16
Gue terbangun saat matahari masuk melalui cela gorden dan mendapati kalau Flavia tidak ada di ranjang, kemungkinan besar dia sudah pindah ke kamar anak-anak. Gue memiringkan badan, mendapati keadaan kamar cukup rapi seperti tidak ada kekacauan yang terjadi semalam. Gue kembali terlentang sambil memandang langit-langit, bayangan kami berciuman, keluar dari kolam, masuk ke kamar sampai terjatuh dan kami menertawai kejadian itu sebentar. Lantai bukan pilihan terbaik untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan bermesraan, tapi kami melakukannya di sana, merasakan dinginnya lantai secara bersamaan. Tidak merasa puas, kami melanjutkan di tempat yang lebih baik, di ranjang yang hangat dan empuk. Kemarin malam, kami benar-benar melupakan banyak hal termasuk tentang anak-anak di kamar sebelah.
Gue ingat jelas bagian tubuh mana saja yang disentuh olehnya, gue ingat jelas cara bibirnya beradu dengan bibirnya.
Gue menutupi mata dengan lengan, tidak percaya akan melakukan itu bersama Flavia, iya, si gadis perpustakaan. Semoga ini bukan mimpi! Semoga bukan! Gue membawa satu tangan di atas dada. Ini bukan mimpi! Ini nyata! Degup di dalam sana kencang. Gue dan Flavia melakukannya, bukan sekadar mimpi.
Pintu kamar berderit. Gue menyingkirkan lengan dari mata dan mencari tahu siapa yang datang. Gue menarik selimut tinggi sampai sebatas leher, berjaga kalau yang datang adalah anak-anak. Kondisi gue saat ini tidak sedap dipandang oleh mereka.
Tapi ketakutan gue tidak terjadi yang datang bukan anak-anak, tapi dia.
"Kenapa harus mengendap-endap seperti itu?"
Dia terkejut mendengar pertanyaan gue. Dia memandang gue sebentar, lalu buru-buru membuang muka.
"Kenapa pipimu kemerahan seperti itu?" Pertanyaan kedua yang gue berikan dengan maksud menggoda. Entahlah, gestur tubuhnya menunjukkan kalau dia sedang menghindari pandangan kami bertemu.
"Aku mau ambil barang yang ketinggalan di sini. Aku sengaja jalan pelan-pelan, takut ganggu tidur kamu," jawabnya. Dia mencoba terlihat biasa, berjalan seolah tidak memikirkan sesuatu.
"Oh, kirain mau bangunin aku." Gue sengaja duduk tegak di ranjang, mengamati dia melangkah menuju sudut sebelah kiri, lalu berhenti pada sebuah meja cokelat bulat. Dia meraih satu benda dari atas meja, berusaha menyembunyikan dari gue. "Ngapain disembunyiin segala? Aku udah tahu ukurannya."
Dia berbalik dan memandang horor, satu tangannya menyembunyikan dalaman atasnya di balik punggung.
Gue berusaha menahan tawa namun gagal. Ekspresi wajah Flavia terlalu menggemaskan untuk ukuran wanita dewasa yang sudah mempunyai pengalaman bersama pria dewasa, dia bersemu di ujung sana.
Dia membuka bibirnya. "Kamu..." Kemudian menutupnya lagi, lalu mendesah sangat kasar. "Berpakaian yang lengkap, anak-anak sebentar lagi pasti bangun. Aku keluar dulu..."
Gue mengamati ekspresi wajahnya. Itu bukan ekspresi senang. Dia terlihat sedang banyak pikiran, khawati akan sesuatu. Apa dia khawatir karena kejadian semalam? Apa dia menyesali yang telah terjadi?
Dia melangkah menuju pintu. Gue lompat dari ranjang, berjalan lebih cepat dari dia dan menutup pintu sebelum dia berhasil keluar.
"Ray..."
"Kalau kamu bersikap seperti ini karena kejadian semalam, aku minta maaf. Tapi kamu bilang—
"
Dia mengulum senyum, mengulurkan tangan menuju lengan gue.
"Jangan meminta maaf untuk semalam, aku tahu kamu nggak benar-benar menyesalinya. Lagi pula, kamu bukan memaksaku melakukannya dan ya—aku juga udah bilang kalau semua nggak masalah," katanya, sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu.
"Tapi, kenapa sikapmu sedikit berbeda?"
Kami saling berpandangan untuk beberapa saat. Lagi-lagi yang gue lihat di matanya bukan bahagia tapi kekhawatiran yang sangat besar.
Gue melangkah menghilangkan jarak yang tersisa di antara kami, merengkuh pipi kirinya lalu matanya terpejam. Gue mencium keningnya dan cengkraman tangan dia semakin erat.
"Kenapa?" Gue mengganti bibir dengan kening, kulit kami saling bersentuhan dan gue semakin mau tahu apa isi kepalanya saat ini.
Dia mengambil napas dalam dan mengembuskannya. "Nggak ada apa-apa kok." Matanya terbuka dan kekhawatiran semakin jelas.
"Aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu. Kalau memang ada hal yang mengganggu pikiranmu, lebih baik kamu membaginya sama aku. Aku yakin berdua lebih baik daripada menanggung seorang diri." Dia membawa satu tangannya ke pinggang gue, wajahnya menjauh memberikan sedikit ruang bagi kami.
