40 | perfect
Wisnu menjawab pertanyaan Sasmitha dengan menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu. Wisnu mencium bibir atas dan bawah Sasmitha dengan begitu lembut, membuat gadis itu memejamkan matanya seraya mengerang nikmat dengan hati yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran dan kembang api yang meledak-ledak di kepala.
Ini memang bukan ciuman pertamanya, tapi ciuman Wisnu benar-benar membuat Sasmitha melayang. Ciuman Wisnu tidak hanya dipenuhi oleh nafsu dan gairah, tapi juga cinta dan afeksi yang sungguh dapat ia rasakan di kulit sampai ke hatinya. Membuat ia begitu dipuja dan dicintai begitu besarnya. Sehingga ciuman pertamanya dengan Wisnu kali ini benar-benar terasa begitu istimewa.
Sasmitha memejamkan matanya, kedua lengannya ia kalungkan di leher Wisnu. Gadis itu membalas ciuman Wisnu juga dengan pemujaan dan cinta. Membuat dada Wisnu meledak oleh rasa bahagia.
Saat ini Sasmitha masih duduk mengangkang di pangkuan Wisnu, dan untuk beberapa saat, pria itu membiarkan Sasmitha yang memimpin ciuman mereka.
Saat dada mereka terasa sesak karena kehabisan oksigen, barulah mereka mengambil jarak untuk menarik napas. Tapi saat ini jarak mereka masih sangat dekat—Wisnu menempelkan kening keduanya—dan senyuman lebar terbit di bibir masing-masing.
“I love you,” bisik Sasmitha yang membuat Wisnu semakin lebar.
“I love you too, baby,” jawab Wisnu seraya mengangkat tubuh Sasmitha lalu menjatuhkan tubuh gadis itu di sofa. Hingga Wisnu kini ada di atasnya.
Napas keduanya memburu dan menyatu. Dengan jarinya yang gemetar, Wisnu membelai bibi Sasmitha yang bengkak karena ulahnya. Membuat seluruh tubuh gadis itu meremang, hingga ia memejamkan matanya untuk merasakan semua perasaan membuat gila akibat sentuhan Wisnu di bibirnya.
Dan gadis itu langsung mendesah nikmat saat Wisnu kembali menyatukan bibir mereka. Wisnu mengisap bibir atas dan bawah Sasmitha dengan begitu sensual, membuat desahan Sasmitha semakin keras terdengar.
Wisnu menghentikan cumbuannya di bibir Sasmitha saat ia mendengar ponsel Samitha berdering nyaring, membuat Sasmitha langsung protes seraya menatap Wisnu dengan tatapan nanar.
“Ponsel kamu bunyi, Sayang,” ujar Wisnu lembut dengan tatapan yang sama berkabutnya—penuh gairah.
Sasmitha mengecek ponselnya sebentar, tapi ia langsung mematikan ponselnya saat melihat nama Alisa yang menari-nari di layar. Setelah mematikan telepon Alisa, Sasmitha kembali meraih leher Wisnu dan mereka kembali berciuman. Kali ini dengan penuh nafsu dan gairah.
Wisnu membelai bibir Sasmitha dengan lidahnya, membuat jari-jari kaki Sasmitha menekuk dan gairahnya semakin naik ke ubun-ubun.
Sasmitha membuka mulutnya, memberi Wisnu akses untuk menciumnya lebih dalam lagi. Wisnu menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Sasmitha, mencari-cari lidah gadis itu untuk ia ajak menari bersama. Merayakan cinta dan gairah yang meledak-ledak di setiap inci kulit keduanya, di tulang-tulang mereka, di pembuluh darah mereka, dan di dada kiri mereka.
***
Sasmitha terbangun dengan setengah telanjang karena saat ini ia hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Tapi ia merasa hangat karena selimut yang menutupi sampai dada. Hatinya menghangat karena mengingat pasti Wisnu yang sudah menyelimutinya, karena semalam ia bahkan tidak ingat kapan ia tidur dan bagaimana ia tertidur. Yang ia ingat hanya nama Wisnu yang terus ia teriakkan di mulut dan kepalanya.
