutkan kening.
"Ke mana?"
Ia tersenyum kecil.
"Suatu tempat."
Aku menatapnya beberapa detik, lalu melirik ke arah pintu toko. Levi, Falco, dan Gabi sudah tidak terlihat di luar jendela.
Akhirnya aku menghela napas pelan.
"Baiklah."
Aku berjalan ke pintu depan toko dan membalik papan kayu yang tergantung di sana.
BUKA
berubah menjadi
TUTUP
Armin memperhatikanku melakukan itu dengan diam.
Aku meraih mantelku dari gantungan.
"Hari ini toko tutup lebih awal." Aku menatapnya lagi. "Jadi sebaiknya tempat yang kau maksud itu layak."
Armin tersenyum--lebih lega kali ini.
"Aku janji."
Dan untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun, aku meninggalkan toko kecil itu bersamanya.
***
Armin membawaku ke pantai.
Pantai itu tidak terlalu jauh dari pelabuhan, namun cukup jauh sehingga suara kapal dan para pekerja pelabuhan hanya terdengar samar di kejauhan.
Di sini hanya ada angin laut, pasir lembut, dan ombak yang bergulung pelan ke bibir pantai. Tidak ganas. Tidak berisik. Hanya suara air yang berulang--tenang, hampir seperti napas.
Aku berjalan beberapa langkah di belakang Armin, masih belum sepenuhnya mengerti mengapa ia membawaku ke tempat ini.
Ketika akhirnya kami berhenti, Armin menatap laut di depan kami cukup lama. Angin membuat rambut pirangnya bergerak pelan.
"Aku pertama kali melihat laut bersama Eren dan Mikasa."
Suaranya lembut, tetapi aku tidak menjawab. Ia tersenyum kecil, matanya masih tertuju ke cakrawala.
"Waktu kecil aku selalu bermimpi tentang tempat ini-- Air asin sejauh mata memandang."
Ia menarik napas dalam.
"Waktu itu aku pikir, kalau aku bisa melihat laut, berarti impianku sudah tercapai."
Ia tertawa kecil.
"Ternyata tidak sesederhana itu."
Armin akhirnya menoleh padaku. Matanya lembut. Aku tak membalasnya. Dia melanjutkan,
"Tapi setelah itu dunia menjadi jauh lebih besar."
Suaranya mulai parau.
"Aku pergi ke banyak tempat setelah perang. Kota-kota yang dulu kita anggap musuh, pelabuhan yang bahkan tidak kita tahu namanya. Tapi setiap kali aku melihat tempat baru,"
Ia berhenti sebentar.
"Aku selalu berharap kau ada di sana denganku."
Dadaku terasa sedikit sesak.
Ia berputar dan mengambil langkah mendekat.
"Kau tahu, (Y/N), aku selalu bermimpi melihat laut dulu. Sekarang, aku membawa impianku ke tempat impianku."
Aku mengerutkan kening, "Apa maksudmu?"
Armin menatapku lama.
"Kau."
Angin laut terasa lebih dingin tiba-tiba.
"Kau adalah tempat yang ingin kutuju, (Y/N). Rasanya aku takkan butuh bepergian lagi jika sudah sampai kepadamu."
Kalimat itu jujur. Tanpa hiasan untuk melebih-lebihkan.
Aku menelan ludah.
"Armin,"
"Aku tahu aku membuatmu menunggu terlalu lama."
Suaranya bergetar sekarang.
"Tapi itu bukan karena aku ragu--justru karena aku terlalu yakin."
Aku terdiam.
"Aku takut, (Y/N),"
Armin menghela napas panjang, berjuang menahan air matanya agar tak tumpah.
"Aku takut kalau aku berhenti sekarang, aku tidak akan punya kesempatan melindungi masa depan yang ingin kubangun bersamamu."
Matanya turun sesaat ke pasir, kemudian ia mengadah kembali ke wajahku.
"Aku takut dunia ini masih terlalu berbahaya. Dan aku takut,"
Suaranya hampir pecah.
"Kalau ketika aku kembali, kau sudah menemukan seseorang yang lebih baik."
Dadaku terasa menegang.
