REPENT

Sudah larut malam Ali masih saja duduk di kursi kebanggaannya yang berada di ruang kerja rumahnya. Terlihat ruangan remang karena hanya lampu meja saja yang Ali nyalakan.

Ali terlihat serius menatap laptopnya dan membolak-balikan kertas-kertas. Map warna-warni tersebar di meja. Secangkir kopi menemaninya malam ini. Ketika pintu ruangan itu terbuka, Ali belum juga menyadari kehadiran Prilly.

"Honey...," panggil Prilly lembut.

"Hmmm...," jawab Ali mata masih tidak melepas kertas dan laptopnya.

"Kamu belum selesai kerjanya?" tanya Prilly hati-hati agar tidak membuat Ali marah.

"Belum!" jawab Ali singkat.

"Masih banyak?"

"Ya."

"Kamu nggak ngantuk?"

"Nggak."

"Kamu mau aku buatkan kopi?"

"Tidak."

Jawaban Ali yang singkat tanpa menatap Prilly, menyulutkan api amarah yang sudah Prilly tahan beberapa minggu belakangan ini. Wajah Prilly memerah dan dadanya sudah naik turun. Singa itu siap untuk menerkam musuhnya. Prilly berjalan menghampiri Ali. Ia tidak bisa lagi menahannya. Tampungan kesabarannya sudah penuh dan siap untuk meluap.

"Kamu kenapa sih?" gertak Prilly mulai meninggikan suaranya.

Ali yang tadinya menatap laptop beralih menatap Prilly. Menghembuskan napasnya kasar.

"Kenapa bagaimana?" jawab Ali masih dapat mengontrol emosinya.

"Kamu beda tahu nggak?!! Kamu nggak perhatian lagi sama aku! Apa kamu lupa sama aku dan calon anakmu ini, hah?!" tanya Prilly dengan mata yang sudah memerah sambil menunjuk perutnya yang membesar itu.

Ali mengusap wajahnya kasar dan menatap mata Prilly yang terlihat marah.

"Kamu bicara apa sih? Jangan ngawur kalau bicara?"

"Hah!! Apa?!!! Kamu nyadar nggak sih, belakangan ini kamu terlalu sibuk dengan kerjaanmu. Kamu nggak anggap aku ada. Berangkat ke kantor pagi pulang larut malam. Masih kerja lagi di rumah! Aku juga butuh SUAMIKU!" ujar Prilly bersungut-sungut menahan sesak di dadanya dan menekan kata 'Suamiku'.

"Kamu yang nggak ngertiin aku! Aku berangkat pagi, pulang malam juga karena mencari nafkah untuk kamu!" sentak Ali juga mulai meninggikan suaranya, hingga dia berdiri dari duduknya.

Hingga Prilly shock tidak percaya karena baru kali ini Ali berbicara padanya, dengan suara tinggi dan membentak. Air mata Prilly meluncur berlomba-lomba jatuh ke pipinya. Tak ingin semakin suasana memanas dan emosi, Prilly keluar dari ruang kerja Ali dan membanting keras pintunya.

BLAM!

Ali mengusap wajahnya kasar, dihempaskan tubuh ke kursi kerjanya. Dia acak-acak dan jambak rambutnya sendiri. Dia nampak frustrasi memikirkan pekerjaannya dan sekarang ditambah istrinya yang sudah memprotes, karena sikapnya belakangan ini.

Ali mencoba mengenyampingkan pikirannya tentang Prilly dulu saat ini. Dia kembali pada pekerjaannya yang begitu penting, yang lebih menyangkut banyak orang. Sekarang ini investor pertambangan menghadapi masalah. Penurunan volume eksport dan penurunan harga komiditi miniral dan batubara. Perusahaan saat ini sedang mengalami kerugian yang benar-benar besar.

Ali menatap jam pada dinding ruang kerjanya. Jarum panjang menunjuk angka 2 dan jarum pendek menunjuk pada angka 3. Dia tutup laptopnya dan merapikan kertas dan map warna-warni yang berantakan di atas mejanya.

Dia buka pintu kamarnya perlahan, ia mengendap-endap berjalan ke ranjangnya. Ali melihat Prilly yang sudah tertidur. Dia perlahan berbaring menghadap istrinya. Dia menatap wajah istrinya yang terlihat lelah, matanya yang sembap, ada sisa air mata di bulu mata lentiknya dan di sudut mata yang terpejam. Ali menatap wajah itu lama. Hatinya tiba-tiba dirasuki rasa bersalah dan rasa berdosa. Ali elus pipi Prilly, dicium keningnya. Dia berbisik pelan di telinga Prilly.

"Maafkan aku S,ayang. Karena membuatmu sedih, karena omelanku, karena kebawelanku, karena emosi yang tidak bisa aku tahan hingga membentakmu seperti tadi," Ali menatap wajah lelah Prilly.

