REUNI

"Aaaaaaaaaaaaaaa...!" jeritan Prilly mengagetkan tidur Ali.

"Ada apa sih Sayang?" tanya Ali sudah duduk mengacak rambutnya asal dengan mata yang masih terpejam.

Prilly menoleh siapa orang yang sudah mengagetkannya itu.

"Mila! Apa-apaan sih lo, udah ngagetin gue dan bangunin laki gue tahu nggak!" omel Prilly pada sahabatnya itu.

Dengan cengengesan, Mila hanya mengangkat dua jarinya membentuk huruf V tanda berdamai.

"Maaf, habis gue bosen di kamar sendiri. Kevin jatah jaga, Gritte nemenin lakinya," jelas Mila.

Memang setelah pernikahan Ali dan Prilly, kedua pasangan sahabatnya menyusul jejak mereka. Mila dengan Kevin dan Gritte dengan Arif.

Prilly berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Sedangkan Mila duduk di sofa yang ada di dalam kamar. Ali bangun dari tempat tidur mengintip keluar jendela bundar khas kapal.

"Li, gimana perusahaan lo? Gue denger dari Dimas sedang mengalami kerugian?" tanya Mila sambil membolak-balikan majalah yang ada di meja depannya.

Ali berjalan menghampiri Mila dan duduk di sofa seberangnya.

"Kalau barang ini bisa sampai tepat waktu itu semua bisa tertutupi, Mil. Makanya gue izinin Prilly membawa kapal ini, karena nggak ada nahkoda yang kosong sekaligus nurutin ngidamnya dia," jelas Ali kepada Mila meski matanya masih sepet.

"Hah! Apa Li? Prilly ngidam jalanin kapal?" pekik Mila kaget tidak percaya.

Ali menganggukan kepalanya meyakinkan ucapannya benar.

"Iya beneran, Mil!"

"Gila tuh anak! Anak lo belum keluar aja udah mau jadi pelaut. Jangan-jangan gedenya ngikutin jejak emaknya tuh!" canda Mila membuat Ali terkekeh.

"Lo sendiri gimana, Mil? Belum denger kabar bahagia dari lo dan Gritte?"

"Yaelah Li, gue aja jarang dibelai. Mana bisa cepet kaya lo dan Prilly. Maklum jadi istri pelaut. Sering ditinggal-tinggal," jawab Mila apa adanya.

"Tapi kan lo juga kadang masih sering ikut nemenin layar. Ya, itung-itung menyelam sambil minum air," canda Ali membuat Mila menghadiahi pukulan keras menggunakan bantal sofa.

Prilly selesai mengganti bajunya dan ikut bergabung dengan Ali dan Mila. Prilly duduk di pangkuan Ali.

"Gue di sini kayaknya jadi obat nyamuk deh!" sindir Mila saat melihat Ali yang menciumi perut Prilly.

"Sayang, kamu denger ada orang ngomong nggak? tapi kok nggak ada orangnya ya?" tanya Ali dengan wajah polos menatap Prilly.

"Iya ya Honey, apa itu tadi suara nyamuk?" timpal Prilly membuat Mila sebal.

"Heh! Kalian itu bisa nggak sih lihat sikon kalau ingin bermesraan. Masih ada gue nih di sini. Malah dianggap nyamuk lagi. Gue bukan nyamuk keles," ujar Mila dengan wajah sebal dan emosi melipat kedua tangan di dadanya.

"Terus... apa kalo bukan nyamuk?" tanya Prilly menoleh melihat Mila.

Saat Mila mulai membuka mulutnya ingin menjawab, Arif dan Gritte masuk ke dalam.

"Hay Prilly, gue kangen sama lo," teriak Gritte riang menghampiri Prilly yang masih duduk di pangkuan Ali.

Gritte memeluk Prilly sebentar dan Arif bersalaman ciri khas persahanatannya dengan Ali. Gritte duduk di samping Mila di sofa panjang dan Arif duduk di sofa sigle sebelah Ali dan Prilly.

"Sudah berapa bulan kandungan lo, Pril?" tanya Gritte menunjuk perut Prilly dengan dagunya.

"Alhamdulillah, sudah 7 bulan jalan," jawab Prilly sambil memainkan jemari Ali.

"Hati-hati lo kalau manuver kapal. Lo juga sih aneh-aneh ngidamnya. Pagi-pagi buta suami lo telepon gue mendadak suruh perizinan ke syahbandar biar gue urus perpindahan perwira Queen ke kapal ini dan perizinan biar lo bisa ikut pelayaran ini. Untung dibantu Gina dan Tante Uly. Jadi lancar perizinannya," jelas Gritte panjang lebar.

Prilly menoleh ke belakang menatap Ali dengan tatapan menuntut penjelasan. Ali hanya menampakan gigi putihnya yang terjejer rapi.

