®17. Side to side⌛
========
=================
- Pertukaran jiwa ini membuatku merasa yakin kalau dunia paralel itu benar-benar ada.-
=================
=========
⌛⏳⌛

.
.
Genre: Drama/Fantasy.
Length: 1900++.
.
.
"Ah, Lee Dokyeom-ssi, kau kembali?"
Semua mahasiswa yang ada di sana seketika menoleh ke arah tempat duduk dimana Seokmin duduk.
Melihat hal itu, Yuju memberikan tatapan galaknya kepada semua siswa yang memandang sang pacar seperti
menghakiminya, kemudian memerintahkan orang-orang tersebut untuk kembali melihat depan melalui tatapannya.
"Kangsanim," Yuju mengangkat tangannya membuat Seokmin kebingungan.
"Ya, ada apa?" tanya IU masih dengan santainya.
"Bisa saya bicara dengan anda sebentar," tatap Yuju cemas. Wanita itu tidak mungkin menjelaskan bahwa Dokyeom kehilangan ingatannya di depan banyak orang.
Setelah memperhatikan wajah Yuju dan Dokyeom cukup lama, barulah IU memutuskan, "Bicaralah setelah jam pelajaran selesai," lalu IU mengeluarkan buku dan mulai menyalakan proyektornya. Dosen cantik itu mulai mengejar seperti biasanya.
Setelah cukup lama kegiatan belajar mengajar itu terlaksana, entah memang metode pembelajarannya yang kurang menarik karena sedari tadi IU terus membaca tulisan yang ada di layar, atau memang pada dasarnya pelajaran ini yang memang membosankan. Hal itu membuat Seokmin mengantuk berat, mendengarkan suara si wanita.
Dia jadi teringat saat dulu mengikuti kelas kebudayaan yang diajar oleh Shin Songsaenim.
...
Singkat cerita, dulu waktu beberapa hari sebelum penobatan Wang So, Seokmin dan Mingyu yang sudah resmi di nobatkan sebagai prajurit kerajaan mengikuti kelas kebudayaan untuk mengenal seluk beluk wilayah Utara, Selatan, Timur, Barat beserta daerah kekuasaan mereka.
Jika Mingyu mendengarkannya dengan antusias, Seokmin malah ngantuk dan berujung pada menggeletakkan kepala di atas meja. Dia tertidur dengan sangat nyenyak sampai-sampai hal ini membuat Shin Songsaenim marah, dan menghukumnya.
Setelah selesai kelas, Mingyu mengajaknya bertemu dengan Jieun. Entah sejak kapan, Seokmin pun tidak terlalu tahu kalau Mingyu sedekat itu dengan Jieun, mereka bertiga duduk di belakang paviliun prajurit.
Mingyu pernah menjelaskan dia dekat sama Jieun akibat insiden perompak malam itu, saat Mingyu mengantarkan Jieun. Ya jujur saja Seokmin sedikit kecewa dulu, saat Mingyu tidak mengatakan yang sebenarnya pada Seokmin.
Di tambah lagi, kedekatan mereka ini sepertinya tidak biasa, dari pancaran mata Jieun seperti mengatakan bahwa jelas kalau wanita itu menyukai Mingyu, hal ini tentu saja membuat Seokmin patah hati.
"Kau kenapa, melamun aja!" sentak Mingyu seraya memperhatikan Seokmin yang seperti kehilangan fokus, Jieun pun juga melakukan hal yang sama.
"Aku tidak melamun," Seokmin mengelak.
"Ngomong-ngomong, kalian berteman sudah berapa lama?" tanya Jieun penasaran melihat ke akraban Seokmin dan juga Mingyu.
Untuk pertama kalinya, Jieun merasa penasaran pada suatu hal, dan tentu saja Seokmin di buat terkesan.
"Sudah satu tahun, semenjak Mingyu datang ke desa kita," sahut Seokmin tersenyum.
"Berarti kau bukan penduduk asli desa kita?" tanya Jieun lagi menghadap pada Mingyu, entah mengapa Seokmin jadi merasa cemburu saat Jieun hanya tertarik sesuatu yang berkaitan dengan Mingyu.
"Begitulah," sahut Mingyu seadanya.
"Oh iya, nona Jieun, selama jadi juru masak di sini, apa kalian juga di wajibkan mengikuti pelajaran kebudayaan?" Seokmin berusaha menarik atensi Jieun lagi, dia kesal karena Jieun terus-terusan mengajak Mingyu berbicara, tapi dirinya tidak.