"Aku semakin merasa bersalah sudah menambahkan lelah dan sedih untukmu. Maafkan aku, Sayang." Ali memeluk istrinya yang sudah tertidur lelap. Ia cium pucuk kepalanya.

Air mata Ali keluar karena merasa bersalah kepada Prilly, dia yang sudah mengabaikannya beberapa minggu ini. Ali beralih mengelus perut Prilly dan menciuminya.

"Hai jagoan Daddy? Kamu sedang apa di dalam sana? Kamu ng gak nakalkan saat Daddy kerja? Maafin Daddy ya Sayang, sudah membuat Mommy kamu sedih dan menangis. Jangan marah ya sama Daddy? Daddy janji nggak akan marahin Mommy lagi, tapi asal Mommy kamu nggak bandel." Ali terkekeh geli sendiri karena menyadari bahwa dirinya berbicara seolah-olah jagoannya sudah di luar dan mengerti apa yang dia bicarakan. "Kamu nggak nakalin Mommy kan Sayang?" tanya Ali masih sambil mengelus perut Prilly.

"Nggak kok Dad, daddy-nya yang sudah nakalin Mommy." Tiba-tiba suara Prilly mengagetkan Ali.

Posisi Ali yang sedari tadi di depan perut Prilly terkekeh mendengar jawaban Prilly yang menirukan anak kecil dan seolah-olah dia-lah jagoannya yang masih di dalam perutnya.

"Baiklah Daddy yang salah. Daddy minta maaf ya? Apa Daddy dimaafin?" tanya Ali yang masih menghadap ke perut Prilly.

"Mmm... ada syaratnya dong Daddy," jawab Prilly manja, menirukan suara seperti anak kecil.

"Apa syaratnya?"

"Tapi janji dulu, Daddy mau memenuhi syaratnya."

"Iya, asal Mommy mau maafin Daddy. Daddy akan turuti."

"Bener yaaa Dad, lelaki itu yang dipegang janjinya."

"Iya. Memangnya Daddy pernah ingkar janji? Tidak kan Mom?"

"Oke... Mommy percaya, Daddy harus izinin Mommy, ikut Uncle Raja berlayar 1 trip aja!"

Mendengar jawaban Prilly tiba-tiba Ali mendongak memandangnya, dia juga sedang memandang Ali, kepalanya tertidur bertumpu di tangan kanannya, siku sebagai penopang dan mata Ali terbelalak lebar kaget dengan permintaan Prilly.

"NO!" jawab Ali seketika membuat Prilly ingin menangis lagi.

"Daddy... please," mohon Prilly memperlihatkan puppy eyes.

"No funny stuff, Mommy," jawab Ali tidak goyah dengan permohonan Prilly.

Prilly duduk di samping Ali memandang wajah suaminya.

"Please... I miss sailing Daddy, aku cuma minta satu macem kok. Nggak macem-macem," rayu Prilly menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Memohon dengan wajah dibuatnya memelas.

"TIDAK!!!" tegas Ali.

"Yes!" pinta Prilly memaksa. Ali menghela napasnya perlahan.

"Kamu mau buat Daddy mati cepat karena mengkhawatirkanmu? Come on Mom, kamu tak sendiri. Ada jagoan di dalam perutmu. Aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu dan jagoan kita. Mengertilah!" jelas Ali sangat mengkhawatirkan Prilly jika dia tetap memaksa keinginannya.

"Ini juga maunya jagoan kita, Daddy. Entahlah, aku ingin sekali menaklukan lautan lagi Daddy," mohon Prilly memelas.

"Tidak! Daddy nggak akan izinkan Mommy. Pokoknya nggak! Kita tidur saja. Besok juga pasti sudah lupa dan minta yang lainnya. Daddy lelah dan ngantuk, Mom."

Prilly tidak putus asa meluluhkan hati suaminya itu. Dia mendekati telinga suaminya dan berbisik, "I love you, Daddy. I miss you." Suaranya dibuat seseksi mungkin.

Prilly mulai nakal menggigit kecil di telinga Ali, hingga membuat bulu kuduk Ali berdiri dan tubuhnya merinding.

"Mom, jangan memancingku, sss...ahhh," ucap Ali mendesah mulai tertarik godaan Prilly.

"Mommy rindu belaianmu, Dad," bisik Prilly lirih membuat gairah Ali terbangun.

"Come on, Daddy. Kamu sudah lama tidak menengok jagoanmu. Kamu nggak kangen dengan milikmu ini? Sebelum jagoanmu yang berkuasa," rayu Prilly menempelkan buah dadanya di dada Ali. Sengaja agar Ali tersulut gairahnya.

"Aaahhh, aku tidak jadi mengantuk jika kamu seperti ini," ucap Ali dengan mata yang sudah mulai sayu menginginkan segera.

Prilly tersenyum dan mengerling genit pada Ali. Dia menggigit bibir bawahnya, membuat Ali yang melihatnya, sudah sangat menginginkan istrinya itu. Tidak mau menahan lagi Ali segera menyerang bibir Prilly.