Saat Sasmitha bangun, Wisnu memang sudah tidak ada di sampingnya. Tapi ia dapat melihat pria itu tengah berdiri memunggunginya dengan shirtless dan hanya memakai celana pendek yang menutupi bagian bawahnya. Pria itu tampak sedang serius menelepon. Dan sungguh, Sasmitha suka apa yang dilihatnya saat ini. Karena Wisnu tampak begitu seksi. Tubuh pria itu memang ideal dan otot-ototnya terbentuk sempurna—hasil dari bertahun-tahun nge-gym dan olahraga.
Dengan tatapan penuh pemujaan, Sasmitha memandangi Wisnu seraya bersandar di kepala ranjang. Senyumnya mengembang saat mengingat kalau sebulan lagi, pria itu akan jadi suaminya.
Suami.
Satu kata itu membuat hatinya menghangat. Dan sungguh, ia merasa begitu beruntung karena Wisnu-lah yang akan menjadi suaminya. Mereka memang belum mengenal lebih dari tiga bulan, tapi ia sama sekali tidak ragu dan yakin sekali Wisnu memang yang terbaik.
Ia tidak pernah merasa seyakin ini dengan seseorang, bahkan dengan Rakha yang ia pacari selama tujuh tahun pun tidak. Ah, apa ini juga yang dirasakan Rakha dengan istrinya sekarang?
Wisnu mematikan teleponnya, lalu berbalik badan dan langsung tersenyum lebar saat matanya bertubrukan dengan mata Sasmitha.
“Hai, morning, baby,” ujar pria itu seraya mengecup kening Sasmitha dan membelai pipinya yang tampak memerah alami sehingga terlihat begitu ayu dan menggemaskan.
“Hai, morning, Wisnu Sayang!”
“Aku juga sayang kamu, Tha,” balas Wisnu seraya mengecupi seluruh wajah Sasmitha. Saat ini Wisnu benar-benar sangat bahagia, karena ia tidak harus jatuh cinta sendiri dan tidak harus memendam seluruh rasa cinta dan sayangnya di dada.
Sasmitha tertawa kegelian seraya mengalungkan kedua lengannya di leher Wisnu, membuat Wisnu kembali jatuh ke atas ranjang. Sehingga kini pria itu ada di atasnya lagi.
Wisnu menghentikan ciumannya dan memberikan kecupan terakhir yang cukup lama di bibir Sasmitha, membuat pipi gadis itu semakin merona saja.
“Aku udah bikin sarapan. Kamu mau makan di bawah atau aku bawa sarapannya ke sini.”
“Mau makan di bawah. Tapi sekarang aku cuma pakai bra dan celana dalam. Gimana dong?” tanya Sasmitha seraya menggigit bibir bawahnya menggoda.
“Tenang my love. Aku punya solusi buat itu.”
Lalu Wisnu meraih salah satu kemejanya yang menggantung di lemari dan memakaikan kemeja itu ke tubuh Sasmitha. Setelah itu ia menggendong Sasmitha ke bawah dan gadis itu tidak menolak sama sekali. Malahan ia kini memeluk leher Wisnu dengan manja dan menenggelamkan kepalanya di leher pria itu. Sesekali menggigit dan menjilat, membuat Wisnu tertawa seraya mencium puncak kepala Sasmitha gemas.
Ya, Tuhan.... Tunangannya ini menggemaskan sekali. Wisnu jadi ingin menahan Sasmitha seharian di sini.
Mata Sasmitha langsung berbinar saat ia melihat masakan Wisnu yang tersaji di meja makan. Semuanya adalah makanan favoritnya dan itu sontak membuat perutnya langsung keroncongan.
“Oh My God, Nu, this is perfect!”
“So are you, my love,” jawab Wisnu seraya memuja Sasmitha yang tampak begitu sempurna di matanya. Membuat Wisnu merasa jadi pria paling beruntung di dunia.
Bentar lagi bubar, tapi nggak bentar-bentar amat😂
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top