30. Deceptio ☕

-strike fire-

If love is a chemical reaction, then you are what I need to balance the equation

Happy-Reading

.

.

.

Ditinjau dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan logika, cinta adalah reaksi kimia yang muncul akibat aktivitas neurotransmitter di otak. Rasa terkesan, tertarik, hingga terikat pada seseorang masing-masing diatur oleh senyawa alami dalam tubuh yaitu estrogen-testosteron, adrenalin-dopamin-serotonin dan oksitosin-vasopressin.

Hormon estrogen dan testosteron bekerja sama dengan alat-alat indra dalam membentuk kesan. Orang-orang kadang mengartikannya love at the first sight, tahapan paling awal dari proses jatuh cinta.

Adrenalin akan meningkatkan denyut jantung, menyebabkan perubahan sikap dan memicu stres. Dopamin akan membentuk perasaan bahagia, semangat dan energi, sedangkan serotonin bekerja untuk membuat pikiran selalu terfokus pada obyek ketertarikan. Sulit tidur, terus terbayang-bayang orang disukai dan grogi merupakan ciri utama tahap ini.

Terakhir, oksitosin akan memperkuat perasaan serta hubungan batin, dan vasopressin akan menciptakan rasa tanggung jawab pada pasangan hingga komitmen hubungan.

Rean berulang kali mengulas proses jatuh cinta secara kimiawi dan menelaah tiap struktur hormon yang bertanggungjawab atas afeksi yang berhasil membuatnya tidak tidur semalaman tersebut, namun belum ada jawaban atas anomali suasana hatinya saat ini.

Rean tidak pernah berpikir bahwa satu fakta kecil bisa berdampak besar pada tingkat emosinya setara dengan kestabilan atom-atom gas mulia.

Rama menyukai Chelia.

Hal yang sama sekali tidak terprediksi oleh Rean. Rama selalu bersikap manis pada kesemuanya. Rama memanggil mereka dengan panggilan akrabnya masing-masing. Memberi nama kecil pada Edward dengan panggilan Eddy, juga menyebutnya Brother, kalau bukan Ninja.

Rean yakin pendengarannya tidak salah dan Edward tidak mungkin mengada-ada, tapi ia pun enggan mengonfirmasi. Hatinya tidak siap terluka. Bukan tidak percaya diri, hanya saja tidak ada rasa sakit yang lebih menyakitkan ketimbang harus menyakiti orang yang dicintai. Dan baik Chelia maupun Rama, Rean mencintai keduanya, dalam definisi yang berbeda. Lagipula, bukankah terlalu egois baginya untuk menyalahkan perasaan Rama sementara dirinya sendiri tidak memiliki keberanian untuk jujur akan isi hatinya selama ini?

Rean mengusap matanya yang berat lalu menopang dagu agar kepalanya tak lagi tertekuk ke depan. Semalaman ia terjaga hingga kehilangan energi bahkan untuk menyangga sekian kilogram massa tulang tengkorak beserta isinya itu.

Ketika sepenuhnya terpejam, bayangan peristiwa subuh tadi kembali terlintas di benaknya.

Saat itu menjelang pukul 4 pagi. Rean keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air minum. Setiba di ruang tengah, ia mendengar gelak tawa dari kamar Rama yang pintunya setengah terbuka dengan lampu menyala.

Rama memang memiliki kebiasaan gila tidak menutup pintu kamarnya saat tidur. Supaya bisa melarikan diri dengan mudah bila ada hantu, katanya. Padahal itu justru menampakkan dirinya pada seluruh penghuni tak kasat mata di ruang tengah, lagipula hantu yang tak berwujud itu dapat menembus materi.

Belum sempat kaki Rean berpindah posisi, Edward lebih dulu melabrak Rama dengan gemas. Yang terjadi selanjutnya ada perang bantal akibat kasus penyebaran aib di masa lalu dengan Rama sebagai tersangka utama dan Edward sebagai sang korban.

"Kamu sudah bangun, Brother?" tanya Rama yang entah kenapa tampak kikuk di mata Rean saat ia dan Edward sepakat melakukan gencatan senjata.