Dia menggeleng, sejurus kemudian kepalanya sudah menempel di dada, kedua tangannya memeluk pinggang gue dengan erat lalu keheningan menemani kami. Gue membalas pelukannya, sama eratnya—kami melakukan pelukan ini seakan tidak akan ada lagi kesempatan yang tersisa.
"Ray..." Tiba-tiba dia memecahkan keheningan.
"Iya?"
"Apa yang akan terjadi setelah ini?" Dia melepaskan pelukan, menjauh sekitar dua langkah ke belakang. "Apa ini akan berlanjut, maksud aku... apa setelah ini—"
Gue merengkuh wajahnya lagi. "Aku berbeda dari pria itu. Kita melakukannya sekali bukan berarti aku akan menjadikan itu kewajiban kamu. Kita hanya akan melakukannya kalau memang kamu benar-benar mau, kalau aku sih mau-mau aja..." Gue mencoba mengatakan kalimat itu dengan jenaka, berharap setelahnya rasa khawatir memudar. Gue bisa menebak rasa khawatir Flavia menjurus ke mana, masa lalunya sangat membekas.
"Aku tahu bukan pemaksa seperti dia," bisiknya. "Aku mau bertanya satu hal dan kamu harus menjawabnya dengan jujur."
"Oke."
Dia memandang lurus, serius, penuh selidik. "Apa sejak kita berciuman di kantormu, aku terlihat seperti wanita murahan?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Jawab aja, Ray."
"Enggak. Dengar..." Gue mengarahkan tangan ke tengkuknya, menarik wajahnya mendekat dan menyatukan kening kami. "Nggak pernah sekali pun dalam pikiranku menyebut kamu sebagai wanita murahan. Kamu bukan wanita seperti itu, berbuat satu kesalahan bersama pria brengsek nggak menjadikan kamu sebagai wanita murahan." Dia bersiap untuk menyahut, tapi gue lebih dulu menghentikannya dengan ciuman. Dia bukan wanita seperti itu, dia wanita hebat tapi dia tidak menyadarinya.
Bibir kami terpisah, dia terlihat mengatur napasnya. "Berhenti menunjuk dirimu rendah, kamu hebat, Via. Terlalu hebat sampai-sampai terkadang aku yang merasa nggak pantas untuk mendapatkan kamu."
Dia hening sesaat, lalu tertawa geli.
"Astaga, kita ini berdua ini sangat aneh. Sama-sama nggak percaya diri, tapi mampu saling menasihati." Dia mendorong dada gue. "Pakai bajumu, aku saja yang berpakaian lengkap merasa dingin. Kalau kamu terus seperti ini, bisa-bisa kamu masuk angin."
Gue mengikuti arah pandangannya. Dan gue baru sadar kalau satu-satunya yang melekat di badan ini hanya celana boxer, padahal gue sudah memikirkan kaus dan celana pendek tapi melihat Flavia mau keluar dengan wajah mengerikan membuat gue melupakan semuanya.
Dia mengusap dada gue, apa dia menyadari kalau gemuruh selalu tercipta setiap kali kami berdekatan?
"Berpakaian lalu keluar kamar dengan cepat. Aku mau membangunkan anak-anak terlebih dahulu." Gue mengangguk. "Nggak usah mandi, aku yakin setelah ini anak-anak pasti mau berenang sama kamu. Oke?" Gue mengangguk sekali lagi.
Tangannya nyaris membuka pintu, tapi lagi-lagi gue menahan pintu agar tetap tertutup. Gue berdiri di belakangnya dengan kedua tanganya lurus menekan pintu cokelat di depan kami. Dia terkukung di dalam ruang yang gue ciptakan. Dia menoleh dan memberikan pandangan penuh tanya.
"Kamu tahu kan kalau aku tulus tertarik denganmu?"
Dia tersenyum, lalu berbalik hingga kami berhadapan. "Tahu."
"Kamu tahu kan kalau sekarang bukan hanya ada rasa tertarik, tapi ada rasa yang baru. Lebih besar, lebih—" Dia mengangkat telapak tangannya di depan bibir gue.
"Aku tahu, aku pun merasakan itu. Semakin besar, semakin penuh, semakin nggak terkendali. Tapi, kita butuh tambahan waktu untuk memutuskan hal-hal penting. Kamu pernah salah langkah, aku pun begitu. Nikmati saja alurnya..." Dia memeluk pinggang dan menempelkan pelipisnya di dada. "Aku juga tahu, kamu hanya milikku... kamu sudah mengatakan itu semalam suntuk."
Gue menurunkan tangan dan membalas pelukannya. Mendekapnya seolah tidak akan pernah ada lagi kesempatan untuk mengulang kejadian ini. Seandainya mengatakan cinta semudah yang terlihat, gue ingin menyampaikan pada Via, betapa gue sangat mencintai dirinya. Semua tentangnya. Sejak pertemuan kami pertama kali di perpustakaan. Tapi untuk mengatakan itu butuh waktu yang tepat, kesempatan yang tepat.
Mungkin gue sudah siap. Tapi wanita ini... dia butuh waktu untuk menyembuhkan luka, meruntuhkan seluruh dinding pelindung yang dia pakai.
Gue mencium puncak kepala Via. "Ya... aku hanya milikmu, Flavia. Semua tentangku, kepunyaanku... semua milikmu." Dulu sampai detik ini, aku selalu milikmu.
ENJOY RAY-VIA
JANGAN LUPA VOTE DAN COMMENT...
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA...
LOVE, FLA
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top