29. Denigrare☕

-Bring into Conflict-

~♥Happy-Reading♥~

.

.

.

Intuisi adalah pengetahuan tentang hal-hal yang diketahui secara tidak sadar. Definisi lain menyebutnya sebagai kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Intuisi lebih sering dikaitkan dengan getaran jiwa atau dorongan hati, yang kemudian disederhanakan bahasanya menjadi firasat, baik maupun buruk.

Chelia sudah merasakan firasat tidak baik saat mengetahui Rean akan mendaftarkan diri sebagai calon ketua BEM, dan keadaan saat ini mempertegas rasa khawatirnya.

Rama dan Mahesa. Mereka saling berjabat tangan, beradu tatap satu sama lain. Chelia tidak bisa membaca isi hati maupun pikiran mereka, namun intuisinya berkata bahwa persekutuan antara keduanya tidak boleh terjadi.

"Menarik. Terima kasih atas tawaranmu." Rama membalas senyum Mahesa. "Sayang sekali aku tidak berminat."

Chelia dan Gio kompak menoleh pada Rama yang seperti sedang menahan tawa.

"Apa?!" Mahesa berseru dengan suara tinggi lalu kemudian berdeham dan mencoba kembali bersikap normal. Ia maju selangkah, menepuk pundak Rama. "Kenapa? Pikirkanlah baik-baik, Rama. Popularitasmu akan meningkat dengan jabatan ini. Orang-orang akan menghargaimu. Kamu akan disegani dan diprioritaskan!"

Rama terkekeh. "Aku pikir kamu beda dengan teman-temanmu yang berpikir primitif ini. Ternyata sama saja. Kalian ini saudaraan sama Pithecanthropus erectus, ya?" Rama menatap keempat anak himpunan jurusan sebelah itu. "Dan kamu," katanya dengan mata tertuju pada Mahesa, "kamu menggadaikan nama baik BEM Fakultas kita untuk mendapatkan popularitas? Menyedihkan sekali."

Mahesa berusaha menahan diri dengan tetap tersenyum dan mengabaikan kata-kata Rama. "Kamu boleh berpikir seperti itu. Tapi apa kamu tidak iri pada Rean yang bisa segalanya? Bila kuperhatikan, sepertinya Pak Arya lebih menyenangi dan mengutamakan Rean, padahal kamu adiknya. Kulihat mereka berbincang-bincang di depan mushollah tadi. Tidakkah seharusnya dia mengusungmu saja?"

Rama terdiam beberapa lama lalu kemudian tertawa ringan. "Kamu terlalu cepat membuka kartu, Bro!" Rama menepis tangan Mahesa dan menatapnya tajam. "Kamu pikir aku sepayah itu?"

"Bicara apa kamu?" Mahesa berlagak tidak paham melihat perubahan intens dari ekspresi Rama.

Rama mendengus. "Dengar selagi aku bicara baik-baik," ujarnya rendah sambil mencengkram bahu Mahesa kuat-kuat. "Rean itu saudaraku. Dan aku tidak sebodoh itu untuk menukar saudaraku hanya untuk sebuah kursi. Bila pun aku ditakdirkan untuk menjadi seorang pengkhianat, akan kupastikan dia orang terakhir yang akan kukhianati setelah diriku sendiri."

Mahesa bergeming, kehilangan kata. Memprovokasi Rama lebih sulit dari perkiraannya. Mahesa pikir orang yang populer sepertinya akan melakukan apa saja untuk mempertahankan dan meningkatkan popularitasnya. Rama tidak demikian ternyata.

Chelia yang tadi menunduk kini kembali mendongak menatap Rama, matanya terasa panas. Dalam hati ia memarahi dirinya sendiri yang sempat meragukan Rama.

Adapun Gio hanya mampu menatap punggung Rama penuh kekaguman. Bila sedang serius, Rama yang banyak ulah ternyata tak kalah keren dengan Rean.

"Satu lagi, berhenti membuntuti kakakku. Dia itu punya mata dan telinga di mana-mana. Bagaimana, Gio?"