"Iya Sayang. Pagi itu aku langsung telepon Gritte buat minta bantuan persiapan perizinan dan aku pikir lagi permintaanya berpengaruh besar untuk kelangsungan perusahaan dan waktunya mepet banget setelah aku dengar dengan waktu yang diberikan oleh pihak sana dan waktu perjalanan kita nanti akhirnya tidak ada pilihan lagi kecuali menerima usulan kamu yang konyol itu, nggak ada salahnya kalau hanya pemberangkatan saja dan itupun aku meminta patner yang sudah lama bekerja sama dengan kamu. Jadi mereka bisa mengerti mau kamu bagaimana tanpa merepotkanmu. Aku juga sudah menghubungi Raja. Dia kebetulah sudah sandar di Kanada. Dia akan menyusul dan menunggu kita di pelabuhan Ube. Aku sengaja meminta Arif dan Kevin untuk mengajak Mila dan Gritte biar bisa nemenin kamu,"
jelas Ali pada Prilly.

"Aaahhh... makasih ya Honey. Jadi makin cinta deh sama suamiku ini?" girang Prilly memeluk lalu mencubit gemas kedua pipi Ali.

Saat Prilly ingin mencium bibir Ali tiba-tiba saja telapak tangan Arif menghalanginya.

"Arrrriiiiiifff...!!!" teriak Prilly keras dan memukul Arif tepat di lengan kirinya.

Ali, Mila dan Gritte pun tertawa lepas. Prilly mengerucutkan bibirnya membuat Ali gemas dan mencubit bibir Prilly. Arif masih sibuk mengusap-usap lengannya yang terasa sakit sambil menggerutu tidak jelas.

***

Sudah dua hari perjalanan coal carrier hari ini bertepatan jaga Prilly, Riky dan Arif.

"Kap, sepertinya di depan awan gelap," ujar Riky menunjuk ke arah depan.

Prilly mendongakan kepalanya yang sedari tadi mengawasi radar.

"Tolong ambilkan binokuler, Cond," perintah Prilly pada Riky.
*binokuler=teropong*

Riky menyerahkan binokuler pada Prilly. Dengan wajah serius Prilly mengamati keadaan di depan kapal.

"Di depan terjadi hujan dan badai," ucap Prilly yang masih mengamati di depan dengan binokuler.

"Cond, kita berlayar dengan kecepayam aman saja," ujar Prilly pada Riky.

"Bass mesin standby untuk manuver," perintah Prilly pada Arif.

Riky dan Arif mengikuti perintah Prilly. Dengan alat komunikasi khusus Arif mengintruksi dan menghandel ruang mesin dari anjungan. Sedangkan Riky mengarahkan juru mudi agar kapal dapat berjalan dengan kecepatan aman, agar kapal dapat di berhentikan kapan saja jika terjadi sesuatu. Prilly mengamati keadaan hujan deras dan keadaan awan diatas laut yang ada di depan kapalnya hitam. Gelombang terasa di kapalnya.

"Kita berjalan di belakang badai saja. Aku amati hujan berjalan ke depan. Namun kita tetap waspada," ucap Prilly kepada seluruh yang bertugas di anjungan saat ini.

Memang keadaan seperti itu sudah biasa terjadi di laut lepas. Kita dapat melihat hujan di depan kita. Tapi perairan yang kita lewati tidak terkena hujan.

"Gunakan Radar, Cond. Jarak pandang kita mulai terbatas. Pastikan agar skala jarak yang digunakan diubah pada interval waktu yang memadai biar gema dapat terdeteksi sedini mungkin. Agar kita dapat terhindar dari tubrukan," peringatan Prilly pada Riky.

Riky dengan serius mengamati radar dan sesekali melihat ke depan. Sedangkan Arif masih sibuk komunikasi dengan perwira yang berjaga di kamar mesin.

***

Malam pun tiba Prilly telah digantikan oleh perwira jaga yang lain. Saat ini dia sudah berada di dalam kamar.

"Sayang kamu sudah makan?" tanya Ali saat melihat Prilly duduk di depan meja kerjanya.

"Sudah tadi, Honey. Kamu sudah makan?" tanya Prilly balik pada Ali.

"Sudah. Tadi koki yang mengantar ke sini. Sini kamu harus istirahat. Seharian sudah bekerja pasti cape," ajak Ali dengan menepuk-nepuk ranjang di sebelahnya.

Prilly menghampiri Ali dan bergelayut di dada Ali.

"Aku nggak bisa bayangin waktu kamu dulu menjalankan kapal jika sedang mengalami trobel atau cuaca buruk. Kamu termasuk wanita yang hebat, Sayang," puji Ali membuat Prilly merasa tersanjung dan merona.

