stalker

Aku baru selesai memakai skin care routine saat ponselku berteriak dan menampilkan nama Sergio yang menari-nari dilayar. Tanpa menunggu lama aku pun langsung menjawab panggilan itu.

“Hi, tetangga gue yang super sibuk! Yakin lo lagi di Belanda? Bukannya diculik alien dan lagi kerja rodi di Mars?”

Sergio tertawa kecil diujung sana. 
“Kalo gue lagi kerja rodi di Mars, pasti saat ini lo lagi di samping gue. Kita sama-sama lagi ngaduk semen.”

“Oh, untungnya sekarang gue lagi tiduran di kasur gue yang super nyaman.”

“Hah, gue juga kangen kasur di rumah. Di sini sejam sekali gue harus bangun buat rapat sana-sini.”

“Pokoknya jangan lupa istirahat. Percuma kerja keras kalau buat bayar rumah sakit. Mending buat beliin gue gaun lagi.”

“Sudah gue duga! Pasti lo bakal ngelunjak!”

“Wooo ya jelas dong! Kalo bisa dapat hatinya sekaligus jantungnya, kenapa tidak?” Lalu, aku tersenyum lebar sambil guling-guling di kasur karena begitu bahagia. Untungnya Sergio tidak melihat tingkat norakku kali ini.

”Tapi serius, terima kasih Sergi, gue suka gaunnya.”

“Sejak awal gue tau, itu pasti bakal cocok buat lo. Makanya, di pernikahan Arum dan Rafael nanti, please ... Jadi plus one gue, ya?

“Hm, karena gue terlalu sibuk sampai belum sempat menghubungi si cowok seksi yang nggebet gue dan kalo diajak langsung ngangguk, maka gue nggak punya pilihan lain.”

See you on Sunday. I miss you.”

Aku menggigit bibir bawahku karena ingin sekali membalas ucapan rindu yang baru saja keluar dari mulut Sergio. Namun, aku menahan diri mati-matian untuk tidak mengikuti alur yang dimainkan pria itu. Kali ini, aku yang akan mengontrol permainan.

“Sampai jumpa hari Minggu, tetangga!”

***

Aku bangun dengan mood yang sangat bagus hari ini. Membuat bibirku tak berhenti tersenyum dan aku begitu semangat menjalani hari. Bahkan, aku sampai membuat pie stroberi lumayan banyak yang aku bagikan untuk para tetanggaku. Aku juga mencoba membuat banana roll kesukaan Sergio. Seharusnya Sergio pulang hari ini, tapi karena ada pekerjaan tambahan jadi pria itu harus ada di Belanda lebih lama. Hingga kemungkinan kami akan bertemu lagi adalah hari Minggu nanti.

Nanti malam aku akan tidur di rumah Mbak Ratu. Oleh karena itu, saat ini aku tengah bersiap-siap untuk membawa keperluanku untuk menginap di sana. Aku sengaja tidak membawa banyak barang, karena kalau untuk keperluan sandang seperti alat mandi, baju, dan lainnya—aku selalu sedia stok di sana.

Setelah itu aku memutuskan untuk bersih-bersih rumah. Aku juga membuka beberapa hadiah dari klien yang belum sempat aku buka.

Aku tersenyum kecil setiap membuka satu demi satu hadiah yang dihadiahkan klienku. Karena hadiah itu juga dibarengi dengan berbagai kartu ucapan terima kasih yang membuat hati berbunga-bunga.

Sebuah hadiah yang datang minggu lalu begitu menarik perhatianku. Karena pita yang mengikat kotak kado itu begitu sangat familiar. Pita yang sama yang Arum puji cantik dan juga pita yang aku kenakan minggu lalu sebagai hiasan rambut jalan nonton bareng Sergio.

Bayangan tentang kejadian dua tahun lalu pun berputar di kepala. Kejadian yang ingin aku lupakan karena begitu menakutkan sehingga hanya mengingatnya saja langsung membuat bulu kudukku langsung meremang.

Dengan tangan gemetar aku membuka pita yang membungkus hadiah. Lalu aku membuka tutup kado, dan begitu melihat apa isi hadiah itu aku langsung melemparkannya ke lantai.

Gelang Deadpool and Wolverine.

Isi hadiah itu sama seperti gelang yang diberikan Sergio padaku.

Lalu aku lari ke kamar mandi karena isi perutku yang bergejolak. Aku pun memuntahkan seluruh sarapanku di kloset dan kengerian itu kembali menguasai seluruh tubuhku.

Stalker itu kembali!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top