2. Fed Up

Selagi Jharna berusaha menghapus air matanya, Rendra kembali melanjutkan perjalanan. Jalanan ibukota yang ramai terlihat berlawanan dengan suasana di dalam mobil Rendra. Mereka terlibat bisu, bahkan ketika sampai di rumah Jharna. Sudah pukul 1.15 dini hari, Sinta sudah tidur setelah mendapatkan kabar dari Ezra bahwa Rendra berhasil menemukan Jharna. Rumah itu sunyi, yang terdengar hanyalah detak jarum jam yang beradu dengan suara langkah kaki Jharna menaiki tangga. Gadis itu berhenti tiba-tiba, lalu menoleh ke belakang.

"Kakak pulang aja."

"Enggak. Kakak stay di sini. Kakakmu enggak pulang, mama papamu juga masih di luar kota."

Jharna mendesis kesal.

"Mau ngapain sih sok peduli? Lupa ya abis bikin aku nangis? Masih mau bikin aku nangis lagi dengan lihat wajah Kakak terus?"

"Kakak peduli beneran sama kamu, Jharna. Kapan Kakak pura-pura ngasih kamu perhatian? Sekarang kamu sebenci itu ya sama Kakak? Kakak enggak bisa dapat maaf kamu, Jharna?"

"Tau, ah! Pokoknya Kakak pulang aja!"

Gadis itu berlari menuju kamarnya dan berteriak untuk melampiaskan emosinya sejak sore. Jharna kesal sekali pada Rendra, dan yang lebih memprihatinkan gadis itu saat ini kelaparan. Menangis sangat menguras tenaganya. Ia juga tidak berselera makan sejak sore hingga pergi ke club. Gadis itu hanya minum berkaleng-kaleng soda sehingga perutnya benar-benar tidak nyaman saat ini. Ia harus pergi ke dapur agar bisa mendapatkan makanan dan tidur dengan nyenyak. Di dalam hati gadis itu berdoa agar Rendra sudah pergi. Sayangnya harapan Jharna patah ketika melihat Rendra sedang melakukan sesuatu di dapur.

"Lapar, ya?" tebak Rendra.

Jharna diam saja. Ia mengabaikan Rendra di sampingnya dan membuka kabinet atas untuk mencari stok mi instan.

"Kakak bikin spaghetti."

Berkat perkataan Rendra, Jharna melirik ke arahnya sekilas.

"Bikinnya dua porsi jumbo. Kakak juga lapar. Ayo makan."

Sekali lagi Jharna mengabaikan Rendra. Ia berniat tidak goyah dengan tawaran menarik laki-laki itu, nahasnya Jharna malah gagal menemukan apa yang dicarinya.

"Enggak ada mi. Adanya spaghetti ini aja. Ayo."

Kekesalan Jharna bertambah lagi sebab luluh pada Rendra hanya karena sepiring spaghetti. Laki-laki itu menarik kedua sudut bibir saat Jharna mengambil bagiannya dan pergi ke meja makan. Ia menyusul gadis itu, lalu menemani Jharna walau sebenarnya Rendra masih kenyang. Untung saja Rendra ingat kalau setiap marah Jharna butuh banyak makanan atau minuman bersoda. Jadi, ia berharap perasaan gadis kecil ini agak membaik setelah kenyang.

"Jharna ...."

Rendra hendak memulai percakapan setelah melihat gadis itu menyelesaikan suapan terakhirnya.

"Enggak dulu ya, Kak, kita bahas apa pun. Aku capek. Capek nangis."

Rendra tahu itu. Ia pun merasa sangat bersalah atas semua tetes air mata Jharna. Ia tidak ingin melukai siapa pun. Namun, menerima perasaan seseorang dengan terpaksa sudah pasti memiliki alur dan akhir yang tidak baik untuk keduanya. Jika begini saja Jharna sudah terluka parah, Rendra enggan membayangkan betapa patahnya gadis itu ia diterima hanya berdasarkan iba.

"Jharna, Kakak emang enggak ada hak apa pun sama kamu. Tapi jujur, Kakak rasanya marah banget saat tahu kamu di club dengan pakaian terbuka begitu. Bahkan sekarang Kakak masih marah sama kamu karena belum ganti pakaian."

Jharna sudah membuka mulut, siap menyanggah ucapan Rendra, tapi laki-laki itu lebih dulu menghentikannya.