"Eh? Oh, I-iya!"

Rama kemudian menarik Gio dan Chelia. "Biarkan kami lewat, atau kalian tidak bisa menginjakkan kaki di lantai dua dan pulang dengan terjun bebas."

Mahesa memberi isyarat pada teman-temannya untuk mundur dan membuka jalan.

"Gila! Apa sih yang kamu lakukan?!" seru seorang diantara mereka saat Rama dan kawanannya berlalu. "Untuk apa mengajak dia bergabung?!"

"Kalian benar-benar primitif!" umpat Mahesa, meminjam istilah Rama. "Rama itu memiliki pengaruh besar. Dia adik dari pak Arya yang dikenal satu fakultas. Pengikutnya di instagram bahkan bisa menyaingi Notix. Kita butuh penggerak opini publik sepertinya. Ditambah lagi dia orang berduit, kita bisa memanfaatkan kekayaannya untuk menarik hati orang-orang." Mahesa mengatur napas sejenak. "Mengajak dia bergabung sama saja melucuti senjata lawan, memperkuat pihak kita dan melemahkan mereka sekaligus."

"Masih ada satu lagi, ini poin paling utama!" Perempuan dengan rambut bergelombang yang tadi mengamati dari dalam ruangan muncul dan ikut memberi suara. "Rama itu tampan. Uh, tampan sekali!" jeritnya membayangkan wajah Rama.

"Kamu selalu saja salah fokus!" tegur seorang yang lain lagi. "Jadi bagaimana Esa? Sepertinya dia tidak tergiur dengan ajakan kita."

Mahesa mengelus dagu, memutar otak. Sedetik kemudian bibirnya tertarik membentuk seringai tajam. "Ada tiga hal yang menjadi kelemahan laki-laki. Harta, takhta dan wanita. Bila dia tidak termakan dengan uang dan kedudukan, kita coba pilihan ketiga."

Semua kompak menatap pada si perempuan berambut ombak yang langsung tersenyum genit.

"Serahkan padaku. Akan kubuat Rama bertekuk lutut dan bergabung dengan kita!"

⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️

"Arght! Aku mau punya Doppelgänger kalau begini!" Rama mengerang dan menghamburkan semua kertasnya di atas meja. Ada tiga laporan yang harus direvisi olehnya sekaligus dan waktu telah memasuki pergantian hari. Belum lagi tugas pendahuluan yang harus ditulisnya sebagai syarat masuk praktikum.

"Katanya setiap orang punya tujuh di dunia." Rean menanggapi dengan santai dan tetap menulis.

Rama meringsut ke Rean. "Kalau begitu temukan satu untukku! Temukan Rean! Temukaaan!"

Rean menepis tangan Rama yang menguncang-guncang bahunya dengan halus dan kembali fokus menulis. Rean sudah terbiasa menghadapi segala ke-absurd-an Rama. Apalagi memang sudah lewat tengah malam, masa-masa kritis seorang mahasiswa farmasi yang belum selesai dengan tugas dan laporannya.

"Doppelgänger? Untuk apa?" Edward yang mendengar keributan di ruang tengah muncul dengan nampan berisi tiga gelas kopi.

"Mau kuminta gantikan kuliah sama praktikum, aku nggak sanggup lagi." Rama berbaring telentang di lantai dengan tangan dan kaki terbuka lebar. Pandangannya menerawang. "Aku mau punya kage bunshin! Aku mau jadi shinobi!" Rama menggeliat-geliat, tak berselang lama, ia bangkit dan mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Aku mau jadi amoeba saja!"

"Amoeba?"

"Iya, biar bisa membelah diri!"

Edward meneguk kopinya dulu dan membuang napas. "Terserah kamu, Rama! Jadilah apa yang kamu inginkan. Asal kamu bahagia. Itu saja."

Rama menempelkan pipinya di kaca meja. "Masalahnya tanganku sudah keram begini!"

Rean meletakkan pulpennya. "Sudah berapa nomor?"

"Sepuluh."

"Terus?"

"Baru nomornya saja, jawabannya belum!"