Armin tiba-tiba saja bergerak turun, berlutut di atas pasir. Gerakannya cepat, nyaris terkesan putus asa.
"Armin--" Aku berusaha membantunya berdiri.
Namun ia tak bangkit.
Ia justru menundukkan kepalanya sedikit, tangannya mengepal di atas lututnya.
"Aku mencoba untuk tidak memikirkan itu.
Tapi terkadang, ada malam-malam ketika aku ingin berhenti saja. Berhenti dari semua perjalanan itu. Berhenti dari semua negosiasi itu."
Matanya akhirnya mengangkat lagi padaku.
Dan untuk pertama kalinya aku melihat air mata di sana.
"Dan hanya kabur pulang kepadamu."
Angin laut membawa suara napasnya yang tidak stabil.
"Aku takut setengah mati, (Y/N)."
Ia tertawa kecil, pahit.
"Aku takut seseorang di Paradis membuatmu tertawa setiap hari sementara aku tidak ada."
Air matanya jatuh sekarang.
"Dan kau menyadari, kau tidak membutuhkanku lagi."
Dadaku terasa semakin sesak.
Armin menggenggam kotak kecil yang tadi ia bawa.
Tangannya sedikit gemetar.
"Aku kembali."
Ia membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya ada cincin lain. Lebih sederhana,
namun jelas dibuat dengan hati-hati.
"Aku tidak ingin hidup di dunia di mana aku bahkan tidak mencoba."
Ia menatapku dengan mata merah.
"(Y/N)."
Suaranya hampir seperti bisikan.
"Kalau kau masih menginginkanku,"
ia berhenti sesaat.
Angin laut mengibaskan rambut pirangnya.
"Tolong maafkan aku."
Air mata masih jatuh dari matanya.
"Aku tidak ingin kehilanganmu."
Armin masih berlutut di atas pasir.
Rambut pirangnya telah berantakan, tapi ia bahkan tidak berusaha merapikannya. Matanya masih menatapku--merah, penuh kecemasan yang selama ini mungkin ia sembunyikan.
Tangannya menggenggam kotak cincin itu seolah takut aku akan menolaknya.
"Bahkan Levi benar--Kalau kau meninggalkanku, aku tak bisa menyalahkanmu."
Dadaku terasa menegang mendengar itu. Armin menunduk sebentar, seolah menenangkan dirinya sendiri.
"Aku tahu, aku sering terlihat tenang. Tapi sebenarnya, aku selalu takut-- aku takut membuat keputusan yang salah. Takut gagal melindungi orang-orang yang penting bagiku."
Matanya melembut.
"Dan kau, (Y/N), adalah orang yang paling penting bagiku sekarang."
Dadaku terasa hangat sekaligus sakit.
Armin melanjutkan pelan,
"Aku tidak pergi karena aku tidak mencintaimu. Justru karena aku mencintaimu--karena aku ingin memastikan dunia yang akan kita tinggali cukup aman untukmu-- Namun ternyata selama aku berusaha menyelamatkan dunia, aku hampir kehilangan orang yang menjadi duniaku sendiri."
Aku menahan napas. Armin mengangkat cincin itu sedikit. Tangannya masih gemetar.
"Kalau kau masih mengizinkanku, aku ingin mencoba lagi. Aku tidak akan memintamu menunggu sendirian lagi. Jika dunia memanggilku pergi, aku pasti akan kembali. Selalu."
Ia menelan napas, air matanya jatuh kembali.
Ombak datang dan pergi di belakang kami.
Hingga akhirnya aku melangkah maju. Armin membeku ketika bayanganku jatuh di atasnya.
Aku berlutut di depannya perlahan. Tanganku menyentuh pipinya yang basah. Armin terdiam. Matanya membesar sedikit.
Aku tersenyum kecil, meskipun mataku juga mulai terasa panas.
"Armin,"
Suaraku pelan.
"Dasar bodoh."
Air matanya semakin jatuh. Aku menyeka salah satunya dengan ibu jariku.
"Sejak awal, tidak ada yang bisa menggantikanmu di hidupku."
Armin menghela napas gemetar, seolah beban yang ia tahan selama setahun akhirnya runtuh.