"Kakak enggak bisa ngatur gayamu berpakaian, itu terserah kamu. Tapi tolong lebih perhatian lagi ke dirimu sendiri, Jharna. Coba tanya hati kecilmu, pantas enggak kamu ada di tempat seperti itu dengan pakaian yang benar-benar terbuka. Baju tanpa lengan, celana yang cuma nutupi bagian belakang kamu. Kakak khawatir kamu ketemu orang jahat di sana, Jharna."

"Udah ketemu, kok," sahut Jharna santai.

"Hah? Kamu diapain? Disentuh bagian mana?"

Rendra yang panik tiba-tiba menciut setelah mendengar jawaban Jharna.

"Kan Kakak orang jahatnya."

Memang paling benar jika Rendra menjauh dari gadis kecil itu, tapi ternyata nuraninya enggan mengabaikan. Mengetahui keluarga Jharna tidak berada di rumah membuat Rendra memilih bertahan di sana dan berniat untuk berbaikan dengan Jharna. Setidaknya ia tidak ingin Jharna menyimpan kebencian lebih lama.

"Ya, Kakak emang jahat. Maaf, ya?"

Lagi-lagi diam, membuat Rendra setengah frustrasi karena tidak bisa mengerti bahasa sunyi seperti itu.

"Besok Kakak traktir es krim, mau?"

"Kak ...."

Jharna seolah-olah mengiba, memohon dengan sangat melalui tatapan mata agar Rendra menghentikan segala topik yang berniat ia keluarkan. Sudah cukup Jharna merasa tidak diinginkan, ia tak butuh lagi sikap baik apa pun dari Rendra. Semakin Rendra memohon maaf, semakin pula Jharna merasa prihatin pada dirinya sendiri.

"Emang kalau enggak pacaran enggak boleh makan es krim bareng? Biasanya kita juga sering keluar bareng, Jharna."

Kesabaran Jharna sudah habis. Sepertinya Rendra tidak paham bagaimana bisa orang yang baru saja patah hati diajak menghabiskan waktu berdua saja.

"Kak, sorry to say. Please ya mikir dikit. Jangan bikin aku salah paham terus. Kakak yang kayak gini bikin harapan aku muncul lagi dan lagi. Jaga jarak ya, Kak? Aku sadar Kakak nolak aku dengan alasan apa. Biarin anak kecil ini nyembuhin lukanya dulu, Kak. Bagiku enggak ada hubungan murni antara dua orang cewek dan cowok, salah satunya pasti pernah merasa berdebar. Dan itu kita, tepatnya aku. Kasih aku benerin perasaan dulu, ya? Selama itu Kakak juga menjauh aja dari aku. Ini yang pertama buat aku, jadi mungkin bagi Kakak ini terlalu berlebihan. Aku merasakan itu juga, tapi jujur aku belum bisa kontrol perasaan ini. Tolong bantu aku ya. Berhenti bersikap kayak sebelumnya, Kak."

Kadang-kadang Jharna sangat manja, kadang-kadang Rendra malah merasa sebaliknya. Seperti sekarang. Rendra hanya mengangguk pelan, menghargai keputusan Jharna. Semua kata terasa percuma untuk dikeluarkan Rendra saat ini. Apa pun yang ia utarakan pastinya tidak akan bisa mengembalikan perasaan gadis itu. Melihat raut wajah Jharna yang lesu dengan mata sembab meneguhkan hati Rendra agar tak memperpanjang pembahasan mereka saat ini. Ia mengambil piring dari tangan gadis itu, lalu memberi isyarat lewat gerakan tangan agar Jharna kembali saja ke kamarnya. Jharna menanggapi Rendra dengan senyum tipis serta ucapan terima kasih yang samar. Gadis itu menahan tangis.

Malam mereka berakhir dengan Jharna yang terisak di bawah selimut, serta Rendra yang terbaring di sofa dan nyaris tidak bisa tidur hingga pagi.

🌼

Girl's World

Cantika
Gimana confess-nya kemarin? @Jharna

Tari
Anj. Bisa-bisanya lo baru muncul. Temen lo nangis semalaman nih.

Cantika
Kok bisa? Emang kenapa? Ditolak sama crush-nya?

Tari
Ya iya. Apalagi. Lo sih enggak lihat-lihat notif grup, akhirnya gue sama Jharna doang yang pergi semalam ke Sky. Mana crush-nya Jharna bikin ulah dikit.