Rean menahan napas sejenak. "Ya sudah."

"Kamu cuma tanya-tanya begitu?!"

"Ya sudah, kamu tidur sana! Nanti aku yang tuliskan!" Rean mendengus dan kembali menulis

"Bagi dua Rean saja, Rean." Edward menawarkan bantuan.

Rama langsung semringah dan berbaring santai di sofa. Beberapa waktu kemudian ia bangun dan meringsut ke Rean lagi. "Aku nggak bisa tidur, Brother."

"Duduk, diam, dan bernapas saja."

Rama menurut. "Jadi sekarang apa?"

"Apa lagi?"

"Masa aku cuma diam kayak patung mahakarya begini!"

"Sumpah! Tadi bilang nggak bisa menulis, sekarang mengeluh nggak ada kerjaan, mau kamu apa, Rama!" Edward bersungut.

Rean memijat dahi, merelaksasikan urat syarat yang timbul di sana kemudian menarik tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang telah disatukan dengan klip.

"Ini, baca. Rangkuman materi Fitokimia dari Chelly, persiapan untuk mid nanti."

"Masih beberapa hari juga, nanti hapalanku malah hilang lagi." Rama menatap tidak minat kertas yang disodorkan Rean.

"Yang kemarin berapi-api bilang waktu belajar kita selalu tidak efektif itu siapa, huh?"

Oh sial. Rama tidak bisa mengelak dan pada akhirnya menerima kertas berisi mind-map tulisan tangan Chelia yang serapi font type Calibri. Bukan fokus pada materinya, Rama justru teringat Chelia.

"Rama, apa yang dikatakan Mahesa tadi jangan kamu pedulikan, ya. Apalagi tentang Kak Arya dan Rean."

"Jangan khawatir, Sweetheart. Aku tidak mungkin iri pada Rean. Bagaimanapun juga, Kak Arya itu tetap akan menjadi kakakku. Kami punya ikatan darah dari ibu. Dia pasti lebih menyayangiku."

Ada senyum kecil di wajah Rama saat membayangkan bagaimana Chelia memberinya semangat dan nasehat di perjalanan pulang tadi. Chelia memang selalu memahami perasaannya. Meski terlihat santai di depan Mahesa, sejujurnya perasaan Rama bergejolak juga. Rama tidak bisa berbohong bahwa dirinya cemburu tiap kali Arya mengangkat-angkat nama Rean. Namun rasa sayangnya pada Arya maupun pada Rean berhasil meredam perasaan negatif tersebut.

Rama melirik Rean yang menuliskan tugas untuknya. Rean memang dibekali bakat yang luar biasa. Selain cerdas dan jago bela diri, Rean bisa menggunakan kedua tangannya untuk menulis. Bila yang kanan pegal, bisa diganti dengan yang kiri.

Ah, tapi Tuhan itu maha adil. Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Meski berbeda, kadarnya pasti setara. Lagipula Rean selalu membantunya dengan kelebihan yang ia miliki. Rean juga sangat pengertian dan tidak pernah mengusiknya. Dibanding iri, Rama justru merasa bersyukur.

Rama memejamkan mata, rasa kantuk mulai menguasainya. Sebentar kemudian kelopaknya sempurna menutup diiringi suara hembusan napas yang teratur.

Rean dan Edward berbalik dan menemukan Rama sudah terlelap.

Edward menarik kertas rangkuman materi yang diberikan Rean tadi sebelum kusut ditindih Rama yang tidur sekalipun tetap banyak gerak. "Sepertinya efek hipnotik materi Fitokimia ini lebih ampuh dibanding Diazepam," gumamnya dengan tawa ringan.

Rean ikut terkekeh kemudian mengambil bantal dan memperbaiki posisi kepala Rama, sebelum manusia dengan seribu satu alasan itu mengeluh nyeri otot leher dan berniat tidak masuk kuliah lagi besok pagi.

Edward yang mengamati itu hanya mampu mengulum senyum. Saat menunggu Rean yang beranjak untuk mencari buku referensi di kamarnya, ia bersandar sejenak pada tepi kursi di dekat Rama.

