KOMA
Sudah satu bulan berlalu kejadian memalukan di kantor Ali. Prilly sudah bisa memaafkan Nadia. Lain halnya Ali, hingga saat ini ia belum bisa memaafkan Nadia. Prilly sangat paham dengan sikap suaminya itu. Dia juga tidak pernah memaksa Ali untuk memaafkan tindakan buruk Nadia padanya.
"Mom, kamu lihat map merah yang aku taruh di meja kamar nggak!!!" teriak Ali turun dari tangga dengan wajah bingungnya.
Prilly yang berjalan dari dapur menghampiri suaminya sambil membawakan secangkir kopi yang masih mengepul.
"Apa sih Daddy? Pagi-pagi udah teriak-teriak. Ini bukan hutan!" tegurnya.
"Aku sedang mencari berkas meeting buat presentasi nanti, aku masukkan di map merah. Semalem sehabis aku cek lalu aku letakan di meja kamar," jelas Ali dan menerima secangkir kopi yang Prilly buatkan untuknya.
"Coba Daddy cari lagi. Siapa tahu Daddy lupa naruhnya," ujar Prilly dan kembali ke dapur untuk melanjutkan memasaknya.
Mereka kini pindah di Kalimantan. Ali sekarang memegang kantor pusat yang ada di sana. Sedangkan Farauq menggantikan jabatan Ali yang berada di Batam.
"ASTAGA MOM!!!!!" Terdengar teriakan Ali dari dalam kamar.
Prilly yang mendengar dari dapur langsung mematikan kompor dan menghela napas dalam. Lantas dia berlari kecil menaiki tangga menghampiri Ali.
"Apa sih, Dad? Hobi sekali sekarang teriak-teriak. Mentang-mentang sekarang rumah kita di tengah hutan. Bukan berarti kamu beralih hobi menjadi tarzan kan?" omel Prilly sambil menghampiri Ali yang berdiri di depan sofa panjang di dalam kamar mereka.
Ali sudah mengacak rambutnya frustrasi. Sambil berkacak pinggang, Ali menunduk menatap di kolong meja.
"Lihat tuh...!" tunjuk Ali mengedikan dagunya ke arah kolong meja.
Prilly mengikuti arah pandang Ali. Ia membelalakan matanya lebar dan menutup mulutnya yang menganga.
"Sudah pinter ya anak Daddy? Sedari tadi Daddy cari-cari malah dibuat mainan. Itu bukan mainan Sayang. Itu kerjaan Daddy," omel Ali pada Zie yang sedang asyik mengacak-acak isi map merah yang sedari tadi dia cari. Namun bukannya takut, justru Zie tertawa dengan wajah polos khas balita.
Ali mengangkat Zie dan menggendongnya. Prilly merapikah berkas-berkas yang sebagian lusuh dan basah karena bekas gigitan Zie. Prilly tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Karena Zie sangan pintar membuat daddynya kesal. Dia tidak pernah absen dalam keseharian menjahili daddynya. Semakin hari Zie terlihat hiperaktif dan cerdas. Terkadang Ali dan Prilly merasa kewalahan jika Zie tidak mau diam. Apalagi saat ini dia sedang belajar berjalan.
"Dad, nanti kita ke rumah sakit ya?" ajak Prilly.
Namun seperti biasa Ali selalu mendengus kesal. Walau ia mau mengantar Prilly namun ada ketidak ikhlasan dalam dirinya.
"Ya!" jawab Ali malas dan datar.
Sudah hal biasa jika Ali menjawab seperti itu, karena Prilly tahu alasannya.
***
Hari Minggu biasanya dihabiskan oleh keluarga kecil ini untuk mengajak Zie jalan-jalan. Mengenalkan Zie pada kehidupan bersosial dan berinteraksi dengan orang lain. Untung Zie termasuk anak pintar, dengan mudah ia dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ali dan Prilly dua hari sekali mendatangi rumah sakit Husada Hospital. Walau hanya berkunjung dan menanyakan perkembangan kesehatan seseorang itu.
Ali menggendong Zie dan Prilly menggandeng lengannya. Mereka menyusuri lorong rumah sakit menuju suatu ruang. Dengan pakaian kasual mereka terlihat lebih santai. Prilly mengenakan kaus putih dan celana panjang jeans hitam, Ali dan Zie juga mengenakan kaus senada dengan Prilly namun mereka mengenakan celana pendek 3/4 berwarna hitam juga. Style rambut dua lelaki tampan berbeda generasi itu terlihat sama. Jambul tak pernah mereka lupakan.