"Begitulah. Kamu sendiri tumben sudah bangun," balas Rean sama kikuknya.

"Aku nggak bisa tidur."

"Oh, ya?" Rean menaikkan kedua alisnya.n"Kenapa?"

"Paling karena iklan film horor di tv tadi. Dasar penakut!" Edward bersungut sembari menjulurkan lidah pada Rama.

Rama melempari Edward dengan bantal sofa dan mereka pun bergulat kembali. Rean hanya duduk tenang memperantarai meski kepalanya sesekali menjadi sasaran bantal nyasar. Sudah biasa baginya.

"Saus Tartar!" umpat Edward begitu ujung bantal melesat menghantam hidungnya.

"Kraby Patty basi!" balas Rama.

"Squilliam Fancyson!"

"Jack Kahuna Laguna!"

"Siapa itu?"

"Kembaranmu!"

"Shit!"

Rean berdiri menengahi. "Languange, Eddy!"

"Huh, rasakan!" Rama menjulingkan matanya.

"Kamu juga, Rama!"

"Loh, kenapa aku? Yang berkata kasar itu, kan Eddy!" Rama mencebik lalu melirik Rean. "Dasar Sandy Cheeks!"

"Sandy? Aku? Kenapa?" Rean menunjuk dirinya.

"Iya, habis kamu itu cerdas dan jago bela diri."

"Terima kasih atas pujiannya."

"Dih, siapa yang memuji!" kesal Rama yang disusul gelak tawa Edward.

Rean pun larut dalam pembicaraan tidak berfaedah tersebut sambil sesekali terkikik. Beban perasaannya sedikit berkurang sampai kemudian ponsel Rama berdering.

"Dari siapa Rean? Awas saja kalau dari kak Arya si Godzilla." Rama mengerling pada Rean yang terkesiap di tempat.

"Dari ... Chelly," kata Edward terbata begitu membaca nama yang tertera di layar.

"Hah? Chelly?"

"Iya. Kecuali ada orang lain yang bernama Sweetheart di kontakmu."

Rama menggeleng tegas lalu meraih ponselnya dan mengusap layar. Sekilas ia melirik tidak enak pada Rean yang membuang muka.

Rean sendiri merutuki dirinya yang tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia berbalik, pura-pura tidak tertarik pada topik, padahal sangat-sangat ingin tahu. Pada akhirnya, informasi yang sempat ia ketahui adalah Chelia yang sedang bermimpi buruk tentang Rama. Selanjutnya Rean tidak mendengar lagi, sebab ia berlekas meninggalkan ruangan tengah dengan alasan untuk bersiap-siap ke kampus.

Biasanya Rean akan menyikapi hal tersebut dengan tenang. Memori superior Chelia memang kerap kali membuatnya terganggu dan kepikiran terus dengan mimpi buruk yang dialaminya. Bukan hanya Rama, pada yang lain juga. Namun kali ini jelas beda. Rean malu mengakuinya, namun ia merasa cemburu.

"Arght!" Rean membuka mata dan menyibak rambutnya ke atas. Keringatnya bercucuran.

Mengingat kejadian subuh tadi makin menambah beban pikirannya saja. Ia memandang kafetaria yang masih sepi pengunjung lalu meraih cup kopi yang dipesannya, berniat menambah asupan kafein untuk menyanggah kelopak matanya agar tetap membuka. Namun sesaat sebelum ia meneguk, sebuah tangan menghentikan gerakannya.

"Rean!"

Rean mendongak dan menemukan Chelia yang menatapnya khawatir.

"Chelly?!" ujar Rean setengah terkejut. Beruntung ia belum sempat menenggak kopinya. Hampir saja ia tersedak, atau lebih buruk lagi menyemburkannya dengan cara yang sangat tidak beradab.

"Aku mencarimu kemana-mana. Edward bilang kamu kemari untuk beli minum tapi belum kembali."

