17
FLAVIA
Sudah 16 hari sejak kami melakukan liburan singkat di Bandung, menciptakan banyak kebiasan baru yang kadang sering membuatku menggeleng. Setelah 16 hari, aku dan Ray jadi lebih sering berciuman, berpelukan, bercanda, berbicara dari hati ke hati, dan memperdalam ikatan kami. Aku tahu salah, dan lagi-lagi aku membiarkan kesalahan itu menjeratku. Tak apa yang penting kali ini tidak menyakit siapa pun, tak apa yang penting kami sama-sama mencoba bahagia bersama. Kira-kira seperti itu isi kepalaku setiap selesai melakukannya.
Dia pria yang baik.
Dia ayah yang hebat.
Kami saling melengkapi.
Tapi kami masih melakukan hubungan profesioanal. Pagi aku tetap menjadi guru—pengurus bagi anak-anak, malam aku menjadi miliknya. Tidak ada nama pada hubungan kami, aku tidak mau memberi nama cepat-cepat, tapi dia sudah siap. Dia sering bertanya sesekali berupa bujukan, tapi aku tetap tidak mau. Aku masih butuh sedikit waktu sedikit lebih banyak, aku mau membereskan terlebih dahulu masalah yang datang dari masa laluku. Aku harap dia masih mempunyai sabar yang banyak.
Ponselku bergetar, aku segera membukanya cepat-cepat.
Ray : Sisa gaji kamu sudah aku transfer ya... aku lebihkan sedikit, bonus karena sebulan ini kamu bekerja dengan sangat baik. J
Senyumku terbit. Aku menyudahi acara melihat-lihat cemilan yang kulakukan sejak beberapa menit lalu, aku sengaja menunggu kabar Ray tentang gaji pertama di minimarket karena setelah uang itu masuk ke rekeningku—aku punya tugas memindahkannya ke satu tempat dan di minimarket ini memiliki mesin ATM. Menyebalkan! Tapi harus aku lakukan.
Me : Siap! Terima kasih, Mas Raynaldi Adolf Adiyaksa! Kamu bos terbaik seumur hidupku.
P.S: Kamu juga pria terbaik pernah kutemui.
Aku meringis membaca pesan balasanku untuk Ray, terkesan manja dan menggoda.
Aku membawa ponselku ke arah kuping, ini satu dari sekian banyak hal yang kubenci tapi wajib aku lakukan secara berulang.
"Halo..." Terdengar suara ketus di seberang sana.
Aku menarik napas dalam sebelum menjawab wanita di ujung sana. "Halo Mbak Lola, ini saya—"
"Saya sudah tahu kalau kamu Flavia, wanita penggoda suami saya. Kenapa sih, kamu selalu mengatakan 'ini saya' setiap kali menelpon?" Dia terdengar gusar. "Kenapa lagi? Saya sedang banyak pekerjaan."
"Maaf Mbak kalau saya mengganggu." Aku mengumpat dalam hati karena terlalu sering mengucapkan kata maaf padanya.
"Sudah nggak usah basa-basi, katakan dengan cepat."
"Saya mau membayar cicilan bulan ini."
Dia hening untuk persekian detik, lalu tertawa kencang dan sangat mengerikan saat masuk indera pendengaranku seperti mendengar tawa kuntilanak, bulu halus berdiri begitu saja.
"Kamu mau berpura-pura di depan saya? Buat apa sih? Kamu mau menunjukkan kalau sekarang kamu telah dijamin oleh pria yang lebih kaya dari Benny? Kamu mau membuat saya marah?"
Aku tidak nyaman mendengar nama Benny—pria masa laluku, tapi aku lebih tidak nyaman dengan kata berpura-pura. Aku tidak berpura-pura, aku memang ingin membayar cicilan yang kami sepakati bersama di hadapan kuasa hukum Lola.