Cantika
Woyy si Ta(r)i enggak ngajak-ngajak. Kan gue udah bilang bakal sibuk banget kemarin karena sepupu nikah. Tapi bisa-bisanya lo ninggalin gue. Ya udahlah gas aja kita pergi nongkrong hari ini, sekalian cerita versi lengkap.
@Jharna mana, nih?

Jharna yang baru saja bangun karena notifikasi ponselnya begitu berisik langsung menyalakan fitur kamera. Ia mengirim potret setengah wajah saja ke grup chat-nya.

Bengkak banget mata gue. Huhuhu. Males banget keluar pagi-pagi. Sorean ajalah ya mumpung weekend.

Cantika
Uhhh! Enggak tega gue lihat lo gini, Jharna. Kata gue move on ajalah, biarpun melawan pesona laki-laki dewasa itu emang susah.

Tari
Fak kata gue mah @Cantika. Bukannya bantuin temen move on.

Lapar gue. Mau nyari makan dulu. Byeee.

Jharna meninggalkan ruang obrolan dan turun dari ranjang dengan malas-malasan menuju kamar mandi. Baru saja ia membuka pintu kamar, Ezra menyambutnya dengan senyum hangat. Laki-laki itu membawa baki berisih penuh menu sarapan dengan aroma menggoda.

"Pagi, Dek."

"Emmm. Pagi. Gimana ibunya Kak Arin?"

Jharna merasa canggung karena sadar telah membuat kesalahan semalam.

"Udah aman. Kakak masuk ke kamar kamu, ya?"

Jharna mempersilakan Ezra masuk, membiarkan laki-laki itu duduk di tepi ranjang setelah meletakkan baki di meja.

"Sini duduk, Dek. Sarapan. Kakak yang siapin."

Setelah ayahnya, laki-laki kedua yang Jharna cintai adalah Ezra. Jharna tidak bodoh sehingga merasa semua sikap kakaknya itu baik-baik saja. Ezra marah, kecewa, itu sudah pasti. Semua kejadian semalam pasti sudah diceritakan oleh Rendra. Dan seperti Ezra yang biasanya, ia tak pernah membentak Jharna dalam keadaan semarah apa pun.

"Sorry," kata Jharna yang masih berdiri di ambang pintu.

Helaan napas panjang Ezra membuat hati Jharna berdenyut.

"Sini. Ngobrolnya deketan."

Perlahan Jharna mendekat, lalu duduk di sebelah Ezra.

"Sakit banget ya? Mau cerita?"

Jharna menggeleng.

"Mau peluk aja?"

Gadis itu mengangguk cepat, kemudian memeluk Ezra tanpa berpikir panjang. Sekuat mungkin Jharna menahan air matanya agar tidak tumpah lagi di saat Ezra menepuk-nepuk pelan punggungnya.

"Kamu lagi puber, enggak salah jatuh hati. Kamu enggak bisa milih dengan siapa hati kamu berdebar. Patah hati itu biasa. Ditolak itu udah resiko karena kamu enggak bisa maksain perasaan orang lain. Tapi tolong dengan sangat, jangan pernah lampiaskan emosi kamu di tempat yang enggak bener. Kakak harus gimana saat kamu kenapa-kenapa di luar sana? Kakak bakal bilang apa ke Papa sama Mama, Dek?"

"Maaf, Kak."

"Kakak bebasin kamu hangout sama temen-temen kamu, mau beli apa pun terserah, makan di mana aja Kakak enggak masalah, bahkan sering Kakak tanya butuh uang lagi enggak buat pergi sama mereka. Bukan berarti dengan semua kebebasan itu kamu malah enggak tahu batas, Jharna. Paham enggak maksud Kakak?"

"Maaf. Aku nyesel, Kak."

"Jangan diulangi, bisa?"

Jharna mengangguk.

"Soal Rendra, mau Kakak tonjok enggak karena udah bikin kamu nangis?"

"Ihhhh Kakak, jangan! Kasian mukanya kalau bengkak."

Ezra tertawa melihat reaksi Jharna yang berusaha melotot dengan matanya yang bengkak itu.

"Kak Rendra udah pulang?"

"Udah. Tapi nanti sore dia balik lagi ke sini."

"Hah? Ngapain?"

"Kakak harus ke RS lagi. Kak Arin kerja siang, kasian ibunya enggak ada yang jaga."