Aku menggenggam tangannya yang memegang cincin.
"Jadi berhenti ketakutan seperti itu."
Senyumku sedikit lebih lembut sekarang.
"Karena bahkan kalau dunia memanggilmu seribu kali," Aku menatap matanya, "aku akan tetap menerimamu ketika kau pulang."
Armin menutup matanya sebentar. Bahunya bergetar pelan, lalu tiba-tiba ia menarikku ke dalam pelukannya.
Pelukan yang sangat erat, hampir putus asa.
Seolah ia benar-benar takut aku akan menghilang jika dilepaskan.
"(Y/N)," Suaranya pecah di bahuku. "Terima kasih."
Angin laut meniup lembut di sekitar kami. Selama beberapa saat, tidak ada yang berbicara, hanya ada suara ombak di antara kami, dan napas Armin yang perlahan mulai stabil di bahuku.
Akhirnya ia sedikit menjauh.
Matanya masih merah, tapi ada sesuatu yang berbeda sekarang--ketenangan yang sudah lama tidak kulihat.
Ia menatapku cukup lama, seolah memastikan aku benar-benar masih ada di depannya.
Lalu tangannya kembali membuka kotak cincin itu.
"Kalau begitu, aku ingin bertanya sekali lagi,"
Matanya menatapku dengan keseriusan yang sama seperti tadi. Namun kali ini tidak ada lagi ketakutan yang menahan suaranya.
"Apakah kau masih mau menikah denganku?"
Angin laut membuat rambutku bergerak pelan. Aku menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil.
"Bukankah aku sudah menunggu satu tahun untuk pertanyaan itu?"
Armin tertawa pelan. Suara yang ringan-- sesuatu yang jarang terdengar darinya sejak perang.
Aku mengulurkan tanganku. Armin menatapnya sejenak sebelum akhirnya mengambil cincin itu dan memakaikannya di jariku.
Gerakannya hati-hati, seakan itu sesuatu yang sangat berharga. Setelah cincin itu terpasang, ia menatapnya sebentar dengan ekspresi hampir tak percaya.
Lalu ia menghela napas panjang,
seperti seseorang yang akhirnya menurunkan beban besar dari bahunya.
"Perang sudah selesai,"
Suaranya pelan, tapi kali ini mantap.
"Negosiasi juga sudah selesai,"
Ia menatapku lagi.
"Tidak ada lagi alasan untuk membuatmu menunggu."
Dadaku terasa hangat--Armin menggenggam tanganku dengan kedua tangannya sekarang.
"Jadi, (Y/N),"
Ia tersenyum kecil, sedikit canggung, tapi sangat tulus.
"Kita tetapkan saja tanggal pernikahan kita"
Aku sedikit terkejut.
"Sekarang?"
Armin mengangguk.
"Kenapa tidak?"
Ia menatap laut sebentar lalu kembali menatapku.
"Aku sudah menunda terlalu lama."
Ada sedikit rasa bersalah di nadanya.
"Dan aku tidak ingin membuatmu menunggu satu hari lagi."
Aku tertawa pelan.
"Levi pasti akan menginterogasimu kalau kita pulang terlalu lama."
Armin langsung menghela napas kecil.
"Ya. aku bisa membayangkannya."
Ia memijat pelipisnya sebentar.
"Dia mungkin sudah mempersiapkan pidato panjang tentang betapa tidak layaknya aku menjadi suamimu."
Aku tersenyum.
"Dia memang seperti itu."
Armin kembali menatapku dengan lembut. Lalu ia menggenggam tanganku sedikit lebih erat.
"Bagaimana kalau musim panas ini?"
Angin laut berhembus lembut di sekitar kami.
Dadaku terasa penuh. Aku mengangguk perlahan.
"Baik. Musim panas ini."
Armin menatapku beberapa detik lagi.
Lalu tiba-tiba ia menarikku ke dalam pelukan lagi. Kali ini lebih ringan. Lebih bahagia.
"Terima kasih, (Y/N)." Suaranya pelan di dekat telingaku. "Karena masih memilihku."
Ombak terus datang dan pergi di pantai.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, masa depan terasa sederhana.
Sangat nyata.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top