"Ya harus dong Honey. Saat aku dulu memutuskan untuk mengambil pendidikan pelayaran aku sudah bertekad harus total. Aku nggak mau setengah-setengah untuk melakukan suatu hal. Aku dididik untuk menumbuhkan mental yang kuat dan siap menghadapi situasi sesulit mungkin saat di kapal dan di laut lepas seperti saat ini. Banyak nyawa yang berada di tangan aku," jelas Prilly.

"Berat juga ya sayang tanggung jawab nahkoda?"

"Ya begitulah Honey."

"Dulu kamu kenapa bisa ambil pelayaran? Kenapa bukan bisnis atau apalah gitu," tanya Ali sambil mengelus perut Prilly.

"Mmmm... aku pengen kaya Papa dan Mama Honey. Dan lebihnya aku ingin di saat aku bertemu denganmu sudah siap dan merasa pantas untuk mendampingi pengusaha hebat sepertimu," jawab Prilly sekenanya membuat Ali terkekeh.

"Kamu kenapa suka laut?"

"Karena di laut aku merasa bebas. Memandang luasnya lautan dan indahnya dunia. Saat kita berada di tengah luasnya laut lepas. Aku merasa aku ini tidak ada apa-apanya di mata Tuhan. Karena itu aku bisa merasa bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan untukku."

Ali merasa semakin bangga dengan istrinya. Tuhan memang sudah menyiapkan sekenario yang indah untuknya dan Prilly. Kesabarannya dan ketulusannya mencintai Prilly membuat mereka dipertemukan dengan keadaan yang berbeda lebih tepatnya keadaan yang sudah dapat membanggakan keluarga dan membuktikan bahwa dirinya tepat dan pantas untuk mendampingi Prilly. Ali tersenyum bahagia dan mengeratkan pelukannya pada Prilly.

"I love you Sayang," ucap Ali dan mencium pucuk kepala Prilly.

"I love you too Honey," balas Prilly mendongakan kepalanya melihat senyum manis suaminya.

Saat mereka saling berpandangan tiba-tiba ada gerakam dalam perut Prilly membuat Prilly terkejut.

"Aaawww... awww... Honey," pekik Prilly membuat Ali spontan panik dan khawatir.

"Ada apa Sayang? Di mana yang sakit?" tanya Ali khawatir.

"Ini Dad... anak kamu nakal. Nendang perut Mommy," adu Prilly dengan nada manja.

Ali terdengar menghela napas lega dan kemudian tersenyum mengacak pucuk kepala Prilly pelan. Ali turun menghadap di perut buncit Prilly.

"Mana sih yang nakal dan nendangin perut Mommy? Jagoan Daddy main bola ya nak di dalam perutnya Mommy?" tanya Ali kepada jagoan yang masih berada di dalam perut Prilly.

Seakan mengerti dengan ucapan Ali jagoannya itu merespon dengan menendang perut Prilly lagi.

"Aduh... anak Mommy beneran main bola ya Nak, di dalam?" tanya Prilly sambil mengelus perutnya yang terbungkus daster bumilnya.

Ali menyingkap daster Prilly yang memperlihatkan jelas perut besar Prilly. Ditariknya selimut tebal untuk menutupi paha kebawah agar Ali tidak tergoda dan bisa menahan nafsunya untuk sementara waktu ini.

Dengan jelas Ali melihat sesekali tonjolan seperti seakan jagoannya menyikut perut Prilly. Saat itu terjadi dengan cepat Ali menyentuhnya seakan dia tak sabar ingin menyentuh secara langsung. Senyum selalu terukir dibibir Ali dan Prilly. Sesekali Ali menciumi perut Prilly. Menyalurkan kasih sayang kepada jagoan kecilnya yang masih berada di dalam.

"Cepet lahir sayang. Daddy sudah tak sabar ingin bermain denganmu. Daddy tak sabar bergantian dengan Mommy menjagamu saat malam kamu terbangun dari tidur. Menimang mu untuk tidur. Melihatmu tumbuh menjadi jagoan yang hebat dan pintar. Daddy dan Mommy merindukanmu. Sehat ya di dalam sana," ucap Ali sambil mengelus perut Prilly dan menciumnya.

"Terima kasih ya Sayang?" Ali mencium kening Prilly.

"Iya. Sama-sama Honey. Kita tidur ya sekarang?" Prilly merapikan bantal dan guling dan Ali mendekap Prilly dari belakang karena perut Prilly yang sudah membesar sulit untuk Ali memeluk Prilly dari depan.

***

"Kapal sandar kanan, Kap!" laporan dari Riky pada Prilly.

Hari ini kapal sudah tiba di Jepang tepatnya di pelabuhan Ube. Semua sudah standby diposisinya masing-masing. Riky berada di haluan dengan beberapa kelasi dan Kevin berada di buritan bersama kelasi juga. Arif dan Prilly standby di anjungan bersama juru mudi dan markonis. Riky, Kevin dan Prilly berkomunikasi menggunakan HT.