"Kalian berdua sangat dekat." Edward melirik Rama yang terpejam, "Kenapa kalian harus menyukai orang yang sama, sih. Rumit kan, jadinya nanti."

Edward kembali menumpukan punggungnya pada tepian kursi. Hal yang tidak ia sadari adalah Rama yang belum sepenuhnya terlelap dan Rean yang sudah berada di ambang pintu.

Masing-masing mendengar perkataaannya barusan dalam diam.

⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️

Pharmacoffea
Grup Chat

RamayanaKrissandy~
Kaukah itu Pedro?

EdwardianNusantara~
Apa salah dan dosaku, Rama!

RamayanaKrissandy~
Cinta suciku kau buang-buang 🎶🎶🎶

CassythaEarline~
Ahahaha Eddy unyu sekali

RamayanaKrissandy~
Cie ... Cassy kalau tentang Edward pasti cepat muncul. Ini masih subuh, lho. Nih, kuberi bonus!

EdwardianNusantara~
Sial! Kubalas kamu, Rama!

EdwardianNusantara~

CassythaEarline~
😂😂😂

RamayanaKrissandy~
Uh, kegantengan di masa lalu 😍😍😍

EdwardianNusantara~
Gila!

RamayanaKrissandy~
Biar gila asal ganteng. Btw aku ada ide. Kirimkan aku foto-foto masa kecilmu, Cassy! @CassythaEarline

CassythaEarline~
Tidak akan!

RamayanaKrissandy~
Duh, jangan berprasangka buruk dulu. Ini penting!

CassythaErline~
Tidak! nanti kamu print ukuran A5 terus kamu pajang di jalanan sebagai orang hilang, seperti waktu kamu mengerjai Dandy dulu

RamayanaKrissandy~
Nggak kok, serius deh! Sekarang mau pasang iklan itu ribet, ada undang-undangnya juga

CassythaEarline~
Katakan dulu, untuk apa?

RamayanaKrissandy~
Untuk membungkam mulut netizen

⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️


Cassy tidak pernah menyangka bahwa kekuatan seorang penggiring opini publik seperti Rama sedemikian besar. Awalnya Cassy menolak mentah-mentah saat Rama meminta foto masa kecilnya. Cassy pikir Rama hanya akan menjadikannya lelucon seperti yang dilakukannya pada Edward dan Rean. Ternyata Rama menemukan solusi cerdas untuk membungkam mulut-mulut tukang gosip yang masih betah menjadikan bahan pergunjingan.

Baru tadi pagi Rama mengirim instastory berisi fotonya semasa kecil dulu, pandangan orang-orang di fakultas terhadapnya langsung berbalik. Beberapa yang tak punya muka bahkan masih berani menyapa, seolah kemarin tidak mempermasalahkan perihal gosip operasi plastik yang sempat menjatuhkan mood-nya untuk ke kampus.

"Wah, Cassy! Kamu imut banget, deh! Aku lihat di story Rama."

"Kak Cassy sudah cantik sejak lahir, ya! Berita yang kemarin itu tidak benar rupanya!"

"Cassy, maaf yah. Kemarin itu kita khilaf dan termakan gosip!"

Cassy mendadak kesal sendiri mengingat sapaan-sapaan memuakkan itu. Tidak benar atau kalian yang tidak ingin mencari kebenarannya?! Kalian termakan gosip atau justru menikmatinya?! Dasar menusia dengan hati dan pikiran yang sempit! Saat melihat orang lain lebih tinggi, mereka beramai-ramai menjatuhkan. Saat orang yang terjatuh mulai bangkit kembali, mereka baru mendekat.

"Cassy, kamu di sini juga rupanya." Teguran seorang perempuan membuyarkan lamunan Cassy. Dia adalah salah satu mantan anggota geng Cindy yang kabarnya telah bubar dan membentuk geng baru.

"Kenapa?" balas Cassy cuek.

