1. Failed
"Kakak udah punya pacar?" Seorang gadis bertanya polos pada Rendra.
"Belum. Kenapa masih kecil udah nanya-nanya soal pacaran sih? Belajar aja harusnya."
"Mau tahu aja. Aku cantik enggak, Kak?"
"Cantik."
"Beneran?"
Jharna semakin semangat memperpanjang obrolan dengan Rendra, berharap kalimat yang sudah ia siapkan beberapa hari terakhir mendapat respon bagus sebentar lagi.
"Iyaaa."
Rendra mulai malas, tapi masih berusaha menyenangkan hati Jharna sambil mengutuk dalam hati perihal kakak Jharna yang urung datang dari lantai dua rumah itu. Situasi yang membuat Rendra harus terjebak berdua saja dengan Jharna adalah hal menyebalkan bagi laki-laki itu. Ada saja pertanyaan aneh dan tak masuk akal yang Jharna lontarkan setiap mereka bertemu, membuat Rendra enggan, tapi mau tak mau harus meladeninya karena ia bersahabat dengan kakak Jharna.
"Kalau gitu Kakak mau jadi pacar aku? Aku pintar, enggak akan ngerepotin Kakak kalau bikin tugas. Aku juga suka belajar masak dari Mama, biar bisa masakin apa pun yang Kakak mau. Jadi pacarku, ya? Ya? Mau, ya?"
Saking kagetnya, Rendra menjatuhkan ponsel yang ia mainkan sejak tadi. Ia buru-buru mengambil ponsel itu untuk memastikan layarnya baik-baik saja, lalu menatap Jharna yang duduk di sebelahnya. Gadis itu tersenyum semringah dan entah sejak kapan ia menggenggam boneka beruang kecil berwarna krem. Rendra berani bertaruh bahwa boneka itu adalah tanda perasaan Jharna yang bermaksudkan untuk diambil jika pernyataan cinta gadis itu diterima.
Namun, tunggu sebentar. Rendra butuh waktu untuk mengelola kejadian barusan. Apa yang ia dengar dari gadis yang baru saja menginjak usia 16 tahun di sebelahnya ini? Pernyataan suka? Ajakan pacaran? Rendra tak pernah membayangkan hal itu sebelumnya. Di matanya Jharna memang cantik. Rambut panjang sedada milik gadis itu begitu halus, sesekali Rendra memang membelainya, tapi hanya sebatas apresiasi kecil ketika Jharna menceritakan prestasinya di sekolah. Kekurangan Jharna sebagai seorang gadis nyaris tak ada bagi Rendra. Tinggi semampai dengan ukuran tubuh ideal, wajah manis yang nyaris selalu tersenyum, itu saja sudah cukup untuk membuat seseorang jatuh hati pada Jharna. Sayangnya orang itu bukan Rendra.
Perbedaan usia merekalah masalah terbesarnya. Selama ini ia hanya menganggap Jharna sebagai adik.
"Jharna, kamu ngajak Kakak pacaran? Enggak salah?"
"Enggak! Emang kenapa?"
"Kakak ini teman kakakmu, lho."
Rendra berusaha memilih kata-kata sebaik mungkin agar Jharna bisa menerimanya.
"Terus? Aku tetap suka Kakak, kok."
"Kakak lebih tua 7 tahun dari kamu, Jharna."
"Aku suka sama yang lebih tua, kok."
Laki-laki itu menghela napas panjang dan menyumpahi Ezra yang belum juga muncul untuk membantunya keluar dari situasi canggung ini. Namun, mau bagaimanapun Rendra sadar tak boleh membiarkan Jharna berharap dan terbawa arus semakin dalam oleh perasaan yang bisa saja sementara itu. Jharna masih terlalu muda, ia hanya sedang dalam masa coba-coba untuk menjalin hubungan. Dan Rendra tak bisa mengikuti permainan gadis kecil itu.
Dunia mereka berbeda. Jharna tak akan bisa mengikuti pola laki-laki dewasa, sedangkan Rendra pun enggan berkecimpung dalam hubungan kekanak-kanakan.
"Jharna, ini boneka buat Kakak?"
"Iya. Terima ya? Itu tandanya Kakak mau jadi pacar aku."