"Hmm, tentu saja," sahut Jieun singkat.
"Apa kau juga tertidur seperti Seokmin?" kini Mingyu malah melemparkan pertanyaan yang bikin Seokmin semakin kesal.
"Tidak, memangnya Seokmin tertidur?"
"Iya, tidurnya sangat lelap," ledek Mingyu.
"Ya! Neo!" Seokmin di buat malu akibat ulah Mingyu yang membeberkan kejadian tadi, mengundang galak tawa dari Jieun. Seokmin terhenyak menyaksikan tawa lepas wanita itu,
"Neomu Kiyowo ...."
...
"Siapa yang kiyowo?"
Entah bagaimana ceritanya, Seokmin di buat terkejut kala membuka mata dan melihat wajah Yuju yang sudah berada di depan wajahnya.
"Oppa? Apa tidurmu nyenyak?" tanya wanita itu lagi.
Seokmin memberingsut mundur dan kemudian memperhatikan kelasnya yang sudah mulai sepi.
"Yang lain pada kemana?" bukannya menjawab pertanyaan Yuju, Seokmin malah membuat pertanyaan lainnya.
"Sudah keluar, kelas sudah selesai dari beberapa menit yang lalu," sahut wanita itu sambil membenahi buku.
"Lalu? Kenapa kamu masih disini?"
"Memangnya oppa mau aku tinggal disini sendiri?" Yuju merotasikan matanya, "Beruntunglah hari ini IU kangsa tidak mempermasalahkanmu yang tertidur di kelas."
"Pasti gara-gara kamu mengatakan sesuatu padanya," Seokmin baru ingat kalau tadi Yuju sempat mengangkat tangannya.
"Benar. Ayo aku antar pulang."
Yuju keluar dari kelas terlebih dahulu, meninggalkan Seokmin yang masih penasaran dengan apa yang Yuju katakan.
®®®
Di taman kampus, pria berpakaian serba hitam sedang membaca buku, bukan sekedar membaca biasa, perhatian pria itu tidak sepenuhnya mengarah ke kertas bertinta, dia seperti sedang menunggu sesuatu.
"Dia sudah mengingat semuanya kan?" Jieun berdiri di depan si pria berbaju hitam, dengan tangan berkacak pinggang.
'Yang di tunggu sudah datang,'- begitu katanya.
"Seperti yang kau lihat," Wonwoo menegakkan pandangannya seraya tersenyum mengejek.
"Apa sekarang aku sudah boleh menguatkan semua padanya?"
"Belum, aku masih harus menjelaskan beberapa hal, sebelum kau menuntut penjelasan darinya."
"Ayolah Won, aku harus menunggu sampai kapan? Aku juga ingin berengkarnasi, kau tau kan?" Jieun mulai merengek kembali.
"Tanpa menunggu Mingyu?" tanya Wonwoo skeptis.
"Tentu saja bersama Mingyu. Kenapa dewa tidak adil begini, dia membiarkan pemanah itu kembali ke bumi dengan mudahnya, sementara aku dan Mingyu, kami harus menerima karma terlebih dahulu," curhat Jieun panjang lebar.
"Jangan protes padaku," Wonwoo berdecak, "Aku kan bukan dewa."
"Dan kau juga bukan manusia," sarkas Jieun.
"Benar," Wonwoo menyunggingkan senyum, lama-lama Jieun benci melihat senyum Wonwoo.
"Diamlah, sampai waktunya kau bicara. Aku host kalian, jadi sebelum aku mempertemukanmu bersama Dokyeom, kau tidak boleh mengatakan apapun padanya,mengerti?" Wonwoo mulai bertitah seraya melihat kearah trotoar jalan dimana ada sepasang orang yang sedang melirik kearah mereka.
"Bahkan dia bukan Dokyeom," Jieun bergumam malas ikut melihat kesana. Ya, Jieun tentu saja bisa melihat kupu-kupu yang mengitari pria itu. Dugaannya semakin di perkuat saat Yuju memberi tahu kalau Dokyeom amnesia.
"Ya, siapapun lah namanya dia. Sampai aku menjadwalkan pertemuan kalian, yang harus kau lakukan adalah menunggu dengan sabar, ok?"