"Maksudnya apa ya, Mbak? Saya—"
"HALAH! Sudahlah, kamu sudah punya hutang lagi, sudah lunas! Kalau kamu mau membayar silakan membayar kepada Raynaldi, tapi saya rasa dia tidak butuh uang dari kamu, dia butuh kamu temani selagi statusnya duda!" Aku tidak menyangkan nama Raynaldi akan tercetus dalam pembicaraan ini. "Hebat ya kamu, bisa memanfaat tubuh dan kecantikan kamu dengan baik untuk mendapatkan uang dan kenyamanan. Tapi ya siap-siap saja, siapa tahu kalau sebentar lagi kamu ditendang dari rumah itu. Kamu tahu kan keluarga Adiyaksa itu keluarga terpandang, mereka mana mau menerima pela—" Aku mematikan sambungan telepon sebelum Lola semakin jadi menginjak harga diriku.
Amarah di kepalaku memuncak pada Ray, aku tidak percaya dia melakukan ini tanpa sepengetahuan aku! Seharusnya dia mengatakannya padaku, seharusnya dia tahu ini sangat penting bagiku.
Aku terhuyung keluar dari minimarket, aku tak sengaja menabrak beberapa orang tapi tidak meminta maaf. Sesampainya di halaman minimarket, aku mendapati mobil yang sangat kukenal terparkir di sana. Jendela mobil terbuka, dia menjulurkan kepala melewati jendela, tersenyum begitu lebar seolah tidak ada yang salah hari ini. Dia melambaikan tangan sebagai tanda untukku segera masuk ke mobil, aku ingin mengabaikannya tapi kakiku melangkah maju ke tempatnya.
Aku masuk ke mobil, dia menyambutku dengan hangat dan mesra.
"Hei! Tadi aku udah sampai di rumah, tapi Bi Mar bilang kamu jalan kaki ke minimarket ini. Kenapa sih kamu nggak minta tolong Pak Bowo anterin, mobil kan nganggur. Jangan alasan karena jaraknya dekat, seenggaknya lebih baik naik mobil daripada kamu jalan siang-siang gini." Tangannya mendarat di puncak kepalaku, mengusap dengan penuh perasaan. Lalu menjalankan mobil menjauh dari minimarket. Apa dia tidak merasa telah membuat kesalahan fatal? Karena aku sama sekali tidak menemukan tanda-tanda dia sedang berpikir. "Oh ya, besok Arka dan yang lain ngajak kita makan siang. Kamu mau? Anak-anak, bisa kita titipin dulu ke rumah orang tua aku, mereka pasti kangen cucu." Dia terus bermonolog tanpa peduli aku semakin siap untuk meledak. "Sekalian kamu bisa ketemu Mama lagi, setiap dia telpon isinya nanyain kamu mulu!" Dia tertawa dan aku semakin muak. "Via, kenapa? Daritadi aku perhatikan kamu jadi pendiam, kayak pertama kali naik mobil aku dulu."
"Kamu kenal Lola?" tanyaku tanpa basa-basi.
Dia terlihat berpikir sebentar. "Kenal. Dia sering urus akta rumah di Mama, dia usaha jual-beli rumah. Kenapa?"
"Dia istri dari pria masa laluku namanya Benny. Apa kamu tahu itu juga?" Aku memperhatikan ekspresinya nampak terkejut.
"Wah, dunia ternyata kecil ya..." Usahanya agar terlihat terkejut, gagal total. Kalimat dan gesturnya semua terlalu dibuat-buat.
"Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku, Ray?" Suaraku bergetar, aku mengalihkan pandangan ke luar memperhatikan apa saja yang berhasil dilewati oleh mobil ini.
"Via..." Tangannya mencoba menangkup tanganku, tapi aku menolaknya. Aku menngangkat kedua tangan dan melipatnya di depan dada. Dia sempat melihatku sekilas. Apa sekarang dia paham alasanku? Aku melirik dari ekor mata untuk memastikan itu. Dia sedang mencengkram kemudi mobil dengan erat, dia sempat menggeleng kecil. Dan aku tahu, dia sedang memaki di dalam hatinya. "Via, aku..."
"Ini sangat penting buat aku." Aku memotong kalimatnya. "Aku bekerja sebaik mungkin supaya bisa lepas dari hal menyebalkan itu dengan caraku sendiri, bukan dengan cara yang kamu gunakan." Suaraku semakin serak, aku nyaris menangis. Entah lah aku meraskan kekecewaan yang sangat dalam akan hal ini. Aku sudah pernah membayangkan kebahagaian sebesar apa yang akan kurasakan saat melihat semua hal buruk yang mengikuti karena Lola dan Benny lenyap dan itu semua hasil kerja kerasku. "Kamu tahu, kamu telah berhasil mengacaukan kepingan harga diri yang telah susah payah aku kumpulkan selama tujuh bulan terakhir ini."