"Begini, Jharna. Kakak enggak bisa jadi pacar kamu. Maaf, ya?"
Sepertinya Jharna yang sudah yakin menyatakan perasaan tak bisa lagi diajak berbicara secara pelan-pelan. Semakin lama Rendra mengeluarkan keputusan, ia khawatir Jharna malah semakin memupuk harapan ataa hubungan baru di antara mereka. Rendra segera menegaskan batas yang seharusnya tak dilewati gadis itu.
"Kenapa?"
Raut wajah Jharna langsung berubah. Senyuman di bibir tipisnya lenyap dalam sekejap. Bunga-bunga yang nyaris bermekaran di hatinya segera mati. Ia ditolak.
"Kakak enggak bisa sama kamu. Kamu terlalu jauh sama Kakak."
"Apanya, Kak? Apanya yang jauh? Usia? Pandangan? Aku bisa ngikutin apa pun mau Kakak. Aku penurut."
Sekali lagi Rendra menghela napas panjang. Gadis ini berbahaya. Jika di hadapan laki-laki lain Jharna menunjukkan kepolosan seperti barusan entah akan seperti apa jadinya.
"Jharna ...."
"Kakak nolak aku? Jadi Kakak baik selama ini ke aku bukan karena suka, ya? Kakak beneran enggak mau terima aku?"
Rendra dapat melihat dengan jelas di sudut kedua mata gadis itu ada tangis yang masih menggantung. Rendra menarik tisu, lalu menyeka air mata Jharna yang belum sempat turun.
"Maafin Kakak ya, Jharna?"
"Enggak mau, kecuali kakak jadi pacarku."
"Enggak bisa, Jharna. Tolong ngerti, ya?"
Rendra kira masih butuh waktu lama untuk membujuk Jharna, nyatanya gadis itu langsung berdiri meninggalkan Rendra. Ia berlarian menaiki anak tangga setelah melempar bonekanya ke sembarang arah, langkahnya sempat terhenti saat bertemu Ezra di pertengahan anak tangga.
"Kenapa nangis, Dek?" Ezra kebingungan.
"Kak Rendra jahat! Aku benci sama Kak Rendra!"
Tangis Jharna tumpah, membuat Rendra yang mengamatinya dari bawah merasa sedikit bersalah. Namun, yang bisa ia lakukan hanyalah diam saat Jharna melemparkan tatapan penuh kesedihan sebelum gadis itu kembali berlari menuju kamarnya.
"Lo apain adek gue, hah? Sampai dia nangis begitu."
Begitu tiba di lantai bawah, Ezra langsung melayangkan pertanyaan pada sahabatnya. Tentu saja Ezra tahu ada yang tidak benar. Melihat raut wajah Rendra yang semrawut serta adiknya yang menangis pasti ada hubungannya.
"Adek lo tu yang duluan. Tiba-tiba ngajak gue pacaran."
Dengan santai Ezra mengangguk, tidak terlihat terkejut sama sekali. Adiknya itu memang sudah lama menunjukkan ketertarikan pada Rendra. Namun, Ezra tak pernah menggubris serius curhatan adiknya jika berkaitan dengan Rendra. Toh cuma cinta monyet, pikir Ezra.
"Terus lo tolak?"
"Ya iyalah. Gila kali gue pacaran sama anak kelas 1 SMA. Di bawah umur cuy!"
"Oke, lo enggak salah, jadi gue enggak bakal apa-apain lo."
"Kalau gue salah? Kalau gue yang bikin Jharna nangis?" Rendra bertanya serius.
"Habis lo sama gue, Narendra Claudio. Jharna kesayangan gue. Berani lo macam-macam?"
"Hehe. Enggak. Ngeri kalau lo udah ngomong gitu. Cabut sekarang, ya? Telat ntar ke acaranya Bang Baim. Lo juga, lama bener di kamar tadi."
"Yo, sorry. Telponan sama Mama, biasalah nanyain Jharna gimana."