Saat mereka berhenti di depan ruangan khusus, terlihat wanita cantik baru saja keluar masih terbalut baju steril warna hijau. Prilly segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Pak Kuriawan, Nad?" tanya Prilly ramah dan biasa saja.
Sudah sebulan kondisi Kurniawan tidak sadarkan diri karena terserang penyakit jantung. Nadia tampak kacau. Badannya sekarang tidak terawat dan penampilan ala kadarnya jauh berbeda saat masih mengejar-ngejar Ali dulu. Tubuhnya terlihat semakin kurus dan lingkaran hitam di kelopak matanya. Menandakan ia kurang tidur dan istirahat. Ali selalu cuek dan menghindar saat ia berhadapan dengan Nadia. Padahal Nadia sudah benar-benar ikhlas melepaskan Ali dan sudah meminta maaf tulus padanya dan Prilly. Namun tidak mudah bagi Ali memaafkannya setelah apa yang ia perbuat padanya. Ia sudah mempermalukan Ali di hadapan banyak orang dan hampir saja memporakporandakan rumah tangganya.
Terpaksa Nadia menjual seluruh saham yang Kurniawan miliki kepada Prilly. Dengan senang hati Prilly membelinya, namun tetap Nadia ia angkat sebagai General Manager di perusahaan cabang Kalimantan. Uangnya Nadia gunakan untuk membayar rumah sakit papanya yang saat ini koma dan membeli rumah untuk ia tempati di Kalimantan. Prilly hanya merasa iba pada Nadia.
Walau perlakuan Nadia dulu seperti itu padanya, namun Prilly bukan orang pendendam. Asal Nadia bersungguh-sungguh taubat dan ingin berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, Prilly dengan senang hati bersedia menjadi temannya. Di saat semua sahabat dan teman-teman Nadia mengucilkannya, hanya Prilly yang mau membantunya. Apa mereka pantas disebut teman? Di saat kejayaan ia mengakuinya, namun saat ia terpuruk dengan mudah ia disingkirkan.
"Masih sama Pril, Papa belum ada kemajuan," jelas Nadia dengan suara parau.
"Kamu yang sabar ya, Nad? Aku yakin pasti Pak Kurnuawan akan sadar. Kamu jangan lupa selalu berdoa ya untuk papa kamu." Hati Nadia merasa tersentuh. Rasa bersalah menjalari dirinya. Nadia menatap senyum tulus Prilly.
'Memang Ali tak salah pilih. Kamu memang berhati malaikat, Pril. Aku cewek bodoh berniat menghancurkan rumah tanggamu, karena aku terlalu teropsesi ingin memiliki Ali. Aku baru sadar perasaanku pada Ali bukanlah cinta melainkan hanya mengagumi dan teropsesi semata. Aku iri padamu Pril, yang bisa mencintai dan dicintai. Cinta kalian tulus dan suci,' batin Nadia.
"Kok ngelamun sih?" teguran Prilly menyadarkan lamunan Nadia.
"E...eh... ma...maaf, Pril. Aku lagi memikirkan sesuatu." Prilly mengerutkan dahinya.
"Memikirkan apa?"
"Mmm... bagaimana membalas kebaikanmu, selama ini kamu sudah banyak membantuku dan Papa. Aku sudah pernah menjadi pengganggu rumah tangga kalian. Aku merasa malu padamu apalagi dengan Ali," jelas Nadia menundukan kepalanya. Ia merasa menyesali perbuatan bodohnya dulu.
Prilly mengangkat dagu Nadia dan mengarahkan agar Nadia menatapnya.
"Jadilah dirimu sendiri dan jadilah pribadi yang lebih baik. Jauhkan pikiran-pikiran negatif dalam dirimu. Terima yang ada dalam genggamanmu saat ini. Syukuri dan nikmati pemberian Allah padamu," jawab Prilly dengan senyum tulusnya.