Mobil memasuki gerbang culster, dan aku tak lagi kuat menahan tangisku.
"Mereka menghancurkan harga diriku hingga kepingan yang sangat kecil dan satu-satunya caraku untuk menyatukan kembali kepingan kecil itu dengan memulangkan semua uang yang pernah diberikan kepadaku dari hasilku bekerja."
Mobil berhenti di halaman parkir rumah, Ray melepaskan seat belt dengan cepat. Dia duduk miring menghadapku, menarik satu tanganku secara paksa dan membawanya ke depan dada.
"Aku hanya ingin melepaskan kamu dari bayangan mereka, aku mau urusan kamu segera selesai dan kamu bisa melupakan semua hal yang berhubungan dengan mereka."
Aku menoleh. "Apa sekarang terlihat bebas?" Aku menggeleng. "Kamu baru saja memberikan mereka kesempatan untuk menghancurkanku lebih kecil dari sebelumnya." Aku meloloskan tangan dari genggaman Ray. "Mereka semakin lantang berteriak pelancur padaku." Tawa sumbangku lolos.
Ray kembali mendapatkan lenganku, menarik dan memaksaku agar mau melihat ke arahnya. Untuk persekian detik kami saling menatap tanpa suara, perasaan marah yang kurasakan saat mendengar nama Ray dari Lola berganti menjadi kekecewaan yang sangat dalam. Seharusnya dia tidak masuk dalam ranah masalah Lola dan Benny. Seharusnya dia membiarkan semua berjalan seperti kemarin-kemarin, sebelum dia mengetahui aku memiliki masalah rumit.
Tangan Ray merangkak naik ke bahu, leher, dan berhenti pada sisi wajahku.
"Aku hanya ingin membantu kamu, nggak ada sedikit pun niatan untuk membuatmu terlihat seperti..." Dia berhenti sejenak, terlihat sangat gusar. "Kamu bukan wanita seperti itu, Via."
Aku menjauhi wajah dari tangan Ray. "Aku tahu maksud kamu baik tapi cara kamu salah." Aku menghapus air mata dan membuka pintu mobil. "Tolong untuk hari ini jangan bicara denganku dulu." Kemudian aku turun sebelum dia menyanggupi permintaanku.
Aku memasuki rumah, berlari melewati ruang tengah, dan menemukan Bi Mar tengah menyiapkan puding buat anak-anak. Semuanya terkejut melihat kedatanganku, terutama Bi Mar.
"Bi, tolong urus anak-anak dulu hari ini. Aku merasa kurang sehat, mungkin masuk angin," pintaku.
Bi Mar mengerutkan dahi, beliau pasti tahu aku tidak sakit. Bir Mar mengangguk lalu aku naik dengan tergesa-gesa menuju kamar. Sesampainya di kamar, aku langsung melemparkan diri di atas ranjang.
Aku berbaring miring, mengambil ponsel yang bergetar di saku celana jinsku.
Ray : Maaf...
Aku melihat pesan singkat dari Ray, baru terkirim sekitar tiga menit lalu. Tapi aku tidak membalasnya, aku sedang tidak mau membalas pesan darinya.
Aku meninggalkan pesan Ray dan membuka pesan yang lain.
Dela : Besok kamu ikut kan? Udah lama kita nggak ketemu.
Tapi di sana ada Ray.
Tapi aku mau bertemu Dela, mungkin dia bisa memberitahuku apa yang harus aku lakukan.
Tapi aku tidak mau memberitahu Dela alasan yang menjadi pemicu Ray melakukan hal ini padaku.
Tapi aku tidak tahu aku harus apa.
ENJOY RAY VIA
MAAF BARU UP LAGI, KMRN TERKAPAR DAN MASUK RS LAGI.
JGN LUPA VOTE DAN COMMENT
LOVE, FLA
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top