Rean mengangguk mengiyakan, walau tujuan utamanya adalah kabur untuk meneangkan diri. Selepas berangkat untuk menjemput Chelia pagi tadi, ia memang tidak banyak berbicara pada siapapun. Bahkan di perjalanan ke kampus, ia tidak mengobrol dengan Chelia kecuali untuk mengingatkannya untuk mengencangkan helm, mengeratkan pegangan, atau berhati-hati dengan rok yang dikenakannya. Satu hal yang menjadi keuntungan orang irit bicara adalah saat benar-benar tidak ingin berbicara atau ada masalah, orang-orang tidak akan mempertanyakan.

"Kamu minum kopi lagi?" Chelia mengambil tempat di hadapan Rean.

Rean terdiam beberapa saat. Ia memang sudah menghabiskan dua cangkir kopi bersama Riva sewaktu sarapan di rumah Chelia tadi.

"Aku mengantuk, Chelly," jawab Rean pada akhirnya.

"Kamu juga nggak tidur semalam, ya?"

Rean mengangguk terpatah.

"Rama juga ...," lirih Chelia.

Rama lagi, Rean membatin.

"Pasti karena kalian kepikiran soal Mahesa, kan?"

Mahesa? Rean bertanya pada dirinya sendiri. Sejujurnya ia tidak begitu mengambil pikiran untuk saingan beratnya itu. Rama mungkin kelihatan santai, namun ia orang yang teguh. Rama mengkhianatinya adalah salah satu dari sekian hal yang tidak mungkin terjadi di dunia.

Chelia menepuk pundak Rean. "Jangan khawatir, Rean! Kami akan terus mendukungmu. Kami berada di pihakmu. Aku yakin kamu bisa memenangkan pemilihan nanti!"

Rean menatap Chelia dalam-dalam, berusaha menemukan jejak kebohongan di sana. Namun lagi-lagi, yang ia dapati justru sebuah ketulusan.

Rean tersenyum samar. "Kenapa yakin begitu, hm ...?

"Karena itu kamu." Chelia balas tersenyum. "Kamu hebat dan bertanggungjawab. Kamu pantas memimpin fakultas kita."

"Benarkah ...?" Rean menunduk dalam-dalam dan tersenyum malu sambil mengelus lehernya. Jantungnya berdetak tak karuan.

Chelia tersenyum lagi. "Tentu!"

Rean diam-diam melirik Chelia lewat sudut matanya. Ia kemudian memutar bahu Chelia hingga tepat menghadapnya. "Chelia, aku ingin mengatakan sesuatu."

Mata Chelia membulat. Bila Rean memanggilnya bukan dengan nama kecilnya, sesuatu yang akan dikatakannya pasti serius.

"Apa itu?"

"Kamu pilih aku atau pilih Rama? Kamu suka padaku atau suka pada Rama?"

Beberapa detik berlalu sampai Chelia memutuskan untuk mengibaskan tangannya di depan wajah Rean.

"Kamu ingin mengatakan apa, Rean?"

"Ah?!" Rean yang menyadari dirinya hanya bermonolog dengan diri sendiri terkesiap. Ia buru-buru melepas tangannya pada bahu Chelia dan merutuki diri, menyesali tindakan spontan yang dilakukannya tanpa perencanaan. Ditambah lagi Chelia terus menatapnya kebingungan, menunggu penjelasan.

Rean berpikir keras untuk menemukan cara yang tepat menyambung obrolan, namun pikirannya membuntu. Saat matnya menangkap gelas kopi di atas meja, tangannya malah bergerak spontan menyodorkan minuman yang hampir tandas tersebut pada Chelia.

"Ma-mau minum kopi?"

"Hah?" Chelia hanya mampu mengerjapkan mata beberapa kali mendapat tawaran tersebut.

Rean memejamkan mata sembari mendesis. Apa yang kau lakukan Rean?! marahnya pada diri sendiri.

"Rean, kamu sakit?" Chelia mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi Rean.

"A-aku tidak apa-apa! Lupakan yang tadi!" Rean lekas menghabiskan kopinya dan melemparkan cupnya ke tempat sampah.