"Kurangi kecepatan Bass!" perintah Prilly pada Arif.

"Lawan aru dan sejajarkan dengan dermaga!" perintah Prilly pada juru mudi.

Ketika sudah dikira kapal sejajar dengan dermaga. "Mesin standby," perintah Arif melalui telegrap khusus yang menghubungkan komunikasi dari anjungan kepada perwira jaga kamar mesin.

"Jangkar kiri siap di letgo, Kap!" seru Kevin lewat HT.

"Jarak kapal dengan dermaga sudah dekat, Kap!" seru Riky pada Prilly setelah Kevin.

"Stop mesin Bass kapal sudah dekat dengan dermaga," ucap Prilly pada Arif.

"Siap Kap!" jawab arif degan tegas.

"Stop mesin," perintah Arif pada penjaga kamar mesin sambil menurunkan tuas pada alat didepannya sebagai pengendali mesin dari anjungan.

Kapal mendekati dermaga dengan sisa laju kapal setelah mesin stop. Terlihat kapal dimundurkan sedikit untuk mensejajarkan dengan dermaga.

Ali yang memerhatikan Prilly bersandar dan melipat kedua tangan di dadanya berdiri di ambang pintu anjungan hanya tersenyum dan selalu terkagum dengan kerja istrinya itu. Walau Prilly tahu jika dirinya diperhatikan tidak mengurangi konsentrasinya memanuver kapal. Dia tetap bekerja dan memimpin jalannya kapal itu dengan baik.

"Kirim tali tros! Lempar tali buangannya sekarang!" perintah Riky yang berada di haluan kepada kelasi yang bertugas melempar tali ke dermaga.

"Tross dihibob!" lanjutnya pada kelasi satunya lagi yang berjaga di alat khusus untuk mengulur dan mengencangkan tali.

"Mesin maju penuh," seru Arif di anjungan.

"Kemudi cikar kiri hingga kapal mendekat dermaga," perintah Prilly pada juru mudi.

Saat haluan sudah terlihat merapat di dermaga giliran tugas Kevin yang berada di buritan.

"Kirim tali tross ke dermaga! Lempar tali buangan sekarang!" teriak Kevin mengomando kelasi yang bertugas dengannya.

"Hibob secara bergantian sampai kapal merapat ke dermaga!" lanjut Kevin.

Setelah perjuangan yang begitu menegangkan dan penuh konsentrasi akhirnya kapalpun dapat disandarkan. Tiba-tiba Ali bertepuk tangan dan menghampiri Prilly di peluknya dari belakang.

"Kamu hebat kaptennya Ali," bisik Ali di telinga Prilly.

Prilly merasa pipinya memanas karena terpesona dengan pujian Ali. Dia segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk menyembunyikan pipinya yang sudah memerah seperti tomat yang siap dipetik. Ali semakin gemas dengan tingkah Prilly itu. Semua orang yang ada dianjungan bersorak untuk Prilly dan Ali. Terlihat Mila, Gritte, Kevin dan Riky yang baru saja masuk ke dalam anjungan.

"Cieeeee... yang malu dipuji suami!" ledek Gritte yang colek pinggang Prilly dan menghampiri Arif yang masih duduk di tempatnya.

"Ihhhh... kalian apaan sih. Aku kan jadi malu!" ucap Prilly sambil membuka tangannya. "Kamu juga ngapain muji-muji aku di depan orang begini. Aku kan malu!" protes Prilly pada Ali dan sedikit mencubit perut Ali.

Semua yang berada diruang itu tertawa dengan sikap Prilly yang tidak seperti biasa itu.

"Memang kamu hebat kok Sayang. Aku baru kali ini lihat kamu memanuver kapal. Aku kagum dan sedari tadi sampe tak kedip mata lihat cekatan kamu," jujur Ali. "Benerkan istri gue keren?" tanya Ali sambil menyapu pandangannya kepada semua orang di ruang itu.

Semua hanya mengangguk dan mengangkat kedua jempolnya di depan dadanya sendiri-sendiri.

Walau seperti itu, Prilly tidak merasa berbangga hati dan besar kepala karena baginya semua itu hanyalah sebagai tugas dan tanggung jawabnya. Masih banyak yang lebih hebat dari dirinya.

#######

Sedikit bayangan saat ingin menyandarkan kapal. Semoga saja kalian dapat membayangkan di kapal bagaimana ya?
Oh iya, ada cerita baru aku yang juga tentang pelaut. Silakan mampir kalau berkenan. Judulnya SEA OF LOVE.

Terima kasih untuk vote dan komentarnya. Cerita ini masih panjang. Ceritaku yg paling pancang di antara yang lain. 😄😄😄

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top