the plan

Saat ini aku tengah duduk di sebuah toko kue dengan berbagai macam kue yang tersaji di depanku. Senyumanku melebar saat aku melihat Kalisa—klienku telah kembali sambil membawa satu piring kecil kue yang ia baru dapat sebagai sample.

Hari ini aku memang menemani Kalisa untuk memilih kue. Seharusnya ia pergi dengan Yura, tapi karena Yura masih pemotretan, jadi aku yang menemani Kalisa sampai Yura nanti datang. Kalisa adalah saudara tiri Yura dari pihak Ibu, dan akhir bulan ini gadis itu akan menikah. Tentu saja, aku dan Yura yang didapuk sebagai bridesmaid. Kalisa juga memakai jasa Dreams untuk pernikahannya, makanya dengan senang hati aku membantu pesta pernikahan gadis itu. Walau hubunganku dengan Kalisa tidak sedekat hubunganku dengan Yura, tetap saja aku menganggap Kalisa seperti adikku sendiri. Kadang kami juga suka hangout bersama kalau ada waktu luang.

“Mbak kayaknya yang ini enak,” ujar Kalisa dengan mata berbinar.

Dengan senang hati aku pun mencicipi kue yang baru saja dibawa Kalisa. Dan benar kata gadis itu, yang satu ini memang enak.

“Hm, setuju! Yang ini emang enak banget, sih!”

“Ya kan? Yaudah deh gue pesen ini aja. Sekalian pesen banana roll buat dibawa pulang. Mbak Maya mau juga?”

Senyumanku langsung melebar saat mendengar banana roll. Karena kue ini adalah salah satu favorit Sergio.

“Boleh, deh. Pesenin dua, ya, Sasa!”

“Siap bos!”

Kalisa kembali mengobrol dengan pelayan toko kue, sedangkan aku mengirimi Sergio yang saat ini sedang ada di Belanda sebuah pesan. Sudah dua hari tetanggaku itu ada bisnis keluar negeri, dan jujur saja aku benar-benar merindukannya setengah mati.

Maya Hanggini :

Cepet pulang wahai tetangga! Gue punya hadiah buat lo!

Sergio Bastian :

Kayaknya lo yang harus cepet pulang. Karena gue juga punya hadiah buat lo.

Sekar Hanggini :

Apa?

Namun seperti sengaja membuatku penasaran, Sergio tidak membalas pesan terakhirku. Dan tentu saja, hal itu membuatku kepo setengah mati.

***

Sambil menunggu Yura yang masih terjebak macet di jalan. Aku dan Kalisa makan bersama di sebuah restoran China yang ada di Blok M. Kami memesan pangsit rebus dan juga bapao.

“Mbak, ayo jujur sama gue. Lo punya pacar, ya? Kayaknya hawa-hawa di sekitar lo pinky-pinky gitu!”

“Nggak usah sok tau deh, Sa!”

“Gue nggak sok tau, kok! Tapi emang tau. Lo dari tadi setiap buka hp pasti deh senyum-senyum sendiri. Ayo jujur sama gue! Who is this guy?”

Pipiku rasanya terbakar setelah mendengar tuturan Kalisa. Memangnya aku beneran senorak itu, ya? Ah, jadi malu sendiri.

“Bukan siapa-siapa, kok. Cuma gebetan aja.”

What? Maksudnya cowok ini nggak suka lo balik? Matanya buta, ya?”

“Makasih lo buat pujiannya yang setinggi langit, Sa! Ini gue beneran terbang, lho!”

“Sebagai ucapan terima kasih. Bayarin makan gue aja, Mbak, hehehehe.”

“Ye, sialan! Ada maunya ternyata!” Lalu kami tertawa bersama.

“Tapi serius, Mbak. Tumben lo mau hts-an. Biasanya lo kan gampang ilfeel kalo pedekate. Dia sekeren itu?”

“It's complicated.”

“Oh, biar gue tebak. Pasti doi ini red flag tapi saking menawannya lo nggak peduli rambu. Bad boy nih pasti, ya? Paham sih, bad boy memang lebih menggoda,” ujar Kalisa seraya mengerling jahil.

Nah, Sergio memang red flag, tapi dia nggak bad boy

No, dia nggak bad boy, kok, Kal. Sorry to say nih ya, bad boy itu cuma menarik kalo di novel atau film doang. Kalo di dunia nyata mah maaf deh nggak dulu.”

Kalisa langsung tertawa. “Bener sih. Kalau kata Oma; cowok bajingan itu cuma menarik sesaat doang buat kencan satu dua kali atau diajak buat dipamerin ke kondangan, tapi cowok baik-baik itu investasi masa depan. Pernikahan itu perjalanan super panjang, kalo kita bisa milih yang baik, sholeh, dan bisa ngebimbing, kenapa nggak, ya kan?”

Agree. Jadi, udah yakin nih, kalo Sebastian adalah yang terbaik itu, Kal?” tanyaku yang langsung membuat pipi Kalisa memerah.

“Eh, kok jadi bahas laki gue sih, Mbak! Kan lagi bahas laki lo! Tapi serius, lo nggak mungkin mau hts-an selamanya, kan?”

Aku tersenyum miring. “Tenang aja, kalo soal itu gue udah punya rencana.”

Rencanaku mungkin agak licik, tapi hasil akhirnya selalu ada di tangan Sergio. Jadi, aku harap, nanti kalau saatnya sudah tiba; rasa sakitnya tidak akan sesakit itu.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top