"Sabar, sabar, sabar, kau terus memintaku bersabar. Menyesal aku turun ke bumi kalau tahu seperti ini jadinya!" Jieun menghentakkan kakinya kasar meninggalkan Wonwoo yang menatap kepergian wanita itu dengan senyum Samar,
"You can't make an omelet without breaking a few eggs, right? " gumam pria itu sebelum mendecih.
...
'Bukankah itu Wonwoo?' Gumam Seokmin melihat pria di taman kampus yang sedang berbicara dengan IU, 'Apa dia juga telah bereinkarnasi?'
Yuju yang berjalan di depan Seokmin, ikut berhenti kala dia sudah tidak mendengar langkah kaki pria itu.
"Oppa melihat apa?" tanya Yuju penasaran lalu kembali ke belakang dan berdiri di samping Seokmin.
"Itu, pria di situ," tunjuk Seokmin, "Apa kau mengenal pria yang lagi berbicara dengan Jieun?"
Yuju ikut mengarahkan pandangannya kepada pria yang sedang membaca buku di bangku taman itu. Puluhan kupu-kupu yang melingkup di sekitar merekalah yang membuat visi Yuju melihat seperti pria itu tampak sedang membaca buku seperti orang normal pada umumnya, dan tidak berbicara dengan siapa-siapa.
"Jieun?" Yuju bertanya bingung.
"Ah, maksudnya IU Kangsa," Seokmin gelagapan. Mereka berbicara dengan sangat serius.
"Tidak ada IU kangsa disitu," ujar Yuju sekali lagi, membuat Seokmin terpaku. Padahal dia sendiri bisa melihat ada Jieun disitu bersama puluhan kupu-kupu yang sedari tadi mengikuti perempuan itu.
"Kau serius tidak melihatnya?" tanya Seokmin penasaran.
"Hmm, hanya ada si pria penjaga perpus disana."
"Penjaga perpus?" Seokmin mengernyit.
"Pria yang kau tunjuk itu, dia penjaga perpus yang sangat misterius. Rumor mengatakan tidak ada yang tahu kapan pria itu mulai bekerja untuk kampus ini, bahkan mahasiswa dan dosen tidak bisa melacak datanya," Yuju menjelaskannya secara gamlang, membuat Seokmin mengkerut curiga.
Apalagi saat kedua orang tersebut menatap ke arah mereka, Seokmin semakin di buat penasaran saja dengan apa yang terjadi pada takdirnya.
"Oppa, mau kemana?" Yuju mulai panik saat Seokmin berjalan mendekati pria itu. Dia juga mengikuti si pria dan sekarang mereka sudah berdiri di depan Wonwoo.
"Wonwoo-ssi?" panggil Seokmin tiba-tiba, membuat Wonwoo yang tadinya memperhatikan kepergian Jieun pun menoleh kearahnya dengan senyuman khas seperti dulu, ya Seokmin ingat sekali senyum itu.
"Kau mengenalnya?" Yuju heboh sendiri saat mendengar kekasihnya menyebutkan nama pria itu.
"Anyyeong, Seokmin-ssi. Lama tidak bertemu," Wonwoo mengangkat kedua ibu jarinya di kepala, seperti menyapa.
"Seokmin?" Yuju heran, sedangkan Seokmin yang ada di tubuh Dokyeom gini terpaku.
"Maaf tuan, tapi namanya Dok-" Seokmin menghentikan Yuju saat akan menjelaskan identitasnya pada Wonwoo, menggunakan tangannya.
"Dia bukan Dokyeom," sahut Wonwoo gamlang, membuat Yuju terkejut.
"A-apa?" ujar Yuju tak percaya.
"Kau pasti mebgetahui sesuatu kan?" tuding Seokmin lagi, "Kau hebat, berhasil menipu kami semua," ujar Seokmin setelahnya.
Wonwoo menyeringai kemudian berdiri, Yuju yang tidak tahu apapun di buat shok kemudian mundur beberapa langkah.
"Benar, aku mengetahui sesuatu, dan perlu kau tahu kalau aku ada karenamu," ucap Wonwoo seperti sedang mengintimidasi.
"Maksudnya?" Seokmin mengernyit bingung.
Saat Wonwoo menyentuh bahu Seokmin, dunia mereka terasa seperti berputar dan Yuju juga ikut merasakannya. Tiba-tiba saja suasana kampus yang tadinya riuh dengan banyak orang berlalu lalang seketika berganti menjadi tempat hampa berwarna putih dengan lemari buku, sofa, meja kerja, beserta teapot dan jam pasir di atasnya.