Keduanya memutuskan untuk pergi mengendarai mobil masing-masing menuju pesta perpisahan yang diadakan rekan kerja mereka di sebuah restoran. Sesampainya, mereka berbaur dengan yang lain, menikmati hidangan, serta berbincang tentang berbagai topik, hingga tiba pada sesi penutupan dan salam-salam perpisahan. Di saat itulah Ezra baru memeriksa ponsel yang sengaja ia senyapkan sejak tadi. Beberapa orang menghubunginya secara bersamaan dengan situasi genting, membuat wajah Ezra memucat.
"Zra? Kenapa?" Rendra menepuk bahu Ezra yang masih terlihat tidak fokus pada sekitar.
"Ibunya Arin jatuh di kamar mandi, dia panik, nelpon ambulans katanya bakal lama datang karena banyak keadaan urgent juga. Lo tahu kan mereka cuma berdua?"
"Oke. Gue paham. Go ahead. Balik duluan aja sana. Acara juga udah mau selesai."
"Tapi, Rend ...."
"Apalagi?"
"Jharna belum balik. Dia ijin hangout dua jam aja pas kita baru nyampek sini. Sekarang dia nggak bisa dihubungi. Bi Sinta kebingungan di rumah."
Jharna menghilang? Itulah pemikiran pertama Rendra, sehingga ia tak ragu menyuruh Ezra mengurusi sang kekasih, sementara dirinya yang akan mencari Jharna. Tidak, Rendra tidak panik. Hanya saja ia cukup bertanya-tanya ke mana gadis lugu itu pergi sampai tengah malam begini. Ponsel Jharna tak bisa dihubungi. Rendra memikirkan banyak tempat yang mungkin saja gadis itu datangi. Namun, semua toko favorit Jharna sudah tutup sekarang.
Sudah setengah jam Rendra memutari jalanan, tapi urung juga bertemu dengan Jharna. Ia menepikan mobil, mulai mengakui bahwa ia panik jika gadis itu gagal ditemukan malam ini. Puluhan pesan Rendra kirimkan pada Jharna, tapi tak satu pun mendapat jawaban, bahkan diterima saja belum. Rendra melakukan pemeriksaan sedetail mungkin, dimulai dari story terakhir Jharna, tapi tak menemukan apa pun. Bahkan ia bolak-balik memeriksa media sosial gadis itu, berharap ada tanda tentang keberadaan Jharna. Dan Dewa Keberuntungan memihak pada Rendra, saat ia membuka riwayat story daftar kontak di ponselnya, ia menemukan Jharna terekam di sebuah layar kamera. Posisinya agak jauh dari si perekam situasi club itu, tapi Rendra yakin orang tersebut adalah Jharna.
Bro, club mana? Cepat jawab.
Sky, Brother. Mau gabung?
Enggak. Cuma mau nyeret orang keluar dari sana.
Lah, siapa? Cewek lo ketangkap di story gue, ya?
Wkwkwk. Yang mana? Sini gue bantu pantau. Btw, gue di lantai 3.
Gue jemput langsung. Thanks.
Rendra kepanasan. Ia merasa mendidih melihat gadis kecil itu dengan berani memakai pakaian serba kekurangan bahan, lalu bergoyang mengikuti musik. Tidak hanya itu, banyak laki-laki di sekitar Jharna. Siapa yang mengajak Jharna ke tempat mengerikan itu? Siapa yang mengajari Jharna menikmati musik kencang dengan begitu santainya? Banyak pertanyaan yang mendadak hadir di kepala Rendra, membuatnya melajukan mobil segila mungkin agar bisa segera menyeret Jharna pulang.
Langkah Rendra memburu ketika memasuki club. Ia menaiki anak tangga tanpa berpikir akan menabrak orang lain. Tujuannya adalah lantai 3, mencari Jharna di antara ratusan manusia di bawah lampu remang-remang dan bau alkohol. Rendra menengok ke sana-kemari, mencoba mengingat posisi dari video yang dilihatnya tadi. Syukurnya Jharna masih di sana, sehingga Rendra bisa mengakhiri pencariannya.
"Pulang, Jharna."
Tanpa aba-aba Rendra menarik tangan gadis itu, membuat Jharna terkejut dan nyaris membentak. Namun, gadis itu tak mengeluarkan sepatah kata pun ketika tahu yang menginterupsi kesenangannya adalah Rendra.