Ali melumat bibir tipis itu, ia jilat bibirnya yang terasa stroberi dari lipsglos yang tersisa pada saat Prilly pakai sebelum tidur untuk melembabkan bibirnya. Perlahan Ali dorong lidahnya untuk masuk ke rongga mulut Prilly. Dengan napas yang sudah memburu, Ali berpindah mencumbu leher jenjang Prilly, tangannya sudah meremas buah dada istrinya, sehingga Prilly merasakan nikmat sekaligus sakit.

"Ssss... aaaahh Daddy jangan te...tekan. i...itu sa..sakit karena sudah memproses ASI," jelas Prilly tersengal menahan nafsunya.

"Iya maaf Sayang," jawab Ali singkat lalu melanjutkan ritualnya sebelum mulai permainan sesungguhnya.

Ali membantu Prilly membuka daster bumilnya. Ia melihat ukuran breast Prilly yang semakin berisi. Membuat ia ingin melahapnya. Benar saja, Ali segera melumat puting miliknya. Badan Prilly mulai mengejang merasa nikmat dan gairah hormonnya yang meninggi karena kehamilannya membuat dia mudah tersulut nafsu.

"Ayo Daddy, tengok anakmu!" teriak Prilly yang tak sabar.

Ali yang mendengar teriakan Prilly, tersenyum dan ingin menggodana dulu. Ali masih memilin dan menyesap puting Prilly. Tangan kanannya berpindah kebagian sensitif Prilly. Tangannya bermain-main di daerah itu. Ali yang melihat istrinya menggelinjang dan mendengar desahan membuatnya tersenyum dalam lumatannya pada puting Prilly. Ali membuka boxer dan kausnya. Sekarang mereka sama-sama telanjang bulat tanpa sehelai benang pada tubuhnya.

Ali menggoda Prilly pada saat Prilly siap dimasuki, namun justru Ali menggesekan pada depan sensitifnya. Membuat Prilly kesal dipegangnya junior Ali, tak sabar ia sendiri yang memasukannya. Ali tersenyum penuh kemenangan.

"Junior Daddy, datang jagoan kecil," ujar Ali saat juniornya dimasukan Prilly dan dielus lembut perut Prilly.

Segera ia mulai memaju mundurkan pinggulnya perlahan, Ali tidak ingin menyakiti jagoannya yang masih ada di dalam perut Prilly. Diciuminya leher jenjang Prilly ia tinggalkan banyak kissmark. Saat Ali merasa akan klimaks, ia sedikit mempercepat gerakannya. Namun tetap hati-hati mengingat jagoannya.

"Sayang aku udah... mau sampai!" ucap Ali dengan nada penuh nafsu.

"Lakukan sekarang, Honey... aku sudah ingin keluar," jawab Prilly tersengal napas yang tidak beraturan.

Ali memompa semakin cepat.

"Aaaaah...," lenguhan mereka bersama, saling menumpahkan kepuasan malam itu.

Ali segera menarik juniornya dan mengelus perut Prilly diciumnya berulang kali.

"Hebat jagoan, Daddy," ujar Ali masih dengan napas tersengal dan peluh mengucuri dahi keduanya.

"I love you, Mom," ucap Ali dan mencium singkat bibir Prilly.

"I love you too, Daddy." jawab Prilly sambil mengatur napasnya.

Segera Ali merebahkan tubuhnya di samping Prilly. Ali menoleh ke arah Prilly tersenyum manis dan mengusap peluhnya.

"Makasih ya Sayang. Kepalaku terasa lebih enteng. Sekarang kita tidur, besok pagi-pagi aku harus ke kantor, ada masalah sedikit," ajak Ali sambil menarik Prilly untuk dipeluk dari belakang.

"Memang ada masalah apa sih, kok kamu jadi sok sibuk dan lebih mikirin kerjaan kamu dari pada aku," tanya Prilly.

"Maaf Sayang, ini menyangkut banyak pihak dan taruhannya masa depan ribuan karyawanku."

"Apa separah itukah?"

"Hmmm... iya," jawab Ali yang mulai akan membuka alam mimpinya.

Saat mereka akan mulai tertidur, tiba-tiba kamar Ali tergedor keras. Seakan tidak sabar orang di balik pintu agar dibukakan. Ali merasa sangat marah dan dongkol, karena belum jadi dia tidur, apalagi setelah ia olahraga malam, semakin lelah tubuhnya. Badannya terasa remuk dan sangat lunglai. Ditambah matanya yang sangat perih dan sepet menahan kantuknya.

"Li... buka!!!! Cepet!!!! Masalah baru!" teriakan itu dari balik pintu kamar mereka.

########

Uuuuuh... nakal. Hehehe
Masih sabar menunggu kan kalian? Hehehe

Terima kasih untuk vote dan komentarnya ya?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top