Chelia makin dibuat bingung dengan gelagat Rean yang tidak biasa. Terlebih saat Rean mengeluarkan Famakope dari ranselnya dan menyibukkan dirinya sendiri.

"Aku ingin mendata bahan untuk praktikum dulu, Chelly. Duluan saja ke kelas," kata Rean sembari membuka halaman demi halaman Farmakope dengan gelisah.

"Mmm ... Rean?"

"Ya? Kenapa? Mau aku antar ke kelas dulu?"

Chelia menggeleng dan meringis. "Itu ... Farmakopenya terbalik."

"Apa?!"

Untuk kesekian kalinya Rean mengumpat pada dirinya sendiri. Bahkan saat Chelia memaksanya berdiri dan menuntunnya menuju poliklinik untuk beristirahat, ia hanya menurut dengan pasrah.

Kurang fokus ternyata bisa sefatal ini.

Ah, adrenalin sialan!

⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️

Rama menatap dirinya lama di cermin. Penampilannya hari ini kusut seperti Zombie. Tentu saja, Zombie yang ganteng. Rama bahkan yakin dirinya Zombie terganteng di dunia saat ini. Ralat, manusia mirip Zombie terganteng maksudnya.

Rama menguap lebar, semalam ia tidak dapat tidur. Saat Edward membangunkannya untuk pindah ke kamar, ia terus terjaga. Pikirannya kelamkabut. Bahkan mengerjai Edward di grup chat subuh tadi belum bisa menstabilkan perasaannya.

Rean menyukai Chelia.

Di luar dugaan Rama sama sekali. Rean selalu bersikap tenang dan tidak menunjukkan kecenderungan perasaannya pada siapapun. Wajar bila ia tidak tahu.

Rama menatap bayangan dirinya lekat-lekat. Biasanya ia selalu percaya diri. Rama selalu yakin bisa menjadi yang terbaik untuk Chelia. Tapi bila saingannya Rean, ia merasa ragu.

Memikirkan hal tersebut membuat hati Rama menjadi sesak. Chelia maupun Rean bukan pilihan. Mereka masing-masing menempati posisi spesial dalam hatinya. Cinta ternyata bisa se-memusingkan ini.

Rama membasuh wajah dan setengah rambutnya dengan air keran kemudian keluar dari toilet. Ia harus bersikap normal di hadapan teman-temannya yang lain, terutama Rean sendiri. Ia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan dan bergegas menuju ruang kelas kosong yang dijadikan sekret bagi mereka untuk kumpul. Sesaat sebelum memutar di tangga, seseorang tiba-tiba menubruknya dari belakang.

"Uugh!" rintih seorang perempuan yang jatuh terhempas ke lantai.

Rama berbalik dan bertemu mata dengan perempuan berambut ombak yang kini menatapnya dengan kedua iris berkaca. Ia meringis kesakitan sambil menggigit bibir.

Rama mengamati lekat-lekat perempuan tersebut. Matanya eye-cat yang sipit dan sayu dengan hiasan eyeliner dramatis, hidung minimalis, dan bibir mungil yang merekah. Secara keseluruhan terlihat imut.

"Ma-maaf ya, Rama. Aku tidak hati-hati."

Dia mengenalku rupanya, ujar Rama dalam hati. Matanya terfokus pada pin dengan lambang HMJ Keperawatan yang terpasang di blazer perempuan mungil itu.

"Oke." Rama mengangguk lalu memutar badan dan bersiap melangkah kembali.

"Tunggu ...!" Perempuan berambut ombak tersebut menahan lengan Rama. "Hanya begitu saja?"

Rama menautkan alis. "Kenapa? Kamu mau dilaporkan ke polisi atau dibawa ke pengadilan? Nggak deh, ribet urusannya."

Untuk beberapa saat perempuan yang masih terduduk di lantai itu terhenyak. "Kakiku ... hiks! kakiku sakit. Aku tidak bisa berdiri!"

