Bagian: 6

Kiyomitsu POV

Namaku, Kashuu Kiyomitsu. Dulu diriku hanya sebilah pedang, tak dapat menjangkau manusia—kami dekat tapi juga jauh. Roh pedang, kami dikenal dengan nama seperti itu. Konon, air mata, keringat dan darah yang dicurahkan oleh sang pembuat pedang dapat membentuk jiwa tak kasat mata penunggu sebilah pedang. Salah satunya adalah aku.

Kashuu Kiyomitsu, nama penempaku. Ia memakai namanya untuk nama pedangnya—aku. Beliau adalah penempa handal, namun tersisihkan.
Orang-orang tepi sungai... Aku tak menganggap mereka tercela—terlepas dari profesi mereka yang dianggap kotor.

Awalnya aku adalah sebilah pedang yang sangat sulit digunakan. Diriku banyak berpindah tangan, bagai tak diinginkan. Pedang tanpa pemilik——menyedihkan. Lusuh, tak indah, sulit digunakan, barang tak berguna... Entah apa lagi cacian dari mereka.

Kashuu Kiyomitsu, pedang yang sulit digunakan. Kupikir selamanya pun aku akan tetap seperti ini——berganti-ganti pemilik.

Hingga akhirnya Okita-kun menjemputku. Kupikir, pada akhirnya yang sabar menunggu akan mendapat balasannya. Aku bersuka cita, akhirnya ada yang bisa memakaiku! Ditambah lagi, ia sangat menyayangiku! Terimakasih sudah menggunakan dengan baik.
.
.
.
.
Cinta. Satu kata perusak segalanya. Kenapa? Kenapa aku harus jatuh cinta pada Okita-kun? Dasar pedang tak tahu diri! Sudah baik hati kau dipungut, sekarang malah jatuh hati padanya yang tak tersentuh!

Roh pedang dan manusia. Sungguh cinta yang sia-sia. Dia tak akan bisa membalas perasaanmu, dan dirimu akan terus merasa sakit. Pedang yang gentar hanya bisa merepotkan tuannya. Kashuu Kiyomitsu menjadi pedang yang seperti itu.

Kupikir, jika hari itu Yasusada-lah Okita-kun bawa, ia akan pulang dengan selamat tanpa terluka. Ini semua karena aku lemah. Jatuh cinta menumpulkan ketajaman pedangku, melumpuhkan indra pembunuhku, mengubahku menjadi sesuatu yang lebih manusiawi. Padahal hanya sebilah pedang! Aku tahu itu! Aku tak pernah pantas untuknya!

Pada akhirnya... Seperti takdir yang sebelumnya membuntutiku, aku dibuang. Kesal, namun apa boleh buat? Akhir dariku sudah ditentukan.

Bunga itu... Apa sebenarnya yang terjadi pada diriku? Apa Kashuu Kiyomitsu memberiku semacam mantra atau sesuatu semacamnya?

Rasanya menyakitkan. Kenapa harus aku yang merasakannya. Aku tak pernah mendengar orang lain mendapatkan kutukan seperti itu. Apa aku terlalu hina?

Kemudian, Aruji-sama mendatangiku. Memberiku secercah harapan akan kehidupan. Menjadi manusia... Kenapa tidak dari dulu saja?... Ugh, aku tak bermaksud berpikiran seperti itu. Aruji-sama menjadikanku manusia, untuk membantunya. Bukan untuk menyatukanku dengan Okita-kun. Semua ada bayarannya, dan aku harus melakukannya. Tak apa, aku mengerti. Kujuga ingin disayangi oleh tuan baruku saat ini. Hanya dengan begitulah, aku tidak akan dibuang lagi. Menjadi manis, kuat, atau keduanya sekaligus! Aku harus seperti itu... Untuk bertahan hidup.

Kashuu Kiyomitsu POV—End.

***

Kiyomitsu membuka kelopak matanya perlahan. Hari ini adalah hari dimana ia bertugas sebagai penyambut ksatria pedang yang baru.
Kiyomitsu merapikan tempat tidurnya. Menggeser shoji  melangkah menyapa keluarga barunya di benteng ini.

