Bagian: 7
Yasusada POV
Beberapa hari ini terasa menakjubkan. Menjadi manusia ternyata sangat menyenangkan, kau bisa berkomunikasi dengan orang lain sesuka hati! Apakah ini yang dirasakan oleh Okita-kun selama ini ya? Ah—tidak juga, dia kan sudah menjadi manusia sejak awal. Manusia kecil yang disebut bayi! Ya, mereka sangat imut dan rapuh! Aku jadi ingin melihatnya...
"Yasusada! Apa yang kau lakukan disitu? " Teriakan Kiyomitsu membuyarkan lamunanku. Ia mendatangiku dengan wajah merengut yang menurutku coba ia seram-seramkan—yang akhirnya gagal.
"Are? Kiyomitsu, ada apa ya? " Tanyaku polos. Ah, sepertinya aku memang pelupa.
"Sekarang tugas kita untuk mengurus kuda tau! " Ia menarik lenganku menuju kandang kuda. Saat dihadapan kuda gagah itu, aku jadi teringat satu pertanyaan yang ingin kutanyakan.
"Kiyomitsu, apa nama kuda ini? Kau adalah penghuni pertama benteng ini, bukan? " Tanyaku pada Kiyomitsu. Kiyomitsu mengambil makanan kuda itu dan menaruhnya ditempatnya.
"Huh? Namanya Hanatarou! " Katanya singkat.
"Eh? Tapi bukannya kuda ini jantan ya? Kenapa namanya seperti itu? " Tanyaku lagi. Aku merasa aneh dengan nama kuda ini.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba Aruji-sama memberinya nama itu. Aku sih tidak masalah! " Katanya seraya mengelus-elus Hanatarou lembut. "Lihat, matanya sangat cantik dan bersinar. " Aku ikut memperhatikan kuda itu, memang benar matanya berbinar dan indah.
"Nah, mari kita selesaikan segera. "
Kulihat dari sudut mataku, Hasebe sedang berlarian di teras. Ada apa ya?
"Hasebe! Ada apa buru-buru? Apa ada tugas ekspedisi dari Aruji? " Tanyaku pada Hasebe, seketika itu pula ia memberhentikan lajunya.
"Ya, segera berkumpul di tempat lonceng. Aku tidak menerima penolakan atau keterlambatan. " Katanya kemudian. Aku dan Kiyomitsu bertatapan, kemudian mengikuti Hasebe menuju lonceng.
Di bawah lonceng, sudah banyak orang-orang menunggu Hasebe. Rupanya berita tentang penugasan sudah tersebar diseluruh Cidatel sebelum Hasebe memberitahukannya.
"Kalian sudah berkumpul disini rupanya. Baiklah, langsung saja kukatakan siapa saja yang bertugas untuk pergi kali ini... Yang pertama, Yamatonokami Yasusada sebagai kapten, kedua Souza Samonji, ketiga Ishikirimaru, keempat, Nikkari Aoe, kelima diriku sendiri–Heshikiri Hasebe, dan yang terakhir Midare Toushiro. Bersiap-siaplah dalam 30 menit, lalu berkumpul di mesin waktu. Berhati-hatilah! Dari informasi yang kudapatkan, musuh disana cukup tangguh. " Kata Hasebe dengan wajah serius.
'Wah, menjadi kapten lagi... Ditempat yang cukup sulit pula, seandainya aku bersama Kiyomitsu mungkin aku akan sedikit lebih tenang.' Pikirku dalam hati. Aku segera menyiapkan diriku untuk pertarungan sengit.
"Yasusada... Kau tak apa? " Tanya Kiyomitsu setibanya di ruangan kami. Aku menoleh ke arahnya.
"Ada apa tiba-tiba? " Tanyaku pada Kiyomitsu. "Apa kau mengkhawatirkanku, Kiyomitsu? " Tanyaku seraya tersenyum. Jujur saja aku sedikit takut, ini adalah kedua kalinya aku pergi menuju pertempuran. Sebelumnya aku malah pingsan dan membuat Kiyomitsu kerepotan.
"Ya, hati-hati. " Katanya sebelum memelukku. Ia kemudian tersenyum lembut. "Aku akan membelikanmu sesuatu yang enak untuk makan malam. Nah, sampai jumpa nanti malam! " Tambahnya seraya membenarkan syalku yang miring.
"Aku berangkat dulu! " Aku berjalan pergi menuju mesin waktu. Disana sudah ada beberapa anggota kelompok yang akan pergi bersamaku. Setelah mengatur mesin sesuai dengan zaman yang akan kita kunjungi, kami pun hilang tertelan cahaya.
Yasusada POV—End.
***
Kiyomitsu melihat-lihat jajanan disekitarnya. Ia bingung mau membeli apa untuk Yasusada nanti. Kebetulan, Aruji menyuruhnya berbelanja bersama Yamanbagiri Kunihiro. Kedua ksatria pedang berbeda gender ini pun berangkat menuju toko.