"Ya, terus? Hubungannya sama Kak Rendra apa?"

"Kakak suruh dia nginap sini lagi. Dia bakal diam di bawah aja, enggak akan ganggu kamu. Kamu sama Bi Sinta doang di rumah jelas Kakak khawatir. Jangan ngebantah untuk kali ini, Dek."

Baru saja Jharna berbaikan dengan Ezra, sekarang ia kembali dongkol karena tidak bisa menolak perintah sang kakak. Kalau dulu Jharna pasti akan kegirangan memiliki kesempatan berduaan dengan Rendra, kali ini ia malah berniat membawa banyak stok camilan ke kamarnya agar ia tak perlu turun lagi ke lantai bawah dan bertemu Rendra.

Hujan turun seharian penuh, membuat Jharna dan teman-temannya gagal bertemu karena beberapa titik ibukota mengalami banjir. Mereka lebih memilih diam di rumah masing-masing daripada memaksakan diri. Tentu saja itu sangat membosankan bagi Jharna, apalagi saat ini ia kelaparan, sedangkan orang yang biasa memasak untuk keluarganya hari ini berhalangan datang. Sinta bisa memasak, tapi rasanya kurang, jadi Jharna memilih untuk memesan makanan lewat aplikasi online dan sayangnya lagi-lagi ia kurang beruntung. Sejak tadi ia tidak mendapatkan konfirmasi pesanan, yang artinya dia harus menhan gejolak di perutnya. Sampai ia menerima sebuah pesan dan matanya seketika berbinar walau hatinya masih kesal.

Kak Rendra
Jharna, Kakak otw ke kamu. Mau titip apa?

Makanan. Beliin aku mi ayam Pak Kumis, pakai bakso, ya. Aku lapar banget, tapi enggak ada makanan menarik hatiku di rumah.

Ada lagi?

Enggak. Itu aja cukup. Makasih sebelumnya.

My pleasure, Jharna.
Tunggu, ya. Kakak udah sampai di Pak Kumis.
Enggak usah dibalas lagi.

Jharna berusaha menahan perasaannya. Ia sakit, tapi ia tetap berdebar setelah tahu Rendra masih peduli padanya walau dalam konteks hubungan kakak beradik. Seharian Jharna berpikir bahwa sebaiknya meminta maaf pada Rendra karena sudah bertingkah menyebalkan. Tentu Jharna hanya bisa berencana, sisanya Tuhan dan alam yang bekerja.

Sudah dua jam Jharna menunggu Rendra dengan perut kelaparan, tapi laki-laki itu belum juga muncul, bahkan tidak memberi kabar sama sekali setelah pesan terakhirnya tadi. Jharna khawatir sesuatu terjadi pada Rendra.

Kak, are u okay?
Kenapa belum sampai juga?
Kak?

Tak lama setelah itu, Rendra membalas. Jharna gemetaran membaca pesan Rendra. Ia ingin marah, tapi kembali sadar bahwa tak memiliki hak apa pun atas Rendra.

God. It's my bad, Jharna. Sorry.
Kakak lupa ngabarin kalau Kakak telat ke kamu. Kakak lagi di rumah temen, dia ketakutan karena sendirian di rumah dan listrik di rumahnya korslet.
Sekarang Kakak otw, ya.

Tanpa Jharna bertanya, sudah pasti teman yang Rendra maksud itu perempuan. Jharna tahu ia bukan siapa-siapa, tapi hatinya benar-benar sakit ketika Rendra memprioritaskan orang lain di saat Jharna lebih dulu membutuhkannya.

Gue tahu ya gue enggak penting bagi lo. Tapi mikir dulu bisa enggak, sih? Gue kelaparan! An****! Enggak usah ke sini deh!
Muak!
Gue muak sama lo Rendra!

Jharna? Lo-gue? Oh, kamu bahkan ngomong kasar. Astaga. Tunggu. Kakak udah dekat. Ngomong langsung ya kita, selesaiin baik-baik sebentar lagi.

Jharna mengabaikan pesan Rendra, juga panggilan berulang-ulang di ponselnya dari orang yang sama. Gadis itu tidak menangis, ia hanya berteriak sambil melempar bantal. Mungkin setelah ini Jharna akan lebih mudah menghapus perasaannya pada Rendra, karena ia sudah tidak mau terlibat apa pun dengan laki-laki itu.

To be continued

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top