"Nggak, aku cuma ingin menyapa. Btw, ternyata apa yang Cindy katakan itu bohong, ya! Dasar sombong! Sekarang dia yang kena batunya. Kamu tahu? wajahnya rusak parah. Dia sampai malu ke kampus dan akan melakukan operasi plastik."

"Lebih kasihan lagi karena punya teman sepertimu."

Cassy yang baru ingin membuka mulut menoleh pada Naya yang berkacak pinggang.

"Hah? Kenapa malah membawa-bawa aku?!"

"Bukankah dulu kamu pengikut setianya? Sekarang kamu bersikap seolah Cindy bukan siapa-siapa."

"Jangan sembarangan! Aku juga korban di sini!"

"Korban atau pelaku? Kamu yang paling semangat menyebarkan gosip itu, kan? Aku tahu kamu yang membocorkannya ke luar angkatan meski sudah dilarang Rumy." Naya menatap dengan tatapan lurusnya. "Tarik dulu semua kata-katamu kemarin, baru duduk di sebelah Cassy. Sekarang minggir, itu tempatku!"

Cassy menatap Naya tanpa berkedip. Begitu konco Cindy tadi melangkah pergi, ia langsung melompat dan memeluk lengan Naya. Naya memang supergirl di mata Cassy yang tidak segan-segan membela mereka bila Edward, Rama, atau Rean tidak ada di tempat.

"Naya! Cassy!"

Naya dan Cassy berbalik begitu mendengar panggilan Chelia yang berjalan bersama Erva.

"Lho, Chelly! Kok kamu bawa-bawa absen?" tanya Naya saat melihat map plastik yang ditenteng Chelia.

"Ah, ini Rumy minta tolong untuk buat berita acara mid semester nanti."

"Mana sekertaris kelas? Enak saja menyuruh kamu sembarangan! Sini, biar aku yang kembalikan ke Rumy!"

Chelia menggeleng dan menyembunyikan absen tersebut di belakang tubuhnya. "Nggak apa-apa, Naya. Aku juga lagi kosong, kok."

Naya mendengus. "Oke. Tapi lain kali kalau kamu merasa keberatan, bilang saja. Jangan sungkan. Aku tidak mau kebaikanmu dimanfaatkan orang."

Chelia mengangguk-angguk dan tersenyum. Ia ikut memeluk sebelah lengan Naya seperti yang dilakukan Cassy. Chelia merasa senang Naya ikut bergabung lagi.

"Duh, kalian berdua lepas! Nanti Edward sama Rama cemburu!"

"Ih, Naya!" Cassy mencubit lengan Naya.

"Rama? Ada apa dengan Rama?" Chelia menatap Naya bingung. Apa Rama juga menyukai Cassy? terkanya dalam hati.

Naya dan Cassy saling melirik lalu tertawa bersama.

"Ada deh, Chelly!" kata Cassy lalu berlari bersama Naya masih dengan cekikikan.

"Ah, Naya! Cassy! tunggu!" Chelia ikut mengejar. Pikirannya masih diliputi tanda tanya.

Tinggal Erva yang berdiam diri di tempat, menyaksikan ketiganya saling kejar-kejaran dan bercanda. Erva merasa semakin terkucil. Mereka bertiga sama-sama cantik dan berada, tidak seperti dirinya yang sederhana saja. Mendadak ia teringat obrolan teman-teman kelasnya di jam istirahat tadi.

"Erva itu enak ya, dia tidak pintar dan tidak kaya. Tapi coba lihat teman-teman dekatnya. Naya, keponakan ketua jurusan kita. Cassy, anak anggota dewan. Chelia, mahasiswi teladan. Belum lagi Edward yang sekarang ketua HMJ dan Rama adiknya pak Arya. Bahkan dia bisa akrab dengan Rean! Aku iri sekali padanya!"

"Pandai cari muka dia, dasar benalu!"

Erva sempat mencari tahu maksud kata benalu yang didengarnya itu di internet, dan informasi yang diperolehnya sungguh menyayat hati.

Apa aku merugikan dan menjadi beban bagi teman-temanku seperti benalu?

☕☕☕

TBC

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top