Rasa menyesal semakin menjalar pada diri Nadia. Betapa bodohnya dirinya dulu. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Nadia berhamburan memeluk Prilly dan terisak hanya kata maaf yang terlontar dari mulut Nadia. Ali yang melihat dan mendengar percakapan mereka terkagum dengan kedewasaan istrinya. Di saat dia sendiri tidak dapat mengendalikan emosi, namun justru istrinya yang dapat menenangkannya.
Ali tersenyum melihat istrinya, dia adalah wanita yang berhati malaikat, pemaaf dan dewasa. Sejak dulu mereka masih SMA, Prilly selalu dapat menyejukkan suasana. Tapi terkadang jika manjanya kumat, bisa mengalahkan Zie. Ali terkekeh sendiri mengingat hal itu. Zie yang sedari tadi bermain di gendongan Ali tiba-tiba menceloteh.
"Mi....mi...mi...." Prilly melepas pelukannya mereka dan menoleh ke belakang.
Prilly tersenyum melihat suami dan anaknya yang sama-sama memasang wajah bad mood karena lama menunggu.
"Maaf Sayang, jangan ngambek dong. Baiklah kita jalan-jalan ya sekarang," ucap Prilly sambil pura-pura menggigit gemas dada Zie, membuat Zie kegelian dan tertawa lepas khas balita.
Ali yang melihat Zie digoda Prilly di gendongannya ada ide cemerlang yang tiba-tiba terbesit. Dengan cepat Ali menggelitiku Prilly dengan tangannya yang terbebas. Hingga Prilly kegelian dan Zie yang melihat mommynya kegelian justru tertawa sambil bertepuk tangan kecil, wajahnya polos dan bahagia. Dia terlihat senang bahwa Ali membelanya. Dengan tergesa Prilly berlari menghidar sebelumnya ia berpamitan dengan Nadia sedikit berteriak karena ia terburu berlari. Ali dan Zie mengejar Prilly. Zie yang di gendongan Ali tampak tertawa hingga terpingkal-pingkal. Nadia yang melihat keceriaan keluarga kecil itu yang berlari menjauh darinya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Ternyata melihat orang yang kita kagumi bahagia, hati kita juga merasa jauh lebih bahagia. Terima kasih Li, kamu mengajarkanku banyak hal. Arti dari penantian yang tak berujung dan ketulusan cinta. Mengenalkanku pada bidadarimu yang ternyata berhati malaikat mampu membuat mata hatiku terbuka dan melihat kenyataan walau itu menyakitkan. Ini hidupku dan ini kesalahanku. Aku yang akan menanggungnya."
***
"Daddy!!!! Mommy!!!" teriakan anak laki-laki berusia 6 tahun menggelegar menguasai seisi rumah di pagi hari seraya menggedor-gedor pintu kamar orang tuanya.
Prilly dan Ali yang masih tertidur pulas di bawah bed cover saling berpelukan tanpa sehelai benang pun seketika membuka mata.
"Itu Dad, kebiasaanmu menurun ke anak mu. Dia pikir rumah ini hutan. Setiap pagi teriak-teriak seperti tarzan aja!" omel Prilly yang belum sempurna mengumpulkan kesadarannya.
"Daddy!!!! Mommy!!!!" teriakan semakin keras ditambah dengan ketukan pintu.
Ali dengan wajah kesalnya turun dari ranjang mencari boxer-nya yang tergeletak di lantai dan memakainya. Prilly berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ali membuka pintu kamar dan melihat Zie sudah rapi dengan seragam atas putih dan bawah merah.
"Di mana Mommy, Dad?" tanya Zie saat melihat ke dalam tidak melihat Prilly.
Ali berjalan masuk dan duduk di sofa.
"Mommy baru mandi."
Zie mengikuti Ali duduk di sofa, melihat ranjang orang tuanya yang berantakan seperti kapal pecah.
"Mommy habis ngamuk ya, Dad?" tanya Zie polos.
Ali mengerutkan dahinya bingung dengan pertanyaan putranya. Zie menghela napas lesu.
"Tuh!" tunjuk Zie ke arah ranjang. "Kenapa ranjang Daddy berantakan sampai bantal dan guling berserakan. Pakaian Daddy dan Mommy sampai di lantai. Mommy saja selalu ngomel-ngomel kalau kamar Zie berantakan."
Ali terkekeh kecil mendengar paparan Zie.
"Semalam Mommy dan Daddy habis tempur, makanya jadi berantakan begitu," jelas Ali asal.