Rama mendengus. Ia paling tidak suka drama. Apa yang dikatakan perempuan di hadapannya ini jelas-jelas menyalahi hukum ketiga Newton perihal aksi-reaksi dan tidak sesuai dengan aturan momentum.

Gaya yang ia terima saat tubrukan tadi tidak sedemikian besar untuk membuat perempuan itu jatuh ke lantai, pun untuk menghasilkan energi yang dapat membuat kakinya sakit hingga tidak dapat berdiri.

"Tolong bawa aku ke poliklinik. Kumohon ... hiks!"

Beberapa orang yang kebetulan lewat kini memperhatikan Rama.

"Lho, itu Kak Rama? Ada apa, ya?

"Siapa perempuan itu? Kenapa dia menangis begitu?"

Perempuan yang tertunduk sambil menyeka air mata tersebut tersenyum penuh kemenangan mendengarnya.

"Permisi! Permisi! Air raksa! Asam sulfat panas!"

"Awas, sianida! Beri jalan!"

Rama menoleh pada Rafa dan Rafi yang turun dari tangga dengan heboh dan membelah kerumunan dengan mudah. Duo kembar tersebut lalu mengambil tempat di sebelah Rama.

"Rafi! kamu jorok banget, deh!" Rafa membentak Rafi dan mendaratkan sebuah pukulan di kepalanya.

"Kenapa?! Aku mandi 3 kali sehari, kok! Cuma lupa sikat gigi tadi pagi!" balas Rafi dengan suara tak kalah melengking, membuat seluruh perhatian beralih padanya.

"Ini!" Rafa menarik sesuatu dari dalam tas Rafi lalu melemparkannya tepat ke atas kepala perempuan yang masih menunggu Rama menyambut tangannya itu. "Masa kamu bawa-bawa jasad kecoa ke mana-mana!" sambungnya.

"Kecoa?!" Perempuan dengan rambut bergelombang tadi spontan berdiri dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Kakinya menghentak-hentak di lantai. Sama sekali tidak kelihatan sakit.

Rafa dan Rafi kompak tertawa.

"Wah! Maaf deh, mataku khilaf. Kupikir fosil kecoal, ternyata cuma bungkusan permen Kopiko. Saudaraku ini tidak sejorok yang kukira." Rafa membelai bekas kepala Rafi yang tadi dipukulinya. Rafi pun memeluk Rafa dengan manja.

"Kuambil kembali, ya. Jangan marah begitu, mukamu jadi seram!" kata Rafi lagi lalu mengambil bungkus permen di kepala si perempuan rambut ombak dan menyerahkan tisu.

"Kurang ajar! Awas saja kalian!" Perempuan tersebut buru-buru membereskan barang-barangnya yang berserakan di lantai dan berlari meninggalkan kerumunan orang dengan wajah merah padam tanpa berani menatap Rama lagi.

Rama hanya mendengus kesal sepeninggalnya. "Perempuan itu apa maunya, sih!

Rafa dan Rafi menyandarkan lengannya pada pundak Rama di sisi berlawanan. "Beberapa orang memang hobi berakting," celetuk seorang di antara mereka.

"Dia itu mata-mata." Gio muncul di balik punggung mereka bertiga.

"Dia anggota dari mereka yang kita jumpai kemarin itu," lanjut Gio pada Rama. "Waspadalah."

Rafa dan Rafi saling berpandangan tidak mengerti. "Waspadalah, waspadalah, waspadalah!" seru mereka kompak meniru gaya khas Bang Napi di acara tv jaman dahulu.

Rama hanya mengangguk dan mengikuti ketiganya berjalan menaiki tangga. Matanya mengerling tajam pada beberapa mahasiswa di depan ruang HMJ Keperawatan yang tampak berkasak-kusuk mengamatinya.

"Apa lagi rencana mereka?"

☕☕☕

TBC

.

.

.

Sebelumnya chapter ini ada 3600+ kata jadi sebagian kubuatkan work baru biar mata kalian nggak rabun
😁😁😁

Meet Jack Kahuna Laguna, Gaes!
😁😁😁

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top