"Masih enggak dengerin? Pulang," kata Rendra tegas.
"Sabar, Bro. Jharna datang sama gue dan Tari."
Seorang laki-laki berusaha menengahi Rendra dan Jharna, tentunya itu adalah usaha yang sia-sia.
"Tari? Teman sekolah Jharna? Lo pacarnya? Artinya lo dengan sengaja ngajak anak di bawah umur ke tempat gini? Gila. Tololnya kebangetan."
"Apa, sih, Kak? Malu-maluin. Ayo pulang. Kak, Tari, gue duluan, ya. Thank you udah ngajak seneng-seneng."
Ketimbang malu jadi pusat perhatian beberapa orang, Rendra lebih tak habis pikir bisa-bisanya Jharna berpamitan dengan sopan pada orang-orang yang memperkenalkannya pada dunia malam. Sayangnya baik Rendra maupun Tari dan kekasihnya tidak sempat saling melontarkan kata lagi karena Jharna terburu-buru meninggalkan tempat itu.
"Jharna! Denger enggak sih Kakak manggilin kamu dari tadi? Naik mobil Kakak!"
Begitu berhasil meraih tangan Jharna yang sejak tadi terus berusaha berjalan cepat di depan Rendra, gadis itu ditarik ke arah mobil Rendra. Gadis itu hanya membisu saat laki-laki di sebelahnya mulai mengoceh.
"Bagus ya pakai baju kekurangan bahan gini? Ngerasa keren?" Rendra masih mencecar Jharna walau sudah berhasil keluar dari area club.
"Emang keren. Apa yang salah?"
"Jharna, jangan nguji sabar Kakak. Kamu kenapa, sih? Kamu enggak pernah kayak gini lho sebelumnya. Tahu enggak Ezra kebingungan denger kamu nggak ada kabar di saat ibu pacarnya jatuh di kamar mandi. Dia panik harus datangi yang mana duluan."
Jharna enggan menjawab. Ia hanya mengetuk-ngetuk kaca mobil tanpa ekspresi berarti.
"Minum apa aja kamu di sana? Ngapain harus ke sana? Apa enggak ada tempat lain?"
Masih hening.
"Ya Tuhan, Jharna. Bisa jawab satu aja pertanyaan Kakak? Kakak frustrasi nyariin kamu dari tadi. Setidaknya kasih Kakak statement biar Kakak berhenti khawatirin kamu selama ada di sana."
Tidak sanggup lagi dengan keheningan yang Jharna pertahankan, Rendra menepikan mobil. Ia menarik dagu gadis itu agar mata mereka bisa bertemu. Namun, Jharna menepisnya dengan kasar.
"Tugas Kakak cuma bawa aku pulang, bukan nyerang aku dengan belasan pertanyaan di saat Kakak enggak punya hak atas aku. Pakaian kekurangan bahan? Emang kenapa? Kok Kakak sewot? Kakak siapaku mau coba atur aku?"
Untuk pertama kali selama tiga tahun ia mengenal Jharna, inilah momen di mana Jharna memberikan sikap dingin yang nyaris membekukan Rendra. Laki-laki itu tersadar bahwa ia sudah melukai Jharna begitu dalam. Tetap saja, Rendra tidak bisa membujuk gadis itu dengan janji palsu. Rendra tahu bahwa setelah ini Jharna mungkin akan semakin membencinya.
"Maafin Kakak, Jharna. Kakak udah bikin kamu kecewa."
"Bodoh banget sih aku suka sama Kakak. Kenapa aku gini, sih? Kenapa sok-sokan nembak segala, jadinya patah hati, 'kan." Jharna bergumam dengan wajah tertunduk.
Sudah habis semua kata-kata yang Rendra miliki. Ia hanya diam sambil tertunduk pilu saat isak tangis Jharna lolos. Ia tak menyangka pernyataan cinta gadis itu berujung membuat mereka terjebak kecanggungan.
Rendra menyukai Jharna, tapi bukan dengan perasaan ingin memiliki.
Rendra tidak ingin ada jarak di antara ia dan Jharna, tapi terlalu tahu diri bahwa yang bisa ia berikan hanyalah luka.
To be continued
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top