Belum pernah rasanya Yuju menyaksikan keajaiban seperti yang dia alami saat ini, "K-kau? I-ini?" Yuju pusing melihat apa yang terjadi di sekitarnya.
"Kau membawa Yuju juga?" Seokmin bertanya karena tidak menyangka melihat Yuju masih ada di belakangnya.
"Aku membutuhkan dia juga untuk menjelaskan semuanya," ujar Wonwoo, "Tunggulah sebentar, aku akan membawa dua orang lagi, sebelum mulai menjelaskannya."
Wonwoo melepaskan tangannya dari bahu Seokmin, dia memutar jam pasir di meja sebelum kemudian berjalan mendekat kearah lemari buku. Seperti pintu otomatis, saat Wonwoo menggeser lemari itu, langsung tampak jalan menuju sebuah pasar.
Wonwoo bergerak masuk kesana dan menggeser lemari itu lagi. Ini semua tampak seperti Wonwoo baru keluar dari pohon rahasia yang berpintu. Seokmin dan Yuju di buat terperangah tak bisa berkata-kata.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Yuju mulai melangkah mundur, menjauh dari Seokmin, "dimana kekasihku?" Yuju masih tidak mengerti dengan semua keanehan ini.
"Aku Lee Seokmin, seseorang yang berasal dari Goryeo. Dan juga aku tak tahu kenapa aku bisa terjebak di tubuh pria ini. Sama sepertimu, aku baru pertama kali mengalaminya," terang Seokmin jujur, pancaran mata itu yang mengatakannya.
"Goryeo?"
Seokmin menganggukan kepala. Seketika Yuju pingsan, karena pusing di kepalanya yang semakin menjadi. Untung saja Seokmin tangkas dan segera menangkap tubuh wanita itu sebelum terjatuh.
®®®
Betapa terkejut Seokmin saat melihat Wonwoo tiba-tiba datang bersama Mingyu dan juga Dokyeom yang terjebak di tubuhnya. Seokmin terperangah melihat Mingyu yang masih mengenakan baju pelatihan juga Dokyeom yang mengenakan hanbok putih.
Dia ingat, dulu pas pelatihan Seokmin pernah jatuh dan kepalanya terbentur pas malam hari saat dia mau mengambil minum dan selama dua hari dia tidak sadarkan diri, membuatnya kehilangan waktu untuk ikut pelatihan.
Untungnya Seokmin lolos seleksi dikarenakan kemampuan memanahnya yang memumpuni, di tambah dukungan orang dalam seperti Soonyoung serta beberapa petinggi Istana yang mengaku mereka membutuhkan orang yang tangkas seperti Seokmin membuatnya resmi di lantik jadi prajurit bersama Mingyu.
Seokmin benar-benar tidak menyangka kalau ternyata, dia melibatkan tiga jiwa sebagai perantara untuk pertukaran tubuh ini.
'Lalu, kemana jiwaku yang di masa itu?' Seokmin bertanya-tanya.
"YUJU-YA!" Sahut Dokyeom tak percaya melihat wanita yang sedang duduk di sana. Yuju yang tadinya pingsan kini mulai membuka matanya. Terperangah melihat dua orang yang satu berpakaian seperti prajurit, yang satu lagi pakai hanbok putih. Orang yang memakai hanbok putih itulah yang memanggil namanya barusan.
"Oppa?" ujar wanita itutak menyangka, sambil memegang keningnya.
Disisi lain, Seokmin yang tak mengerti harus bersikap seperti apa, mulai memanggil nama sahabat lamanya yang sudah ia bunuh secara tak sengaja, "Mingyu-ya!" sapa Seokmin di sana dengan tatapan berkaca-kaca.
"Seokmin-ah?" Mingyu memandang pria di sofa itu dan pria di sebelahnya secara bergantian.
Sedangkan Wonwoo, pria itu kini berjalan mendekati mejanya dan menggulingkan jam pasir itu, membuat waktu di dunia terhenti begitu saja. Seraya menatap ke empat orang itu secara bergantian, Wonwoo mulai membuka mulut,
"Aku akan menjelaskannya ...."
⌛⏳⌛
.
.
.
To Be Continued.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top