"Ah! Kashuu-san, selamat pagi! Ada ksatria pedang yang baru lagi! Tapi sebelumnya anda harus sarapan terlebih dahulu bersamaku! " Kata seorang gadis cilik bermata merah dan rambut abu-abu ceria.

"Ah, Imanotsurugi-chan! Selamat pagi juga! Baiklah, aku akan sarapan terlebih dahulu. " Kiyomitsu segera mengikuti gadis cilik itu menuju ruang makan. Tak terasa, sudah berbulan-bulan ia menempati Citadel. Semakin banyak ksatria pedang yang muncul, semakin banyak pula kasih sayang yang dibagi.

"Selamat pagi, Kashuu-san. Menu sarapan hari ini, aku membuat udon. Semoga kalian semua menyukainya. " Kata seorang pria berpenutup mata di mata kanannya. Ia membawa tiga mangkuk udon yang siap dimakan.

"Kelihatannya enak sekali! " Kiyomitsu dengan antusias mendudukan dirinya untuk memulai sarapan. Bersama beberapa ksatria pedang lainnya.

"SELAMAT MAKAAAANN!! " Teriak anak-anak kecil disana.

***

Setelah sarapan, Kiyomitsu mendatangi kamar sang Aruji.
"Saya datang, Aruji-sama. Kata anda, akan datang ksatria pedang baru, siapakah ia kali ini? " Tanya Kiyomitsu sopan.

Sang Aruji tertawa. "Jangan terlalu kaku seperti itu, Kiyomitsu~ kita memang tuan dan pelayan, tapi kau jugalah sahabatku yang pertama! Lihat ini, aku telah membeli aksesoris dari toko online! Kuberikan padamu karena kurasa akan cocok! " Katanya pada Kiyomitsu. Kiyomitsu menatap jepit rambut berbentu bunga.

"Apa ini... Boleh untuk saya? " Mata ruby itu berkaca-kaca. Ia pikir, dengan banyaknya pedang yang lebih kuat di benteng ini, ia akan semakin dilupakan oleh sang Aruji. "Terimakasih... "

"Nah, sekarang jemput ksatria pedang yang baru itu. Kurasa kau akan semakin senang dengan kedatangannya! " Kata sang Aruji yakin.

"Benarkah? Jangan-jangan... Hah?! " Kiyomitsu berlari keluar dari ruang sang Aruji. Hasebe yang kebetulan sedang menuju ruang sang Aruji bertabrakan dengan gadis tersebut.

Bruak!

Keduanya menggerang kesakitan. Terdengar suara panik sang Aruji.
"A-Ada apa?" Tanyanya panik.

"A-Aduh~ sakit sekali~" Adu Kiyomitsu kesakitan. Hasebe melindungi tubuh gadis itu dengan tubuhnya saat terjatuh dari tangga.

"Ugh, Kashuu-san. Kau tidak apa? Seharusnya kau lebih memperhatikan langkahmu... Wanita adalah makhluk yang mempunyai tubuh rapuh, kau harus melindungi pemberian Aruji dengan baik. " Katanya menceramahi Kiyomitsu atas kecerobohannya.

Kiyomitsu tak segera menyingkir dari atas Hasebe dan malah mengerucutkan bibir cherry-nya. "Aku tahu! Aku hanya terlalu bersemangat saja. Dan lagi, aku tidak lemah! Meskipun aku perempuan, aku kuat! Hasebe-kun baka! " Ia melompat turun tubuh Hasebe dan berlari menuju ruangan yang ditujunya.

***

Pedang itu mulai bercahaya. Kiyomitsu menatap wujud pedang yang mulai membentuk manusia. Saat sosok itu muncul di hadapannya. Ia meneteskan air mata.

"Selamat datang, Yasusada... " Katanya pelan. Sosok pemuda berwajah manis itu menatap lawan bicaranya dengan pandangan kosong.

"Kiyo...mitsu... ?" Katanya pelan. Binar mata mulai muncul. "Ini bukan bohong bukan?! Aaah!!! Kiyomitsu!!! " Pemuda itu langsung mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya berputar-putar. Kaki Kiyomitsu melayang dari tapakannya, ia masih terkejut, senang, dan haru sekaligus.