"Kenapa nggak ajak Zie sih Dad, kalau Mommy dan Daddy main tempur-tempuran,tempur-tempuranantikan nantikan Zie bisa bela Daddy buat lawan Mommy," ucap Zie polos membuat Ali semakin terkekeh lepas. Ali mengacak rambut Zie pelan.
Zie mendengus kesal dan sambil merapikan jambulnya dengan kedua tangan.
"Daddy jambul Zie rusak nih!" omel Zie mengerucutkan bibirnya.
Ali semakin tertawa melihat tingkah anaknya itu yang tak jauh beda dengan dirinya. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Seperti Zie dan Ali. Sama-sama tampan, pintar, yang terpenting selalu heboh saat pagi membuat mommynya mengomel setiap pagi, sepertinya sudah menjadi hobi Ali dan Zie. Namun mereka sama-sama menyayangi Prilly. Prilly adalah matahari bagi mereka. Tanpa mataharinya, mereka tak dapat bertahan hidup.
"Sudah tunggu Daddy dan Mommy di meja makan. Daddy mau mandi dulu" perintah Ali.
"Oke bos! Siap Kapten Ghaisani Arnawama Kenzie Syarif melaksanakan tugas!" ujar Zie seolah-olah ia mendapatkan tugas dari atasannya.
Dengan tegas dan lantang ia ucapkan. Membuat Ali menyunggingkan senyum. Zie berjala keluar kamar orang tuanya.
Pagi ini Prilly hanya membuat nasi goreng untuk Ali dan Zie. Seusai nasi gorengnya matang ia bagi ke dalam 3 piring dan ia tambahkan telor mata sapi untuk pelengkapnya.
"Hmm harummm," gumam Ali dan Zie bersamaan membuat Prilly tersenyum. Selalu kompak anak dan ayah itu!
Dengan semangat 45 mereka melahap nasi goreng itu tanpa tersisa satu biji pun nasi pada piring.
"Terima kasih Mom," ucap mereka bersamaan lalu mencium pipi Prilly. Prilly merasa bahagia memiliki dua oksigen yang selalu membuatnya bertahan hidup.
"Sama-sama," balas Prilly mencium pipi Ali dan Zie bergantian.
Prilly beranjak dari duduknya, kewajiban dan tugasnya setiap hari saat Ali ingin berangkat ke kantor. Memasangkan dasi!
Sesudah siap, Prilly mengantar mereka sampai depan pintu. Sebelum berangkat rutinitas keluarga kecil ini adalah menciumi seluruh permukaan wajah Prilly. Dari dahi, kedua mata, kedua pipi, hidung dan bibir. Zie yang lebih dulu melakukannya. Berbeda dengan Zie, Ali sedikit nakal bila sampai di bibir Prilly. Saat Zie terlihat sudah duluan masuk dalam mobil Ali melumat bibir Prilly. Ali dan Zie melambaikan tangan ketika mobil mulai berjalan.
"Dada Mom... we love you," pekik keduanya bersamaan dari dalam mobil.
"I Love you too." Prilly membalas lambaian tangan dan cium jauh pada suami dan anaknya.
Rutinitas setiap pagi sebelum Ali berangkat ke kantor ia lebih dulu mengantar Zie. Karena kebetulan antara kantor dan sekolah Zie satu arah dan dekat dengan kantor Ali.
Sedangkan Prilly saat ia di rumah sendiri saat suaminya bekerja dan anaknya sekolah, ia mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Prilly sengaja tidak mencari asisten rumah tangga, karena agar dia tidak merasa bosan saat di rumah sendiri. Jadi masih ada yang dikerjakan. Namun Ali tetap mencari orang untuk membantu sekaligus menemani Prilly. Bu Ratih yang membantu pekerjaan Prilly. Datang jam 8 pagi pulang jam 5 sore setelah Ali pulang kerja. Ali juga menyediakan satpam di depan gerbang rumahnya. Rumah mereka saat ini lebih besar dan luas dibandingkan rumah mereka saat di Batam dulu.
######
Family goal. Bahagianya bikin iri😒.
Nggak terasa, 2 part lagi cerita ini Ending. Hehehe
Cerita terpanjang yang pernah aku punya. 😄😄😄
Terima kasih untuk vote dan komentarnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top