"Kashuu, kita sudah membeli semuanya. Apa yang kau cari? " Tanya Yamanbagiri pada Kiyomitsu yang terlihat kebingungan.
"Um... Bisa tunggu sebentar lagi? Aku sedang mencari makanan untuk Yasusada. Ia sedang bekerja keras untuk membasmi pasukan pengubah sejarah, jadi aku bermaksud memberinya hadiah. " Kata Kiyomitsu terus terang. Pemuda berambut pirang itu hanya mengangguk tanda mengerti.
"Apa kau ada saran, Yamanbagiri? " Tanya Kiyomitsu pada Yamanbagiri. Ia kelihatan kebingungan juga.
"Apa yang disukai Yamatonokami? " Tanyanya balik.
"Yasusada makan apa saja yang di meja Okita-kun, terkadang sampai Okita-kun tidak kebagian cemilannya sendiri! Ahaha! Aku jadi teringat masa lalu... Tunggu dulu! Bagaimana dengan—" Tanpa melanjutkan perkataannya lagi, Kiyomitsu menyeret Yamanbagiri menuju tempat tujuannya.
"Kaede-san! " Kiyomitsu melambai pada wanita paruh baya yang tengah melayani pembeli dangonya.
"Kiyo-chan! Mau membeli dango? Syukurlah masih ada beberapa tusuk dango tersisa. Beberapa hari ini aku selalu kehabisan stok dengan cepat! " Kata Kaede senang.
"Iya! Tolong berikan aku beberapa dango enak buatanmu! Aku ingin memberikannya pada temanku yang sangat kurindukan. " Kata Kiyomitsu. Yamanbagiri sedikit melirik pada gadis di sebelahnya.
"Apa dia orang yang sama dengan yang membuatmu menangis waktu itu? " Celetuk Kaede. Wajah Kiyomitsu seketika seperti kepiting rebus.
"Kaede-san, jangan katakan keras-keras! Anda membuatku malu dihadapan Yamanbagiri!"
"Ah, jadi pemuda ini namanya Yamanbagiri ya... Wajahmu cantik sekali! " Sekali lagi, perkataan Kaede mendapat protes.
"Jangan menyebutku cantik! Ayo segera kembali, Kashuu. Mungkin Yamatonokami sudah kembali ke benteng. " Kata Yamanbagiri dengan wajah memerah. Setelah membayar dan berpamitan, Kiyomitsu dan Yamanbagiri pun pulang menuju Citadel.
***
Terdengar teriakan saat Kiyomitsu dan Yamanbagiri memasuki gerbang Cidatel. Awan menggulung berwarna gelap, tak lama hujan pun turun. Setelah mendengar teriakan itu, Kiyomitsu dan Yamanbagiri mempercepat laju mereka.
"Ada apa?! Apa terjadi sesuatu pada Yasusada?! " Tanya Kiyomitsu pada Shokudaikiri Mitsusada.
"Kashuu-san, Yamatonokami-san baik-baik saja, tapi Souza-san terluka cukup parah. Sebentar lagi Yagen dan Aruji akan mengobatinya. Yamatonokami-san tengah membawanya untuk diobati. " Kata Shokudaikiri dengan wajah suram. Kiyomitsu sekilas dapat melihat Yasusada yang menggendong Souza ala pengantin. Ia terlihat sangat panik dan khawatir. Seharusnya... Seharusnya Kiyomitsu juga merasa khawatir akan keselamatan temannya itu... Tapi mengapa... Kiyomitsu merasa sedikit kesal?
Tanpa sadar, Kiyomitsu menjatuhkan kresek dangonya. Dengan sigap, Yamanbagiri mengambilnya. "Kashuu... " Ia hanya bisa memperhatikan raut tak percaya gadis itu tanpa kata.
'Kenapa... Diriku merasa kesal? ' Kiyomitsu meremat kimononya. Ia berjalan pergi menuju kamarnya sendiri. Pikirannya linglung, sedangkan hujan turun dengan derasnya di halaman. Beberapa percikan air hujan mengenai bajunya, tapi ia hiraukan. Padahal seharusnya Kiyomitsu paling tidak tahan dengan dirinya yang menjadi kotor atau basah. Dari belakang, Yamanbagiri mengikutinya—ia merasa khawatir dengan perubahan suasana hati Kiyomitsu yang tiba-tiba.
Kiyomitsu memasuki ruangannya dan menutup pintu. Yamanbagiri merasa ia tidak bisa lebih jauh lagi dari ini. Mungkin Kiyomitsu butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya.
"Kashuu... Dangonya akan kuberikan pada Yamatonokami setelah ia diobati. Segeralah bergabung untuk makan malam. Aku pergi..." Kata Yamanbagiri pelan. Tak ada jawaban dari Kiyomitsu. Pemuda bertudung kain putih itu pun beranjak pergi.
Bersambung...
Gomen, akhir-akhir ini mood publish lagi down. Vote dan komen supaya saya semangat lagi. Arigatou.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top