"Yasusada! Ahahaha! Yasusada! " Teriaknya senang, ia masih menangis senang. Tangannya memeluk leher Yasusada—tidak membiarkannya lepas.

Aura keharu biruan itu dalam sekejap luntur saat seseorang menginterupsi mereka.
"Eh? Ehem—maaf mengganggu kalian. Tapi, apa kamu lapar? " Kata Shokudaikiri memecahkan suasana mereka. Ia tertawa canggung.

"Eh? Ah, te-terimakasih. Akan segera kumakan...um? " Yasusada memiringkan kepalanya, kebingungan.

"Ah! Namaku, Shokudaikiri Mitsusada. Dan kau...? " Kata Shokudaikiri memperkenalkan diri.

"Namaku Yamatonokami Yasusada. Salam kenal. " Kata Yasusada seraya tersenyum manis.

"Nah, setelah makan kau akan kuajak berkeliling. Ayo kita pergi! " Kiyomitsu menarik tangan Yasusada menuju ruang makan.

***

"Hee... Jadi ini benteng yang cukup luas dan indah ya~ kurasa aku akan betah berada disini. Terimakasih sudah mengajakku berkeliling, Kiyomitsu! " Kata Yasusada pada Kiyomitsu.

"Tentu saja! Tidak masalah! Sekarang akan kutunjukkan ruangan kita. " Kiyomitsu sekali lagi menarik tangan Yasusada.

Gratak!

Pintu digeser, memperlihatkan sebuah ruangan sederhana dengan sedikit pernak-pernik disana-sini.

"Karena kita pedang Okita-kun, kita satu ruangan. Bukankah itu seru? " Kata Kiyomitsu senang.

"Ta-Tapi, Kiyomitsu. Katamu tadi, perempuan dan laki-laki itu tidak boleh berduaan... Nanti—"

"Oleh karena itu! Aruji-sama sudah membuat mantra spesial untuk kami para perempuan. Huum? Kau penasarankah? Coba saja kalau berani. Khukhukhu! Akan ada hal buruk yang terjadi padamu... Nantikan saja, Yasusada. " Kata Kiyomitsu seraya tersenyum licik.

"Eeeh?! Aku tidak mau melakukannya tau! Apalagi denganmu, bisa-bisa aku langsung dileburkan Aruji. Membayangkannya saja aku sudah merinding!" Kata Yasusada memeluk dirinya sendiri. Kiyomitsu tertawa lagi, ia menepuk punggung Yasusada keras.

"Hei! Sakit tahu! Sini kau, akan kubalas perbuatanmu! " Yasusada mengejar Kiyomitsu yang sudah kabur dari amukan Yasusada. "Tunggu kau! Ahahaha! "

"Siapa yang mau menurutimu? Yasusada baka~ " Kiyomitsu berlari lebih cepat. Yasusada mengejar dari belakang.

Imanotsurugi memperhatikan interaksi keduanya lalu tersenyum.
"Kashuu-san itu... Ia tampak lebih ceria dari biasanya. Bukan begitu? "

"Hum! Syukurlah kalau begitu! " Kata remaja berambut hitam panjang yang tengah membawa seember kotoran kuda. Imanotsurugi menutup hidungnya.

"Namazuo-san, kita tidak memerlukan kotoran kuda. " Kata gadis cilik itu.

"Eh~tidak perlu? Padahal aku sudah giat mengumpulkannya. " Kata Namazuo tidak terima.

"Kau hanya bermain-main bukan? Segera selesaikan pekerjaanmu. " Kata seorang gadis berwajah datar.

"Haha, akan kutanyakan pada Hasebe-san, apa ia perlu kotoran-kotoran kuda ini dulu~ sampai jumpa, Honebami. Aku mengandalkanmu untuk bagian selanjutnya! " Kata Namazuo seraya beranjak pergi.

"Kau akan dimarahi... " Kata Honebami pelan, namun remaja itu telah berlalu.

Bersambung...

Tolong Vote dan komen ya, Silent Readerku  tersayang~ (>_•)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top